Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 46. Kesayangan


__ADS_3

Hanson mendatangi perusahaan. Di kantor Direktur, ia langsung mengecam tindakan semena-mena Evan pada keluarganya. Hanson juga menunutut pertanggung jawaban Evan atas kehamilan Reine.


"Apa-apaan kau, Evan?" kata Hanson membelalakkan mata.


"Ah, Paman. Selamat datang," sambut Evan tersenyum.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Evan. Katakan, apa yang aku dengar dari Reine itu benar? apakah benar kau akan mengusai perusahaanku? jawab, b*r*ngs*k!" sentak Hanson, menatap tajam pada Evan.


"Ah, si j*l*ng itu mengadu, ya. Dasar wanita tidak berguna. Sia-sia saja aku mempertahankannya di sisiku." kata Evan. Terang-terangan memaki Reine. Evan menatap Hanson, "Ya, benar. Semua yang disampaikan keponakan Paman itu benar." lanjutnya. Evan membenarkan pengakuan Reine yang mengadu pada Hanson.


Emosi Hanson memuncak. Ia langsung mendekati Evan dan langsung menampar Evan.


Plakkk ....


Tamparan keras langsung mendarat di pipi kiri Evan. Hanson menarik krah kemeja Evan lalu memaki Evan.


"Kau adalah orang yang tidak tahu malu, Evan. Aku mempercayaimu, tetapi kau justru bersikap seperti ini. Aku kecewa, aku kecewa padamu!" sentak Hanson.


Evan meraba pipinya, "Berani sekali Pak tua sepertimu menamparku. Keluar dari sini!" usir Evan, mengernyitkan dahi.


"Cih, bocah ingusan sepertimu mau mengusirku. Coba saja kalau kau bisa. Aku masih punya hak atas perusahaan ini." kata Hanson, tak terima diusir oleh Evan.


"Hak apa? apa yang kau miliki?" tanya Evan menatap tajam.


"Aku masih punya saham di sini. Perusahaan ini milikku." kata Hanson.


Evan lantas tertawa, "Hahahaha ... apa kau masih bermimpi? saham mana yang kau maksudkan? sahammu sudah kau pindah tangankan padaku. Tidak ada lagi yang kau miliki di sini, Tuan Elvise." kata Evan memperjelas.


Evan lantas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengatakan jika Reine bersekongkol dengannya menipu Hanson. Kaget mendengar pernyataan Evan, Hanson merasakan dadanya sesak dan tidak bisa bernapas.


"Ti-tidak mungkin," gumam Hanson, yang tiba-tiba jatuh pingsan.


***


Alexias*


Mataku perlahan terbuka. Ku lihat Lora sudah tidak ada di tempat tidur. Di mana dia? dia meninggalkanku begitu saja. Aku menggerutu, bukannya bersamaku dia justru pergi entah ke mana.


Lantas aku bangun dan turun dari temoat tidur. Aku kelair dari kamar hendak menuju meja makan untuk mengambil air minum. Aku melihat sesuatu, Lora mengumpulkan semua pelayan mansion yang entah untuk apa.


Aku berjalan mendekatinya, "Ada apa ini, sayang? kenapa semua pelayan berkumpul?" tanyaku bingung.


Semua menatapku termasuk Lora. Lora tersenyum ke arahku, dia menghampiriku lalu mengusap wajahku dengan lembut. Aku bisa merasakan sentuhannya yang membuat hatiku berdebar.

__ADS_1


"Kau suda bangun? apa ingin sesuatu? Ah, sebentar." katanya. Ia menatap seorang pelayan lalu memerintahkan pelayan tersebut. "Bisa tolong ambilkan air putih? air hangat, ya." kata Lora.


"Baik, Nyonya." jawab pelayan itu.


"Duduklah. Kau pasti haus," katanya menatapku.


Aku senang, dia sangat perhatian padaku. Aku bahagia, dia adalah wanitaku. Aku bersumpah, tidak akan ada wanita lain selain Lora dalam kehidupanku ini.


"Kau sedang apa? kau belum jawab pertanyaanku." tanyaku lagi. Aku penasaran kenapa Lora mengumpulkan semua pelayan.


"Umh, ini bukan hal besar. Aku hanya ingin akrab dengan mereka. Aku hanya memberitahukan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai anak-anak pada mereka. Karena itu hal yang penting, mereka tentu harua tahu, kan? terutama tentang makanan yang bisa dikonsumsi anak-anak kita." jelasnya mendetail.


"Ya, itu benar. Jika mereka tidak tahu, itu akan berbahaya." kataku. Aku melihat semua pelayan, "Apa kalian sudah paham, apa yang Nyonya katakan? jangan sampai salah memberikan makanan untuk anak-anakku. Martha, sepenuhnya kau bertanggung jawab atas hal ini." kataku.


