Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 26. Akhirnya Menemukanmu (1)


__ADS_3

Malam harinya ....


Lora berjaga seorang diri di rumah sakit. Ia sudah meminta Hannah pulang lebih dulu bersama Oriana dan Odelia. Ia tidak ingin dua anak lainnya jatuh sakit karena harus berlama-lama berada di rumah sakit.


Hiks ....


Suara tangisan Lora pecah. Ia menggenggam erat tangan Odellia sembari menangis. Lora merasa ia sudah gagal menjadi seoarang Mami.


"Maafkan Mami, Nak. Mami bersalah. Mami tidak bisa menjagamu dengan baik. Maaf ... " lirih Lora hampir tidak terdengar.


Lora mencium tangan kecil Odellia. Mengusap kepala Odellia dengan lembut. Lora sedih, diantara ketiga putrinya, Odellialah satu-satunya putrinya yang terlemah secara fisik. Odellia terlahir dengan berat paling kecil daripada Oriana dan Olesia. Saat diinkubator, Odellia juga menghabiskan waktu yang lama di dalamnya. Dibandingkan Oriana dan Olesia, pertumbuhan Odellia kurang. Serijg sakit dan jika jatuh sakit, maka akan membutuhkan waktu untuk sembuh. Itulah mengapa Odellia lebih sering beraktivitas di rumah atau di dalam ruangan dibandingkan di luar ruangan.


Meski memiliki tubuh lemah. Odellia adalah anak genius dengan daya ingat tinggi. Seaakan otak di kepalanya adalah sebuah mesin rekaman. Odellia menyerap pelajaran lebih cepat dibandingkan Oriana dan Olesia. Ia bahkan mampu menghafal sesuatu hanya dengan sekali lihat. Terutama wajah seseorang.


***


Alexias*


Aku baru saja menemui seseorang. Tidak kusangka, jauh-jauh aku ke negara ini. Aku harus pergi menempuh perjalanan empat jam lamanya untuk pulang pergi ke luar kota. Semua ini kulakukan demi mencari si b*rengs*k itu! sialan! Aku terus mengumpati orang terkutuk itu sepanjang perjalananku.


Setibanya di kota asal, aku langsung datang ke rumah sakit. Aku tidak tenang sebelum memeriksa keadaan anak itu lagi. Aku terus memikirkannya. Saat kugendong, ia perlahan bergumam dan memanggil 'Papi'. Membuat hatiku kacau balau.


Meski tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Tetapi aku merasa sakit jika melihatnya terluka, seakan akulah yang mengalami kejadian itu. Rasanya tubuhnya lemas tidak bertenanga. Aku merasa sedih, takut kehilangan dan kecewa karena tidak bisa apa-apa.


Aku masuk dalam gedung rumah sakit, aku langsung bertanya pada perawat jaga bagaimana keadaan anak itu. Salah seorang dokter mengingatku saat ia hendak pergi entah ke mana. Ia pun memberitahuku di mana anak yang bernama Odellia itu di pindahkan.


"Terima kasih, dok." ucapku senang.


"Ya, Tuan. Saya permisi. Karena hendak pergi menemui istri saya yang sudah menunggu di lobby." jawabnya.


"Baik, silakan." balasku.

__ADS_1


Aku pun segera berlari kecil mencari menuju kamar yang diberitahukan. Semakin langkah kakiku mendekati ruangan, rasanya seperti jantungku berdegup lebih kencang. Setelah lima menit ku tempuh, aku akhirnya sampai.


Perlahan-lahan, ku buka pintu kamar dan masuk. Aku melihat di dalam ruangan kosong. Tidak ada seorangpun. Hanya ada Odellia yang terbaring lemah tidak berdaya. Aku segera menghampiri anak itu, ku lempar jasku ku ke sofa yang letaknya tak jauh.


"Odellia ... " panggilku berbisik, ku usap lembut wajah dan kepala anak di depanku.


Kupegang dan kucium punggung tangan kecilnya, "Maafkan aku, Nak. Aku baru bsia datang lagi. Kuharap, kau segera membaik." ucapku berdoa penuh harap.


Kuletakan kembali perlahan tangan Odellia. Aku melihat sekeliling, dan memang tidak ada siapapun. Bagaiman bsa anak ini ditinggal sendirian di sini. Di mana seseorang bernama Hannah dan dua kembar yang lain? pikirku bertanya-tanya.


Tidak lama, aku mendengar suara pintu terbuka. Ternyata itu dari arah kamar mandi. Aku melihat seorang wanita dengan hanya mengenakan kemeja keluar dari kamar mandi dan mengunci pintu ruang rawat.


