
Lora*
Aku dan Alexias sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku memikirkan kata apa yang akan pertama kali kuucapkan pada Papa dan Mamaku. Haruskah aku katakan, jika aku merindukan mereka. Atau, haruskah aku bersikap biasa-biasa seolah tidak ada apa-apa.
Kurasakan sesuatu memegang tengaku. Saat kulihat, itu adalah tangan Alexias. Ia mengusap tanganku seakan menenangkan aku.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Tidak ada," jawabku.
"Kau kira aku tidak tahu. Apa yang sedang kau pikirkan? Dengar, sayang. Katakan sesuai apa yang ingin hatimu katakan. Lakukan itu, jangan ragu. Ok." katanya dengan santai.
Aku kaget. Pria ini langsung tahu apa yang kupikirkan. Tidak hanya itu, setelah aku pikirkan ucapannya benar juga. Aku memang harus tenang dan bersikap sesuai keinginan hatiku.
"Terima kasih. Kau selalu tahu semua yang kupikirkan dan kubutuhkan." kataku menatap Alexias.
Rambutku diusap lembut oleh Alexias, "Ya," jawabnya.
Alexias kembali fokus mengemudi. Aku juga kembali memikirakan hal lain. Tiba-tiba ponselku yang ada di dalam tas berdering. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat Agatha menghubungiku.
"Oh, ini pasti soal anak-anak." pikirku.
Aku menerima panggilan itu dan ternyata yang berbicara adalah Oriana. Ia mencari Alexias.
"Ya, hallo ... " jawabku.
"Mami, ini Oriana. Papi di mana? aku hubungi ponselnya tidak di jawab." kata Oriana.
Aku menatap Alexias, "Oh, kau mencari Papi? ada apa?" tanyaku. Alexias pun menatapku dengan tatapan mata bingung.
"Pasang pengeras suara saja," lirih Alexias.
"Ya, Mi. Aku mau bicara. Ini cukup penting." kata Oriana.
Aku pun mengaktifkan pengeras suara. Alexis langsung bicara dengan suara keras.
"Bicaralah, Mami sudah aktifkan pengeras suara. Papi akan dengar, Nak." katanya.
"Pi, aku sudah kirim foto dan video yang Papi minta. Jadi, belikan aku cemilan sebagai upahnya." kata Oriana, singkat dan jelas.
Jujur aku bingung, apa yang Oriana maksud. Tapi, aku tidak mau menyela pembicaraan mereka.
"Oh, terima kasih. Kau yang terbaik. Papi akan lihat nanti. Soal cemilan, jangan khawatir. Papi akan beli beserta tokonya nanti. Kau akan jadi pemilik toko itu." kata Alexias tersenyum.
"Wah, sungguh? Papi tidak boleh menarik ucapan Papi kembali, ya. Aku akan pegang kata-kata Papi. Kata Mami, jika berbohong akan membuat hidung panjang." kata Oriana terdengar penuh semangat.
"Papi tidak akan ingkar janji, Nak. Jangankan satu toko, mau seratus atau seribu tokopun, Papi akan berikan." kata Alexias menambahi.
"Tidak, satu saja. Terlalu banyak juga merepotkanku untuk mengurusnya." jawab Oriana.
Aku kaget, mereka bicara dengan sangat lancar dan tanpa kendala. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicara, yang jelas mereka. Yang jelas mereka seperti sedang bertransaksi. Ada sesuatu yang dikerjakan, dan ada upah untuk pekerjaan itu. Ya, seperti itulah kira-kira.
"Papi, Papi, Papi ... " panggil Olesia.
__ADS_1
Alexias tersenyum, "Ya, Lesi. Ada apa?" sahut Alexias.
"Papi, tebak aku di mana?" tanya Olesia.
"Di mana, ya?" gumam Alexias.
"Aku di kantor Bibi. Aku sedang bermain dengan Nona Sekretaris." kata Olesia.
"Oh, ya? Wah, apa putriku mau belajar bagaimana menjadi Sekretaris dari Nona Sekretaris?" tanya Alexias menggoda.
"Tidak juga. Aku hanya menyukai Nona Sekretaris karena dia mengajakku jalan-jalan berkeliling dan bersikap ramah padaku. Jika aku sudah dewasa nanti, aku mau berdiri di depan pintu ruangan Papi untuk menjaga Papi." kata Olesia dengan polosnya.
