
Satu bulan kemudian ....
Christopher sudah membiasakan dirinya tinggal di Mansion. Ia juga menjadi akrab serta dekat dengan penghuni Mansion. Dengan Alexias, Lora, si kembar tiga, bahkan dengan Martha dan Marc juga yang lainnya. Termasuk Agatha, Jeremy dan Erlisa.
Semua orang juga semakin terbiasa dengan keberadaan Christopher. Di samping rajin dan pintar. Christopher juga cekatan membantu apa saja yang bisa ia kerjakan. Bahkan ia mengajari si kembar tiga belajar sesekali.
Odellia dan Olesia senang, saat Christopher membantu mereka untuk belajar. Bagi mereka Christopher adalah sosok yang sabar dan ramah. Belajar dengan Christopher terasa menyenangkan. Tapi, hal itu tidak dirasakan oleh Oriana. Entah mengapa Oriana masih tetap setengah hati menerima Christopher di keluarganya.
Bahkan Oriana masih belum mau memanggil Christopher 'Kakak' seperti Odellia dan Olesia. Oriana juga masih menaruh rasa curigai pada Christopher.
***
Hannah memutuskan membuka cabang kedai kopinya. Ia bersama Ezra, sedang mencari tempat yang sesuai. Tempat yang sebelumnya ternyata tidak jadi disewakan, karena akan divangun ulang dan digunakan sendiri sebagai tempat usaha. Demi sang kekasih, Ezra rela sibuk mencari-cari lokasi yang tepat.
Ezra sudah sibuk dari pagi hingga sore. Hari ini sudah sekitar lima lokasi yang ia datangi. Namun, semuanya tidak sesuai harapannya. Ezra mulai resah, hatinya menjadi gelisah. Karena sudah cukup lelah, ia pun memutuskan untuk berhenti di suatu tempat.
"Bagaimana ini? Ini sudah hampir dua minggu, dan aku belum dapatkan lokasi yang tepat untuk Hannah. Bagaimana jika sampai akhir bulan ini aku tidak menemukannya? tidak, tidak, tidak. Bagaimanapun aku harus berusaha lebih keras lagi. Aku tidak boleh menyerah." batin Ezra yang sedang duduk santai di dalam mobilnya.
Matanya menyelisik sekitaran. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia merasa kesulitan untuk mencari lokasi yang sesuai dengan harapannya dan Hannah. Ia menyandarkan punggung dan menadahkan kepalanya. Matanya memejam sesaat menenangkan diri.
Sepuluh menit kemudian ....
Hannah menghubungi Ezra. Keduanya pun berbincang di telepon.
Percapakan di telepon*
"Ya, sayang." jawab Ezra.
"Kau di mana?" tanya Hannah.
"Aku sedang pergi ke luar. Ada apa? apa kau sedang merindukanku?" goda Ezra.
"Apa yang kau pikirkan, Tuan. Ayolah, jangan menggodaku. Aku hanya ingin tahu kau sedang di mana dan sedang apa, karena aku sedang kepikiran saja." jelas Hannah.
Ezra menghela napas, "Hahh .... "
"Kenapa lagi? apa yang terjadi sampai kau menghela napas sampai seperti itu. Pasti ada sesuatu atau masalah, kan?" tanya Hannah.
"Sebenarnya aku sudah berkeliling beberapa tempat hari ini. Tapi, tempat yang kau inginkan belum bisa kudapatkan. " jawab Ezra.
"Kau tidak perlu memaksakan diri, Ezra. Kita cari perlahan saja, ok." kata Hannah.
"Ya, terima kasih selalu mau mengerti, sayang." kata Ezra.
"Sama-sama. Ah, aku mau bantu Papa dan Mamamu dulu, ya. Dahh, sayang." kata Hannah.
"Dahh ... " jawab Ezra.
Hannah mengakhiri panggilannya. Ezra menyimpan kembali ponselnya dan memutuskan untuk berkeliling menghirup udara segar di sore hari. Ia pun turun dari mobilnya dan berjalan menyusuri jalan disekitar lokasi itu. Ia melangkah perlahan melihat sekeliling.
"Suasana di sini lumayan juga," gumamnya.
Ezra menghentikan langkah kakinya, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Beberapa orang bertubuh kekar sedang memukuli seorang lelaki tua, sampai laki-laki paruh baya itu tersungkur di jalan. Merasa kasihan, Ezra pun akhirnya mendekat dan menolong seseorang itu. Ia tidak tega melihat orang yang lemah ditindas.
"Apa-apan mereka itu. Beraninya pada orang tua yang lemah," batin Ezra. Berjalan menghampiri.
