Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 29. Manis (2)


__ADS_3

Mata Lora melebar saat wajahnya berhadapan dengan wajah Alexias. Jarak wajah keduanya sangat dekat, sampai mereka bisa saling merasakan embusan napas masing-masing.


"Apa, ini? Pria ini gila!" batin Lora kesal.


"Cantiknya," batin Alexias tersenyum tampan.


"Dia benar-benar gila. Kenapa tersenyum seperti itu?" batin Lora lagi merasa aneh.


"Kau begitu dalam menatapku, ya. Aku memang tampan, tetapi kau tidak perlu seperti itu. Kau akan puas melihatku setiap hari mulai dari sekarang," kata Alexias dengan sombongnya.


Lora kaget, "Hah? apa kau baik-baik saja, Tuan? kau besar kepala hanya karena tampan, ya." sahut Lora.


"Aku kan memang tampan. Memangnya ada pria yang lebih tampan dariku?" tanya Alexias bangga akan ketampanannya.


Lora terdiam, "Benar juga. Ketampanannya memang di atas rata-rata." batinnya.


"Jangan beedebat lagi. Tubuhku tidak begitu nyaman, dan kau juga harus istirahat. Jangan khawatir, aku sungguh tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku janji," kata Alexias serius. Ia hanya ingin Lora tidur tenang di sisinya.


"Ya, ok. Aku akan tidur. Tepati janjimu, ok." tegas Lora.


"Ya, pasti." jawab Alexias.


Lora akhirnya setuju dengan permintaan Alexias. Mereka berbagi tempat untuk tidur. Meski terasa tidak nyaman, ia juga merasa tubuhnya lelah.


***


Keesokan harinya, Alexias terjaga lebih awal. Ia meninggalkan Lora yang masih terlelap tidur, ia juga melihat kondisi Odellia yang masih belum sadar.


"Lekaslah bangun, Nak." bisik Alexias di telinga Odellia.


Alexis mencium kening Odellia. Tanpa sadar air matanya menetes. Disekanya air mata yang membasahi pipi, ia mengusap wajah Odellia penuh kasih sayang.


Setelahnya, Alexias pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya, tidak ingin terlihat orang lain jika ia baru saja menangis. Saat keluar dari kamar mandi, Alexias sudah di sambut oleh Agatha, Hannah, Oriana dan Olesia yang baru saja tiba.


"Paman ... " sapa Oriana dan Olesia bersamaan. Mereka berdua mendekati Alexias.


"Hai, kalian sudah datang rupanya." sapa Alexias yang ia berlutut satu kaki. Ia menyetarakan posisinya dengan Oriana dan Olesia.


"Paman, apakah Paman sakit? wajah Paman pucat," tanya Olesia.


"Kudengar kau makan udang, Lex. Apa ini? kau tidak memberitahu apa-apa padaku. Jika aku tidak menghubungi dokter, mungkin aku tidak akan tahu." kata Agatha, berjalan mendekati Alexias.


Alexias menggendong Oriana dan Olesia bersamaan di masing-masing tangannya. Ia menatap Agatha yang memang tampak khawatir.

__ADS_1


"Maaf, Agatha. Aku tidak bermaksud diam. Itu hanya reaksi kecil saja, kan." jawab Alexias.


"Apa kau bilang? reaksi kecil? kau gila! kau kan tahu, sedikit apapun udang, bisa menjadi ancaman untuk nyawamu. Kau kira kau siapa bermain-main dengan nyawamu. Dasar bodoh!" kata Agatha terlampau kesal.


"Hei, jangan menakuti anak-anak. Kita bicarakan itu nanti." kata Alexias, membawa Oriana dan Olesia berjalan mendekati sofa.


Agatha yang terbawa emosi langsung diam. Ia baru ingat jika ia ada di rumah sakit. Agatha pun sedikit menunduk karena merasa malu.


"Hai, Hannah ... bagaimana kabarmu?" tanya Alexias.


"Oh, baik. Kau? kudrngar alergimu kambuh," tanya balik Hannah.


"Ah, ini bukan hal besar. Aku tidak apa-apa," jawab Alexias.


Hannah melihat ke arah Odellia lalu ek arah Lora yang masih tertidur. Ia lalu kembali menatap Alexias, Hannah ingin bertanya sesuatu, tetapi masih ragu.


"Bukankah itu seharusnya dipakai Alex? kenapa ada Lora di sana? apa mereka tidur bersama? astaga, apa yang kupikirkan ini. Tidak, tidak, mana mungkin Lora dan Alex tidur berbagi ranjang, kan. Pasti Alex mengalah dan tidur di sofa." batin Hannah menerka-nerka.


"Paman, Mami kenapa masih tidur?" tanya Oriana.


"Oh, itu. Karena semalam Mami kalian merawat Paman yang sakit. Biarkan dulu Mami kalian tidur, kalian bermain saja dengan Paman." jawab Alexias, diiringi senyuman hangat.


