Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 95. Pesta Ulang Tahun Si Kembar (6)


__ADS_3

Sebelumnya ....


Reine berjalan berkeliling, ia membawa segelas jus jeruk lalu, melihat-lihat sekitarannya. Ia seperti sedang mencari-cari sesuatu.


"Di mana j*l*ng itu," batin Reine.


Matanya terus menyelisik. Sampai tatapannya tertuju pada suatu tempat. Ya, di sana ada Alexias, Lora dan ketiga putri mereka.


"Hooo ... akhirnya ketemu juga. Aku akan menyapamu dengan sangat baik kali ini, Lora." kata Reine.


Dengan langkah perlahan dan tatapan mata yang tajam ke depan, Reine pun mendekati Lora sekeluarga.


"Hallo, Lora, Alexias, dan si kembar tiga." sapa Reine.


Lora memalingkan wajah menatap Reine, "Hallo, Reine. Kau datang? senang bisa melihatmu," kata Lora, tersenyum cantik ke arah Reine.


Reine membalas senyuman Lora, "Ah, aku juga. Senang melihatmu," jawab Reine. Ia menatap si kembar lalu, mengucapkan selamat ulang tahun untuk ketinya. "Hallo, si kembar. Ah, maaf. bisa tolong sebutkan nama kalian? Bibi tidak mengingat nama kalian dengan jelas." kata Reine berpura-pura.


"Anak-anak, ini adalah saudara sepupu Mama. Tetu kalian tahu, kan. Ayo, beri salam pada Bibi dan perkenalkan diri kalin masing-masing." pinta Lora, ia ingin anaknya menuruti perkataanya.


"Hallo, Bi. Aku Olesia." kata Olesia memulai perkenalan.


"Hallo, aku Odellia. Senang bertemu Bibi," kata Odellia.


"Aku Oriana. Salam kenal, Bi. Senang bertemu Bibi." kata Oriana yang juga memperkenalkan diri.


Reine tersenyum, "Hallo, anak-anak yang cantik. Perkenalkan, Nama Bibi adalah, Reine. Bibi ini sepupu Mami kalian. Bibi juga senang bertemu dan mengenal kalian." kata Reine berakting senang dan penuh semangat.


Reine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia memberikan masing-masing dari si kembar hadiah, sebagai simbol pemberian di acara ulang tahun yang begitu meriah digelar.


"Bibi tidak beli kado istimewa untuk kalian. Bibi hanya punya ini. Tidak apa-apa, ya?" kata Reine.


Masing-masing anak menerima hadiah pemberian Reine. Si kembar tiga tampak senang dengan apa yang Reine berikan. Reine pun meminta si kembar untuk membuka hadiah pemberiannya.


"Kalian tidak mau buka hadiahnya?" tanya Reine.


"Mau, mau." jawab cepat Odellia. Ia penasaran dengan hadiah pemberian Reine.


"Boleh kubuka, Bi?" tanya Olesia.


"Aku juga mau buka. Bibi, bantu aku." pinta Oriana.


Senyuman mengembang di bibir Reine, "Oh, ok. Sabar, ya. Bibi akan bantu buka hadiah kalian satu per satu." jawab Reine.Ia berusaha sebaik-baiknya untuk menahan rasa kesalnya pada si kembar tiga yang dinilainya menyebalkan.

__ADS_1


"Dasar, anak-anak menyebalkan. Pekerjaan kalian hanya menyusahkan saja." batin Reine. Ia tersenyum lebar.


"Anak-anak, jangan seperti itu pada Bibi. Biar Mami yang bantu membukanya. Reine, berikan padaku saja." pinta Lora, mengulurkan tangannya. Ia tidak mau merepotkan Reine.


Reine menatap Lora, "Tidak apa-apa, Lora. Mereka kan keponakanku. Dan ini pertemuan kami setelah sekian lama. Jadi, biarkan aku membantu mereka, ok." jawab Reine.


