Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 102. Bersenang Senang Sebelum Jatuh (1)


__ADS_3

Peringatan!!!


Bacaan di bawah ini mengandung unsur 21+, darah, kekerasan, umpatan dan lain sebagainya. Diharapkan pembaca bijak dalam menyikapi bacaan. Terima kasih.


Reine sudah kembali ke apartemennya. Saat duduk santai menikmati dessert, ia kembali memikirkan ucapan Lora. Pikiran juga hatinya, kembali resah dan gelisah.


"Hahhh ... " hela napas Reine, duduk bersandar di sofa.


"Kenapa, ya? ucapannya seolah-olah dia sudah tahu semuanya. Seperti seseorang yang sedang memperingatkan. Gara-gara hal ini, aku jadi kepikiran." batinnya.


Reine lalu, duduk dengan tegap. Dia menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napasnya perlahan. Ia mendengar seperti ada orang yang membuka pintu apartemennya.


"Siapa?" gumam Reine. Ia menatap arah pintu apartemennya.


Benar saja. Ia melihat Frans masuk dengan membawa beberapa tas berisikan bahan makanan dan lain-lain sebagai isi lemari pendingin.


Reine menghela napas, "Hahhh ... astaga, kukira siapa." batin Reine lega.


Frans menatap Reine yang terlihat kaget, "Ada apa, sayang?" tanya Frans.


"Tidak ada. Hanya sedikit kaget, karena aku sedang memikirkan sesuatu." jawab Reine.


Frans mendekati Reine, Apa yang kau pikirkan memangnya?" tanya Frans khawatir.


"Tidak apa-apa, sayang. Bukan hal penting. Oh, ya. Kau datang? kau tidak kerja? ini kan masih jam kerjamu." kata Reine.


Frans mencium kening Reine lembut, "Ya, aku memang kerja. Tapi, aku sengaja datang untuk belanja. Kemarin kulihat di dalam lemari pendingin kosong. Jadi, kupikir aku akan mengisinya sekalian memasak untukmu, jika kau ada di rumah. Jika kau tidak ada, aku akan kembali ke kantor setelah menata semua isi dalam tas belanjaan." jelas Frans.


Reine tersenyum, "Terim kasih. Kau selalu perhatian padaku, sayang." kata Reine.


"Ya, pasti. Apapun utukmu. Selagi bisa kuberikan akan kuberikan. Selagi kubisa akan kulakukan. Selagi kumampu, juga akan kuwujudkan. Karena kau segalanya untukku. Jadi, kau tidak perlu merasa tidak enak lagi." kata Frans begitu manis.


Reine tersenyum lagi, "Hmm ... manis sekali. Bagaimana, ini. Aku semakin menyukaimu." ucap Reine.


Frans merona, wajahnya memerah. Saat ia merasakan tangan Reine menyentuh wajahnya. Tubuhnya yang dingin mulai memanas. Setiap sentuhan Reine membuatnya bergairah. Ditahannya tengkuk leher Reine lalu, diciumnya bibir Reine lembut. Ciuman itu sangat lembut dan manis.


"Umh ... " gumam Reine. Dadanya berdebar kencang, saat bibirnya menyatu dengan bibir Frans.


"Ahh ... aku sudah gila. Aku semakin menyukai pria ini. Bagaimana, ini. Aku tidak bisa mengendalikan diri lagi." batin Reine.


Reine membalas ciuman Frans. Tangannya melingkar di leher Frans. Tentu saja itu membuat Frans senang. Ciuman keduanya berlangsung cukup lama.

__ADS_1


Ciuman selesai. Frans menatap Reine lalu mencium pipi Reine lembut.


"Bagaimana, ini? aku mungkin tidak bisa menahan diri lagi." bisik Frans menggoda Reine.


Reine menatap Frans, "Kenapa harus kau tahan?" tanya Reine.


"Aku harus kembali ke kantor, sayang. Sore ini ada rapat penting." jawab Frans.


Reine merengut, "Ya, sudah. Pergilah kerja. kenapa juga kau ke sini tadi." gumam Reine. Ia lantas bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar.


Frans diam menatap Reine, "Sayang, kau marah?" tanya Frans.


Reine tidak menjawab. Ia terus berjalan masuk dalam kamar. Bahkan terdengar suara pintu yang dibanting Reine.


Brakkkk ....


Pintu Ditutup kasar oleh Reine. Membuat Frans kaget.


"Hah, dia imut sekali jika merajuk. Bagaimana, ini. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamanya." batin Frans.


pada akhirnya, Frans mengikuti Reine masuk dalam kamar dan berusaha membujuk kekasihnya itu.


***


"Hhh ... Frans ... umh ..." lengkuh Reine. Saat tangan besar Frans bergerilya ke mana-mana.


"Hm, apa? kenapa memanggilku?" bisik Frans.


Frans menggigit dan menghisap lembut daun telinga Reine. Membuat Reine semakin berga*rah. Sentuhan demi sentuhan terus dilancarkan Frans untuk memancing lengkuhan Reine.


