
Terjadilah keributan. Evan yang melihat Reine berselisih dengan Lora segera membawa Reine pergi. Evan menarik paksa tangaan Reine meninggalkan lokasi pesta.
Suasan berubah menjadi canggung. Beberapa saat kemudian, suasana kembali tenang dan acara kembali berjalan lancar sampai akhir.
Lora dan Alexias bisa lega, karena acara yang sempat memanas dan hampir terjadi peperangan berakhir dengan dengan kepergian Reine yang di tarik paksa oleh Evan.
***
Evan membawa Reine ke dalam mobilnya dan memarahi Reine habis-habisan.
"Lepaskan aku, Evan. Lepas!" sentak Reine.
"Dasar wanita gila! kau mengajakku datang ke sini hanya demi ini? kau mau aku menemui Paman dan Bibimu diacara pernikahan Lora? astaga, Reine. Aku sudah benar-benar bodoh percaya begitu saja dengan ucapanmu." kata Evan kesal.
"Aku ingin kau membantuku, Evan. Kita akan hancurkan Lora bersama-sama. Bukankah kau juga ingin membuat Lora menderita?" kata Reine menatap Evan tajam.
"Cukup, Reine. Jangan berulah. Kau tidak tahu kita berhadapan dengan siapa? kau gila sampai mau berurusan dengan kelaurga Owen. Kau mau mati dipenjara atau di asingkan ke pulau terpencil, hah? jika kau mau membuat Lora sengsara, lalukan sendiri. Aku tidak mau terlibat. Aku tidak mau berurusan dengan monster." kata Evan menegaskan. Jika ia tidak mau terlibat apapun tentang hal yang berhubungan dengan Lora.
Reine mengernyitkan dahinya, "Ck! kau pengecut sekali. Memangnya siapa keluarga Owen sampai kau setakut itu? apa benar dia bisa memenjarakanku dan mmebuangku ke pulau terpencil? musatahil ada orang seperti itu, kecuali orang itu adalah salah satu orang terkuat di negara ini." Reine memandang remeh keluarga Owen. Karena ia memang tidak tahu menahu tentang kehebatan dan kebesaran nama keluarga Owen.
"Wanita ini ternyata sudah tidak sehat lagi. Otaknya bermasalah. Dia memang tidak tahu atau sengaja tidak tahu? sudahlah, biarkan saja dia lakukan apa yang dia inginkan. Aku cukup jadi penonton saja. Toh, nanti yang terkena imbasnya dia, bukan aku. Aku kan bisa membela diriku dengan mengatakan aku tidak terlibat. Setelah pernikahan yang tidak kuinginkan dengannya terjadi, aku akan beralasan pergi bisnis dan menginap di lua rumah. Siapa yang mau tinggal serumah dengan wanita gila." batin Evan mengomel.
"Terserah kau berpikir apa tentangku. Aku tidak peduli! yang jelas, jangan libatkan dengan hal yang berurusan dengan Lora. Jika kau berani menyeretku, lihat saja apa yang terjadi! aku pastikan tidak akan pernah menikahimu, Reine." ancam Evan.
Mendengar ancaman Evan, Reine menjadi khawatir dan takut. Ia sungguh tidak mau kehilangan Evan yang sudah susah payah ia dapatkan. Mau tidak mau, Reine terpaksa mengiakan perkataan Evan.
"Apa? dia sungguh-sungguh tidak mau menikahiku ternyata.
Reine murung, "Ya ... aku tidak akan melibatkanmu. Jadi, jangan katakan lagi kau tidak mau menikahiku. Kita 'kan akan punya anak. Bagaimana bisa kau mengatkan hal itu." lirih Reine.
__ADS_1
"Makadari itu, jangan membuatku kesal dan merusak moodku. Aku paling tidak suka mengulang ucapanku. Jadi, dengarlah baik-baik ucapanku ini. AKU TIDAK MAU IKUT CAMPUR DAN TERSERET DENGAN MASALAHMU JUGA LORA. Paham!" sentak Evan karena sudah muak dengan Reine.
Mata Reine berkaca, "Ya, aku paham. Jangan membentakku. Hatiku sakit jika kau terus memperlakukanku seperti seorang penJahat seperti ini." keluh Reine.
"Masa bodoh dengan perasaanmu. Kau selalu saja membuatku kesal. Jika kau ingin kuperlakukan seperti manusia, bertindaklah seperti manusia." kata Evan acuh tak acuh pada Reine.
