Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 18. Bayanganmu (1)


__ADS_3

Kejadian yang hampir merugikan perusahaan milik keluarga Louise sudah sepenuhnya terselesaikan. Berkat bantuan dari Oriana, pelaku bisa langsung diamankan. Berikut pihak-pihak yang teribat. 


Mattew juga memenuhi semua keinginan ketiga cucunya. Ingin mewujudkan impian luar biasa anak-anak dari putri angkatnya. Sampai-sampai, Mattew menyeleksi bebeapa tenaga pengajar ternama. Ia tak main-main dengan keinginanya untuk menyenangkan hati cucu-cucunya.


Mendapatkan pelajaran dari pengajar handal dan profesional, membuat Oriana dan Olesia teramat senang. Begitu juga Odellia dengan perpustakaan pribadi miliknya yang dibuat khusus.


***


Setelah pulang dari latihan, Olesia buru-buru ingin menemui Odellia di ruang baca. Ia ingin menceritakan hal baru yang ia pelajari dari sang pelatih.


"Kira-kira, Lia sedang apa, ya?" gumam Olesia, saat sedang dalam perjalanan menuju ruang baca khusus.


Tidak lama, ia sudah berdiri di depan pintu ruang baca. Dengan segera ia membuka pintu dan masuk dalam ruangan.


"Lia ... " panggil Olesia.


"Ya, di sini." jawab Odellia menyahut.


Olesia menadahkan kepala, ia melihat saudarinya itu sedang menaiki tangga dan mengadap ke arah lemari buku.


"Sedang apa kau, Lia? ayo turun. Aku akan ceritakan sesuatu yang menarik." kata Olesia.


Olesia duduk dan melihat tumpukan buku di atas meja. Ia lalu kembali melirik ke arah Odellia yang sedang menuruni tangga.


"Wah-wah. Kau ini mau jadi kutu buku, ya?" sindir Olesia.


"Kau kan tau aku paling suka membaca. Jika tubuhku tidak lemah, tentu saja aku akan ikut pelajaran bela diri dan olah raga agar tubuhku kuat sepertimu." jawab Odellia.


"Ya, kau kan tahu. Bukan itu maksudku," gumam Olesia.


Odellia duduk di hadapan Olesia. Ia meletakan buku yang baru saja diambilnya dari lemari ke atas meja.


"Nah, apa yang ingin kau ceritakan, Lesi?" tanya Odellia.


Olesia menatap Odelia, "Yah, bukan hal penting. Aku hanya sudah menguasai beberapa gerakan baru. Dan pelatih tadi memuji kemampuanku." kata Olesia bercerita.


"Wah, itu bagus. Kau bisa mengikuti pelajaranmu dengan baik, ya. Selamat, Lesy." puji Odellia pada saudarinya itu.


Olesia tersenyum malu, "Ah, iya. Terima kasih." jawab Olesia.


"Lesi ... " panggil Odellia.


"Ya, ada apa? kenapa?" tanya Olesia.


"Umh, aku ingin bertanya. Bagimu, sosok Papi seperti apa? apa yang kau bayangkan?" tanya Odellia ingin tahu.

__ADS_1


"Pa-pi?" gumam Olesia berpikir. Ia sedikit bingung, "Hm, apa , ya. Aku tidak tahu pasti. Yang jelas dalam pikirabku, Papi adalah sosok laki-laki tampan yang baik dan ramah. Tentu orang yang sangat menyayangi Mami." jawab Olesia.


"Jika kau ditakdirkan bertmu Papi. Apa kau akan senang? apa kau tidak ingin tahu alasan mengapa kita sama sekali tidak bisa melihat foto Papi?" cecar Odellia bertanya.


Olesia kembali berpikir, "Apa-apaan dia ini. Kenapa dia bertanya tentang hal yang tidak jelas begini, ya." batin Olesia.


"Lia, apa terjadi sesuatu?" tanya Olesia.


"Apa maksudmu?" tanya balik Odellia.


"Ya, apa lagi. Kau menanyakan hal yang aneh, Lia. Coba kau jelaskan dulu padaku. Kenapa kau bertanya tentang Papi. Bukankah kita tidak pernah membahasnya sebelumnya?" jelas Olesia.


"Soal itu ... bagaimana, ya. Aku igin tahu tentang Papi. Aku juga pernah tanya di mana Papi dan bagaimana Papi pada Mami. Namun, rasanya masih kurang cukup. Aku ingin lebih tahu tentang Papi. Aku, aku bahkan ingin bertemu dengan Papi." jelas Odellia.


"Tunggu, kau tanya pada Mami? lalu, bagaimana reaksi Mami?" tanya Olesia penasaran.


"Ah, entahlah. Aku tidak begitu perhatian. Yang jelas Mami seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Terkadang Mami bergumam juga bicara sangat pelan. Aku tidak tahu pasti, karena bisa saja itu hanya suara aneh yang kudengar saat aku setengah tidur." jelas Odellia lagi


"Hm ... " gumam Olesia, "Perlukah kita bbertanya lagi Pada Mami tentang Papi? Jujur saja, aku juga ingin bertemu dengan Papi, Ingin tahu bagaimana wajah Papi." kata Olesia.


Keduanya saling menatap dengan perasaan sedih. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Oriana datang ingin bertemu dua saudara kembarnya. Ia berjalan mendekati sofa dan ikut duduk disamping Odellia.


