Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 92. Pesta Ulang Tahun Si Kembar (3)


__ADS_3

Reine sedang berada di parkiran. Ia sedang berbincang dengan seseorang yang mengenakan pakaian pelayan.


"Jadi, kau orang yang dikirim?" tanya Reine.


Seseorang itu menganggukkan kepala, "Ya, Tuan mengirim saya untuk melakukan misi sesuai perintah Anda." jawab seseorang itu.


"Ah, dia bernyali kecil rupanya. Kusuruh dia yang lakukan, dia justru menyuruhmu. Bosmu itu tidak berguna sama sekali." ejek Reine.


Meski Reine terang-terangan mengejek, seseorang itu tidak berkomentar apa-apa. Ia tetap diam mematung di hadapan Reine.


"Baiklah. lakukan tugasmu. Ingat, jangan sampai gagal. Kau mengerti?" kata Reine, menatap tajam pria di hadapannya.


"Paham, Nyonya." jawab pria itu.


Reine melihat sekeliling, ia lalu pergi meninggalkan pria itu seorang diri. Reine tidak mau dicurigai dan tidak mau ada orang lain yang tahu akan rencana jahatnya. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju tempat pesta diselenggarakan. Ia ingin segera menemui Lora dan Alexias.


***


Alexias sedang bersama si kembar. Ia mencari-cari keberadaan Lora. Tapi, Lora tidak juga terlihat olehnya. Hatinya gelisah, ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu.


"Di mana kau, Lora? kau pergi lama sekali." batin Alexias bertanya-tanya.


Agatha datang, "Hai, anak-anak. Kalian sudah mencicipi cemilannya? Bibi baru saja makan, enak sekali." kata Agatha menghampiri ketiga keponakannya.


"Iya, Bi. Enak sekali," sahut Odellia.


"Aku makan banyak sekali," kata Olesia.


"Bibi, Bibi makan berapa banyak?" tanya Odellia.


"Hmm, berapa, ya? Bibi makan sangat banyak. Sampai perut Bibi rasanya tidak muat." jawab Agatha.


"Agatha," panggil Alexias.


"Ya?" jawab Agatha menatap Alexias.


"Kau melihat Lora?" tanya Alexias.


"Tadi aku bertemu. Ya, sekitar sepuluh menit yang lalu. Saat kutanya dia mengatakan ingin pergi ke bagian dapur." jawab Agatha. Memberikan informasi yang ia ketahui.


"Dapur?" ulang Alexias bertanya.


Agatha menganggukkan kepala, "Ya, dapur. Kenapa, Lex?" tanya Agatha penasaran.


"Tidak apa. Aku hanya cemas. Karena ini sudah lebih dari tiga puluh menit dia pergi." jawab Alexias.


"Oh, kalai begitu akan kubantu mencari." kata Agatha.


"Jangan. Kau di sini saja. Tolong bantu aku awasi anak-anak, ya. Biar aku saja yang cari." kata Alexias.


"Ok. Kau hati-hati. Hubungi aku jika terjadi sesuatu, Lex." kata Agatha ikut cemas.


"Pasti. Tolong, ya." kata Alexias lagi.


Alexias sebenarnya enggan untuk pergi meninggalkan anak-anaknya. Tapi, ia juga juga khawatir pada istrinya, jika kesulitan atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Ya, cepat cari Lora. Jangan khawatirkan anak-anak." jawab Agatha penuh keyakinan.

__ADS_1


Alexias pun pergi. Ia meninggalkan Agatha dan juga anak-anaknya. Alexias berjalan cepat menuju dapur, tempat di mana Lora diperkirakan berada.


***


Lora baru saja dari kamar mandi. Ia hendak menuju dapur, ingin memeriksa sesuatu. Ia ingin memeriksa keadaan dapur. Bagaimana koki dan pelayan menyiapkan hidangan juga yang lain-lain.


Karena tidak mau menemui kendala, Lora pun turun tangan mengawasi setiap proses pesta si kembar. Meskipun di dapur sudah ada Hannah dan Ezra yang membantu, juga ada kedua orang tua Ezra sebagai pembuat dessert khusus.


"Kenapa perutku terasa tidak nyaman, ya. Sejak tadi aku terus mual dan ingin muntah. Tapi, setelah ke kamar mandi, tidak juga muntah." batin Lora.


Pada saat berjalan, Lora bertabrakan dengan seseorang. Lora mencium aroma parfum yang kuat, ia melihat seseorang yang bertabrakan dengannya memakai pakaian pelayan.


"Maaf ... saya sedang terburu-buru." kata seseorang itu, tidak mengenali Lora. Ia langsung pergi meninggalkan Lora.


