
Di sebuah ruangan di dalam gedung perusahaan besar. Duduk seorang laki-laki tampan yang berkharisma di singgasananya. Ia tampak fokus melihat layar komputer yang ada di atas meja kerjanya.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu ruangan terketuk. Tidak beberapa lama terbuka dan masuklah seorang laki-laki mendekat.
"Pak CEO," sapanya.
"Oh, Ezra. Bagaimana dengan yang kuminta?" tannya melirik ke arah pria yang baru saja masuk.
Ezra meletakan berberapa berkas dokumen di atas meja kerja Bossnya itu.
"Ini adalah laporan bulan ini dan laporan bulanan bulan lalu yang sudah Anda minta disiapkan. Oh, ya. Saya ingin melaporkan sesuatu. Sepertinya ada masalah dengan pabrik produksi." katanya menjelaskan.
Dahi laki-laki di hadapan Ezra berkerut. Ia mengambil berkas dokomen di atas meja di hadapannya lalu membukanya.
"Di mana Manager?" tanyanya.
"Aku di sini Pak CEO." jawab seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Saya permisi undur diri. Sepertinya ada yang ingin Manager sampaikan pada Anda, Pak." kata Ezra yang langsung melangkah mundur dan berbalik pergi.
Seorang wanita cantik duduk di hadapan laki-laki tampan yang berkharisma itu. Ia dengan santainya melipat tangan dan bertopang kaki.
Pria tampan dan wanita cantik itu adalah saudara kembar. Mereka adalah Alexias dan Agatha Owen. CEO dan Manager sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang produksi pangan.
Melihat saudarinya yang santai, Alexias pun menegur. Ia menyindir halus saudarinya itu.
"Manager kita sangat santai, ya? sampai tidak tahu ada hal penting yang terjadi." sindir Alexias pada Agatha.
"Hoho, sabar dulu. Anda salah menerka, Pak CEO. Saya datang justru ingi bertanya, kapan waktu luang Anda?" tanya Agatha.
"Kenapa?" tanya balik Alexias.
"Apanya yang kenapa? tentu saja kita harus meninjau pabrik itu." jawab Agatha menjelaskan.
"Itu kan tugasmu. Kenapa juga kau membawaku?" jawab Alexias santai.
"Kau ... " kata-kata Agatha terhenti. Karena melihat Alexias yang berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Alexias merasakan mual di perutnya dan ingin muntah. Ini bukan kali pertama ia seperti itu. Sudah sekitar satu bulan ia mengalami keanehan itu.
Beberapa dokter yang dikunjungi menyatakan jika Alexias sangat sehat. Tidak ada masalah kesehatan sama sekali. Meski mendapat pengakuan sehat dari dokter, Alexias merasakan penderitaan dalam dirinya.
Alexias keluar dari kamar mandi dengam tubuh lemas. Ia menyeka wajahnya dengan sapu tangannya. Melihat saudaranya yang tersiksa, Agatha menjadi tidak tega.
"Kau baik-baik, saja? minum dulu." pinta Agatha. Ia memberika segelas aor putih pada Alexias.
"Dari mananya baik? sebulan ini aku sungguh sangat tersiksa. Makan tidak bisa, mencium aroma wewangian juga tidak bisa. Bahkan saat kunjungan ke toko aku juga mual-mual. Bisa gila aku jika lama-lama seperti ini." keluh Alexias.
Ia pun segera menerima gelas berisi aor putih yang diberikan Agatha. Lalu meminumnya seteguk demi seteguk sampai habis setengah gelas.
Agatha berpikir keras. Ia mengkahwatirkan kondisi Alexias sama seperti ia khawatir akan kondisinya. Karena jika Alexias kenapa-kenapa, Agatha juga pasti bisa merasakan ketidaknyamanan meski tidak sebanyak yang dirasakan Alexis.
"Alex kenapa, ya. Padahal beberapa dokter sudah bilang tidak ada masalah apapun. Baik fisik ataupun organ dalamnya. Jika seperti ini, ia seperi mengalami gejala kehamilan saja." batin Agatha. Beberapa detik kemudian Agatha melebarkan mata. "Benar, bukankah aku juga sepertinya saat hamil? tidak salah lagi, gejalanya sama." batinnya lagi.
Melihat saudarinya yang melamun. Alexias pun menegur.
"Agatha ... " panggilnya.
Saat dipanggil Agatha tidak menjawab. Ia sama sekali tidak merespon pangilan Alexias.
"Agatha ... hei, Agatha." panggil Alexias lagi.
