Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 23. Misi Penyelamatan (2)


__ADS_3

Di tempat lain, Oriana berusaha mencari bantuan. Ia mendatangi seseorang yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan. Ia menyapa dan menghampiri petugas itu.


"Ma-maaf, Paman. Boleh aku minta tolong?" tanua Oriana dengan wajah memelas.


"Nak, kau siapa? dan apa yang kau butuhkan. Mengapa kau di sini?" tanya petugas itu.


"To-tolong aku Paman. Pa-papaku, papaku ... " kata Oriana gelisah.


"Bagaimana, ini? Paman ini tidak mau membantuku. Maafkan aku Paman Alexias atau siapapun nama Anda. Maafkan aku juga Mami. Anakmu ini terpaksa berbohong," batin Oriana.


"Nak, kau kenapa? kau tampak gelisah. Ayo, aku akan antar kau ke tempat orang tuamu. Apakah kau berpisah dengan mereka?" tanya petugas.


"I-iya. Aku tertinggal saat aku ikut dengan pengasuhku. Papaku dalam bahaya Paman. Tolong antar aku segera ke kamar Papaku," kata Oriana.


"Di lantai berapa dan kamar nomor berapa kamar Papamu?" tanya petugas lagi.


Oriana kaget, "Ah, bagaimana ini. Aku tidak tahu lantainya. Aku kan hanya dengar nomor kamarnya tadi. Hm, apa aku beritahu saja ya?" batin Oriana.


Oriana terdiam, ia menarik baju petugas itu karena ingin membisikkan sesuatu. Petugas itu mengerti maksud Oriana dan menganggukkan kepala. Ia memahami maksud anak kecil itu.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan membantumu." kata petugas itu.


Petuga itupun pada akhirnya mengantar Oriana ke kamar yang dituju. Jantung Oriana berdebar. Ia khawatir, kalau-kalau seseorang yang akan ditemuinya menolaknya. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi.


***


Sesampainya di depan kamar, petugas mengetuk pintu kamar. Oriana masih terdiam, ia takut ketahuan berbohong.


"Aku tidak salah kamar, kan. Jangan-jangan ini bukan kamar Paman itu." batin Oriana.


"Siapan nama Papamu, Nak?" tanya petugas memastikan.


"Oh, Alexias Owen." jawab Oriana gugup.


Tok ... tok ... tok ....


Pintu kamar Alexias diketuk dari luar. Oriana tampak tegang.


Tidak beberapa lama pintu terbuka. Alexias keluar dari dalam kamar.


"Oh, Hallo. Apakah ... " kata-kata petugas terpotong oleh Oriana yang berlari memeluk kaki Alexias.


"Papa ... " panggil Oriana menangis.


"Hah ... " gumam Alexias kebingungan.

__ADS_1


Petugas menatap Alexias, "Maaf, apakah Anda benar Tuan Alexias Owen?" tanya Pettugas.


"Ya," jawab Alexias.


"Putri Anda saya temukan di lantai bawah. Dia tampak gelisah dan kebingungan, lalu meminta bantuan saya diantar kemari." jelas petugas itu.


Alexias menatap Oriana, Oriana menadahkan kepala memelas pada Alexias. Pandangan keduanya bertemu.


"Apa ini? siapa anak ini? wajahnya ... ah, tidak, tidak. Bukan itu masalahnya. Kenapa dia ke sini?" batin Alexias.


"Papa, aku takut ... " gumam Oriana.


Alexias menggendong Oriana, "Pak, terima kasih sudah mengatar anak saya." kata Alexias menatap petugas, ia meraba saku jasnya dan mengeluarkan dompetnya. Diberinya petugas itu sejumlah uang. "Ini sebagai tanda terima kasihku." lanjut Alexias bicara.


"Ti-tidak perlu, Tuan. Saya dengan senang hati membantu." tolak halus petugas itu. Merasa tidak enak.


Alexias memasukan uang ke dalam kantong pakaian yang dikenakan petugas. "Jangan menolak. Karena aku juga memberinya dengan senang hati." kata Alexias.


"Terima kasih, Tuan. Sa-saya permisi. Karena masih ada pekerjaan." pamit petugas itu.


"Ya," jawab Alexias.


Alexias melihat petugas pergi meninggalkan kamarnya. Ia juga melihat sekeliling yang sepi, lalu ia membawa Oriana masuk ke dalam kamar.


"Nak, siapa kau?" tanya Alexias, menurunkan Oriana, mendudukan Oriana di sofa.


