
Reine merasa senang, akhirnya tiba juga hari di mana ia akan menyandang status sebagai Nyonya Armando. Ia tampak cantik mengenakan pakaian pengantin dengan make up natural. Perias dan asisten perias memuji kecantikan Reine.
"Wah, Anda terlihat cantik, Nona." kata perias. Usai riasannya selesai.
"Benarkah? terima kasih, ini semua juga berkatmu." kata Reine. Reine mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya lalu, memberikan kepada seseorang di sampingnya. "Ini untukmu. Karena kau sudsh bekerja keras. Jangan sungkan, ini bukan apa-apa." tambah Rein.
"Te-terima kasih, Nona. Sebenarnya ini berlebihan, karena saya juga sudah dapatkan bayaran untuk pekerjaan saya." katanya.
"Bayaran dari atasanmu dan pemberianku itu berbeda. Sudahlah. Simpan saja uang itu." kata Reine.
Karena didesak Reine, mau tak mau perias itu terpaksa mengambil uang pemberian dari Reine. Reine merasa bangga ia dipuji cantik, saat ia bercermin memang terlihat jelas paras cantiknya.
Karena pujian itu, Reine pun menyombongkan diri. Merasa seolah dialah wanita tercantik dari yang paling cantik. Ia sudah tidak sabar, memamerkan kecantikannya pada Evan. Ia ingin Evan memujinya juga.
***
Di mansion. Lora dan Alexias sedang bersiap-siap. Suami istri tersebut menggunakan pakaian dengan warna dan corak senada. Keduanya tampak serasi.
Lora menatap Alexias, "Bagaimana? penampilanku tidak mencolok, kan?" tanya Lora meminta pendapat suaminya.
Alexias menatap Lora, "Hm ... apapun yang kau kenakan, kau selalu tampak cantik. Istrikulah, satu-satunya wanita paling cantik di dunia ini." puji Alexias.
Senyum cantik mengembang, "Kau terlalu membual, sayang. Sudahlah. Ayo, kita harus segera bergegas. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita." Lora mengajak suaminya bergegas, karena tidak ingin orang tuanya menunggu terlalu lama.
"Ya, sayang. Tunggu sebentar, dasiku masih ... " gumam Alexias, sibuk membenahi dasinya.
Lora segera meraih dasi yang dikenakan Alexias dan langsung membenahi dasi itu. Alexias terus menatap wajah cantik istrinya, hidung mancung, bibir ranum dan senyum rupawan. Membuat Alexias tidak mau memalingkan wajah menatap sesuatu yang lain selain Lora.
"Sudah selesai. Ayo," ajak Lora, merangkul lengan Alexias.
"Terima kasih untuk bantuanmu sayang," ucap Alexias tersenyum.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ....
Lora tertegun sesaat. Ia menatap lekat suaminya yang terlihat tampan dan gagah. Lora bangga bisa mendapatkan cinta, kasih sayang dan hati Alexias.
Alexias mendekatkan wajahnya ke wajah Lora, "Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Alexias mengusap lembut wajah Lora.
Tentu saja, hal itu membuat Lora kaget. Ia tersadar dari lamunan sesaatnya. Senyum cantik kembali mengembang.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Hanya melamunkan sesuatu hal. Kau sangat tampan sampai membuatku tertegun. Bagaimana, ini? jantungku terus berdebar karenamu. Kau harus bertanggung jawab," kata Lora menggoda Alexias.
Alexias mencium lembut kening Lora, "aku akan bertanggung jawab. Katakan, apa yang kau inginkan. Atau, kau sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Alexias.
Lora mengusap wajah Alexias lembut, "Yang aku inginkan adalah, kau tetap jadi dirimu yang seperti ini sampai akhir. Tetap mencintaiku meski aku sudah tidak cantik lagi. Menyayangiku meski kulitku sudah tidak halus dan berkeriput. Menyukaiku meski rambutku sudah memutih seluruhnya. Kau mau lakukan itu untukku?" pinta Lora menatap lembut pada Alexias.
"Tentu saja. Aku akan lakukan apapun itu yang kau pinta. Kuberikan apapun itu yang kau inginkan. Kita sudah berjanji untuk saling mengasihi, menyayangi dan mencintai satu sama lain sampai maut memisahkan kita. Selama aku masih bisa bernapas, kupastikan hanya kau satu-satunya wanitaku. Meski aku matipun, aku akan tetap mencintai kau seorang, Lora." jawab Alexias dengan suara lembut.
Keduanya lantas berciuman sebentar. Lalu, segera pergi meninggalkan kamar. Karena mereka tidak mau terlambat menghadiri pernikahan Reine dan Evan.