***
Beberapa orang sedang mengeroyok seorang lelaki paruh baya. Orang-orang itu berperilaku kasar pada orang tua itu. Mereka mengatakan kata-kata kasar dan menganiaya laki-laki setengah tua tersebut. Bahkan sampai mendorong, sampai-sampai tubuh orang tersebut tersungkur di jalan.
"Jika kau tidak melunasinya. Terpaksa kami akan menyita semua yang kau miliki!" seru seseorang berkacak pinggang di hadapan laki-laki setengah tua itu.
"Tolong, jangan ambil barang-barang itu. Barang itu adalah barang peninggalan mendiang istriku. Maafkan aku, beri aku waktu agar aku bisa membayar hutangku pada kalian." kata laki-laki paruh baya itu.
Laki-laki itu memohon agar orang-orang yang menganiayanya tidak mengambil barang-barangnya. Dengan tubuh gemetaran ia bangun dan berlutut memohon pada tiga orang di hadapannya. Ia tidak rela barang-barang peninggalan istrinya akan dirampas begitu saja.
"Apa, kau ingin kami diam saja begitu?" geram seseorang menarik kasar rambut laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
"Semakin lama kau semakin menjadi, Pak tua. Tidak takut mati, ya." kata seseorang lain.
"Sudah, sudah, abaikan saja dia. Ayo kita ambil barang-barang dari dalam rumahnya dan pergi. Boss sudah menunggu kita," ajak seseorang yang lain lagi pada dua rekannya.
"Ya, ayo." jawab seseorang rekan di sampingnya.
"Cih! Kali ini kau bisa hidup tenang, Pak tua. Jangan halangi kami mengambil barang-barang tidak bergunamu itu," kata seseorang yang menarik rambut laki-laki itu. Dia pun segera melepaskan tangannya dan hendak pergi mengikuti temannya.
Tidak disangka, laki-laki paruh baya itu langsung memeluk kaki orang yang baru saja menarik rambutnya itu. Ia menangis dan terus memohon agar barang-barangnya tidak diambil. Dengan erat pria tua itu memeluk kaki pria muda yang memakinya.
"Tidak, Tuan. Aku mohon, jangan ambil barang-barang istriku. Aku mohon!" serunya terisak memohon.
"Lepaskan!" sentak seseorang itu kembali menendang laki-laki tua yang memeluk kakinya. "Persetan dengan ucapanmu. Meski kau menangis darah sekalipun, aku tidak akan mendengar ucapanmu. Kau itu sudah berhutang. Tidak bisa membayar masih saja bertingkah." lanjutnya yang langsung berbalik dan melangkah pergi. Ingin segera masuk ke dalam rumah.
"Tunggu ... " kata Ezra yang baru saja datang. Ia langsung membantu laki-laki paruh baya itu berdiri. "Anda baik-baik saja" tanya Ezra menatap seseorang yang ditolongnya.
"Saya baik, Tuan. Terima kasih," jawab laki-laki yang ditolong Ezra.
"Kau siapa? ada urusan apa kau menghentikan langkahku?" tanya seseorang bertubuh kekar pada Ezra. Seseorang itu menatap tajam ke arah Ezra.
"Jangan ambil barang miliknya. Sebagai gantinya aku akan membayar lunas semua hutangnya. Bukankah yang kalian inginkan hanya uang?" kata Ezra mengernyitkan dahi. Ia terlihat kesal.
Laki-laki bertubuh kekar itu tersenyum miring, "Wah, wah, kau sungguh ingin membayar hutangnya? hutangnya bahkan tidak sedikit. Apa kau yakin bisa membayar lunas? jangan katakan nantinya kau akan menjual tubuhmu untuk membayar kami." jawabnya mengejek Ezra lalu, menertawakan Ezra.
"Berikan," sahut Ezra mulai geram.
"Apa? berikan apa?" tanya seseorang itu bingung.
"Apa kau bodoh? jika kau menagih hutang, pasti ada laporannya, kan? berikan padaku dokumen hutang piutangnya." kata Ezra emosi.
"Kau serius? matamu akan melompat keluar melihat nominalnya," jawab seseorang itu lagi. Ia meragukan ucapan Ezra.
"Jangan banyak bicara! cepat berikan padaku. Aku tidak punya kesabaran menunggu. Cepat berikan selagi aku memintanya baik-baik, atau kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Ezra menekankan kata-katanya. Kesabarannya diambang batas.
Seseorang bertubuh kekar dan kedua rekannya hanya saling memandang. Mereka tidak yakin dengan ucapan Ezra. Namun, juga takut mendengar ancaman yang Ezra lontarkan.
