
Pada saat bersamaan dengan Lora yang melahirkan. Alexias juga mengalami gangguan kesehatan. Ia merasakan tubuhnya sakit di bagian perut sampai pinggang. Sampai akhirnya ia harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan saat memimpin berjalannya rapat.
Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Agatha merasa khawatir, ia setia menemani saudara kembarnya itu.
"Bagaimana keadaanya, dok?" tanya Agatha.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dari hasil pemeriksaan semua normal-normal saja. Apa ada kendala dalam pekerjaan atau semacamnya? ini hanya kelelahan biasa." jelas dokter.
"Ah, entahlah. Beberapa bulan terakhir ini dia kurang nafsu makan. Suka pilih-pilih makan dan memakan makanan yang kadang tidak pernah dimakannya sekalipun. Aneh memang saya bicara seperti ini, dok. Namun, itulah kenyataannya. Dia juga sering terbangun tengah malam dan kembali tidur menjelang pagi. Saya sudah ingatkan untuk fokus menjaga kesehatan, tetapi sepertinya dia mengabaikan semua yang saya katakan." jelas Agatha.
"Hm, sejujurnya kasus ini memang cukup aneh bagi saya. Tuan pun sering mengatakan sering susah tidur dan nyeri dibeberapa bagian. Namun, saat diperiksa, tidak ada masalah apapun dalam tubuh beliau." jelas dokter lagi.
Agathan menghela napas panjang, "Ya, saya juga terkadang kebingungan. Tetapi, saya bersyukur jika saudara saya ini baik-baik saja." jawab Agatha.
Tidak beberapa lama, dokter berpamitan. Meninggalkan Agatha dan Axelias yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
Agatha memandangi saudaranya itu dengan wajah yang khawatir. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus ia lakukan untuk selanjutnya. Hanya doa dan harapan terbaik yang terus ada dalam hati Agatha.
"Semoga kau lekas membaik, Lex. Hanya kau satu-satunya saudara yang kupunya. Jangan samapai ada apa-apa denganmu. Atau aku akan sangat sedih, begitu jga papa dan Mama." sedih Agatha di dalam hatinya.
Ponsel Agatha berdering. Dikluarkannya ponsel dari dalam tas dan dilihatnya layar ponsel yang ia pegang.
"Mama ... " gumam Agatha, ia juga langsung mengeryitkan dahi.
Ponsel terus berdering, sehingga mau tidak mau Agatha harus menerima panggilan dari Mamanya itu.
"Ya, Ma." jawab Agatha.
"Di mana Alexias? apa dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia tiba-tiba jatuh pingsan pada saat rapat sedang berlangsung. Agatha, apa yang sebenarnya terjadi?" cecar sang Mama yang sedang khawatir.
"Ma, Mama tenang dulu. Aku akan jawab semua pertanyaan Mama satu per satu. Aku sudah membawa Alexias ke rumah sakit. Tadi dia juga sudah diperiksa dokter, dia hanya terlalu lelah bekerja. Memang keadaannya tidak seberapa baik beberapa bulan ini, Ma. Maafkan Agatha yang tidak memberitahu pada Mama atau Papa. Semua karena Alexias tidak mau membuat keluarga kita khawatir." jawab Agatha panjang lebar.
__ADS_1
Dengan detail Agatha menjawab pertanyaan Mamanya. Ia juga meminta maaf dan menjelaskan apa penyebabnya.
Di ujung panggilan, terdengar sang Mama yang menghela napas berat. Mendengar itu, Agatha merasa bersalah.
"Ma," panggil Agatha.
"Jagalah Alexias. Papa dan Mama akan segera menyusul ke rumah sakit. Kau juga tidak perlu merasa bersalah. Mau bagaimana lagi, kalian memang sepasang kembar yang akan saling menutupi satu sama lain. Itu kan sudah jadi kebiasaan kalian sejak kecil." kata sang Mama.
Agatha tersenyum, "Kami sayang Mama. Aku mencintaimu, Ma." kata Agatha.
"Dasar anak nakal," gumam sang Mama.
"Hati-hati di jalan, Ma. Sampaikan pada Papa untuk mengajak supir. Jangan mengemudikan mobil sendiri. Papa kan baru saja pulang dari perjalanan bisnis. " kata Agatha mengingatkan Mamanya.
"Iya, sayang. Sudah dulu, Mama mau bersiap. Kabari Mama atau Papa jika ada apa-apa. Kau mengerti." jawab sang Mama.
