
Agatha memberikan informasi perihal orang jahat yang hendak mencelakai Alex. Ia mengatakan, satu orang berhasil ditangkap. Yaitu, orang yang membawa Odellia pergi dari restorant Hotel. Satu orang lainnya masih dalam pencarian.
" ... entah sampai kapan pencarian ini." guman Agatha.
"Apa Paman jahatnya tidak bisa tertangkap?" tanya Oriana.
"Ya, Paman jahat itu masih dalam proses pencarian. Dia berhasil melarikan diri." jawab Alexias.
"Paman, Bibi. Apa ada orang yang pernah melakukan ini sebelumnya? atau Paman dan Bibi pernah bertengkar dengan seseorang?" tanya Oriana.
Agatha dan Alexias saling memandang. Keduanya tampak keras berpikir. Mendengar ucapan Oriana, keduanya memutar otak untuk memahami.
Alexias menatap Oriana, "Apa maksudnya, orang dibalik ini semua adalah orang yang sebelumnya terlibat perselisihan dengan kami dalam waktu dekat ini?" tanya Alexias.
Oriana menganggukkan kepala, "Ya," jawab singkat Oriana.
"Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu, Nak? apa kau punya alasan?" tanya Alexias penasaran.
"Anak sekecil ini bisa berpikir hal yang tidak terduga. Apa dia terlalu sering melihat film?" batin Alexias.
"Siapa, ya? sepertinya memang ada orang yang berdebat dengan kami terakhir kali. Kalau tidak salah ... " batin Agatha, agatha melebarkan mata saat ingat sesuatu.
"Tidak mungkin, kan?" gumam Agatha.
"Ada apa, Agatha?" tanya Alexias.
Agatha menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa." jawab Agatha.
Oriana menatap Alexias dan Agatha bergantian. Tampak keraguan dalam sorot matanya. Alexias tahu jika gadis kecil dipangkuannya itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak berani karena suatu hal.
"Apa ada sesuatu, Annah?" tanya Alexias, membelai rambut Oriana lembut.
"Ti-tidak ada," jawab Oriana menggelengkan kepala.
"Sungguh? jika ada sesuatu, katakan saja. Tidak apa-apa," kata Alex lagi mencoba membujuk Oriana agar bicara.
"Ada apa, Annah? apa kau takut dimarahi Mami?" sahut Olesia yang duduk di samping Agatha.
Oriana kaget, "Ti-tidak. Bu-bukan seperti itu. A-aku, aku, aku hanya tidak bisa banyak bicara." lirih Oriana hampir tidak terdengar.
__ADS_1
Alexias menatap Olesia, "Ada apa, Lesi? kau puny sesuatu yang ingin disampikan, Nak?" tanya Alexias.
"Sebenarnya ... " kata-kata Olesia dipotong oleh Oriana.
"Lesi, jangan!" sentak Oriana.
"Uh ... " keluh Olesia menatap Agatha dan Alexias bergantian. Olesia juga tampak gelisah sesaat setelah Oriana menyentaknya.
"Sayang, tidak apa. Katakan saja. Paman janji, ini rahasia kita." ucap Alexias mengusap pipi halus Oriana.
"Janji?" kata Oriana menatap Alexias.
Oriana mengangkat jari kelingking tangan kirinya. Ia ingin Alexias mengikat janji denganya. Karena ia memang tidak mau membuat Mami dan Mama asuhnya sedih. Melihat jari kelingking Oriana, Alex pun mengaitkan kelingking tangan kirinya ke kelingking Oriana.
"Janji," kata Alexias.
"Sebenarnya, Mami melarang kami melakukan sesuatu. Maksudku, kami tidak boleh terlalu ikut campur masalah orang dewasa. Dan kemarin, kami dengan lancang sudah melakukan kesalahan. Kami belum dihukum karena kejadian kemarin karena Odellia sedang sakit. Kami sedih karena kami tidak mau dengar ucapan Mami, Odellia jadi seperti ini. Semua salah kami," Jelas Oriana.
"Tidak, Annah. Semua salahku. Akulah yang membawa kalian berdua menguping prmbicaraan dua Paman itu." kata Olesia, yang berdiri dari posisi duduk dan mendekati Oriana. "Maafkan aku. Aku melibatkanmu dan Odellia." lanjut Olesia murung.
"Tidak, aku yang salah. Bukankah saat itu Odellia menolak. Akulah yang memaksanya." sahut Oriana.
"Aku kan yang mengajak kalian," sahut Olesia tidak mau kalah.
Mata Olesia berkaca-kaca, ia naik ke pangkuan Alexias dan menangis tersedu-sedu memeluk Alexias. Mendengar Olesia menangis, Oriana juga ikut menangis. Ia juga memeluk Alexias dengan erat.
