
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Alexias menggendong Lora masuk ke dalam kamar. Di kamar, keduanya kembali berciuman.
"Tu-tunggu ... a-apa kita akan me-melakukannya?" tanya Lora malu.
"Ya, tentu saja. Kau kan tahu, seberapa berat perjuanganku menunggu datangnya hari ini." jawab Alexias. Ditatapnya Lora yang berbaring di tempat tidur, di hadapannya. "Ada apa? kau lelah? atau tidak ingin melakukan?" tanya Alexias.
Lora menggelengkan kepalanya cepat, "Bukan itu. Aku hanya malu," gumam Lora.
"Malu? malu kenapa?" tanya Alexias.
"Hm, itu ... ada bagian tubuhku yang ... ya, kau kan tahu, aku melahirkan anak-anak dengan operasi. Dan bekasnya ... " kata-kata Lora terpotong, karena Alexias langsung mencium bibirnya begitu saja.
Alexias membelai wajah Lora, "Aku tidak mempermasalahkan tubuhmu. Aku tidak menikahi kecantikan atau kulit yang halus mulus tanpa bekas. Aku menikahimu, karena itu kau. Hatimu, sosokmu." Alexias menatap dalam mata Lora.
Lora langsung memeluk Alexias, "Terima kasih. Aku mencintaimu, Lex. Sangat mencintaimu." gumam Lora.
Alexias mebgeratkan pelukan, "Ya, sayang. Cintailah aku sepenuhnya. Karena aku juga sama sepertimu. Aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri." bisik Alexias lembut.
Pelukan terlepas. Keduanya saling tersenyum, hidung mereka saling menempel lalu, bibir keduanya juga bersentuhan. Kecupan ringan berubah menjadi ciuman kasar.
"Umh ... " gumam Lora, mencengkram tengkuk leher Alexias.
"Dia sangat mahir melakukan ini. Ah, gila! aku jadi tidak bisa berpikir jernih lagi." batin Lora.
Alexias mulai melancarkan serangan-serangan kecil. Seperti menciumi wajah dan leher Lora. Tangannya yang nakal sudah langsung menanggalkan pakaian Lora dan pakaiannya sendiri. Ciuman berpindah, Alexias menciumi seluruh bagian tubuh Lora dengan penuh ga*rah. Dirabanya kulit putih mulus yang seperti susu milik Lora.
"Kau harum, sayang." gumam Alexias.
__ADS_1
Lora hanya diam, wajahnya semakin merah seperti udang rebus. Ia sampai tidak bisa berkata-kata.
"Umh ... Lex, a-apa yang ka-kau lakukan?" Lora kaget, saat ia merasakan sesuatu. Alexias menciumi dan menjejaki area perutnya. "Cukup, Lex. Itu geli. Mmmhhh ... " lanjut Lora.
Tangan yang liar ssmakin liar. Tangan Alexias mengarah ke area-area sensitif milik Lora. Disentuh dan dirabanya penuh kelembutan area tersebut. Membuat Lora semakin meracau bercampur malu tidak jelas.
Dahi Alexias berkerut, "Ahhh ... aku sudah tidak tahan lagi. Milikku sudah bereaksi," batin Alexias.
"Boleh aku melakukannya? aku sudah mencapai batasku," kata Alexias. Ia meninta izin pada Lora. Meski keduanya sudah sah menyandang status suami istri, tetapi hal-hal seperti bercinta juga harus dengan persetujuan dan tanpa paksaan.
"Bagaimana, ini? aku juga sudah tidak bisa menahan diri lagi. Aku ingin merasakan sentuhannya lebih intim lagi. Ini memalukan," batin Lora.
Lora menatap Alexias lalu, menganggukkan kepala. Ia malu menjawab, hanya menggunakan isyarat untuk mengiakan apa yang diminta Alexias. Mendapat persetujuan, Alexias meras senang. Tanpa banyak mengulur waktu, Alexias langsung bertindak.
***
Alexias*
Permainan panas kami akhirnya selesai. Aku sangat puas dan terkapar di sisi Lora. Ini kali kedua aku bercinta dengan wanita yang sama, yaitu Lora. Rasanya hampir gila saat aku menciumi dan meraba tubuhnya. Tubuhnya sangat indah terawat. Aku tidak sangka, ia sangat memperhatikan bentuk tubuhnya.
Hanya dengan mendengar suara seksinya saja, milikku kembali bereaksi. Wajar saja, aku kan pria normal.
"Ya," jawabku tenang. Aku tidak mau sampai ketahuan mesum di hadapan Lora.
Aku mendengar Lora terkekeh. Aku memalingkan wajah dan menatap Lora lalu, aku langsung bertanya apa hal yang dia tertawakan sampai seperti itu.
