Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 20. Rencana Jahat Eric


__ADS_3

Seseorang sedang menerima panggilan, ia berbincang dengan seseorang lain dan merencanakan hal jahat. Target mereka adalah Alexias Owen.


"Jangan ragu-ragu lagi. Kali ini, kau harus melakukannya dengan baik. Jangan ada kesalahan apapun. Kau tau kan konsekuensinya jika kau tidak melakukannya dengan benar." kata seseorang itu dengan nada penuh penekanan.


"Baik, Tuan. Saya akan lakukan sesuai perintah Anda." jawab lawan bicaranya.


"Masa depan keluargamu ada di dalam tanganmu. Semua tergantung padamu." katanya lagi memperingatkan.


"Sa-saya mengerti, Tuan." jawab seseorang di ujung panggilan.


Panggilan diakhiri. Seseorang itu meletakan ponselnya di atas meja. Ia melihat sebuah foto di atas berkas dokumnnya, yang juga berada di atas meja.


"Kali ini, aku akan membereskanmu. Tertawalah, Alexias. Selagi kau masih bisa tertawa. Jika kau sudah tiada, kau tak akan bisa tertawa, kan." ucapnya dengan tersenyum licik.


Seseorang itu bernama Eric Benjamin. Ia adalah seorang pembisnis besar, yang berpusat pada produksi pangan sebagai usaha utamanya.


Bermula dari persaingan bisnis. Eric yang sering tertinggal jauh dari Alexias merasa iri hati dan kesal. Hampir seluruh kliennya berlari darinya, dengan alasan di perusahaan Alexias lebih menjanjikan, sehingga meningkatkan keuntungan.


Kekesalan pun setiap harinya semakin bertambah. Rasa jengkel dan cemburu tak pernah habis. Meski sudah berusaha, rasanya Eric tidak akan pernah mampu melampaui Alexias.


Perlahan, ia menyusun strategi untuk menjatuhkan Alexias. Banyak rencana jahat sudah ia rencanakan dan jalankan. Namun, tidak satupun berhasil menjatuhkan Alexias sepenuhnya. Semakin diuji oleh Eric, Alexias semakin gigih dan menunjukkan kemampuannya.


Bukannya hancur, usaha Alexias lebih maju dan semakin diincar konsumen. Tentu saja, hal itu lagi-lagi memupuk rasa dengki dalam hati Eric. Tidak berhasil menggulingkan usaha saingannya, kini ia kembali berulah dengan tindakan yang lebih gila. Misinya kali ini adalah melenyapkan Alexias.


Mendengar kabar kedatangan musuh besarnya, Eric menyambut dengan suka hati. Ia meminta bantuan seseorang untuk menyelesaikan misinya.


***


Hannah menutup lebih awal kedai kopinya. Karena ada janji temu dengan sang teman yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Ia mengajak ketiga putri sahabatnya, Lora.


Sebelumnya, Hannah sudah meminta izin pada Lora akan membawa Oriana, Olesia dan Odellia bersamanya. Sebelum berangkat ke kantor pun, Lora berpesan untuk berhati-hati dan menjaga si kembar tiga dengan baik.


Pada saat ini, Hannah dan si kembar tiga, baru saja sampai. Mereka ada di parkiran Hotel. Hotel di mana teman lama Hannah menginap.


"Mama, apakah masih jauh?" tanya Odellia.

__ADS_1


"Tidak, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai. Setelah bertemu teman Mama, kita pergi bermain. Ok." jawab Hannah dengan suara lembut.


"Hore ... " sorak Odellia senang.


"Tumben sekali kau senang. Bukannya kau kurang suka main?" kata Olesia menyahuti.


Odellia menatap dingin Olesia, "Oh, jadi aku tidak boleh bermain? begitu maksudmu?" jawab Odellia sedikit kesal.


"Hei, hei, sudahlah. Kalian berdua tidak perlu ribut sampai seperti ini." sela Oriana menengahi.


"Aku tidak ribut ... " jawab Odellia dan Olesia bersamaan.


Hannah yang diam langsung tertawa. Ia merasa, anak-anak asuhnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Anak-anak, kalian ini imut sekali. Mirip siapa, ya." gumam Hannah. Menatap Oriana, Olesia dan Odellia.


Ponsel Hannah berdering, ia mendapatkan panggilan dari teman lamanya. Tidak ingin membuat temannya itu menunggu, ia pun segera menerima panggilan masuk tersebut.


"Hallo," jawab Hannah.