Lora menatap Reine canggung, "Apa tidak apa-apa? bukankah kau sedang hamil? aku tidak bisa biarkan Ibu hamil terlalu lama berdiri." kata Lora lagi.


"Jika itu yang kau khawatirkan. Bagaimana jika kita duduk saja. Apa boleh begitu saja?" jawab Reine.


Lora memalingkan pandangan menatap ke arah Alexias, "Bagaimana, sayang? apakah bisa kita sambil duduk saja?" tanya Lora.


Alexias mengangguk, "Kenapa tidak, sayang. Duduklah, jika ingin duduk. Reine memang harus duduk karena dia sedang hamil. Duduklah bersama Lora dan anak-anak, Reine. Terima kasih sudah mau datang, juga untuk hadiah yang kau berikan." kata Alexias tersenyum tipis.


Meski merasa ada yang aneh dari Reine. Alexias berusaha untuk tidak berpikiran buruk terhadap Reine. Ia tidak mau menyinggung perasaan Lora yang sudah mau menerima keluarganya kembali, meskipun sebelumnya pernah tersakiti.


"Sepertinya ada yang aneh. Tapi, aku juga tidak boleh asal menuduh atau langsung berburuk sangka padanya. Asalkan dia tidak macam-macam pada istri dan anakku, maka selama itu aku akan diam mengawasi." batin Alexias.


Lora tersenyum, "Ok, kau mau ikut kami duduk? atau berkeliling?" tanya Lora.


"Aku berkeliling saja dulu. Aku mau menemui Papa dan Mama juga beberapa teman. Nanti, setelah selesai anak-anak membuka hadiah, kau dan anak-anak bisa menemuiku." jelas Alexias. Yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Lora.


Alexias pun berjalan pergi meninggalkan Lora, Reine dan si kembar tiga. Ia menemui kedua orang tuanya yang berada tidak jauh. Lora pun mengajak Reine dan ketiga anaknya untuk duduk.


"Bibi buka milik Oriana dulu, ya." kata Reine.


Si kembar tiga menatap lekat ke arah hadiah di tangan Reine. Mereka menanti-nantikan, hadiah apa yang mereka dapatkan dari Bibi Mereka.


Hadiah pun terbuka, ternyata Reine memberikan sebuah gelang pada Oriana. Gelang itu tampak cantik.


"Tada ... " sorak Reine. "Ini hadiahmu, sayang. Bagaimana? kau suka tidak?" tanya Reine menatap Oriana, sekaligus menunjukan gelang yang sudah ia buka.


Oriana mengangguk, "Ya, aku suka. Terima kasih, Bibi." jawab Oriana senang.


"Ya, sama-sama. Kemarikan tanganmu. Biar Bibi pasangkan," pinta Reine.


Oriana menurut, ia mendekati Reine dan mengulurkan tangannya agar gelang pemberian Reine bisa terpasang. Lalu, Reine mengusap lembut kepala Oriana dan meminta Oriana segera duduk. Ia melanjutkan membuka hadiah milik Olesia. Sama seperti Oriana, Reine juga memberikan sebuah gelang. Reine memasangkan gelang itu ke tangan Olesia lalu, mengusap lembut kepala Olesia.


"kau suka hadiahmu?" tanya Reine.


Olesia menganggukkan kepalanya, "Ya, aku suka. Suka sekali. Terima kasih, Bi." jawab Olesia tersenyum senang.


Olesia pun duduk. Reine lalu, membuka hadiah terakhir. Hadiah milik Odellia. Reine ternyata memberikan hadiah yang sama kepada si kembar, yaitu sebuah gelang. Setelah ia memasangkan di tangan Odellia. Ia lalu, bertanya pendapat Odellia.

__ADS_1


"Bagaimana, sayang? apa kau suka?" tanya Reine.


"Ini sangat cantik, Bibi. Aku suka. Terima kasih sudah memberiku ini." jawab manis Odellia. Ia pun mencium pipi Reine tiba-tiba, dan itu membuat Reine kaget untuk sesaat.