***


Alexias dan Agatha tiba di Hotel. Kamar yang di pakai keduanya bersebelahan. Saat hendak masuk ke dalam kamarnya, Agatha lebih dulu ikut masuk ke dalam kamar saudara kembarnya.


Alexias terdiam sesaat, "Boleh saja. Aku akan bersiap." jawab Alexias tanpa menatap Agatha.


"Yeah ... itu jawaban yang kuharapkan, Lex. Ok, aku akan bersiap. Sampai nanti." jawab Agatha senang. Ia pun segera keluar dari kamar Alexias menuju kamarnya sendiri untuk bersiap.


Alexias berjalan menuju balkon kamarnya. Ia melihat suasana kota yang ramai dari kamarnya. Langit sudah gelap, ia menatap langit sesaat lalu kembali menatap ke arah lain.


"Kenapa, ya. Setibanya aku di sini tadi. Jantungku terus berdegup. Telingaku juga gatal dan sesekali berdengung. Seperti ada yang sedang membicarakanku." batin Alexias meraba dadanya yang masih berdebar.


Deg ... deg ... deg ....


Suara detak jantung Alexias yang bergemuruh. Alexias tidak tahu jika ketiga putrinyalah yang sedang bergosip dan membicarakannya diam-diam.


Beberapa saat kemudian, Alexias masuk kembali ke dalam kamar dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak mau membuat saudarinya mengomel jika ia terlalu lama bersiap-siap.


***


Lora sedang makan malam bersama seseorang. Ia dan seseorang tersebut sedang berdiskusi tentang kerjasama yang akan terjalin di antara keduanya.


"Jadi, bagaimana menurut Anda, Bi? apakah Anda tertarik menggunakan produk kami untuk furniture restorant Anda?" tanya Lora.

__ADS_1


"Yah, tentu saja. Kau kan sudah berusaha keras membujukku." jawab seseorang itu.


Lora tersenyum, "Saya sangat senang. Bibi mau terbuai rayuan saya. Bagaimanapun, Anda adalah teman baik Mama. Sebagai putri beliau, saya akan memberikan pelayan terbaik untuk Anda, Bi." sahut Lora.


"Ini sudah jauh lebih baik, Nak. Rosella beruntung memiliki kau sebagai putrinya. Tidak hanya baik dan ramah. Tetapi juga sangat cantik." pujinya.


"Terima kasih atas pujiannya, Bi. Untuk saya yang masih banyak kekurangan ini." jawab Lora lagi merendah hati.


Lora dan teman baik Mama angkatnya itupun bercengkrama. Mereka kembali mengobrol, tidak hanya masalah pekerjaan. Tetapi juga hal yang lain.


Di tempat yang sama tidak jauh dari keberadaan Lora dan rekan dari Rosella. Alexias dan Agatha juga sedang menikmati makan malam bersama.


"Wah, ini seru. Perjalananku kali ini tidak akan membosankan karena kau ada bersamaku. Hohoho, betapa senangnya aku." ungkap Agatha tersenyum lebar.


"Berterima kasihlah, karena aku mau ikut pergi denganmu. Jika saja masalahnya bisa diselesaikan dengan baik oleh Direktur dan Manager cabang. Kita tidak perlu repot seperti ini, kan." kata Alexias.


Agatha menanggapi dengan anggukkan kepala, "Ya, benar. Sudahlah, tidak apa kita pergi. Sekalian saja kita cuci mata, kan. Siapa yang tahu juga, kau akan menemukan cinta sejati di negera ini." kata Agatha.


Uhukkk ... uhukkk ....


Alexias tersedak dan batuk. Ia segera mengambil gelas berisi air lalu meminumnya sedikit untuk menghilangkan perat di tenggorokannya. Melihat itu, Agatha juga panik. Ia segera menanyakan keadaan saudaranya itu.


"Kau baik-baik saja, kan. Tidak apa-apa, kan." Panik Agatha.


"Kau ini, bicaralah yang benar. Cinta sejati apa, tidak ada hal semacam itu." kata Alexias mengernyitkan dahinya.


"Cinta sejati apa? Mustahil ada hal seperti itu di dunia ini." batin Alexias.


Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara dari seseorang yang tidak asing. Alexias mengingat-ingat, suara samar yang ia dengar itu.


"Suara ini ... " batin Alexias.


Seketika mata Alexias melebar, ia ingat akan sesuatu.


"Ini suara wanita itu," batin Alexias. Ia memalingkan pandangan mencari sumber suara.


Jauh dari pandangannya ia melihat dua orang berjalan pergi meninggalkan meja. Dari samping, Alexias melihat sosok yang ia pikirkan, suara dan postur tubuh yang sama. Seketika Alexias berdiri dari posisi duduknya. Karena terburu-buru, ia menabarak seorang pelayan yang sedang membawa minuman. Dan minumqn itupun tumpah ke pakaian yang di kenalam Alexias.


"Ma-maafkan kecerobohan saya, Tuan." kata pelayan langsung meminta maaf.


Alexias sibuk menatap ke arah pintu keluar, "Tidak apa-apa. Bereskan saja, masukan saja gelas yang pecah itu ek tagihanku nanti. Aku sedang buru-buru." kata Alexias yang langsung berjalan pergi.


"Hei, Lex. Kau mau ke mana?" tanya Agatha kebingungan.


"Aneh sekali. Dia sibuk mengejar apa? apa dia melihat seseorang?" batin Agatha menerka-nerka.

__ADS_1


*****


__ADS_2