Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 42. Manis (5)


__ADS_3

Enam Bulan kemudian ....


Hari-hari dilewati Alexias begitu saja. Ia rela bolak balik antara negara asalnya ke negara Lora tinggal demi bertemu Lora dan anak-anaknya. Ia juga tidak bisa mengesampingkan pekerjaanya. Sebagai CEO perusahaan, ia harus memiliki bertanggung jawab penuh. Baik untuk urusan pribadi atapun bisnis.


Pada saat ia jauh dari Lora dan anak-anaknya. Ia selalu menyempatkan menghubungi atau berkirim pesan, meski hanya untuk bertanya kabar. Jarak tidak bisa menghalangi perhatian dan kepedulian Alexias.


***


Siang itu, Alexias datang menjemput Lora dan anak-anaknya untuk dibawa ke negara tempatnya tinggal. Sebelumnya, banyak hal dipertimbangkan Lora. Namun, Lora juga tidak tega jika harus memisahkan anak-anak dengan Papi mereka.


"Anak-anak, Papi datang ... " ucap lantang Alexias yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Mendengar suara lantang dan melihat sang Papi dari jauh, si kembar tiga langsung berlari bersamaan menyambut Alexias.


"Papi datang," kata Olesia.


"Yeah, Papi." kata Oriana.


"Papi ... papi ... " panggil Odellia.


Alexias langsung merengkuh ketiga putrinya dalam pelukan. Di ciumnya satu per satu anak-anaknya. Lalu ditanyai kabar mereka.


"Hallo, Lia. Bagaimana kabarmu, Nak? kenapa kau berlarian, hm?" sembari menatap Odellia, Alexias mengusap-usap kepala Odellia.


"Aku baik-baik saja, Papi. Aku kan sudah sembuh." jawab lembut Odellia dengan senyuman.


Alexias memeluk lalu mencium lagi kening anaknya itu, "Tetap saja. Kau tidak boleh berlarian, nanti jatuh." kata Alexias, yang lalu melepas pelukan.


"Iya, maaf." jawab Odellia.


Alexias menatap Olesia, "Hei, Nona. Bagaimna latihanmu?" tanya Alexias menatap Olesia sembari mengusap-usap kepala Olesia.


"Papi, kata pelatih. Aku semakin kuat dan hebat. Hah, lihat saja, jika aku sudah besar nanti. Aku akan melindungi Mami, Papi dan juga dua saudariku. Akan ku lawan semua orang jahat yang menindas kalian semua." jelas Olesia dengan bangganya.


Alexias memeluk lalu, mencium anaknya itu. Ia tersenyum merasa bangga, Olesia bisa berpikir untuk melindungi keluarganya meski ia masih belia.


"Anak Papi akan selalu menjadi yang terbaik. Terima kasih sudah mau berusaha dan bekerja keras." kata Alexias melepas pelukan.


"Terima kasih juga untuk Papi yang selalu menyemangatiku." sahut Olesia tersenyum.


Alexias tersenyum menatap Oriana, "Ehemm ... " dehemnya, ia merapikan topi yang dikenakan Oriana. "Anakku yang hanya punya hobby duduk dan makan snack ini, apa kabarnya? apa saja yang sudah kau lakukan bersama komputermu, Nak?" tanya Alexias menggoda Oriana.


"Seperti biasa. Aku melakukan yang terbaik. Aku minta diberikan pelatihan, apa boleh?" tanya Oriana.


"Ah, itu." gumam Alexias menatap Lora yang sedang sibuk menyiapkan makan siang bersama Hannah di dapur. "Ssstt ... " desis Alexias menutup mulut Oriana dengan jari telunjuk tangan kanannya. "Kita akan bahas itu nanti. Ini 'kan rahasia kita." lanjut Alexias bicara.


Oriana menganggukkan kepala, "Ah, iya. Aku mengerti." Oriana memalingkan pandangan menatap Olesia dan Odellia, "Hei, kalian berdua. Dengar, ya. Ini rahasia, rahasia! mengerti?" dengan suara pelan Oriana mengingatkan dua saudari kembarnya agar tidak bocor mulut.


Alexias terkekeh, ia tidak sangka sifat Oriana akan sama persis dengan Lora yang selalu bisa mendominasi lawan bicara. Sedangkan Olesia dan Odellia hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju. Sama sepertinya yang hanya bisa mengangguk di hadapan Lora.

__ADS_1


"Anak-anak, ayo cuci tangan!" perintah Lora yang tiba-tiba saja muncul.


Si kembar tiga langsung menurut. Tanpa menjawab, mereka langsung bersama-sama berjalan menuju dapur untuk cuci tangan. Di dapur, ada Hannah yang menunggu anak-anak asuhnya menghampirinya.


Alexias berdiri dari posisinya berlutut, "Hah ... " hela napas Alexias menatap Lora. "Kenapa kau semakin garang, Nyonya. Anak-anak 'kan jadi takut." kata Alexias.


"Lama tidak bertemu, Tuan Owen. Bagaimana kabar Anda? senang sekali ya, saat makan ditemani klien C.A.N.T.I.K?" gumam Lora menatap tajam.


Alexias melebarkan mata, "Hannah, aku titip anak-anak dulu. Aku ada urusan dengan sahabatmu ini," kata Alexias menatap Hannah di dapur.


"Oh, ok. Silakan saja urus masalah kalian. Anak-anak biar aku yang urus." jawab Hannah lantang.


Alexias langsung menarik tangan Lora dan berjalan menuju kamar tidur Lora. Sedangkan Lora hanya diam mengikuti. Lora tidak menolak ataupun benci saat tanganya ditarik paksa Alexias. Senyumnya justru mengembang.