"Yeahh ... ayo main, Paman." sahut Olesia.


Lima menit kemudian ....


Lora keluar dari kamar mandi, ia langsung di sambut oleh Oriana dan Olesia. Kedua anak itu bersamaan memeluk Mami mereka.


"Mami ... " sapa Oriana.


"Mami ... Mami ... " kata Olesia.


"Hm, anak-anak Mami. Mami merindukan kalian berdua," kata Lora. Lora pun melepas pelukan, mencium kening masing-masing kedua putrinya. "Kalian sudah makan?" tanya Lora.


Keduanya menggelengkan kepala, "Belum," jawab mereka bersamaan.


"Kenapa belum?" tanya Lora.


"Mereka ingin makan denganmu, Lora." sahut Hannah.


"Hm, begitu. Baiklah, ayo kita makan bersama. Apa kalian juga mau cake?" tawar Lora.


"Mau, mau. Aku mau ... " jawab Lora.

__ADS_1


"Aku mau. Mau cake rasa strawberry." jawab Oriana.


Lora mengusap kepala dua anaknya, "Ya, Mami akan belikan. Kalian tunggu dulu di sini, ya." kata Lora, Lora menatap Hannah, sahabatnya. "Hannah, bisa ikut aku?" tanya Lora.


"Ya, tentu saja." jawab Hannah.


Lora menatap Alexias dan Agatha bergantian, "Maaf, apa bisa aku menitipkan anak-anakku? aku akan belikan mereka sarapan dan cemilan di restorant dekat sini." kata Lora lembut.


"Tentu saja. Aku dan Alexias akan menjaga mereka. Jangan terburu-buru, santai saja." jawab Agatha.


Lora tersenyum, "Terima kasih," ucap Lora.


Lora dan Hannah pergi. Oriana dan Olesia dijaga oleh Alexias dan Agatha. Kedua anak itu tampak senang meski Mami dan Mama angkat mereka tidak ada dan mereka di titipkan pada orang yang baru saja mereka kenal.


***


Hannah kaget, saat Lora menceritakan sesuatu hal yang mengejutkan. Karena sudah menganggap Hannah seperti saudara kandung, Lora tidak pernah sekalipun canggung saat bercerita.


" ... apa kau bilang?" sentak Hannah kaget.


"Ssttt ... pelankan suaramu, Hannah." kata Lora, melihat sekelilingnya.


"Oh, maaf. Aku hanya kaget." kata Hannah.


"Aku juga kaget, Hannah. Aku bingung sekarang, kenapa aku harus bertemu dengannya." kata Lora.


Hannah terdiam beberapa saat, lalu kembali bicara. Ia mengatakan jika mungkin saja pertemuannya dengan Alexias adalah garis takdir. Hannah mencoba berpikir positif, ia juga tidak menyangka akan bertemu dengan Papi dan Bibi kandung dari anak-anak asuhnya.


"Apa kau sungguh membenci pertemuan ini, Lora? bukankah sebenarnya ini bukan masalah. Dia juga tidak salah, kau kan yang pergi meninggalkannya lebih dulu." kata Hannah.


"Benar juga. Saat itu aku takut ketauan Papaku, Hannah. Aku tidak tahu harus apa. Bagaimana jika kau ada diposisiku, kau mabuk dan pagi harinya saat kau bangun, kau ada bersama pria asing dalam satu temlat tidur dalam keadaan tanpa pakaian." jelas Lora sedih, ia sedikit menunduk karena malu.


"Aku tahu, Lora. Tenanglah dulu, ok. Tarik napasmu pelan-pelan, lalu embuskan." pinta Hannah.


Lora mengikuti permintaan Hannah. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Lora sudah merasa cukup tenang dan kembali bicara dengan Hannah.


"Aku tidak membencinya. Karena dia pria baik. Dia bahkan mau memakan makanan yang kuberikan, yang bisa membahayakan nyawanya. Dia juga mau membagi temoat tidur dan menepati janjinya. Namun, aku takut. Bagaimana jika ia punya tujuan lain. Misalnya saja mau membawa anak-anak. Aku tidak mau terpisah dengan anak-anankku. Tidak boleh! tidak boleh ada hal seperti itu." jelas Lora, mengunhkapkan pemikirannya.


"Jadi, kau mau bagaimana? apa kau akan tetap bungkam? ingat, Lora. Sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya tupai akan jatuh. Sepandai-pandainya kau menyimpan bagkai, baunya akan tercium juga. Sekeras apapun kau menutupi identitas Oriana, Olesia dan Odellia, pasti suatu saat juga akan terbongkar. kau paham maksudku, kan?" jelas Hannah.


Lora terdiam. Semua yang dikatakan sahabatnya tidak salah. Ia bingung, hatinya masih ragu. Apakah ia mau jujur memberitahukan yang sebenarnya atau tetap menutupi kenyataan yang ada.


*****

__ADS_1


__ADS_2