Ia pun langsung menarik hidung mancung saudarinya itu agar tersadar dari lamunan. Ternyata itu berhasil, Agatha langsung sadar dan protes karena hidungnya dirarik Alexias.
"Kau ini, apa-apaan. Kau kira hidungku ini apa? asal saja menarik." gerutu Agatha.
Alexias tersenyum, "Ya, ya. Hamba meminta belas kasih Anda, Tuan Putri. Maafkan hamba." kata Alexias menirukan gaya ala-ala kerajaan dalam cerita novel.
"Hah, kau ini menggelikan sekali. Jangan bicara sok lembut seperti itu. Itu kan bukan gayamu sama sekali." protes Agatha.
"Baiklah, baiklah, aku hanya bergurau saja. Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan. Kenapa kau terlihat serius berpikir?" tanya Alexias.
"Tidak seberapa penting juga. Namun ada sedikit kemiripan juga. Kau ingat, saat aku hamil? aku kan juga sama sspertimu saat ini. Susah makan, tidak nyaman tidur. Bahkan hidung pun mulai sensitif." jelas Agatha.
Alexias mengernyitkan dahi, "Ah, jika dipikir-pikir ada benarnya. Masalahnya, aku kan tidak hamil. Bagaimana juga aku bisa hamil, aku adalah seorang pria, bukan wanita." kata Alexias.
"Itu dia yang kupikirkan. Gejalanya sama, Lex. Ini kan aneh." Kata Agatha.
__ADS_1
"Sudahlah. Mungkin tubuhku memang sedang ada masalah. Biarkan saja, nanti juga hilang sendiri." sahut Alexias.
"Kau yakin? kau baik-baik, saja? apa perlu kuminta bantuan Papa atau Mama?" tawar Agatha terlampau khawatir.
"Tidak perlu, Agatha. Aku baik-baik saja. Jangan terlalu cemas, ok." jawab Alexias. Ia berusaha membujuk sang saudari agar tidak terlalu khawatir lagi.
"Ya, baiklah. Jika kau butuh apa-apa, katakan padaku, ya." kata Agatha.
"Hm, soal itu. Aku boleh minta tolong, tidak?" tanya Alexias.
"Apa?" jawab Agatha.
"Tolong belikan cokkies cokelat." jawab Alexias.
Agatha terkejut, "Hah, apa? coba kau ulang sekali lagi." sentak agatha terkejut.
Alexias merasa aneh mengulang permintaannya. Pasalnya, ia sangat tidak suka cooklies sejak kecil terlebih cokelat. Dan kali ini ia meminta cookiea dan itupun rasa cokelat.
"Akan kau berikan pada siapa cookies itu?" tanya Agatha.
"Apa maksudmu kuberikan pada siapa. Tentu akan kumakan, Agatha. Sudahlah, kuminta Ezra saja yang beli." gerutu Alexias.
"Eh, tunggu dulu. Ok, ok. Aku akan buatkan untukmu. Tidak perlu beli, aku bisa membuatkanny jika kau memang ingin." kata Agatha.
Alexias melebarkan mata, "Ah, iya. Benar juga. Kau kan bisa membuat cake, kue, cookies dan sejenisnya. Boleh saja, tolong buatkan aku cookies cokelat, ya." pinta Alexias tersenyum tampan.
"Ok. Besok akan kubuatkan. Ah, tidak. Nanti saja sepulang kerja. Kau jika tidak lembur pulang saja membantuku buat Cookies." jawab Agatha.
"Ya, lihat saja nanti." sahut Alexias.
"Ya, sudah. Aku ke ruanganku dulu. Aku masih harus mengerjakan pekerjaanku yang tadi tertunda." pamit Agatha.
"Ya," jawab Alexias singkat.
Selapas kepergian Agathan. Alexis duduk di sofa dan termenung memikirkan apa yang sudah terjadi Pda dirinya. Terkadang, ia melakukan apa yang tidak biasa ia lalukan sebelumnya. Mulai dari membeli makanan yang tidak ia sukai, hanya karena keinginan sesaat. Mengganti pengharum ruangan dengan aroma bunga yang lembut. Yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia sekarang bahkan menyukai aroma bunga mawar.
Alexias melihat ke vas bunga yang ada di atas meja. Vas itu berisikan tangkai-tangkai mawar merah yang membuat ruangannya segar.
"Ini memang aneh, tetapi ini juga nyata." batin Alexias.
__ADS_1
Ia menghela napas panjang, bersandar pada sofa. Tangannya memijat lembut pangkal hidungnya.
*****