Alexias tersenyum lagi. Sepertinya ucapan Olesia terdengar lucu.
"Ya, baiklah. Apapun itu, lakukan saja. Papi akan mendukung keputusanmu." jawab Alexias.
"Ya, sudah. Aku mau lanjut pergi ke dapur. Nona Sekretaris mau membuatkanku teh susu. Dahh Papi, dahh Mami. Aku sayang kalian berdua." kata Olesia.
Sejenak suasana hening. Sampai dan Alexias mendengar suara Agatha.
"Hallo ... " suara Agatha.
"Ya, Hallo. Apakah anak-anak sudah selesai dengan Papi mereka?" tanyaku.
"Oh, sepertinya sudah. Oriana pergi bersama Ezra untuk beli kue. Olesia ke dapur dan Odellia tidur." jawab Agatha.
"Ah, begitu. Baiklah. Aku titip anak-anak dulu, ya. Ada hal yang harus kuurus, Agatha. Maaf, aku harus merepotkanmu." kataku merasa tidak enak pada Agatha.
"Ya, tidak apa. Asal mereka tidak mengganggumu bekerja." kataku.
"Tidak mengganggu sama sekali. Mereka sudah mandiri, Lora. Aku bangga padamu, bisa membuat mereka seperti itu. Oh, aku ada panggilan. Aku sepertinya harus lanjut bekerja. Kalian hati-hati," kata Agatha yang langsung mengakhiri panggilan begitu saja.
Aku maasukan ponselku kembali ke dalam tas. Tidak lama kemudian kami sampai. Segera mobil terparkir lalu, kami berdua turun dari dalam mobil. Tanganku digandeng Alexias masuk ke dalam gedung rumah sakit. Aku mengikuti langkah kaki Alexias. Sampai kami bertemu seorang perawat yang membawa kami ke ruang dokter.
Di ruangan itu, seorang dokter laki-laki paruh baya sedang menatap layar komputer seperti sedang melihat video operasi. Alexais menyapa dan memperkenalkan aku dengan dokter itu. Setelah kami berkenalan. Aku Baru paham tujuannya mengajakku datang. Tidak lain adalah untuk mengetahui keadaan Papa.
Dokter menjelaskan detail keadaan Papa secara menyeluruh. Aku diam mendengar, bersama Alexias yang duduk disampingku. Hatiku terasa sakit, saat tahu Papa terkena serangan jantung. Papaku yang selalu sehat dan menjaga diri dengan baik meski sibuk kerja, sakit karena harus memikirkan perusahaan. Mama juga pasti sangat sedih, wajah Mama yang kaget, aku sudah bisa melihat meski hanya dengan membayangkan.
Ingin rasanya aku menangis. Tapi, aku berusaha menahan. Aku tidak boleh menangis di sini, tidak boleh. Aku terus menguatkan diriku sendiri. Cukup lama dokter itu menjelaskan. Setelah selesai mendengar penjelasan dokter, kami pergi meninggalkan ruangan. Aku meminta Alexias menungguku, karena aku mau ke kamar mandi.
Pada saat di kamar mandi, aku masuk dalam bilik dan menangis. Aku menutup mulutku agar tidak menimbulkan suara. Dadaku terasa sesak dan nyeri. Sungguh, bukan ini yang kuharapkan untuk keluargaku. Meski aku pernah dibuang dan aku kecewa. Aku tidak bahagia jika sesuatu hal buruk terjadi pada Papa atau Mamaku. Karena aku tidak bisa begitu saja mengabaikan, jika mereka adalah orangtua yang melahirkanku, membesarkanku, membiayaiku dari bayi sampai aku dewasa.
Mereka marah juga bukan karena hal lain. Wajar jika mereka kecewa, anak yang mereka besarkan penuh cinta dan dwngan sepenuh hati justru mengecewakan. Membawa aib keluarga.
***
Aku keluar dari kamar mandi. Alexias tiba-tiba memberikan sapu tangan padaku. Aku kaget saat melihat sapu tangan putih ada di hadapanku.
"Cuci mukamu dulu. Mataku bengkak," katanya.