"Ada apa?" tanya Alexias.


Oriana mulai bercerita. Awalnya Alexias hanya merasa ia mendengarkan anak kecil yang sedang mendongeng. Namun, semakin lama, cerita Oriana membuatnya kaget.


"Jadi, kau langsung ke sini hanya dengan mendengar hal itu? jika, aku akan dicelakai?" tanya Alexias.


"Ya, Paman. Paman harus segera pergi dari sini. Jika tidak, Paman akan benar-benar celaka. Aku tidak berbohong, aku punya bukti rekamanan yang dibawa oleh saudari kembarku. Dia juga sedang mencari bantuan." jelas Oriana.


"Apa ini sungguhan? apa aku harus percaya ucapan anak ini? namun, aku memang tidak bisa menolak permintaan anak ini. Entah mengapa, aku merasa sangat dekat dan terikat sesuatu dengannya." batin Alexias.


Ponsel Alexias berdering, ia mendapatkan panggilan dari Agatha.


"Tunggu, Saudari kembar Paman menghubungi. Paman angkat teleponny dulu," kata Alexias.


"Ya," jawab Alexias, sesaat setelah menerima panggilan masuk dari Agatha.


"Alex, kau di mana? jangan keluar kamar dulu. Kau dengar aku, Lex. Alex ... " panggil Agatha panik.


"Aku di kamar, Agatha. Kau kenapa?" jawa Alexias bingung.

__ADS_1


"Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai dna aku akan jelaskan." kata Agatha.


"Bukannya kau sudah turun? kau mau naik lagi dan kembali ke kamar?" tanya Alexias.


"Ini gawat, Lex! ada bahaya besar yang akan datang. Dengarkan aku, diamlah di kamar dan tunggu aku." kata Agatha.


"Ya, aku mengerti." jawab Alexias.


Agatha langsung menutup panggilan. Alexias bingung, dahinya mengernyit sembari menatap layar ponsel.


"Apa ini sebenarnya," gumam Alexias.


"Saudari Paman pasti bertemu saudariku saat dia mencari bantuan." kata Oriana.


Alexias menatap Oriana, "Berapa usiamu, Nak? dan kenapa kau mau membantuku?" tanya Alexias.


"Lima Tahun, Paman. Aku tidak suka dengan orang jahat. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum Paman celaka, lebih baik Paman tahu dulu, kan." jelas Oriana.


Mata Alexias melebar, "Apa kau sungguh lima Tahun? bagaimana bisana anak lima tahun punya pola pikir sspetimu, Nak." kata Alexias takjub.


"Ya, itu bukan apa-apa. Yang terpenting aku sudah memberithu Paman. Selebihnya Paman harus bertidak. Maafkan aku karena harus berbong, dengan berpura-pura menjadi anak Paman. Itu aku lakukan karena terpaksa, aku harus bertemu Paman apapun caranya." jelas Oriana lagi.


Alexias diam, ia mengamati Oriana. Gaya bicara yang terbuka dan sikapnya yang tenang meski di suasana tegang, membuatnya kagum.


"Bisa-bisanya, anak lima Tahun membicarakan hal seperti ini tanpa rasa takut." batin Alexias.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Alexias diketuk dari luar. Ada teriakan Agatha juga.


"Lex, buka ... " teriak Agatha.


Alex membuka pintu. Agatha dengan naaps tersengal langsung mendekati saudaranya itu.


"Kau, kau baik-baik saja, kan? kau belum keluar dari kamarmu, kan? kau juga belum bertemu orang yang akan mencelakiamu, Kan." panik Agatha.


"Hei, tenang dulu." kata Alexias mengusap wajah Agatha, "Aku tidak apa-apa. Tadi saat mau keluar untuk turun, ada yang mengetuk pintu kamar. Dan seorang petugas kebersihan datang bersama seorang anak." jelas Alexias.


Agatha menatap Oriana, "Kau ... " gumam Agatha.


"Annah ... " panggil Olesia.


"Lesi ... " panggil Oriana.


Keduanya lalu berpelukan erat. Agatha dan Alexias saling bertatapan. Agatha kaget, ia tidak mengira jika anak yang ia temui punya saudari kembar.


Manager menjelaskan pada Alexias, ia juga meminta Alexias mendengar hasil rekaman yang di rekam oleh Oriana. Alexias kaget, ia tidak menyangka jika salah seorang bawahannya tega berkhianat padanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2