Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 51. Daftar Sekolah


__ADS_3

Oriana, Olesia dan Odellia sudah mulai beradaptasi tinggal di Mansion milik Papi mereka. Alexias dan Lora pergi membawa si kembar untuk daftar sekolah. Mereka langsung disambut oleh Direktur sekolah. Yang merupakan pengelola.


"Hallo, Tuan, Nyonya." sapa Direktur.


"Hallo, Nyonya Withny. Apa kabae Anda?" sapa Alexias.


"Saya baik. Anda juga terlihat baik, Tuan." kata Olivia Withny.


"Penglihatan Anda memang jeli, Nyonya." sahut Alexias.


"Saya sudah dengar dari Tuan Jeremy, jika Anda dan istri Anda hendak mendaftarkan putri-putri Anda sekolah." kata Olivia.


"Benar. Oleh karena itu, saya mohon bantuan Anda kedepannya." jawab Alexias.


"Dengan senang hati, Tuan. Bagaimana bisa saya menolak untuk membatu Anda yang merupakan atasan saya." kata Olivia.


Lora bingung. Ia hanya dia menyimak pembicaraan Olivia dan Alexias. Tidak ingin kesayangannya diam, Alexias langsung memperkenalkan Lora pada Olivia.


"Nyonya. Perkenalkan, ini istri saya, Lora. Lora, ini Direktur pengelola yayasan sekolah ini." Alexias memperkenalkan keduanya.


"Hallo, Nyonya. Salam kenal, senang bertemu Anda." sapa Olivia ramah.


"Oh, ha-hallo. Ya, salam kenal juga. Saya juga senang mengenal Anda." jawab Lora.


"Beliau orang kepercayaan Papa, sayang. Sudah bekerja pada kami selama kurang lebih dua puluh tahun." jelas Alexias.


"Ah, begitu. Waktu yang lama." sahut Lora.


"Sebelum saya, Papa sayalah yang mengelola yayasan ini. Saya bisa dibilang, hanya generasi penerus." sahut Olivia.


"Mohon bantuan Anda, Nyonya. Anak-anak saya masih banyak kekurangan." kata Lora.

__ADS_1


"Pasti, Nyonya. Saya akan memberikan pelayanan yang terbaik yang kami miliki." jawab Olivia.


"Hm ... tidak, Nyonya. Bukan itu yang saya harapkan. Saya hanya ingin anak-anak saya belajar dengan aman dan nyaman. Serta merasa lebih bebas tanpa tekanan. Anda tidak perlu meminta guru wali kelas memperhatikan anak kami terlalu berlebih. Anak-anak kurang suka hal-hal seperti itu. Mereka pasti merasa tidak nyaman dan aneh. Saya harap Anda paham maksud saya, Nyonya." Lora dengan detail menjelaskan.


"Sudah kuduga. Lora akan bicara seperti ini. Ya, mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa menurut saja. Pemikirannya juga tidak salah. Terlalu memanjakan anak, justru membuat anak tidak bisa mandiri dan ketergantungan bantuan orang tua. Memang, ya. Pilihanku tidak diragukan lagi." batin Alexias.


Olivia kaget, ia tidak sangka bisa bertemu seorang Nyonya kelas atas dengan sikap ramah dan bijak seperti Lora. Ia kagum, melihat Lora yang tidak ingin anak-anaknya diperlakukan istimewa hanya karena Anak dan cucu pemilik yayasan.


"Sungguh seseorang yang sulit dan jarang dijumpai. Biasanya, orang yang mendapatkan perhatian lebih akan senang sampai mengirim hadiah untukku demi ingin terus diperhatikan lebih baik lagi. Nyonya ini sangat berbeda. Ingin anak-anaknya diperlakukan sebagaimana kami memperlakukan anak-anak lainnya." batin Olivia.


"Wuah, Nyonya. Saya kagum akan pemikiran Anda. Sungguh, saya tidak sangka Anda akan bicar demikian." kata Olivia kagum.


"Terima kasih, Nyonya. Saya hanya ingin yang terbaik untuka anak-anak. Itu saja. Hahhh ... sejujurnya, saya merasa lega. Saya tidak mau anak-anak saja menggantungkan kekuasaan Kakek dan Papinya. Menjadi orang yang sombong, tamak dan tidak mau peduli pada teman-temannya. Saya ingin mereka bisa berbaur dengan teman-temanya yang lain. Bermain bersama, bersenda gurau." jelas Lora lagi.