Lora mengernyitkan dahi, "Apa dia pelayan? tapi, kenapa dia memakai parfum. Bukankah aku sudah meminta semua pelayan tidak pakai parfum khusus untuk aara ini. Kenapa dia ... " batin Lora bingung.


Mata Lora melebar, "Tunggu ... jangan-jangan, kepala pelayan di sini lupa menyampaikan. Aku akan ke dapur sekarang dan bertanya." batinnya lagi.


Lora pun bergegas menuju dapur. Ia melangkahkan kakinya cepat. Setibanya di dapur, Lora langsung memanggil kepala pelayan yang bertanggung jawabatas pesta.


"Ya, Nyonya." Kepala pelayan yang dicari Lora datang menghampiri Lora.


"Tuan Mike, apa ada pelayan pengganti? apa Anda sudah menyampaikan pada semua pelayan agar tidak memakai parfum saat bekerja?" tanya Lora menatap seseorang di hadapannya.


Mike, si kepala pelayan yang bertanggung jawab itu bingung karen dicecar Lora. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Maaf, Nyonya. Apa maksud Anda? pelayan yang saya bawa tidak ada yang diganti atau membawa pengganti seperti yang Anda tanyakan. Soal arahan Anda, saya sudah sampaikan. Bahkan tiga hari setelah hari H acara ini digelar. Saya terus mengingatkan para pelayan untuk patuh karen ini pekerjaan besar. Semua pelayan menurut dan setuju." Jelas Mike dengan tegas.


Lora terdiam sejenak, "lalu, siapa orang tadi?" gumam Lora.


"Orang yang mana, Nyonya?" tanya Mike.


Mike semakin kebingungan. Pasalnya ia ingat jelas, jika ia mengumpulkan semua pelayan yang akan bertugas, ia memastikan sekali lagi dan mengingatkan, agar semua pelayan tidak mengenakan parfum saat bekerja. Mike tidak berani melanggar pemintaan Lora, yang merupakan pelanggan VIP-nya.


"Sepertinya ada kesalahan, Nyonya. Sungguh, saya sudah memastikannya. Bahkan di detik terakhir sebelum acara. Saya mengumpulkan semua pelayan untuk memastikannya." jelas Mike lagi. Yang masih gigih dengan pendapatnya.


"Hmm, begitu, ya." gumam Lora berpikir. Ia terdiam sejenak lalu, ia menatap Mike tajam. "Berapa orang pelayan laki-laki yang Anda pekerjakan, Tuan Mike?" tanya Lora.


"Dua puluh lima orang, Nyonya. Kebanyakan dari pelayan pria saya tugaskan membawa hidangan dan minuman. Sedangkan wanita saya minta untuk menyajikan makanan dan membersihkan meja juga meringkas gelas-gelas kosong." jawab Mike.


"Maaf, ini mendesak. Tapi, bisakah Anda mengumpulkan semua pelayan laki-lakinya? saya akan tahu siapa pelayan yang bertabrakan dengan saya jika mereka semua berkumpul." Pinta Lora.


Mike mengangguk, "Ya, Nyonya. Saya akan kumpulkan mereka semua. Tunggu sebentar," jawab Mike sikap.


"Ya," jawab Lora.


Mike segera memanggil semua pelayan laki-laki yang bertugas untuk berkumpul di dapur, tanpa terkecuali. Ia juga merasa cemas, karena ia tidak tahu ada kejadian aneh seperti yang diceritakan Lora.


"Siapa, ya? reputasiku bisa menurun jika seseorang itu tidak ditemukan. Kuharap ini hanya kesalahan pahaman. Jika memang ada yang melanggar aturan, aku juga tidak akan tinggal diam." batin Mike.


Satu per satu pelayan laki-laki memasuki dapur. Mereka berbaris rapi. Semua bingung karena panggilan mendadak dari Mike. Saat semua berkumpul, Mike menghitung jumlah pelayan dan satu orang tidak ada. Kebetulan seseorang yang tidak ada itu adalah keponakannya sendiri, bernama Andrew.


"Di mana Andrew?" tanya Mike. Mike menatap sahabat Andrew, Calvin. "Calvin, kau tidak melihatnya? tidak mungkin kan semua tidak mendengar panggilanku." kata Mike.


"Maaf, Paman. Saya dan Andrew tidak bekerja bersama. Kami sempat bertemu tadi, Andrew berkata ingin membuang sampah dan saya melihat dia memang sedang membawa kantung sampah." jelas Calvin.


"Aneh sekali, tidak biasanya dia seperti ini. Dia yang paling rajin jika ada panggilan. Bahkan mengingatkan teman yang lain." gumam Mike.

__ADS_1


Lora juga tidak tinggal diam. Ia memeriksa satu per satu pelayan, dari barisan pertama sampai yang terakhir.