Reine memandang Evan dengan tatapan mata sedih. Namun, Evan sama sekali tidak membalas tatapan mata Reine. Evan begitu saja mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran.
***
Malam harinya ....
Alexias dan Lora menidurkan anak-anak mereka. Bergantian Lora dan Alexias membacakan buku cerita. Karena telalu lelah, si kembar tiga akhirnya tidur lebih awal. Setelah ketiga anaknya tidur, Alexias dan Lora meninggalkan kamar anak-anak tersebut.
"Mau cokelat panas?" tawar Lora.
"Hm, boleh. Mau kubantu?" tawar Alexias.
Lora merangkul lengan suaminya. Mereka langsung pergi ke dapur untuk membuat cokelat panas. Di dapur, Lora menyiapkan semua bahan. Alexias mengamati Lora yang sedang sibuk mencari bahan di lemari.
Tiba-tiba, Lora memeluk Lora dari belakang dan mencium tengkuk leher Lora. Alexias berbisik sesuatu. Ia mengatakan jika Lora terlihat seksi dan menggoda. Tentu saja, Lora yang mendengar menjadi malu. Ia sampai tidak fokus mencari bahan yang ia butuhkan.
"Seksi sekali istriku," bisik Alexias, memeluk Lora dari belakang dan langsung mencium tengkuk leher Lora.
Wajah Lora memerah, "Le-Lex, jangan begini. Nanti ada yang melihat," gumam Lora gugup.
"Biarkan saja. Apa masalahnya terlihat. Kita kan sudah resmi menjadi pasangan sehidup semati." kata Alexias dengan santainya.
Lora tersenyum lalu segera berbalik menghadap Alexias, "Apa kau sungguh terlihat seksi?" tanya Lora menatap Alexias.
__ADS_1
"Ya, sangat seksi." jawab Alexias.
"Dibagian mananya?" tanya Lora lagi.
Alexias tersenyum nakal, "Di semua bagian," godanya.
Alexias mendekat, ia mendaratkan bibirnya ke bibir Lora. Lora menyambut ciuman Alexias dan membalas ciuman tersebut. Mereka saling berciuman mesra. Beberapa saat, usai puas berciuman. Alexias lantas mengajak Lora segera pergi ke kamar.
"Jika seperti ini, bagaimana bisa aku menahanya lagi? bibirnya sangat manis dsn lembut, membuatku candu." batin Alexias.
"Kenapa dia tiba-tiba menciumku. Pikiranku 'kan jadi kacau sekarang. Di kepalaku hanya terbayang sosoknya saja. Astaga, Lora. Kau sangat, sangat, sangat mesum ternyata. Bahkan kau memikirkan hal vulgar pada saat ingin membiat cokelat panas." batin Lora.
"Bisa kita rubah daja jadwal minum cokelatnya? saat ini aku ingin mencicipi sesuatu yang lebih manis dan pasti lebih panas dari cokelat panas." kata Alexias. Menatap Lora dengan tatapan mata penuh harap.
Lora kaget, "A-apa? a-ah ... e-mh ... ta-ta-tapi ... " Lora jadi gugup sampai bicara tersendat-sendat.
"Tapi, apa? kau tidak mau?" tanya Alexias sedih.
"Bu-bukan begitu. Tapi, aku jadi malu dan gugup jika kau tiba-tiba bicara secara blak-blakan begini. Aaahhh ... " wajah Lora semakin memerah. Karena malu, Lora langsung menutup wajahnya dengan dua tangan.
"Ah, gila, gila, gila! aku 'kan bukan seorang gadis yang harus malu-malu begini. Aku sudah pernah melakukannya dengannya. Bahakn aku sudah punya tiga anak darinya. Tapi, kenapa rasanya aku malu sekali? bagaimana, ini?" batin Lora. Ia masih bersembunyi dibalik dua tangannya yang masih menutup wajahnya.
Alexias menahan tawa, "Kenapa dia salah tingkah begini? dia sangat imut saat mengintip dibalik sela-sela jarinya seperti ini." batin Alexias.
Alexias lalu menarik dua tangan Lora yang menutupi wajah Lora. Lora menunduk malu, ia tidak mau menatap Alexias.
"Lihat aku, sayang."pinta Alexias.
Alexias menadahkan kepala Lora. Pandangan Lora dan Alexias bertemu. Mereka saling menatap dalam.
__ADS_1
*****