"Hallo, Hannah. Kau sudah di jalan? Maaf, aku baru saja membaca pesanmu." kata seseorang di ujung panggilan.


"Baiklah, aku akan bersiap lalu turun. Maafkan aku, tolong jangan lelah menungguku. Kau bisa lansung memesan apa yang kau inginkan di reatoran, Hannah." kata seseorang itu.


"Ya, tidak apa-apa. Santai saja, Elles. Aku pasti akan menunggumu, berapa lama pun kau bersiap-siap." sahut Hannah.


"Wah, aku terkejut. Temanku memang selalu menjadi yang terbaik." puji Elles.


"Bersiaplah. Aku akan masuk. Karena aku juga tidak seorang diri, aku mengajak anak-anak asuhku." kata Hannah.


"Oh, begitu. Ok. Aku bersiap dulu." jawab Elles.


Panggilan pun berakhir. Hannah menatap layar ponselnya dan menemukan beberapa pesan masuk. Tentu saja semua pesan itu datang dari Lora, sahabat baiknya.


Banyak pertanyaan dari Lora untuk Hannah. Menanggapi pesan Lora, Hannah hanya membaca dengan tersenyum. Ia lalu membalas satu per satu pertanyaan dari Lora tanpa ada yang terlewat satu pun. Selesai dengan pesan, ia mengajak si kembar tiga untuk turun dari dalam mobil.

__ADS_1


"Nah, anak-anak. Ayo, kita masuk. Ingat pesan Mami kalian, kan?" tanya Hannah mencoba mengingatkan.


"Ya, Ma." jawab ketiganya bersamaan.


"Bagus sekali. Anak-anakku memang sangat pandai dan manis. Mama sayang kalian semua." puji Hannah tersenyum.


Mereka turun dari dalam mobil, dengan bergandengan tangan mereka masuk ke dalam gedung Hotel. Mereka langsung menuju restorant yang tersedia.


***


Alexias sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Di sampingnya, ada Agatha yang duduk dengan menikmati keripik kentang kesukaanya. Agatha hanya melihat seklias ke arah Alexias. Ia mendengar perbincangan antara saudara kembarnya dan salah seorang staf kantor mereka. Karena Alexias menggaktifkan pengeras suara, Agatha bisa dengan jelas ikut mendengar.


" ... jadi maksudmu?" tanya Alexias.


"Karena beliau sedang ada urusan, kita bisa bertemu di sore hari, Tuan. Maafkan saya mendadak mengifokannya." kata seseorang di ujung panggilan.


"Oh, begitu. Tidak masalah. Jika memang begitu kita kan hanya bisa mengikuti kemauannya saja." jawab Alexias.


"Ya, Tuan. Saya mengerti. Untuk makan siang, Anda mau makan di restorany bawah atau di luar Hotel?" tawarnya.


"Entahlah. Sedang tidak nafsu makan." jawab Alexias.


"Baik, jika seperti itu. Katakan saja jika Anda membutuhkan apa-apa. Saya siap melayani Anda." jawabnya lagi.


"Hm, kembalilah bekerja. Aku tutup dulu panggilanmu." kata Alexias. Tidak lama ia mengakhiri panggilan dari stafnya itu.


"Ada apa, Lex?" tanya Agatha.


"Apanya?" tanya balik Alexias menggoda Agatha.


"Apanya, apa? yang kumaksudkan dia kenapa menghubungimu?" jelas Agatha.


"Oh, itu. Kita tidak bisa menemui klien kita siang ini. Jika sore bisa. Terpaksa kita juga harus merubah jadwal penijauan ke pabrik." jelas Alexias.


Agatha menghela napas, "Hah ... ya, mau bagaimana lagi. Menyelesaikan kerjasama lebih penting. Peninjauan juga penting. Hanya saja jika kita mendahulukan peninjauan kita, kita pasti tidak akan punya banyak waktu setelahnya. Maka dari itu, aku sarankan urus kerjasama ini dulu. Lalu setelah itu kita pergi ke lokasi peninjauan." kata Agatha, kembali menjelaskan.

__ADS_1


Alexias hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Ia mengerti maksud Agatha. Karena pabrik sedang dalam keadaan tidak baik. Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan oleh Alexias sendiri tanpa campur tangan orang lain. Namun, jika ia sudah fokus pada pabrik, maka tidak akan ada lagi fokus pada hal lain. Karena itulah, saran dari Agatha diterima dengan senang hati oleh Alexias. Agar setelah kerjasama selesai diurus, ia tidak perlu pecah fokus pada tinjaunnya.


*****


__ADS_2