Lora melihat punggung Alexias, "Pria ini, terlihat semakin menarik." batinnya.


Sesampainya di kamar, Alexias langsung mengunci pintu kamar dari dalam. Ia mendorong Lora ke pintu dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lora. Pandangan keduanya bertemu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lora mengerutkan dahi.


"Apa kau cemburu?" Sahut Alexias, ia bertanya balik pada Lora.


"Apa? Cemburu? hah, siapa yang cemburu. A ... " kata-kata Lora terpotong, karena Alexias tiba-tiba saja mencium bibir Lora.


"Umh .... mmmhh .... "


Lora melebarkan mata. Ia merasakan bibir Alexias setelah hampir dua minggu tidak bertemu. Tanpa disadarinya, ia mengalungkan dua tangannya ke leher Alexias dan membalas ciuman Alexias.


"Aku juga ... " jawab Lora dengan suara pelan.


Bibir Alexias dan Lora kembali menyatu. Alexias merengkuh pinggang Lora, menggendong Lora seperti anak monyet dan membawanya ke tempat tidur.


Lora berbaring, Alexias menindih Lora. Tidak terima, Lora mengubah posisinya menggulingkan Alexias dan menindih Alexias balik.


"Hei, biarkan aku yang menguasaimu." kata Lora tersenyum nakal.


Alexias tersipu, "Dasar ular," gumam Alexaias.


"Ya, tepat sekali. Ular ini sudah berziap menyebarkan bisanya. Bagian mana yang kau minta kugigit lebih dulu, hm?" Lora dengan tatapan mata menggodai Alexias.


Alexias memalingkan wajah, "Hei, jangan permainkan aku. Atau a ... " kata-kata Alexias terhenti saat Lora melepas dasi dan membuka kancing kemeja miliknya.


"A, apa?" bisik Lora.


Lora mencium leher Alexias dan mengendus-endus. Naoas hangat Lora bisa dirasakan Alexias, membuat tubuh Alexias memanas.


"Sabar, Lex. Tahan! wanita ini hanya menguhukummu." batin Alexias.


Wajah Alexias sudah seperti udang yang direbus. Napasnya sampai naik turun. Lora semakin liar, ia mencium dan meninggalkan jejak ciuman di dada Alexias.

__ADS_1


"Katakan, apakah wanita itu snagat cantik?" tanya Lora mendekatkan wajahnya ke wajah Alexias, sampai hidung keduanya menempel.


"Itu kan hanya klien. Aku dan dia tidak sedekat itu sampai aku memberikan kesan cantik atau apalah." jawab Alexias.


"Ooh ... tapi, aku dapar kiriman fotonya berlainan dengan ucapanmu. Kau bukannya sedang tertawa bersamanya?" tanya Lora lagi.


"I-itu, i-itu, a ... " kata-kata Alexias terpotong oleh Lora.


"Aku apa? ayo bicara yang jelas." kata Lora berbisik.


Lora menggigit lembut dan menghisap daun telinga sebelah kanan Alexias.


"Hhh ... Lora, hentikan. Cukup!" ucap Alexias dengan napas naik turun.


"Tidak. Ini belum cukup," bisik Lora.


"Cukup, sayang. Aku menyerah. Aku mohin hentikan." kata Alexias memohon.


Lora meraba dada turun ke perut. Ia menciumi leher, dada dan parut Alexis. Tidak lupa ia kembali meninggalkan jejak-jejak ciumannya.


"Ah, gila! aku tidak akan bisa menahan diri lagi. Ini membuatku gila!" batin Alexias.


Alexias langsung menggulingkan Lora, "Jika kau tidak mau berhenti, ayo kita lanjutkan saja." katanya menatap tajam pada Lora.


"Apa, ini? lakukan apa? jangan bilang lakukan itu," batin Lora.


Lora melebarkan mata, "Eh, ah ... bu-bukan itu maksudku. Tidak boleh lakukan itu. Kita 'lan sudah sepakat hanya akan melakukannya setelah menikah. Kau tidak mungkin ingkar janji, kan?" kata Lora yang panik.


"Lihat! dia sangat imut. Bagaimana bisa ada wanita seimut ini. Hahh ... membuatku gemas saja." batin Alexias.


Alexias tersenyum, "Sudah kuduga, kau akan bereaksi seperti itu. Lihat, siapa yang berkuasa di sini. Jika aku mau aku akan langsung menerkammu tanpa ampun." kata Alexias.


Lora memelas, "Ya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Lepaskan aku," kata Lora.


"Tidak akan. Sudah aku dapatkan, aku akan lakukan." goda Alexias.


"Lex ... jangan." kata Lora.


"Lagi," sahut Alexias.


"Apa? lagi apa?" tanya Lora bingung.


"Panggil namaku lagi. Dengan nada mesra seperti tadi," jawab Alexias.


"Apa? umh ... L-lex, Alex ... " kata Lora dengan wajah merona. Ia merasa malu memanggil Alexias dengan mesra.


"Yah, kau memang yang terbaik." ucap Lexias bangga. Ia mencium kening, kedua pipi hidung lalu bibir Lora. " Aku mencintaimu. Sangat, sangat, snagat mencintaimu. Kau hanya boleh menjadi milikku. Semumur hidupmu hanya boleh bersamaku." kata Alexias.


"Ya, aku milikmu. Kau juga hanya boleh menjadi milikku. Ok," kata Lora tersenyum.

__ADS_1


Pada akhrinya tidak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka. Lora dan Alexias memang sudah membuat kesepakatan, jika mereka tidakan akan melakukan lebih dari berciuman dan berpelukan. Sebelum adanya pernikahan mereka, makan akan ada yang namanya 'Bercinta'.


*****


__ADS_2