"Mengerti, Ma. Samapai bertemu, Ma. Dahh ... " jawab Agatha.
"Umh ... sshh .... "
Ada suara gumaman yang membuat Agatha tersadar dari lamunannya. Ternyata Aexias sudah sadarkan diri. Buru-buru ia menyimpan kembali ponselnya dan memeriks keadaan saudara kembarnya itu.
"Lex, kau sudah bangun. Apa ada yang tiak enak?" tanya Agatha memegang erat tangan Alexias.
Alexias sudah sepenuhnya tersadar. Ia memalingkan wajahnya menatap Agatha yang berdiri di sampingnya.
"Aku di mana? bukankah tadi masih rapat?" lirih Alexias.
"Apa yang kau pikirkan. Rapat sudah ditunda dan akan dilanjutkan di pertemuan selanjutnya." jawab Agatha.
"Mana bisa seperti itu, Agatha. Itu kan rapat penting." sahut Alexias.
__ADS_1
"Kesehatanmu lebih penting, Lex!" seru Agatha kesal. Matanya melebar menatap Alexias. "Kau pikir kami semua apa bagimu? Papa, Mama, Aku. Kau tidak peduli pada perasaan kami. Jangan terlalu egois, Lex. Aku tau kau gila kerja. Kau selalu ingin segala sesuatu yang sempurna dan maksimal. Namun, pikirkan kami juga yang mengkhawatirkanmu. Kau itu ... ah, sudahlah. Percuma juga aku banyak bicara denganmu." gerutu Agatha.
Sebagai saudari yang sangat menyayangi Alexias, Agatha merasa kesal. Setiap ucapannya seakan diabaikan begitu saja oleh Alexias. Rasa khawatir dan cemas selalu dirasanya, bila Alexias mengalami sesuatu hal.
Melihat saudarinya yang sudah memasang wajah murung dan terlihat kesal, Alexias pun meminta maaf. Niat hati ia tidak ingin membuat saudarinya itu bersedih, apalagi sampai kesal.
"Hei ... " panggil Alexias.
Agatha hanya diam. Ia berpura-pura tidak mendengar panggilan Alexias.
"Ho, pura-pura tidak dengar, ya. Ok,ok. Aku bersalah, Nyonya. Tolong maafkan aku. Kau bisa hukum aku dan terus mengomeliku. Namun, jangan diam seperti ini. Aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi." kata Alexias.
Agatha melirik ke arah Alexias, "Lihat, kau seperti seekor anak kucing yang ketauan mencuri ikan jika seperti ini." sahut Agatha.
Alexias menganggukkan kepala, "Ya, Nyonya. Maafkan saya." ucap Alexias memelas.
Agatha tidak bisa melihat wajah saudaranya yang memelas. Ia pun tersenyum.
"Ya, sudahlah. Yang terpenting kau baik-baik saja. Oh, ya. Papa dan Mama akan datang. Jadi, bersiaplah mendengar Mama singa mengaum, ya. Aku tidak akan membantu, karena aku juga sudah diomeli tadi. Semuanya gara-gara kau yang tidak mau dengar uapanku." omel Agatha.
Alexias melebarkan mata, "Aduh, bagimana ini. Mama pasti akan mengomeliku habis-habisan." gumam Alexias.
Dalam hati, Agatha tertawa melihat ekspresi wajah Alexias. Ia sengaja membuat Alexias panik. Karena ia tahu, saudaranya itu paling tidak bisa mendengar omelan dari sang Mama tercinta.
Alexias menatap Agatha, "Kau tidak bicara macam-macam pada Mama, kan. Awas saja sampai kau mengadu yangbtidak-tidak pad Papa aau Mama. Aku akan marah padamu." kata Alexias murung.
Agatha tersenyum lalu mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Yang jelas aku sudah menjawab semua yang Mama tanyakan. Kau lihat saja nanti setelah mereka datang. Lihat baik-baik wahai saudaraku sayang. Apakah sang Mama akan menumbuhkan tanduk dan taring atau tidak." jawab Agatha.
Alexias mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi jika Mama singa sudagh mengomel, satu orang pun tidak akan ada yang berani bersuara. Sekalipun itu Papanya. Karena Papanya adalah orang yang sangat pendiam dan hanya mengikuti apa kata sang istri tercinta.
*****
__ADS_1