"Bagaimana, Nyonya? apakah ada seseorang yang Anda cari?" tanya Mike.


"Aneh, bagaimana bisa ini terjadi. Tidak ada satupun dari mereka yang memakai parfum dan. Apakah mereka ada yang mengganti pakaian?" batin Lora.


Lora menggelengkan kepala, "Tidak ada." jawab Lora.


"Apakah Anda ingat wajahnya? coba Anda lihat baik-baik, Nyonya." kata Mike.


Lora kembali mengingat wajah seseorang yang bertabrakan dengannya. Ia hanya mengingat jika seseorang itu bertubuh tinggi dan berkulit gelap. Wajahnya hanya sekilas ia lihat, tetapi Lora ingat ada bekas luka di wajah seseorang itu.


Dengan seksama Lora melihat satu per satu wajah pelayan laki-laki. Benar saja, seseorang itu tidak ditemukan. Saat Lora menghitung, jumlah pelayan kurang satu orang. Mike menjawab, jika seseorang yang tidak ada adalah keponakannya, Andrew.


"Jumlah mereka kurang satu," kata Lora, menatap Mike.


"Ya, Nyonya. Satu orang lagi adalah keponakan saya. Saya tidak tahu kenapa dia tidak lekas datang. Padahal dia pasti jadi, yang pertma kali datang, jika ada panggilan seperti ini." jelas Mike.


Lora semakin bingung, begitu juga Mike. Di sela kebingungan Lora dan Mike juga apra pelayan, Alexias pun datang.


"Sayang ... " panggil Alexia, berjalan cepat mendekati Lora.


"Oh, kau ke sini." jawab Lora.


Alexias membolak balikan tubuh Lora, "Kau tidak apa-apa, kan? kau baik-baik saja, kan?" cecar Alexias cemas.


"Aku baik-baik saja, Lex. Kenapa cemas seperti ini?" kata Lora.


"Bagaimana tidak cemas, kau menghilang sejak tadi. Kau kan berpamitan, jika kau pergi sebentar. Aku sudah menunggumu tiga puluh menit lebih." kata Alexias, menjelaskan kecemasannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa kurang enak badan saja. Dan ke kamar mandi lalu, ke dapur." jawab Lora.


Alexias melihat banyak orang di dapur, ia lantas bertanya apa hal yang terjadi. Lora dan Mike menjelaskan apa yang terjadi secara bergantian.


"Jadi, sekarang Andrew menghilang?" tanya Alexias.


"Kemungkinan. Karena ini sudah cukup lama semenjak saya mengumpulkan pelayan." jawab Mike.


Alexias mengernyitkan dahi, "Ada yang tidak benar di sini." gumam Alexias. Ia lalu menatap semua pelayan, "Kalian bisa kembali bekerja. Aku akan kerahkan pihak keamanan mencari Andrew. Kalian juga tolong kabari jika melihat Andrew." perintah Alexias.


Pelayan pun membubarkan barisan dan kembali bekerja. Karena pesta juga masih berlangsung. Alexias mengajak Lora pergi, ia merasa khawatir meninggalkan anak-anaknya dan Agatha.


"Sayang, ayo kita cepat kembali. Anak-anak tadi kutitipkan pada Agatha. Tidak tahu kenapa, perasaanku tidak nyaman." kata Alexias.


"Ya, sayang. Ayo, kita kembali. Aku juga merasa khawatir. Terlebih orang tadi belum ditemukan." kata Lora. Ia menatap Mike lalu menitipkan pesan, "Tuan Mike. Tolong lanjut bekerja saja. Jika melihat atau bertemu seseorang yang asing, seperti yang kusebutkan. Tolong kabari aku, ya. Terima kasih." lanjut Lora berbicara.


"Baik, Nyonya. Saya juga akan mencari keponakan saya sambil melanjutkan pekerjaan." jawab Mike.


Lora dan Alexias pun pergi meninggalkan dapur. Mereka berjalan bergandeng tangan menuju tempat di mana anak-anaknya berada bersama dengan Agatha.


Sepanjang jalan, keduanya tidak saling bicara. Lora dan Alexias larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


"Siapa, ya? orang tadi mencurigakan sekali. Jika dia bukan pelayan lalu, siapa?" batin Lora berpikir.


Alexias mengeluarkan ponselnya. Ia berniat menghubungi seseorang, yaitu pihak keamanan tempat pesta. Baru saja ia ingin menekan panel panggilan di ponselnya. Lampu jalan yang ia lalui dengan Lora tiba-tiba padam. Tidak lama, ada suara teriakan.


"Aaaaaaa ...."

__ADS_1


*****


__ADS_2