Deg ...
Aku kaget, aku sudah menunduk menyembunyikan wajahku dan tidak memandangnya. Tapi, pria ini lagi-lagi tahu apa yang sudah kulakukan tanpa aku bicara.
__ADS_1
Aku menerima sapu tangan pemberiannya, "Tunggu aku, aku akan segera kembali." kataku.
"Berikan tasmu, aku akan membawakannya untukmu. Aku juga akan menunggumu di sini. Lakukan dengan perlahan, jangan terburu-buru." katanya lagi.
Aku langsung memberikan tasku padanya. Tanpa menjawab aku kembali masuk dalam kamar mandi untuk mencuci wajahku.
Sekitar lima menit kemudian, aku kembali dan melihat Alexias bersandar dinding sembari bermain ponsel menungguku. Di bahu kirinya, ada tasku. Aku tersenyum sesaat melihatnya. Dia benar-benar menurunkan harga diri demiku. Tidak banyak pria yang mau sepertinya di dunia ini. Apapun itu, dia adalah pria terbaik dari yang paling baik sekalipun.
"Kau tidak malu berdiri di sini membawa tasku begitu?" tanyaku mendekatinya.
Alexias menatapku,"Ah, apa kau sudah selesai?" tanyanya padaku, ia lalu melihat tas yang di kenakanya lalu memberikannya padaku, "Kenapa malu. Ini kan tas milik istriku bukan hasil curian." katanya.
"Haha ... " tawaku, "Ya, terima kasih. Kau memang selalu bisa diandalkan." jawabku.
Alexias mengusap rambut, lalu mengusap wajahku. Dia mencium kedua kelopak mataku lembut lalu, mencium keningku.
"Jangan sedih lagi. Aku juga bisa menangis nanti," katanya pelan.
"Iya, aku sudah tidak manangis. Tadi hanya terbawa suasana saja. Ayo, aku ingin segera bertemu Papa dan Mama lalu memberikan undangan pernikahan kita." ajakku. Tidak ingin berlama-lama lagi.
Alexias mengulurkan tangan, aku menyambitnya. Digenggamnya erat tanganku. Kamipun berjalan berdampingan menuju ruangan Papaku dirawat.
***
Sesampainya di depan pintu. Aku ketuk dan aku buka pintu di depanku. Aku lalu, masuk dan melihat ada Papa, Mama juga Reine. Mereka melihat ke arahku dengan ekpresi terkejut. Mata mereka membulat sempurna.
Aku merasa canggung. Ini tidak nyaman. Aku memalingkan wajahku menatap Alexias. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku. Dia pun ikut masuk bersamaku. Mama memanggilku, Papa juga. Suara yang kurindukan, akhirnya bisa aku dengar.
Tidak bisa kupungkiri. Ingin sekali kakiku berlari memeluk Papa dan Mamaku segera. Tetapi aku tahan. Aku berusaha bersikap biasa saja dan tenang. Aku melangkah mendekati kedua orang tuaku. Mamalah orang pertama yang memelukku. Mama menangis dan meminta maaf. Mama mengatakan jika Mama menyesal.
Tubuhku tidak menolak, justru merespon perlakuan Mama. Tanpa sadar aku mengeratkan pelukanku, sampai aku mengusap dan menepuk punggung Mama. Paus berpelukan, Mama mengusap wajahku dan memujiku semakin cantik. Pujian itu selalu aku dengar dulu. Mama selalu memujiku cantik dalam setiap kesempatan. Karena bagi Mama, aku memanglah yang paling cantik.
Aku menatap Papa, aku memeluknya setelah Papa terus bertanya apakah aku Lora putrinya atau bukan. Apakah yang Papaku lihat nyata atau hanya mimpi. Aku menegaskan jika aku nyata. Pada saat memelukku, aku bisa merasakan tubuh Papa gemetar. Jantung Papa berdegup kencang tidak beraturan. Aku jadi ingat apa yang dikatakan dokter sebelumnya. Dan itu membuatku marah saat aku ingat, Reine juga ada di sini.