Tanpa di sadari, Reine sudah menanggalkan semua pakaiannya. Melihat kekasihnya yang seperti itu, Frans ingin sekali menerkam kekasihnya itu dan memakannya. Tapi, ia tidak bisa lakukan, karena waktu yang terbatas.


Frans menatap Reine, "Sayang, bisa kita tunda hal ini malam saja? aku ada rapat," kata Frans.


"Hmmm, ok. Tapi ... kau harus punya cara menggantikannya. Terserah apa saja." jawab Reine.


Frans berpikir, "Apa, ya? yang pasti aku harus membuatnya puas." batin Frans.


Tidak lama Frans tersenyum. Ia seperti sudah menemukan ide. Tentu saja, itu membuat Reine penasaran. Mengapa pria di hadapannya tersenyum menatapnya


"Ada apa?" tanya Reine penasaran.

__ADS_1


"Bagaimana, jika kita berendam. Aku bisa memijat dan menggosok punggungmu juga bahumu." tawar Frans.


Reine terdiam sesaat, "Ah, benar-benar. Pria ini punya pikiran jauh juga, ya. Tidak masalah juga berendam. Kebetulan aku sedang suntuk karena banyak pikiran. Mungkin dnegan berendam aku bisa melepaskan beban pikiran ini." batin Reine.


"Kau ini. Selalu bisa membuatku terkejut. Baiklah, ayo kita berendam. Tidak hanya bahu dan punggung, bila perlu kau juga harus memijat seluruh tubuhku." kata Reine bergurau.


Frans menganggukkan kepalanya perlahan, "Dengan senang hati, sayang. Apapun keinginanmu." kata Frans yang lalu, tersenyum tampan.


***


Selama ada di dalam bath up, keduanya tidak lebih melakukan adegan lainnya selain berciuman. Frans masih ragu untuk melampiaskan h*sr*tnya. Ia tidak mau pekerjaannya kacau. Meski terus meminta dan mengizinkan juga, tetap saja ia ingin menahan diri.


Melihat apa yang dilakukan Frans, Reine terlihat sedikit kecewa. Ia sudah mempersiapkan diri, suhu tubuhnya sudah memanas dan menggebu. Tapi, Frans masih terlihat tenang-tenang saja.


Frans memeluk Reine, "Kenapa? Kenapa kau murung, sayang?" tanya Frans.


Reine menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak apa. Bukan apa-apa." Jawab Reine.


"Apa kau kecewa?" Tanya Frans lagi.


"Ya, sedikit. Kita sudah menggebu seperti itu. Tiba-tiba kau menghentikan semuanya. Aku merengek pun kau menolak bercinta denganku." keluh Reine.


"Maaf, sayang. Aku tidak menolakmu. Hanya saja, waktu terbatas. Kau kan tahu, aku tidak akan pernah cukup melakukannya sekali. Jika bersamamu terlalu lama, aku takut aku tidak akan bisa berpisah. Lalu, jika aku tidak ke kantor, maka Junie akan mengomel dan marah-marah. Kau mengerti kan maksudku," ucap Jonathan.


"Ya, tidak apa. Lebih baik juga. Dengan begini aku tahu kau bisa menjaga nafsu biarahimu meski kau melihatku tanpa pakaian sewaktu-waktu." ungkap jujur Reine.


"Laki-laki mana yang tak akan tergiur, Reine. Terlebih pada wanita cantik dan bertubuh seksi sepertimu. Jangankan laki-laki lain. Aku pun, sangat, sangat dan sangat tergoda ingin menikmatinya. Namun, aku hanya bisa sebatas menikmati bagian luarnya saja hari ini. Aku tak mau menjadi orang yang lebih b*r*ngs*k lagi dengan mendominasimu. Kau paham apa yang ku ucapkan?" Jelas Frans.


Reine menganggukkan kepala lagi, "Ya, aku mengerti" jawab Reine.


Reine tiba-tiba mengubah posisinya. Ia langsung berbalik tanpa aba-aba, Reine ingin keluar dari bath up. Namun, Frans menahan Reine pergi. Dipeluknya erat pinggang ramping Reine. Ia mencium tengkuk, bahu, punggung sampai turun.


Setiap kecupannya meninggalkan jejak. Tangan yang melingkar di perut pun tak tinggal diam, diusapnya perut dan lalu naik ke d*da Reine. Di sana tangan Frans bermain.


"Umh ... Fra-frans ... " panggil Reine terbata.


Ia merasakan rangsangan yang begitu hebat. Karena terangsang, Reine menjadi membayangkan hal yang tidak-tidak dengan Frans. Sampai mengharapkan apa yang di pikirkannya menjadi kenyataan. Reine tidak tinggal diam, ia meraba area sensitif milik frans.


"Sial! aku tidak akan tahan lagi jika Reine terus menggeliat, melengkuh dan meraba ku begini." Batin Frans.


*****

__ADS_1


__ADS_2