
Beberapa hari kemudian ....
Reine menemui seseorang di sebuah restorant. Ia bertemu dengan seorang pria asing yang tidak dikenali identitasnya. Namun, pria itu berprofesi sebagai informan. Ya, Reine menggali lebih dalam informasi terkait ketiga anak Lora.
" ... ini, beberapa informasi yang Anda butuhkan." kata pria misterius, yang duduk di hadapan Reine. Ia meletakan sebuah amplop cokelat di atas meja.
Reine mengambil amplop lalu, membuka amplop itu. Dibacanya sebentar isi dari berkas yang ia pegang. Dahi Reine berkernyit, tidak lama ia tersenyum simpul.
"Hahaha ... akhirnya. Kau akan bisa merasakan rasanya kehilangan, Lora." batin Reine.
"Kau sudah berikan informasi yang menarik dan memuaskan." puji Reine. Ia lalu, mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya, "Ini, ambilah." Reine meletkan amplop cokelat yang ia pegang ke atas meja di hadapan pria asing itu.
Pria asing itu mengambil dan membuka isi amplop, "Ini ... " gumamnya lalu, menatap ke arah Reine.
"Kenapa? masih kurang?" tanya Reine.
Pria itu tersenyum, "Tidak sama sekali, Nyonya. Ini sangat cukup. Lebih dari harga sebenarnya. Terima kasih. Saya senang bisa melayani wanita secantik Anda. Silakan hubungi saya jika Anda butuh bantuan lagi. Saya siap membantu." katanya senang. Pria itu tampak puas dengan bayaran yang ia terima.
"Ya, terima kasih juga. Ini sangat membantuku." jawab Reine.
"Jika tidak ada hal lain, saya permisi lebih dulu. Karena saya masih ingin pergi menemui pelanggan saya yang lain." pamitnya. Yang ditanggapi anggukkan kepala oleh Reine.
Reine masih melanjutkan membaca berkas dokumen terkait informasi mengenai si kembar tiga, yang baru saja ia dapatkan. Senyumnya terus mengembang. Sepertinya ada hal licik lain yang sedang ia pikirkan.
Setelah selesai membaca, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ya, seseorang itu adalah teman lama Reine. Teman semasa sekolah Reine dan Lora.
Percakapan di telepon*
"Hallo, Reine." jawab seseorang di ujung panggilan.
"Oh, hallo Junie. Kau sibuk, ya?" tanya Reine basa basi.
"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak sibuk. Ada apa? apa ada sesuatu yang bisa kubantu?" tanyanya pada Reine.
"Begini, sebenarnya aku ingin minta bantuanmu. Bisa kau carikan aku seseorang yanh bisa melakukan tindakan sederhana dengan bayaran yang ramah di kantung?" tanya Reine, ragu-ragu.
"Apa maksudmu 'Orang bayaran' ?" tanya Julie langsung pada inti.
"Ya, seperti itu. Bisa kau bantu aku, Junie?" Pinta Reine dengan suara memelas.
"Kalau aku tidak punya. Coba aku tanyakan Kakakku. Karena Kakakku banyak mengenal orang semacam itu." kata Junie.
"Oh, ok. Tolong, ya. Kabari aku secepatnya." kata Reine senang.
__ADS_1
"Ya, pasti." jawab Junie.
"Baiklah. Aku akhiri dulu panggilan kita. Karena aku masih punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." pakit Reine.
"Ya, Reine. Jangan sungkan. Jika ada apa-apa, kau bisa menghubungiku." jawab Junie.
Panggilan diakhiri Reine, ia meletakan ponselnya di meja dan matanya masih terus melihat ke arah dokumen yang berisikan kegiatan rutin si kembar tiga. Sepertinya, rencana-rencana licik dan jahat sudah tersusun dalam benak Reine. Ia ingin membuat Lora menderita, bagaimanapun caranya.
