
Flora*
Sudah kuputuskan, aku akan mempertahankan keberadaan janin ini. Akan kulahirkan dan kurawat dengan baik. Meski ke depannya akan sulit, aku tidak peduli. Aku harus berjuang dan berusaha keras.
Perjuanganku di mulai di kantor tempatku bekerja. Ya, Awalnya tidak ada seorang pun yang tahu jika aku hamil. Sampai, suatu saat. Aku mengalami gangguan makan dan hanya mual-mual sejak pagi. Entah mengapa rasanya seperti tubuhku melemah. Biasanya tidak seperti ini.
Hidungku mulai sensitif. Aku akan langsung pusing saat mencium aroma yang menyengat. Tidak sampai di situ saja. Pekerjaanku mulai kacau dan berantakan karena aku juga tidak fokus bekerja. Kejadian itu, tanpa terasa terlewati selama lebih dari sebulan.
Pada akhirnya, Direktur memanggilku. Perasaanku semakin tidak karuan. Aku takut, gugup dan khawatir. Bagaimana jika aku dipecat? aku baru saja bekerja, tetapi sudah berulah. Pasti Pak Direktir juga tidak bisa memberikan toleransinya padaku.
Kulangkahkan kaki memasuki ruangan Pak Direktur. Berulang-ulang aku menarik napas dan mengembuskannya kasar. Aku berdoa dalam hatiku, agar aku masih diberikan kesempatan. Aku tidak mau merepotkan Hannah. Bagaimanapun, aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan tabungan untuk calon anak-anakku kelak.
Di dalam ruangan, aku melihat seseorang berdiri menggenggam ponsel di tangan yang didekatkan ke telinga. Sepertinya Pak Direktur sedang menerima panggilan.
Melihatku datang, beliau hanya melirik sesaat. Ia pun segera mengakhiri panggilannya.
"Baik, Tuan. Saya akan segera siapkan. Saya akan berikan daftarnya list-nya segera. Terima kasih." begitulah kata terakhir beliau sebelum mengakhiri panggilan.
Beliau meletakan ponselnya dan kembali menatapku. Jantungku serasa ingin meledak. Degupan jantungku terus berpacu seiring dengan detak jam.
"Nona Elvise," sapa beliau.
"Ah, iya. Saya, Pak Direktur." jawabku gugup.
"Mari, silakan duduk lebih dulu. Saya memiliki beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban jelas dari Anda." kata Beliau.
Beliau berjalan mendekatiku lalu mempersilakanku ke sofa. Aku pun mengikuti beliau yang sedang berjalan mendekati sofa. Tanganku sudah basah oleh keringat. Aku tidak tahu, pertanyaan macam apa yang akan beliau tanyakan padaku.
Kulihat beliau sudah duduk. Aku pun duduk tenang di hadapan beliau. Beberapa saat kami saling diam. Aku hanya bisa menahan napas saat beliau terus menatapku.
__ADS_1
Bapak Direktur, adalah pria paruh baya berumur sekitar lima puluh tahun lebih. Mungkin seumuran dengan Papaku. Dengan rambut hitam yang sudah bercampur putih meski hanya sedikit. Wajahnya tampan, meski sudah termakan usia. Lebih tampan dibandingkan Papaku sendiri. Mungkin karena beliau adalah seorang boss besar yang memiliki banyak uang. Mungkin juga beliau rajin merawat diri.
Otakku sepertinya sedang bermasalah. Aku terlalu banyak menduga-duga sesuatu yang tidak pasti. Hanya kata 'Mungkin' yang ada dalam benakku.
"Jadi, apa Nona ada masalah kesehatan?" tanya beliau tiba-tiba.
Aku kaget, aku menundukkan kepala. Awalnya aku bingung harus menjawab apa. Namun, tidak mungkin juga aku berbohong.
"Maaf jika Anda merasa tidak nyaman, Nona. Hm, saya hanya ingin tahu saja. Tidak bermaksud ikut campur atau mengorek informasi pribadi Anda." jelas beliau.
Aku menadahkan kepalaku, lalu menatap beliau. Aku pun meminta maaf dan memohon agar beliau tidak memecatku. Aku sangat, sangat, berharap beliau mau memberikanku kesempatan.
"Maafkan saya, Pak Direktur. Saya bersalah." ucapku.
"Apa kesalahan Anda?" tanya beliau.
"Sa-saya, saya, saya tidak bekerja dengan baik. Saya memang pantas mendapatkan hukuman karena lalai dan ceroboh dalam bekerja. Namun, saya mohon. Jangan pecat saya." ucapku lagi memohon.
"Saya harus bekerja demi bisa mencukupi kebutuhan harian saya. Saya juga harus menabung untuk biaya persalinan dan biaya perawatan calon anak-anak saya. Saya tidak bisa hany bergantung pada sahabat saya. Saya, saya, saya tidak mau merepotkan oran lain. Saya ... " kata-kataku terhenti. Aku tidak sanggup lagi bicara.
