
Lora, Alexias dan Hannah sedang berbincang bersama di ruang tengah. Mereka membahas hal serius tentang hubungan Lora dan Alexias ke depannya seperti apa.
"Anak-anak tidur siang?" tanya Lora menatap Alexias yang baru saja duduk di sampingnya.
"Ya, aku sudah menidurkan mereka semua. Ahhh ... lelah sekali." setelah duduk, Alexis langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Ia meletakan kepalanya kepangkuan Lora. "Kalian sedang mengosipkan apa?" tanya Alexias.
"Menggosipkanmu," jawab Hannah.
Alexias tersenyum, "Kalian ini. Kenapa menggosipkanku? aku tau aku adalah pria tertampan di Abad ini. Kalian tidak perlu sampai seperti itu memujiku." kata Alexias menyombongkan diri.
Hannah dan Lora kaget, keduanya saling memandang lalu tertawa bersamaan. Lora menepuk tangan Alexias, seakan menyadarkan Alexias agar tidak jauh tinggi bermimpi.
"Jangan besar kepala. Siapa juga yang menggosipkanmu. Kami hanya bicara soal anak-anak saja." jelas Lora.
"Oh ... " gumam Alexias ber-oh ria.
"Lex, kau jadi bawa Lora dan anak-anak ke Inggris?" tanya Hannah.
"Ya, tentu saja. Kau kan sudah dapat undangan pernikahan." jawab Alexias.
"Maksudku bukan itu. Aku bertanya apakah sebelum pernikahanmu bulan depan, kau akan membawa mereka atau tidak?" jelas Hannah. Merasa Alexias belum paham ucapannya.
"Ya, Hannah. Aku akan bawa mereka. Kau juga bisa pergi jika kau ingin. Kau sudah pikirkan saranku?" tanya Alexias yang langsung bangun dan duduk.
"Hm ... " gumam Hannah.
Lora menatap Alexias, "Tawaran apa? kenapa aku tidak tahu?" tanya Lora.
__ADS_1
"Oh, itu. Aku menawarkan dia ikut. Aku akan buatkan Caffe untuknya." jawab Alexias.
"Sebenarnya aku ingin. Tetapi aku juga masih ingin tinggal di sini. Jadi, aku bingung." kata Hanah.
Lora terdiam, ia tahu jelas apa yang dipikirkan Hannah. Lora pun mencari jalam penengah.
"Begini saja. Kau kam bisa buka cabang kedaimu di Inggris. Jadi, kau punya alasan untuk datang menemui kami." saran Lora.
"Ah, benar juga." sahut Hannah setuju.
"Aku akan minta Bibi mengelola kedainya. Bibi adalah orang terdekat setelah Nenek. Meski beliau sudah hidup mandiri dan bekeluarga, tetapi ia masih hidup dengan tidak layak." kata Hannah sedih.
"Bibi siapa?" tanya Alexias ingin tahu.
"Bibiku, Adik dari Mamaku. Papa Mamaku sibuk, mereka selalu lebih mementingkan pekerjaan daripada aku, anak mereka sendiri. Karena itu aku di asuh Nenek sejak aku kecil. Karena Nenekku sudah meninggal dan aku sudah lulus SMA, Mama memintaku tinggal di sini. Ya, begitulah. Sampai aku pergi dari Inggris ke sini. Lalu membuka kedai kopi dan tidak pernah datang lagi ke sana setelah sekian lama. Aku hanya sesekali di hubungi sepupuku. Dia mengeluh karena keluarganya sedang dalam krisis. Hahhhh ... " hela napas Hannah. Ia sedih saat menceritakan kondisi keluarganya.
"Oh, pada Ezra?" tanya Hannah.
"Ya, pada Ezra. Kau akrab denganya? caramu memanggilnya ... ah, lupakan. Aku hanya salah bicara." kata Alexias. Ia tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain.
Hannah tersipu. Ia tidak menampik kedekatannya beberapa bulan ini dengan Ezra. Karena saat Ezra datang berama Alexias, Ezra sering membantu Hannag baik di rumah maupun di kedai kopi. Ezra juga mengajarkan beberap hal pada Hannah soal pengelolaan usaha. Keluarga Ezra juga mengelola usaha. Jadi, sedikit banyak Ezra tahu cara-cara bagaimana mengelola usaha dengan baik dan benar.
Alexias menatap Lora, "Mau makan malam denganku malam ini?" tanya Alexias serius.