***
Kepala Reine mulai membesar dan mengembang, pada saat mendapatkan pujian dari tamu undangan. Berbeda dengan Reine yang tersenyum bahagia, Evan tampak murung dan kesal. Evan menyelisik sekitar seperti sedang mencari-cari seseorang. Sampai pandanganya terpaku pada seseorang yang cukup jauh darinya. Ya, seseorang yang dilihat Evan adalah Lora.
Evan tersenyum tipis menatap Lora, "Cantiknya. Aku tidak sangaka Lora akan berdandan secantik itu demi datang ke acara ini. Apa dia sengaja ingin memamerkannya padaku, ya? ingin aku puji mungkin. Mau bagaimanapun, dia memang cantik. Lebih cantik dibandingkan wanita rubah yang ada di sampingku ini." batin Evan.
"Evan ... " panggil Reine.
Reine menatap evan. Ia melihat Evan melamun sembari menatap sesuatu. Reine mengikuti arah pandang Evan dan mendapati suaminya sedang lekat menatap Lora, sepupunya. Seketika Reine marah, ia langsung menegur Evan.
"Bisa-bisanya kau melihat wanita lain saat kau sedang bersama istrimu, Evan. Kemana matamu itu melihat, hm?" gumam Reine di dekat telinga Evan.
Evan kaget, "A-apa yang kau katakan, Reine. Jangan mengada-ada. Akun tidak mengerti maksud ucapanmu," elak Evan beralasan. Evan tidak mau mengakui apa yang dituduhkan istrinya.
__ADS_1
"Wanita s*al*n! beraninya kau menggangguku menikmati kecantikan Lora. Ck! aku sangat ingin membuangnya jauh-jauh dariku." batin Evan.
"Kurang ajar. Pria b*r*ngs*k! dasar hidung belang. Beraninya kau melihat j*l*ng itu sampai tidak berkedip. Lihat saja, bagaimana nanti aku akan menghukummu." batin Reine.
Di dalam hati, Reine dan Evan sama-sama saling mengatai dan mengumpat. Reine merasa cemburu, suamimya melirik wanita lain. Terlebih, wanita yang lekat dilihat Evan adalah Lora, sepupunya. Sedangkan Evan kesal saat ia asik menilmati keindahan paras cantik Lora, Reine justru bergumam di telinganya dan membuat fokusnya pada Lora pecah.
***
Tiba saatnya Lora dan Alexias memberikan ucapan selamat. Meski Lora kesal dan kecewa akan sikap Reine di masa lalu. Namun, ia tidak mau menjadi seorang pendendam. Lora bahkan sampai repot menyiapkan hadiah untuk Reine.
"Selamat, Reine, Evan. Semoga selalu bahagia." kata Lora mendoakan.
Reine menatap Lora penuh kebencian, "Ya, terima kasih sudah mau datang. Semoga kau dan suamimu menikmati pesta kami." jawab Reine menahan kekesalannya.
"Ini untukmu. Meski bukan seberapa, aku harap kau suka." kata Lora memberikan sebuah hadiah pada Reine.
Reine menerima, "Oh, ok. Terima kasih. Aku senang mendapatkan hadiah darimu." jawab Reine tersenyum palsu.
"Apa yang kau berikan ini? kau pasti akan mempermalukan dengan memberikan hadiah murahan ini, kan?" batin Reine.
"Terima kasih, kau sudah mau datang. Kau terlihat cantik," puji Evan.
Reine kaget, "Arrghhh ... pria b*r*ngs*k! bisa-bisanya dia memuji wanita lain di hadapanku." batin Reine mengertakkan gigi. Reine bahkan sampai mencengkram kuat buket bunga dan hadiah pemberian Lora yang dipengangnya
Lora kaget, "Hm, maaf. Sebaikanya kau jaga ucapanmu, Evan. Tidak pantas rasanya jika kau bicara demikian di saat seperti ini." jawab Lora.
"Ah, menyebalkan. Kenapa kau harus mengatakan hal itu, Evan. Apa kau tidak lihat di sampingku ada siapa? bisa-bisanya pria ini bicara begitu di depan istrinya." batin Lora.
Alexias mengernyitkan dahi, "Bisa-bisanya tikus ini mengatakan hal menjijikan seperti ini di depanku. Ingin kuhabisi dia," batin Alexias.
Lora tidak senang dengan pujian Evan. Ia juga merasa tidak enak jika nantinya ucapan Evan membuatnya menjadi dalam masalah karena kecemburuan Reine.
__ADS_1
*****