"Kenapa dia mengunci pintu?" batinku bingung.


Setelah ia mengunci pintu, ia segera berbalik dan kembali berjalan. Ia kaget, saat melihatku. Pandangan mata kami bertemu. Aku juga kaget, aku melihat seseorang yang tidak asing berdiri tidak jauh dariku.


"Ka-kau si-siapa?" tanyanya gugup. Ia hanya mengenakan kemeja dengan kancing yang masih terbuka. Sehingga aku bisa melihat sepasang pakaian dalamnya yang berwarna hitam.


"Ka-kau mau apa? berhenti!" sentaknya melangkah mundur.


Tidak peduli apa yang ia katakan. Aku terus melangkah maju mendekatinya. Kali ini aku menangkap buruanku. Bukan, lebih tepatnya buruanku yang datang. Ah, apapun itu aku merasa senang, aku menemukan wanita ini.


Kupojokan dia ke dinding, "Hai ... " sapaku. Kudekatkan wajahku ke wajah cantiknya.


"Jangan mendekat!" katanya memalingkan wajahnya, tak ingin memandangku.


"Kau tidak berubah, apa ini memang kau?" tanyaku padanya.


Ia menatapku, "Kau siapa? apa kita saling kenal? kenapa kau di sini? bagaimana kau bisa masuk sembarangan ke ruangan ini?" cecarnya, sembari mengerutkan dahi.


"Imut sekali, " batinku.

__ADS_1


Saat ia mencecarku, aku hanya bisa tersenyum. Aku mengusap wajahnya, tetapi tanganku langsung ditepis olehnya.


"Hei, kau mau apa? jangan coba-coba. Dasar mesum!" katanya, mengataiku.


"Ahahahaha ... "tawaku lepas tanpa sadar. Sungguh wanita ini menggemaskan sekali. "Hei, Nona. Kau benar-benar tidak ingat aku? atau kau pura-pura tidak mau mengingatku?" tanyaku.


Mustahil jika wanita ini tidak mengenali wajahku. Pagi itu, sebelum dia meninggalkan uanganya, dia pasti melihat wajahku, kan.


"Kau gila, ya? apa-apan kau, ini." katanya, terlihat kesal. "Dengar, aku tidak kenal siapa kau! jadi, cepat keluar sebelum aku berteriak!" sentaknya lagi. Ia seperti banteng bertanduk sang siap menandukku.


Aku sedikit bingung di sini. Wanita ini sebegitu gigihnya bertanya siapa aku? apakah benar ia tidak mengenalku? ia tidak tahu wajahku? cecarku sendiri menerka-nerka.


Wanita itu mendorongku, "Minggir. Aku mau lihat keadaan putriku." ucapnya berjalan melewatiku.


Mataku melebar, "Putriku?" ulangku.


Wanita itu berhenti tanpa berpaling, "Aku tidak kenal siapa kau. Jadi, tolong jangab buat onar, Tuan. Siapapun kau, kumohon kau keluar." katanya.


Dia berjalan lagi. Aku kaget, ia sungguh menganggapku orang asing. Dan ... jika wanita itu adalah ibunya, apakah anak itu anakku? ah, tidak! bisa saja dia memang sudah menikah dengan pria lain, kan. Tidak, tidak! jika benar akulah yang akan menderita. Enam tahun lamanya aku mencari, dan kini wanita itu dihadapanku. Aku tidak akan melepaskannya.


"Siapa Papanya?" tanyaku.


Wanita itu terlihat kaget, ia tidak menjawab dan hanya diam mematung. Aku kembali berjalam mendekatinya.


"Jawablah. Siapa Papanya? jadi kau memiliki tiga anak kembar perempuan, dan usia anakmu lima tahun. Apakah mereka putriku?" kataku tanpa basa - basi.


"Apa?" sahutnya kaget menatapku. "Apa maksudmu?" lanjutnya.


"Coba ingat, apakah kau pernah melakukan kesalahan enam tahun lalu? apakah kau pernah menghabiskan malam bersama seorang pria di Hotel? apakah kau juga pernah meninggalkan pria itu sejumlah uang?" cecarku. Berharap wanita di hadapanku ini ingat.


Lagi-lagi wanita itu hanya menatapku dengan wajah terkejut. Sepasang mata indahnya melebar sempurna. Sepetinya, ia benar-benar tidak menyangka bisa kembali bertemu denganku lagi. Setelah enam tahun berlalu.

__ADS_1


*****


__ADS_2