Lora mengernyitka dahi, "Apa-apan kau ini, Lex. Kita kan selalu makan bersama." jawab Lora tersenyum.
"Kali ini hanya berdua. Aku dan kau. Mau, kan?" tanya Alexias lagi.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ....
Tiba-tiba jantung Lora berdegup kencang. Lora menatap dalam mata Alexias yang lekat menatap matanya. Hanya dengan saling memandang, membuat jantung Lora bergemuruh.
"Dia memang pandai memeprmainkan organ dalamku. Hati, jantung. Selanjutnya mungkin ginjalku yang akan bergetar." batin Lora.
"Hm, soal itu aku tanya Hannah dulu. Apa di bisa mengasuh anak-anak atau dia ada kegiatan malam ini." kata Lora mempertimbangkan.
"Kau tidak perlu khawatir. Anak-anak aku yang akan jaga. Kalian bersenang, senanglah." sahut Hannah, yang mendengar perkataan Lora.
"Terima kasih, Hannah. Aku akan minta Ezra datang nanti membantumu." kata Alexias.
"Ya, boleh saja. Sudah lama juga tidak bertemu dengannya." jawab Hannah.
Mereka lantas membahas soal pernikahan Lora dan Alexais yang sebulan lagi akan diselenggarakan. Sebelumnya, saat Odellia masih sakit dan dirawat, dua keluarga yang bertemu langsung memutuskan jika Alexias dan Hannah harus segera menikah. Saat di desak menikah, Lora dan Alexias sama -sama menerima tanpa penolakan. Alexias memang ingin membangun keluarga yang utuh, dengan Lora dan ketiga anaknya. Terlebih, ia sudah jatuh hati pada Lora. Lora juga berpikir hal yang sama. Selain demi anak-anaknya, ia juga mulai tertarik dengam sosok Alexias yang selalu bersikap hangat dan manis saat bersamanya dan anak-anaknya.
Setelah Odellia keluar dari rumah sakit. Disaat yang sama, Alexias melamar Lora. Semua bahagia, si kembar tiga juga sangat senang karena akan memiliki keluarga yang utuh. Namun, karena urusan pekerjaan yang mengharuskan Alexias pergi ke luar negeri, Pernikahan yang ingin cepat diselenggarakan pun dimudurkan. Mengikuti jadwal kegiataan Alexias.
Tidak diduga, banyak kejadian tidak menyenangkan terjadi. Alexias sempat frustasi dan kesal waktunya habis dikantor untuk bekerja. Karena itu saat masalah sudah teratasi dan ia punya waktu senggang. Secepat angin ia langsung eprgi menemui Lora dan anak-anaknya untuk melepaskan rindu. Meski ia harus mengorbankan kesehatannya karena terlalu memaksakan diri karena harus pergi setelah lembur bekerja. Terlebih jarak yang ditempuh tidak dekat dan memerlukan waktu berjam-jam lamanya. Sebagai pasangan, Lora pun menguatkan Alexias. Ia tidak ingin hal buruk, atau sesuatu terjadi.
Demi itu semua, Lora lalu memutuskan jika ia ingin mendampingi Alexias. Ia menawarkan diri pergi ke Inggris. Dengan kata lain, ia memilih kembali ke negara asalnya. Meski hatinya sesak mengenang masa laki, tetapi ia tidak ingin merusak kebahagiaan masa depannya. Demi kebahagiaannya, demi anak-anaknya, demi orang yang ia sayangi, yaitu Alexias.
Sempat terkejut dan meminta Lora kembali memikirkan apa yang dipikirannya. Alexias tidak mau memaksa kehendaknya. Lora tidak harus mengikuti kemauannya. Karen ia mencari pendamping hidup bukan budak yang patuh dan menurut jika diminta melalukan apapun. Lora dengan senyuman menyakinkan Alexias. Jika pilihannya sudah matang-matang dipikirkan.
Bahkan Lora ingin mengundang orang tua kandungnya ke acara pernikahannya. Dengan saran dari keluarga angkatnya. Awalnya Lora tidak mau, dan merasa tidak akan ada gunanya. Namun, Rosella, Mattew dan Magdalena membujuk. Lora diminta menekan amarah dan ego, karen bagaimanapun orang tua tetaplah orang tua. Lora ingat ucapan Magdalena, yang mengatakan jika tidak ada bekas antara hubungan anak dan orang tua. Seberapa salah dan seberapa bencipun. Anak tetaplah anak. Orang tua tetaplah orang tua. Dan itu hal mutlak yang tidak bisa diubah siapapun.
****
__ADS_1