Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 81. Kejadian Tak Diharapkan (5)


__ADS_3

Di Mansion ....


Martha menerima panggilan dari Lora. Yang memintanya untuk menyiapkan pakaian ganti Alexias dan makan malam. Sebelum menghubungi Martha, Lora lebih dulu mengirim pesan pada Marc. Pesan yang dikirim berisikan alamat rumah tempat tinggal Christopher, di mana Alexias berada.


Percakapan di telepon*


"Hallo ... " jawab Martha menerima panggilan.


"Ya, Bi. Ini aku. Hm, apa anak-anak sedang makan sekarang?" tanya Lora ingin tahu.


Martha melirik ke arah meja makan yang letaknya tidak jauh darinya. Dilihatnya Nona-nona majikannya dan sang Bibi sedang makan malam bersama. Tak lama, Agatha memalingkan wajah dan menatap Martha. Pandangan keduanya bertemu.


"Ya, Nyonya. Nyonya Agatha dan Nona-nona sedang makan saat ini. Apa ada sesuatu?" Tanya Martha, ia mengalihkan pandangannya ke dapur.


"Bi, tolong siapkan satu set pakaian gantin dan piama Alexias. Siapkan juga makan malam dalam kotak makan sejumla dua porsi lalu, berikan pada Paman Marc." perintah Lora pada Martha.


"Pakaian ganti dan kotak makan," ulang Marth bergumam, "Ah, baik. Saya akan segera siapkan, Nyonya. Setelah disiapkan saya hanya akan memberikan pada suami saya, kan?" tanya Martha lagi.


"Ya, benar. Terima kasih, Bi." ucap Lora.


"Tidak perlu, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya." jawab Martha.


"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya dulu. Kalau bisa tolong siapkan sesegera mungkin, Bi." pinta Lora lagi.


"Baik, Nyonya." jawab Martha.


Panggilan diakhiri. Agatha yang berdiri di belakang Martha langsung menegur dan mengejutkan Martha.


"Ada apa, Bi?" tanya Agatha tiba-tiba.


Matha kaget, "Astaga, Nyonya. Anda mengejutkan saya saja." omel Martha.


Agatha tersenyum, "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud begitu, Bi." kata Agatha.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Ah ... apa Nyonya butuh sesuatu? mau saya ambilkan pencuci mulut lagi?" tawar Martha.


"Tidak, tidak. Aku tidak ada hal mendesak dan ingin sesuatu. Aku hanya mau cuci tangan saja. Tapi, aku sempet dengar sesuatu. Apakah Lora yang menghubungi Bibi? pakaian dan makan malam, untuk siapa, Bi?" tanya Agatha penasaran ingin tahu.


"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Nyonya Lora hanya meminta saya menyiapkan saja lalu, memberikannya pada Marc." jawab Martha.


Agatha mengangguk - angguk. "Ah, begitu. Baiklah, kerjakan segera permintaan majikan Bibi. Aku mau cuci tangan dan lanjut makan malam. Setelah menyiapkan keperluan yang dibutuhkan Lora, Bibi jangan lupa makan juga." kata Agatha.

__ADS_1


"Ya, Nyonya. Jika butuh sesuatu, panggil saja saya." kata Martha.


"Ok," jawab Agatha.


Martha segera pergi, ia memanggil seorang pelayan lain untuk membnatuny menyiapkan makan malam ke dalam kotak. Sedangkan dia membawa seorang pelayan lain lagi untuk ikut bersamanya menyiapkan pakaian ganti Alexias. Ia bergerak cepat, tidak mau membuat majikannya menunggu terlalu lama.


***


Sementara itu, Alexias duduk di depan rumah Christopher. Menunggu Christopher yang sedang mandi. Cukup lama Alexias menunggu, tetapi ia memahami persaan Christopher.


Sekitar lima menit berlalu, dan akhirnya Christopher keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah rapi dan bersih.


"Paman tidak mandi? aku punya pakaian besar, ya ... meski akan sedikit kekecilan di Paman." tawar Christopher.


"Tidak, Chris. Aku begini saja dulu. Nanti baru mandi, sambil menunggu pakaian ganti dan makan malam kita. Oh, ya. Ayo, temani aku jalan-jalan di sekitar sini. Sepertinya di sini, jika malam menyenangkan." Alexias beralasan. Sebenarnya ingin membuat suasana hati Christopher lebih membaik lagi.


"Paman ingin keluar, ya? apa di sini tidak nyaman? Paman bahkan tidak mau masuk ke dalam rumah." Christopher salah paham. Ia mengira Alexias tidak suka rumah beserta lingkungan rumahnya.


Alexias kaget, "Bukan seperti itu, Chris. Kau berpikir terlalu jauh. Aku hanya ingin menikmati angin malam saja. Bukan masalah rumahmu atau apalah yang kau pikirkan itu. Jangan berpikiran macam-macam." sahut Alexias tidak terima dengan pemikiran Christopher.