"Anak-anak, dengarkan Paman. Jangan menangis lagi, ok. Kalian tidak salah, kalian anak-anak yang hebat. Berkat kalian Paman tidak lagi dalam bahaya. Pamanlah yang bersalah karena tidak bisa melindungi kalian dengan baik. Yang seharusnya minta maaf adalah Paman." jelas Alexias, memeluk Oriana dan Olesia.
Agatha terharu, "Kenapa aku jadi teringat masa lalu, ya. Mereka sama sepertiku dan Alex saat dulu kami masih kecil. Kami saling menyalahkan diri agar hanya salah satu dari kami yang menerima hukuman." batin Agatha.
"Kalian sangat menyayangi satu sama lain, ya. Bibi bangga pada kalian, Annah, Lesi, juga pada Lia. Jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Benar apa kata Paman, kalian anak-anak yang luar biasa. Perbuatan kalian sudah seperti pahlawan. Jadi, kalian jangan sedih. Untuk Lia, kita berdoa saja. Doa dengan setulus hati, agar kesembuhan datanh menghampiri." kata Agatha, mencoba mencairkan suasana.
Mendengar ucapan Agatha, Oriana dan Olesia merasa senang. Mereka saling menatap satu sama lain dan tersenyum, mereka pun saling berpelukan.
Oriana menatap Alexias, "Terima kasih, Paman." ucap Oriana, mencium pipi Alexias.
"Paman yang terbaik," sambung Olesia. Mencium pipi Alexias.
"Wah, Bibi iri. Kalian hanya mau cium Paman." keluh Agatha, menggoda Oriana dan Olesia.
__ADS_1
Oriana dan Olesia turun dari pangkuan Alexias. Mereka menghampiri Agatha, memeluk dan mencium Agatha bergantian.
"Umh, terima kasih. Kalian menggemaskan sekali," kata Agatha senang.
Alexias tersenyum melihat Agatha yang tersenyum lebar. Ia teringat akan senyuman Agatha pada masa lalu. Di mana Agatha mengumumkan kabar akan pernikahannya dulu. Namun, senyuman itu perlahan berubah menjadi kesedihan dan air mata, karena kabar duka dari suami Agatha yang telah berpulang.
"Aneh sekali. Aku merasa sangat dekat dengan anak-anak ini. Rupanya Agatha juga merasakan hal sama denganku." batin Alexias.
"Anak-anak ini mengingatkanku dengan masa lalu. Saat aku dan Alex masih kecil. Ternyata tidak hanya parasnya saja yang mirip, prilakunya juga, ya." batin Agatha.
Agatha teringat akan sesuatu, "Ah, aku melupakan seuatu. Aku harus kembali ke hotel, Lex. Aku meninggalkan dokumen yang harusnya kubawa untuk rapat pagi ini." kata Agatha.
"Maafkan aku harus melimpahkan tanggung jawab padamu, Agatha. Aku tidak bisa meninggalkan anak-anak dan Maminya. Kau hubungi saja aku jika butuh sesuatu." kata Alexias merasa tidak enak.
Agatha tersenyum, "Tidak apa-apa. Kau kan sedang tidak sehat juga. Istirahatlah," jawab Agatha.
Agatha menatap Oriana dan Olesia, "Anak-anak, Bibi pergi dulu, ya. Karena Bibu ads pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan." pamit Agatha.
"Ya, Bi." jawab Oriana.
"Apakah Bibi akan datang dan menemui kami lagi?" tanya Olesia.
"Tentu, sayang. Bibi pasti akan datang lagi nanti. Sampai nanti," jawab Agatha.
Oriana dan Olesia kembali memeluk dan mencium pipi Agatha bersamaan. Hal itu membuat Agatha merasa senang, hatinya berbunga-bunga dengan perlakuan hangat yang diberikan Oriana dan Olesia.
***
Setelah sarapan dan makan cemilan, Hannah membawa Orian dan Olesia meninggalkan rumah sakit. Hananh harus segera membuka kedai kopinya. Lora izin libur. Ia memberitahukan kondisi terbaru Odellia kepada keluarga angkatnya.
Karena tubuh Alexias juga masih kurang baik, ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai benar-benar pulih. Suasana kembali canggung. Meski sudah semalaman berada dalam satu ruangan bersama, tetap saja rasanya aneh bagi Lora.
"Kau sudah makan? kenapa hanya anak-anak yang makan?" tanya Alexias, memecah suasana canggung.
"Aku sudah makan di tempat," jawab Lora.
"Oh, begitu." sahut Alexias.
"Apa lagi, ini. Dia seakan ingin akrab denganku." batin Lora.
__ADS_1
"Wanita ini keras hati juga. Aku jadi kesulitan menghadapinya. Aku tak boleh memnuatnya menjauhiku. Karena aku ingin selalu dekat dengannya.
*****