Kami melepas pelukan. Aku bertanya pada Papa. Apa yang Papa rasakan. Tapi, Reine menjawab dengan cekatan dan seolah menutupi fakta akan kesehatan Papa yang buruk. Dia mengatakan jika Papaku baik-baik saja dan sakit karena kelelehan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu. Dia sungguh tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu? tanpa banyak menunggu, aku langsung membalas ucapannya dengan dingin.
Kamipun berdebat setelahnya. Reine tidak terima apa yang kukatakan. Aku memang sengaja menjelakam Evan di hadapan Reine. Dan dia salah sangka, mengira aku iri hati pada Evan. Dia kira aku masih berharap pada Evan. Cih! ingin rasanya aku murka tetapi aku masih menahan diriku agar tidak lepas kendali.
Semakin lama, ucapan Reine semakun tidak enak didengar. Ia sampai menatap Alexias lalu menyindirku akan kejadian enam tahun lalu. Dengan arogannya dia mengatakan aku adalah wanita murahan bekas pakai pria asing yang tidak dikenal. Tentu saja, hal itu membuat Alexias yang merupakan 'Pria asing tidak dikenal itu' kesal. Aku melihat ekspresi wajahnya berubah. Dan aku segera menggandeng tangannya di balik punggungku.
Aku tidak mau Lexias terbawa arus cerita Reine. Alexias menagan diri. Tidak dengan Mama dan Papa yang tiba-tiba meninggikan suara. Mareka terlihat kesal. Aku pun mencoba meredakan suasana. Aku membiarkan Reine mengatakan apa yang ingin ia katakan lalu, dengan segera mengusirnya pergi.
Matanya membulat bibirnya sedikit terbuka. Aku tahu dia kaget. Jika tebakanku benar, dia mengira aku akan marah dan tersinggung karena ucapaanya yang menyinggungku enam tahun lalu. Seharusnya aku marah, karena semua penyebab kejadian buruk enam tahun lalu adalah ulahnya dan juga Evan. Namun, aku ingin menertawakan Reine juga pada waktu yang sama. Ingin aku sodorkan Alexias di hadapannyannya dan mengatakan jika 'Pria asing yang tidak kenal itu' adalah Alexias.
Tidak bisa berkata apa-apa. Ia lantas pergi dengan kesalnya. Matanya seoalah memakiku. Tanpa dia ucapkan, aku tahu apa yang ia pikirkan. Tidak hanya satu, dua tahun aku hidup bersama Reine. Aku dulu memang sangat polos dan bodoh, selalu mengikuti keinginanya dan menganggap Reine benar-benar saudaraku. Nyatanya, ia tidak lebih dari sekeekor rubah betina.
Semakin lama semakin paham. Ya, meski sudah terlambat untukku menyadari. Reine adalah seseorang dengab tipikal suka menginginni milik orang lain. Dulu, aku dibelikan hadih, dia juga. Tapi, dia selalu meminta hadiahku untuknya dengan bayak alasan. Saat aku punya teman di sekolah, dia rebut satu per satu temanku. Sampai aku tidak punya teman, dan malah jadi bahan gunjingan juga candaan.
Apa yang kukenakan, dia harus kenakan yang lebih bagus dan berkwalitas. Apa yang ku guanakan, ia harus juga gunakan. Sampai saat aku bertunangan dengan Evan. Reine pun mengincar Evan. Akhirnya aku tahu semuanya. Tahu keburukan hati dan pikiran jahat Reine. Sayangnya, semua itu sia-sia. Karena aku dan dia berbeda. Aku lebih unggul dan kompeten dalam pelajaran di sekolah dan pekerjaanku. Aku tidak serta merta berdiam diri saat semua milikku diramaps. Aku hanya bisa terus meningkatkan kinerjaku. Dan, benar saja. Aku menjadi kebanggan Papa di perusahaan. Mungkin karena itulah, rasa iri hatinya semakin menjadi-jadi padaku. Sampai dia tega mengjualku, membuatku jatuh terpuruk sampai ke dasar jurang yang curam.
Apapun itu, itu semua hanyalah masa lalu. Aku yang sekarang berbeda. Aku adalah Lora yang kuat dan tangguh. Lora yang bagaia, didampingi anak-anakku dan pria hebat seperti Alexias. Aku juga tidak mau diperlakukan sama seperti sebalumnya. Juga, jangan harap bisa menjatuhkanku lagi.
*****
__ADS_1