"Ok, ajak aku ke tempat Boss kalian." jawab Ezra yang langsung menyetujui.
"Tuan, apa tidak apa-apa? mereka semua orang berbahaya, Tuan." kata laki-laki paruh baya di samping Ezra.
Ezra menatap dan tersenyum pada pria tua di sisinya, "Tenang saja, Paman. Tidak akan ada yang lebih berbahaya dariku." jawabnya mencoba menangkan seseorang di sampingnya.
"Tapi ... " kata-katanya langsung terhenti saat melihat dalam mata Ezra yang penuh keyakinan.
"Ayo," ajak Ezra, mulai tidak sabar.
Mereka semua pergi menemui Boss penagih hutang. Ezra dan laki-laki paruh baya itu mengikuti tiga orang yang berjalan di depannya. Ternyata, tidak jauh dari lokasi sebelumnya, Boss mereka sudah menunggu di dalam mobil dengan seorang supir.
Seseorang berlari menghampiri sebuah mobil dan mengetuk kaca mobil. Ia pun berbicara pada atasannya.
"Tuan ... " panggil seseorang pada Tuannya yang duduk di dalam mobil.
"Ada apa? di mana barangnya? aku meminta kalian mengambil semua barang milik sampah itu. Kenapa kalian kembali ke sini dengan tangan kosong?" tanya seseorang yang sedang duduk di dalam mobil.
"Itu, itu, itu Tuan. Ada sedikit masalah. Seseorang datang dan mengatakan ingin menemui Tuan. Ia akan melunasi hutang Pak tua berpenyakitan itu." jelasnya menyampaikan pada bosnya.
"Apa? siapa yang dia seberani itu? biar aku lihat. Sombong sekali," ucap seseorang yang terpanggil sebagai Boss itu.
Boss penagih itu keluar dari dalam mobil. Ia melihat, tidak jauh darinya ada seseorang yang berhutang padanya dan seseorang asing, juga dua bawahannya.
"Hei, kau! Pak tua berpenyakitan yang suka membuat masalah. Sudah berapa bulan ini? Kau bahkan tidak mampu membayar sepeser pun. Apa kau pikir ini lelucon?" dengan suara lantangnya dan gayanya yang arogan.
"Berikan padaku dokumennya," kata Ezra.
"Kau siapa?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Siapa aku apakah penting?"sahut Ezra menatap dingin.
__ADS_1
Ezra melihat, seseorang yang mengenakan stelan jas berwarna biru itu meminta bawannya masuk dalam mobil. Tidak beberapa lama kembali keluar dengan membawa sebuah dokumen di tangannya. Lalu dibawanya dokumen itu padanya. Diterima dan segara dibuka dokumen yang ia pegang. Ezra memperlihatkan nominal yang tertera pada dokumen kepada seseorang di sampingnya.
"Paman, benar sejumlah ini?" tanya Ezra.
Seseorang itu melihat ke dokumen dan menganggukkan kepala, "Ya, Tuan." jawabnya.
"Ok," jawab singkat Ezra yang langsung mengambil ponselnya. "Berikan akun rekeningmu. Aku akan langsung membayarnya," kata Ezra menatap si Boss penagih.
"Apa anak ini sungguhan? dia tidak sedang mempermainkanku, kan?" batin si boss penagih hutang.
Boss penagih itu berjalan perlahan mendekat pada Ezra dan mereka pun melakukan transaksi pembayaran hutang laki-laki paruh baya yang ditolong Ezra. Pembayaran sukses dilakukan. Ezra segera merobek kertas di dalam dokumen dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aku sudah bayar lunas hutang Paman ini. Jadi, kalian sudah tidak perlu lagi bersikap tidak manusiawi seperti tadi." kata Ezra memperingatkan. Ia menatap seseorag di sampingnya, "Ayo, Paman. Kita pergi," ajak Ezra. Membawa seseorang di sisinya pergi meninggalkan si komplotan penagih hutang.
Semua orang dibuat tercengang oleh Ezra. Tidak hanya orang-orang utang pituang itu, bahkan seseorang yang diajak Ezra pun merasa heran akan sikap aneh Ezra. Bagaimana tidak, tiba-tiba datang lalu, membayar lunas semua hutanganya. Bahkan ia pun tidak mengenal seseorang yang menolongnya itu.
***
Ezra dan seseorang yang ditolongnya berjalan pergi meninggalkan lokasi di mana orang-orang yang tidak manusiawi itu berada. Seseorang di samping Ezra pun mengucapkan terima kasih dan bertanya apa alasan kuat Ezra mau menolonya.
"Terima kasih, Tuan Muda." kata Laki-laki paruh baya yang di tolong Ezra.