"Ah, aku hanya mengkira-kira saja, Paman. Maaf, jika Paman tersinggung." kata Christopher, merasa tidak enak hati.


"Eh, tu-tunggu Paman." melihat kepergian Alexias, Christopher pun langsung mengikuti.


Keduanya lantas berjalan bersamaan keluar dari halaman rumah menyusuri pinggir jalan. Cukup lama berjalan, keduanya masih saling diam. Sampai Alexias bertany tentang rencana Christopher ke depannya seperti apa.


"Apa rencana ke depanmu, Chris?" tanya Alexias.


Christopher terdiam sesaat, "Apa, ya? tidak ada hal khusus sebenarnya. Karena aku tidak terlalu berharap apa-apa. Aku tidak mau harapanku menjadi sesuatu yang sia-sia." jawab Christopher nenatap jalanan yang dilaluinya.


"Nak, masa depanmu masih panjang. Kau harus punya yang namanya harapan, impian, keinginan juga ambisi. Aku ingin kau benar-benar menata masa depanmu, Chris. Jangan sampai nantinya kau akan menyesal." kata Christopher.


"Entahlah, Paman. Jujur, aku belum memikirkan apa-apa. Selama ini aku hanya hidup dengan melakukan apa yang kuingin lakukan." jelas Christopher.


"Memangnya, apa yang ingin kau lakukan itu? bisa kau beritahu aku?" tanya Alexias penasaran.


"Membantu Nenek. Aku selalu ingin dan senang membantu Nenek." jawab Christoper


"Ya, ya, ya. Itu jelas terlihat. Jika tidak, kau tidak akan sampai melepaskan masa indahmu." sahut Alexias.


"Jika aku sibuk belajar, aku tidak bisa bekerja paruh waktu, Paman. Selain membuka toko, aku kira-kira, punya dua-sampai tiga pekerjaan lain. Seperti menjaga toko, mengantar makanan sampai kurir. Semuanya kulakukan." jawab Christopher.

__ADS_1


"Tidak heran, mengingat semangatmu yang tinggi. Namun, jika aku boleh mengatakan ini, kau sebenarnya terlalau memaksakan diri. Tapi, sudahlah. Itu semua sudah berlalu. Dulu, ya dulu. Sekarang, ya sekarang. Dulu kau boleh seperti itu, ke ke depannya tidak boleh lagi." kata Alexias, menanggapi ucapan Christopher.


Senyum tipis terukir di bibir Christopher, "Paman ini orangnya sangat berterus terang, ya. Dan juga tegas. Selalu menekan kata atau kalimat yang memang perlu untuk kuingat. Senangnya, aku bisa mengenal sosok seperti Paman." batin Christopher.


Sepuluh menit kemudian ....


Ponsel Alexias berdering di dalam saku. Panggilan dari Marc yang ternyata sudah sampai di tempat, sesuai alamat yang dikirim Lora padanya. Setelah menerima panggilan dari Marc, Alexias pun mengajak Christopher untuk kembali.


"Ayo, kita kembali, Chris. Orangku sudah sampai," ajak Alexias.


"Ya, Paman." jawab Christopher menganggukkan kepala.


Lalu, keduanya berbalik arah dan kembali ke rumah Christopher.


***


Sesampainya di rumah Chrostopher. Benar saja, Marc sudah menunggu, berdiri di depan pintu rumah Christopher dengan membawa dua buah tas. Satu tas berisikan pakaian ganti Alexias, dan satu lagi berisika n makan malam.


"Marc ... " sapa Alexias.


Marc memalingkan wajah menatap Alexias, "Tuan," sapa balik Marc.


Alexias mendekati Marc lalu, Marc memberikan dua tas yang dipegangnya pada Alexias.


"Ini, pesanan dari Nyonya." kata Marc menyampaikan.


"Ah, iya. Terima kasih, Marc." kata Alexias menerima dua tas dari Marc.


"Sama-sama, Tuan. Jika tidak ada hal lain, saya pamit undur diri." pamit Marc.


"Kau tidak masuk dan duduk dulu?" tawar Alexias.


"Tidak, Tuan. Tuan kan tahu bagaimana sifat Martha. Selesai menjalankan tugas utama, tugas selanjutnya saya harus segera kembali." kata Marc.


Alexias tersenyum, "Ya, ya, ya. Aku paham, Marc. Pulanglah. Sekali lagi, Terima kasih." kata Alexias.


"Saya permisi. Selamat malam, Tuan." Marc pun pergi meninggalkan Alexias dan Christopher.


Ditatapnya kepergian Marc, sampai Marc masuk ke dalam mobil. Lalu, Alexias fan Christopher masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


__ADS_2