Air mataku tanpa terasa jatuh. Dadaku terasa penuh sesak. Rasa takut, khawatir, cemas dan gelisah bercampur menjadi satu. Aku tidak mau berakhir seperti ini. Aku tidak mau.
"Flora ... " panggil beliau.
Aku kaget, karena tiba-tiba saja beliau memanggil namaku.
"I-iya, Pak Direktur." jawabku semabari menyeka air mataku.
Beliau memberikanku sapu tangan, "Pakai ini dan jangan menangis, Nak." kata beliau lembut. Kurasa, beliau sedang ingin menghiburku.
__ADS_1
Aku menerima sapu tangan itu, "Te-terima kasih, Pak Direktur." jawabku lirih.
"Sejujurnya aku memanggilmu karena ingin bertanya sesuatu hal. Namun, sepertinya kau salah paham dan menerka hal lain yang ingin kusampaikan. Siapa juga yang ingin memecatmu." kata beliau.
Aku heran, jika tidak ingin menginterogasiku lalu memecatku. Beliau ingin apa? jujur saja, dalam pikiranku memang itu yang kupikirkan.
"Maksud Anda, Pak Direktur?" tanyaku ragu-ragu.
"Sebenarnya, aku cukup tau bagaimana kehidupanmu. Meski itu tidak banyak. Aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku, karena kau sudah menolong Ibuku dan memabwa beliau ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja, beliau pasti sudah tidak bisa diselamatkan." jelas beliau.
Aku lagi-lagi dibuat bingung. Apa maksudnya, ini? aku diam berpikir, pada saat berpikir aku teringat akan kejadian sehari setelah kedatanganku ke negara ini. Aku memang menolong seorang nenek yang tiba-tiba jatuh pingsan di pinggir jalan. Aku langsung membawa beliau ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Itukan kulakukan karena beliau tepat pingsan di hadapanku. Dan sebagai sesama mahluk hidup yang bernapas aku tidak biasa biarkan orang yang jatuh begitu saja.
"Apa kau mengingat sesuatu? kau ingat wajah ini?" tanya beliau menunjukan sebuah foto di ponsel padaku.
Aku melebarkan mata, benar dugaanku. Nenek itu yang ku bantu dan kubawa ke rumah sakit dengan naik taxi.
"Ya, saya ingat. Pada hari itu beliau pingsan saat ingin menyebarang jalan. Di samping beliau kebetulan ada saya. Beliau tiba-tiba jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Takut terjadi sesuatu, saya pun menghadang taxi dan membawa beliau ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, beliau langsung ditangani. Hampir setengah hari saya menunggu beliau. Pada saat saya mendengar pihak keluarga akan datang, saya merasa lega. Saya tidak sempat menunggu keluarga beliau, karena saya terburu-buru. Maafkan saya, Pak Direktur." jelasku panjang lebar.
Beliau tersenyum, "Pada saat itu juga, diam-diam aku menyelidiku. Sepertinya takdir kita memang bagus. Kau bahkan memasukan surat lamaran kerjamu ke perusahaan ini. Bukan hanya kemampuanmu bekerjamu yang bagus, Nak. Hatimu juga baik bagaikan malaikat. Seharusnya, akulah yang berterima kasih. Terima kasih saja tidaklah cukup. Kau sudah menyelamatkan satu nyawa, itu berarti keluarga kami berhutang satu nyawa padamu." kata beliau.
"Tidak, Pak Direktur. Saya bukan siapa-siapa sampai Anda sekeluarga harua berhutang pada saya." tolakku. Aku tidak mau terbebani dengan pikiran yang macam-macam lagi.
Pak Direktur menghela napasnya, "Hahhh ... " beliau menatapku penuh rasa ingin tahu. "Baiklah jika seperti itu. Apa kau punya permintaan? tadi jika tidak salah dengar, kau mengatakan jika kau tidak ingin dipecat. Kau mengakui kau lalai dan ceroboh. Bisa kau jelasakan detailnya?" tanya beliau.
Aku pun tidak bisa menutupinya lagi. Kuceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari awal aku pergi dari rumah, apa alasanku pergi. Sampai perjalananku mencari pekerjaan. Dan juga soal kehamilanku di luar pernikahan. Aku menceritakan semuanya seperti aku sedang mengakui dosa-dosaku di altar doa.
Air mataku tidak bisa dihentikan. Aku terus ingin menangis dan menangis. Anehnya, setelah menangis dan bercerita pada Pak Direktur, aku merasa lebih baik. Pikiranku yang penat sudah memudar. Hati ini yang tadinya sesak menjadi lega.
Aku tidak tahu apa artiny ini. Yang jelas, aku merasa lebih baik dari sebelum aku bercerita. Aku melirik ke arah Pak Direktur. Beliau sepetinya sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan entah apa, aku juga tidak bisa menebaknya.
__ADS_1
*****