"Kau sungguh bugar, ya. Kita baru saja bermain panas dan milikmu sudah membesar lagi. Astaga, Lex. Aku akan berbaring di tempat tidur seharian besok jika kau mengulang adegan panas kita lagi." kata Lora tanpa rasa canggung.
Ah, aku merasa malu. Ingin rasanya aku mengali lubang dan bersembunyi. Namun, aku terlalu gengsi memgakui kebernaran itu.
"Ya, aku kan pria normal. Terlebih kita dalam posisi polos seperti ini, hanya tertutup sehelai selimut. Bagaimana tidak bereaksi." gumamku tanpa menatapnya.
Tiba-tiba aku merasakan seuatu. Mataku langsung melebar saat aku merasakan Lora telah melakukan sesuatu di bawah sana.
__ADS_1
"Sa-sayang, kau sedang apa?" tanyaku.
Lora tidak menjawab. Namun, kau bisa melihat dia di dalam selimut, di bawah sana bergerak-gerak. Sesekali aku merasakan sentuhan tangan hangatnya dan sesuatu yang lain yang tidak bisa kusebutkan mendetail.
"Hhhhh ... " tanpa kusadari, aku membuat suara mirip seperti mendes*h.
Aku langsung mengantupkan mulutku, "Oh tidak! seharusnya aku tidak bereaksi gila seperti tadi." batinku.
Wajahku sekarang pasti sudah memerah. Aku terus-terusan disiksa oleh Lora. Dia sungguh handal, bisa membuatku bersuara dan merasakan keenakan.
Rasa yang nikmat, semakun nikmat. Akhirnya, kami kembali bermain panas. Kali ini Lora yang memegang kendali. Sepertinya dia sedang balas dendam. Karena aku sudah membuatnya lemas tidak berdaya. Kini ia ingin melakukan hal sama padaku.
Istriku ini tampak begitu semamgat. Ia seoerti sedang menunggang kuda di arena pacuan kuda. Bibir seksinya tidak berhenti bergumam dan melengkuh. Aku juga terus menahan diri agar tidak menimbulkan keributan.
Cukup lama aku dieprmainkan. Sampai aku merasakan aku sudah berada di puncak kenikmatan. Segera kuubah posisi kami. Aku mendihnya dan membuatnya kaget. Lora melebarkan mata saat tahu aku bergerak cepat mengubah posisi. Aku Langsung melakukan serangan terakhir dan melepaskan yang sudah kutahan-tahan.
Aku mencium kening Lora, "Kau bermain sampai akhir dengan baik, sayang." ucapku memujinya.
"Ya, kau juga. Kau sa-snagat hebat. Aku tidan bisa menandingimu." jawabnya dengan napas berat. Napasnya naik turun karena lelah bermain.
Aku berbaring lagi di sisinya. Lora memelukku. Ia mengatakan jika ia menikmati permainanku dan mengeluh kelelehan. Ia ingin tidur dipeluk olehku.
"Aku menyukai permainan kita, Lex. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Sebagai ganti karena aku sudah memuaskanmu, kau harus memelukku sepanjang malam ini. Ok," pinta Lora tersenyum cantik.
Sungguh, ia terlihat sangat cantik dengan rambut yang terurai. Sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Aku mengangguk, aku langsung merangkulnya dan mengusap-usap kepala juga punggungnya.
Aku juga lelah. Aku ingin tidur. Setelah cukup lama aku memandangi langit-langit kamar, aku pun memejamkan mata untuk segera tidur. Tidak lupa, sebelum aku tidur, aku kecup lebih dulu kening dan hidung istriku yang sedang ku peluk ini.
"Selamat malam, sayang. Selamat tidur. Mimpi indah. Dan, terima kasih untuk malam ini." kataku.
"Hm, iya. Selamat malam juga. Tidurlah, besok aku masih harus bangaun mengurusi anak-anak. Kau jangan berpindah posisi, tidurlah dengan tenang. Terima kasih juga. Hari ini aku merasakan ingatan samar enam tahun lalu. Bedanya, kali ini aku melakukannya dengan perasaan yang lebih menggebu dan lebih menikmatinya. Jantungku tidak berhenti berdegup tadi." katanya.
Aku kaget, dia begitu saja menjelaskan apa yang dia rasakan dengan tanpa keraguan sedikit pun. Aku juga meraskan hal yang sama denganmu, Lora. Jika enam tahu lalu aku melakukannya, karena aku tergoda dan tertarik denganmu, hari aku melakukannya karena aku ingin memilikimu seutuhnya. Karena aku menyayangimu dan mencintaimu. Kau juga sudah membuatku terus berdebar. Dari awal permainan sampai detik ini. Jantungku masih belum bisa terkendali. Rasanya, jantungku ini ingin melompat ke luar dari rongga dada.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ....
*****