"Jangan panggil aku begitu, Paman. Panggil saja aku, Ezra. Ezra adalah namaku." jawab Ezra memperkenalkan diri.
"Oh, begitu. Baiklah. Terim kasih banyak. Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara yang seperti apa. Namun, apakah kau mau singgah sejenak ke rumahku?" tawar seseorang itu.
Ezra tersenyum, "Tentu saja, Paman. Kebetulan sekali aku butuh tempat untuk istirahat." jawabnya menyenangkan hati sesorang yang ditolongnya.
Laki-laki itu pada akhirnya membawa Ezra pergi ke rumahnya. Rumah sederhana satu lantai dengan halaman yang sempit. Di halaman itu tumbuh bermacam-macam bunga. Seseorang itu membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Ezra untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo, masuklah!" ajaknya.
Ezra mengangguk, ia segera melangkahkan kaki mengikuti seseorang yang sudah ditolongnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Mata Ezra menyelisik isi dalam rumah. Rumah itu terlihat bersih dan rapi. Membuat siapa saja terasa nyaman dan betah untuk berlama-lama.
"Duduklah," pinta laki-laki paruh baya itu, sesaat setelah keduanya tiba di teras belakang rumah.
"Ya, Paman." jawab Ezra. Matanya kembali melihat sekeliling. "Rumah paman sangat rapi, ya." katanya kagum.
"Oh, ya. Kau pandai sekali memuji. Akhir-akhir ini aku hanya membersihkan seadanya saja. Karena tubuhku sedang kurang sehat." jawabnya.
"Apa Paman sakit? perlu kuantar ke rumah sakit?" tawar Ezra tidak tega dan merasa kasihan.
Seseorang itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak apa-apa, Nak. Paman baik-baik saja." jawabnya menolak tawaran Ezra.
"Apa Paman yakin?" tanya Ezra masih meragukan jawaban seseorang di depannya.
"Sangat yakin," jawab seseorang itu penuh keyakinan.
Ezra menghela napas panjangnya, "Baiklah jika seperti itu. Jika Paman butuh apa-apa jangan sungkan bicara. Jika aku bisa membantu, pasti dengan senang hati akan kubantu." kata Ezra menyakinkan.
"Ezra, boleh Paman bertanya?" tanyanya penasaran pada Ezra.
"Ya, Paman. Ada apa?" tanya Ezra menatap sesorang yang dipanggilnya Paman itu.
"Apa alasanmu menolongku? kita kan tidak saling kenal sampai kau harus menolongku. Bahkan kau sampai melunasi pinjamanku pada mereka." tanyanya lagi begitu penasaran.
Ezra tersenyum, "Paman, apakah harus ada alasan jika ingin menolong seseorang? melihat Paman yang kesulitan di depan mataku, bagaimana bisa aku mengabaikannya begitu saja. Aku bukan orang yang tidak punya hati dan tidak manusiawi, Paman. Apa jangan-jangan Paman sedang meragukanku, atau mencurigaiku?" jawab Ezra menjelaskan. Ia memberikan alasannya, lantas langsung bertanya balik pada seseorang itu.
"Bu, bukan begitu maksduku. Aku hanya penasaran saja. Tidak ada orang sebaik kau, Nak. Mereka yang tahu hanya melihat dan bergumam saja. Namun, kau berbeda. Kau menolongku tanpa kau memandang siapa aku. Aku terharu, Ezra. Terima kasih." katanya dengan mata berkaca ingin menangis.
"Paman, jangan menangis. Ku mohon. Begini saja, mari kita anggap pertemuan kita ini sebagai takdir. Takdir tidak bisa kita hindari, bukan. Jika saatnya bertemu maka akan bertemu, begitu juga dengan pertemuan kita hari ini." jelas Ezra, berusaha menenangkan hati laki-laki tersebut.
"Ya, apapun itu aku sungguh sangat bersyukur dan berterima kasih padamu. Hutang budi ini tidak akan aku lupakan, Joe." katanya dengan penuh perasaan.
Ezra hanya mengangguk mengiyakan. Ia lalu tersenyum menatap seseorang yang ada di hadapannya itu. Bagi Ezra, menolong seseorang bukanlah hal yang harus berpatokan pada kita mengenal orang tersebut atau tidak. Atau harus ada alasan tertentu. Menolong dan membantu seseorang yang perlu itu adalah hal yang diharuskan. Sebagai sesama, tidak boleh tinggal diam mengabaikan begitu saja. Keduanya pun kembali berbincang. Mereka membahas hal lain berkaitan dengan kehidupan pribadi dari laki-laki yang di tolong Ezra itu.
*****
__ADS_1