Cup ....


Reine melebarkan mata, "Ah, hahaha ... " tawa Reine kaget. "Terima kasih, cantik." kata Reine.


"Apa-apaan anak, ini. Kenapa dia tiba-tiba menciumku." batin Reine.


Odellia pun duduk. Ia mengamati gelang di tangan kirinya. Tidak hanya Odellia, Olesia dan Oriana terlihat menyukai gelang pemberian dari Reine.


"Terima kasih, Reine." ucap Lora, menggenggam tangan Reine yang ada di atas meja.


Reine lagi-lagi kaget, "Ah, Oh ... ya, itu bukan hal besar, Lora. Santai saja." jawab Reine tersenyum.


"Sampai kapan aku terus berakting seperti ini? bisa-bisanya aku jadi, terjebak diantara Ibu dan ketiga anak yang menyebalkan ini. Hah! membuatku semakin kesal saja." batin Reine. Ia mengamati si kembar tiga yang duduk di sampingnya, "Tapi, tidak apa-apa. Setelah aku mendapatkan mereka nanti, akan kugunakan mereka untuk menjatuhkan Lora dan Alexias. Balas dendamku tidak akan berakhir sampai kau juga menderita sama sepertiku, Lora. Apa yang kau berikan padaku, akan kembalikan berlipat-lipat." batin Reine lagi.


Reine masih terus berakting. Sampai ia mendapatkan panggilan di ponselnya. Disitulah, Reine sekalian berpamitan untuk pulang. Karena tidak bisa berlama-lama tinggal.


"Lora, aku pulang, ya. Aku masih ada urusan. Lain waktu kita bertemu lagi. Sampaikan terima kasihku, untuk Alexias sekeluarga." pamit Reine.


"Buru-buru sekali. Kau mau ke mana, Reine?" tanya Lora.


"Mau bertemu Junie. Teman sekolah kita dulu. Aku ada janji dengannya, dia punya kenalan dokter kandungan yang bagus. Dia akan merekomendasikannya untukku." jawab Reine berbohong. Yang sebenarnya, ialah Reine hendak pergi menemui Frans.


"Oh, begitu. Aku tidak punya kenalan atau rekomendasi dokter di sini. Karena aku ada di liar negeri, pada saat melahirkan anak-anak dulu." kata Lora.


"Tidak apa, Lora. Aku pulang, ya. Dahh ... " kata Reine, berdiri dari tempat duduknya. Ia melihat ke arah si kembar tiga, "Anak-anak, Bibi pamit pulang, ya. Sampai berjumpa lagi lain waktu." pamit Reine.


"Ya, Bi. Dahh ... " kata Oriana.


"Sampai nanti, Bibi. Dadah ... " kata Olesia.


"Dah, Bi. Hati-hati di jalan." kata Odellia.


"Dahhh ... " kata Reine lalu, pergi.


Lora mengamati kepergian Reine. Ia merasa heran karena Reine tampak berbeda dari biasanya. Sikap Reine ramah dan hangat padanya juga ketiga anaknya. Sempat ada keraguan, tetapi keraguan itu ditepis oleh Lora. Ia tidak mau mencurigai Reine tanpa alasan dan bukti yang kuat. Ia tahu, pada masa lalu Reine memanglah bersalah. Tapi, ia sudah mau memaafkan dan menerima semuanya dengan lapang hati. Baginya, melihat Reine dan keluarganya hidup baik juga bahagia sudah lebih dari cukup. Tidak ada hal yang lebih indah selain kehidupan yang damai.


Lora hanya tidak tahu saja. Jika sebenarnya Reine memiliki rencana jahat untuknya dan anak-anaknya. Lora tertipu dengan wajah serta kebaikan sesaat Reine. Ia tidak menyadari, Reine menaruh dendam dan kekesalan yang luar biasa padanya.


****

__ADS_1


__ADS_2