***
Sepulangnya Reine dari reatorant, ia pergi ke kantor di mana Evan bekerja. Dibawanya sebuah tas berisi makan siang, yang dibeli Reine di sebuah restorant langganan. Sampai di lantai tempat ruang kerja suamimya, Reine masih masih mengembangkan senyuman dengan perasaan berdebar karena ia akn segera bertemu sang pujaan hati.
"Evan pasti senang, kan. Dia juga pasti belum makan siang." batin Reine menduga-duga.
Sekretaris pribadi Evan menyapa Reine dan mengajak Reine bicara. Seolah sedang mengulur waktu Reine yang ingin bergegas menemui Evan. Dengan wajah panik dan suara yang gugup, Sekretaris itu menghadapi Reine.
"Oh, Nyo-nyonya. A-anda da-datang?" katanya gugup dengan wajah pucat pasi.
"Evan di dalam, kan?" tanya Reine langsung tanpa basa basi.
"Emmh ... i-itu. P-pak Di-direktur se-sedang si-sibuk. Ya, se-sedang sibuk." jawab Sekretaris beralasan.
Dahi Reine berkerut, "Ada yang aneh. Sibuk apa di jam segini? meski aku sudah tidak bekerja lagi di sini, aku tidak mungkin tidak tahu jam-jam Direktur sibuk. Mencurigakan sekali dia," batin Reine.
"Kau kenapa? kenapa terlihat gugup dan panik saat aku datang. Apakah atasanmu melarangku untuk datang?" tanya Reine lagi.
"Tuan, kenapa? kau kenap terbata-bata seperti, ini? Ah, sudahlah. Biar aku periksa sendiri." Reine yang tidak sabar ingun segera masuk dan melihat ada apa dengan Evan, suaminya.
"Tunggu, Nyonya. Ja-jangan ... " cegah Sekretaris.
Reine pun kesal, "Maumu apa? kau melarangku masuk pasti karena ada sesuatu, kan. Iya, kan. Coba kulihat, apa yang membuatmu sampai panik dan bicara terbata-bata seperti ini." kata Reine, berjalan melewati sekretaris menuju pintu ruangan kerja Evan.
"Nyonya, tunggu." kata Sekretaris, mengikuti langkah kaki Reine.
Reine marah, "Apa yang Evan lakukan di ruangannya, sampai-sampai Sekretarisnya begitu gigih menutupinya. Mengesalkan sekali. Sekarang perasaanku jadi tidak enak. Jangan-jangan ... " batin Reine menebak.
Sesampainya di depan pintu, Reine langsung saja membuka pintu dan mengejutkan semua orang. Sekretaris pribadi Evan berdiri di belakang Reine, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sedangkan Evan yang kesal kesenangannya terganggu, langsung mrnegur Sektetarisnya. Tanpa menyadari jika Reinelah yang membuka pintu.
"Sudah aku bilang. Jangan mengganggu!" sentak Evan. Ia memalingkan pandangan ke arah pintu dan kaget, saat pandangannya bertemu dengan tatapan tajam Reine. "Re-reine ... " gumam Evan.
Reine kaget saat mendapati Evan setengah telanjang dan ada wanita cantik di pangkuan Evan yang bahkan tidak mengenakan pakaian sama sekali. Namun, Reine berusaha tenang dan menguasai emosinya.
Di saat Evan menyadari kedatangan Istrinya, ia segera mendorong wanita dipangkuannya ke sofa, seolah ingin menghilangkan jejak. Ia bahkan merasa aneh, karena Sekretarisnya juga ikut melihat sesuatu yang tidak seharusnya.
__ADS_1
Reine memalingkan wajah menatap Sekretaris Evan, "Kau bisa kembali ke mejamu." pinta Reine.
Sekretaris menganggukkan kepala, "Ba-baik, Nyonya." jawabnya panik.