Alasan terbesar, kenapa Lora mengatakan hal demikian. Adalah, untuk mengindari ejekan atau hinaan yang anak-anaknya terima. Lora sedih, setelah mengetahui kebenarnya beberapa waktu lalu saat masih di sekolah lama anak-anak.


"Saya setuju dengan pendapat istri saya, Nyonya. Boleh saja Anda ingin memberikan perhatian lebih. Tapi, tolong jangan sampai membuat anak-anak menjadi tidak nyaman." sambung Alexias.


"Yaaa, soal itu tentu saja tidak perlu di ragukan lagi. Keluarga Owen 'kan bukan keluarga biasa. Reputasinya yang baik harus tetap dipertahankan." batin Lora.


Ketiga orang itu lantas meninggalkan ruang Direktur. Bersama-sama mereka pergi menuju ruang kelas di mana si kembar berada.


***


Sementara itu di Rumah sakit. Hanson sudah sadar. Ia berbicara pada Marlyn perihal Riene dan Evan.


" ... aku tidak sangka akan jadi seperti ini, sayang." kata Hanson sedih.


"Kit berdua telah banyak melakukan kesalahan, Hanson. Terlebih pada Lora, putri kita satu-satunya. Sampai detik ini, karena malu, kita tidak pernah menghubunginya atau sekedar mengiriminya pesan." kata Marlyn, dengan mata berkaca-kaca.


"Apa dia masih mau menerima maaf kita, Marlyn. Sudah enam tahun berlalu. Dia pun tidak pernah menghubungi kita. Pasti dia sakit hati oleh ucapanku yang Kasar." gumam Hanson.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Pintu ruangan diketuk dari luar. Ternyata ada seseorang perawat yang datang mengantar makanan Hanson.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya mengantarkan makanan untuk Tuan Elvise.


"Silakan," jawab Marlyn.


Perawat hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja langkah kakinya dihentikan oleh Marlyn. Ia bertanya perihal biaya Administrasi. Marlyn sadar, dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi.


"Maaf, boleh saya bertanya?" kata Marlyn ragu-ragu.


Perawat wanita itupun menatap Marlyn dan bertanya balik. Apa yang hendak Marlyn tanykan.


"Ya, Nyonya. Silakan. Ada apa? apa ada yang perlu saya bantu?" tanya perawat itu ramah.


"Apa Anda tahu, berapa kira-kira biaya perawatan rumah sakit suami saya? Ah, maaf. Seharusnya saya langsung bertanya pada bagian adminisntrasi, ya. Namun, saya tidak punya keberanian untuk bertanya. Saya tidak memiliki apa-apa lagi sekarang." kata Marlyn jujur. Ia tidak mau menutupi kondisinya lagi.


Perawat itu sedih. Tapi, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia diam sesaat lalu, ia pun mengatkan sesuatu yang membuat Marlyn senang.


"Maaf, Nyonya. Doal biaya, bukan tanggung jawab saya. Memang benar itu adalah tugas bagian Administrasi. Tapi, saya akan bantu Nyonya sebisa saya. Saya memiliki beberapa teman di bagian Administrasi. Kami cukup dekat satu sama lain. Setelah saya selesai berkeliling, saya akan coba mencari tahu lewat teman saya dan memberitahu Anda. Nyonya." jawab perawat itu ramah.


"Ah, syukurlah Anda bisa membantu saya. Terima kasih banyak, Nona. Saya tidak tahu lagi harus berterima kasih pada siapa." ungkap Marlyn senang.


Perawat itu tersenyum, "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya senang bisa membantu Anda sekalian. Melihat Anda nerdua, saya teringat akan ibu dan Ayah saya. " jelas psrawat cantik itu. Ia kembali menatap Hanson dan Marlyn lalu berpamitan. "Saya permisi dulu. Nanti saya akan kembali lagi." pamitnya.


"Ya, terima kasih." jawab Marlyn.


Perawat itu lalu, pergi meninggalkan ruangan. Marlyn membantu Hanson untuk makan. Mrlyn sedikit tenang, ia merasa aman dan memuji kebaikan perawat yang mengantar makanan suaminya.


*****

__ADS_1


__ADS_2