Lora benar, dia sudah melakukan sesuatu yang jauh dari pemikiranku. Jika ada apa-apa dengan anak-anak, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Cukup dengan kejadian beberapa bulan lalu, di mana Odellia terluka.


"Saya mengerti, Tuan. Karena sepertinya Nona-nona mirip dengan Anda. Kami bisa memperkirakannya." jawab Martha tenang.


Tidak lama seorang pelayan datang membawa segelas air dan memberikan padaku. Aku menerima gelas berisi air putih hangat dan ingin pergi melihat anak-anak cantikku.


"Aku mau ke kamar anak-anak dulu. Kau lanjutkan saja apa yang ingin kau sampaikan pada pelayan. Katakan apda mereka dengan jelas dan tanpa ragu-ragu. Mereka diupah untuk bekerja dengan memberikan pelayan terbaik." kataku menatap Lora.


Lora tersenyum, "Iya, aku mengerti. Pergilah, mereka akan takut jika kau terus di sini." kata Lora mengusirku secar halus.


***


Di kamar anak-anak, aku duduk dan dikelilingi ketiga putri cantikku. Mereka mendengarku membacakan buku cerita. Aku yang biasanya bicara di depan Presiden Direktur, CEO dan petinggi perusahaan lainnya kini seakan sedang melakukan presentasi di depan anak-anak. Aku tidak tahu, apakah mereka nyaman dengan apa yang kusampaikan atau tidak. Aku sendirierasa bahasa dan ucapanku masih kaku.


"Hahaha ... Papi lucu sekali." kata Odellia tertawa sampai terpingkal.


"Papi, ini bukan acara dirapat kantor. Kenapa Papi tegang?" kata Oriana seakan mengejekku.


"Iya benar. Papi lucu," tambah Olesia.


Aku malu. Tetapi aku tidak bisa dibeginikan. Aku pura-pura saja jika itu adalah gaya khasku.


"Ehemmm ... anak-anakku yang cantik dan manis, juga menggemaskan. Kalian tidak boleh menertawakan Papi begitu. Itu gaya khas Papi." kataku.


Mereka berbisik-bisik, melirikku lalu tertawa. Tiba-tiba mereka menyerangku. Menggelitikiku.


"Serang Papi ... " kata Oriana.


"Ayo, ayo ... " sahut Olesia semangat.

__ADS_1


"Eh, eh ... apa yang kalian lakukan?" tanyaku kaget. Karena tiba-tiba saja mereka mengeroyokku.


Aku merasa geli. Mereka ternyata mengajakku bermain dan bercanda. Lelah menggelitikiku, mereka pun berbaring di tempat tidur di sampingku. Aku tersyum, mengusap dan menciumi satu per satu dari mereka. Melihat mereka membuatku bersemangat. Siapa sangka, aku akan langsung punya tiga anak sekaligus.


"Papi, apakah Papi menyukai Mami?" tanya Olesia padaku.


"Tentu saja. Papi sangat suka. Kenapa?" tanyaku.


"Tidak, tidak. Aku hany bertanya saja. Jika Papi menyukai Mami. Papi tidak boleh membuat Mami sedih dan menangis, ya." kata Olesia lagi.


Aku tsrsenyum, "Tidak akan, sayang. Papi akan membuat Mami dan kalian semua bahagia. Papi janji," kataku serius.


"Papi, papi, papi ... " panggil Odellia.


"Ya, sayang?" jawabku.


"Apa Papi tahu. Mami dulu pernah bercerita padaku, jika Papi itu orang hebat sangat, sangat tampan." katanya memberitahuku.


"Oh, ya? benarkah seperti itu? Mami kenapa tidak bilang pada Papi, ya?" sahutku berpura-pura murung.


"Ah, mungkin saja Mami malu." sahut Oriana.


Tiba-tiba pintu terbuka. Lora masuk dan bergabung denganku dan anak-anak.


"Apa yang kalian gosipkan? pasti sedanh membicarakan Mami, ya?" kata Lora duduk di sampingku.


"Mami kenapa datang lagi. Katany tadi sibuk," tanya Olesia.


"Oh, Mami sudah tidak sibuk. Urusan Mami sudan selesai." jawab Lora.


"Kalian mau pergi ke rumah Nekek dan Kakek? ingin bertemu Bibi, tidak?" tawarku pada anak-anak.


"Ah, iya. Memang sudah seharusnya kita mengunjungi Papa dan Mama. Sudah lama juga tidak bertemu Agatha." sahut Lora.


"Mau, Pi. Mau." jawab Odellia semangat.


"Asik, bertemu Nenek, Kakek dan Bibi." kata Olesia tak kalah semangat.


"Aku ikut saja," Jawab Oriana.


Kami pun akhirnya bersiap-siap. Sore itu berniat aku mengajak anak-anak dan Lora jalan-jalan lalu ke pergi ke rumah Mama dan Papa. Ingin makan malam di rumah mereka.


*****

__ADS_1


__ADS_2