Dengan terburu-buru, Sekretaris Evan segera pergi meninggalkan Reine yang berdiri di depan pintu ruang kerja Evan. Beberapa detik kemudian, Reine masuk ke dalam ruangan lalu, segera menutup pintu. Ia melangkahkan kaki mendekati Evan dan wanita yang bersama Evan.
"Reine ... a-aku bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang kau lihat. A-aku ... " kata Evan terbata-bata bicara.
Langkah kaki Reine semakin dekat dengan wanita yang duduk di samping Evan. Tangan Reine langsung mencengkram kuat dagu wanita itu dan menadahkan paksa kepalanya.
"Apa hanya segini seleramu, sayang? tidakkah aku lebih cantik darinya?" kata Reine.
Evan melebarkan mata, begitu juga wanita yang dagunya dicengkram Reine. Evan tidak bisa memungkiri jika Reine lebih cantik dibandingkan wanita yang bermain bersamanya. Akan tetapi, Evan sangat tidak menyukai sikap dan perilaku Reine yang membuatnya muak.
"Pria bodoh! mencari j*l*ng yang tidak ada apa-apanya seperti ini. Apa yang menarik dari wanita penggoda ini? Ah, karena aku sedang senang. Aku akan lihat, bagiamana dia akan melayani suamiku tersayang." batin Reine tersenyum jahat.
"Hei, aku punya pekerjaan untukmu. Kau kan suka menggoda suami orang. Bagaimana, jika kau tunjukan itu untukku." kata Reine.
Wanita itu kaget, "A-apa?" katanya.
"Reine. Apa yang kau lakukan? apa maksud ucapanmu itu?" kata Evan yang juga terkejut.
Reine menatap Evan, "Kenapa kaget? bukankah kau tadi sangat menikmati disentuh-sentuh olehnya? aku hanya ingin menjadi penonton saja. Bagaimana kau dan j*l*ng ini bermain panas." jawab Reine.
"Apa kau gila? bagaimana bisa kau punya pikiran seperti itu, hah?" sentak Evan melebarkan mata.
"Ya, aku memang sudah gila! bagaimana, tidak? aku bahkan melihat sendiri suamiku disentuh wanita lain selain istrinya." sahut Reine pura-pura tersenyum.
"I-itu bukan apa-apa. Aku dan dia ha-hanya ... " elak Evan. Kata-kata Evan terpotong oleh Reine.
"Hanya apa? hanya bersenang-senang maksudmu?" sahut Reine. Mata Reine tajam menatap wanita di hadapannya, "Apa yang kau tunggu? cepat lakukan!" perintahnya.
"Apa-apaan wanita ini. Dia sudah gila!" batin wanita di hadapan Reine.
"Jangan bertingkah, Reine." sentak Evan lagi.
"Kau yang jangan bertingkah. Aku bisa daja segera menghubungi orang tuamu dan segera melaporkan apa yang kulihat, Evan. Ingat ini, yang melihatmu tidak hanya aku. Ada Sekretarismu juga." kata Reine, tersenyum masam.
Evan mengernyitkan dahi, "Ta-tapi, kan ... " gumam Evan yang langsung dipotong oleh Reine.
"Tidak ada tapi-tapi. Segera lakukan atau aku akan menghubungi Papa dan Mamamu sekarang." ancam Reine.
Meski terpaksa Reine tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi Evan pelajaran yang setimpal. Akhirnya wanita di hadapan Reine melakukan apa yang diperintahkan Reine. Begitu juga Evan yang terpaksa melakukan sesuatu dengan wanita yang ia bawa.
__ADS_1
Tatapan tajam Reine begitu lekat. Reine menatap kesal, jengkel bercampur kecewa. Seketika rasa cinta yang dulunya terpendam langsung memudar. Reine menanamkan rasa benci ke dalam hatinya untuk Evan. Dan bertekad membalas setiap perbuatan Evan yang menyakiti hatinya.
*****