
Reine terus berlari. Ia tidak mau tertangkap dan terseret sebagai seorang tersangka. Ia memalingkan wajah ke belakang berkali-kali saat berlari. Ia melihat, apakah ada orang yang mengejarnya atau tidak.
"Tidak boleh tertangkap. Aku harus pergi sejauh-jauhnya. Ya, aku harus pergi." batin Reine.
Ia masih terus berlari. Sampai akhirnya mencapai batasannya. Reine berdiri di tepi jalan. Ia bingung, tidak tahu harus pergi ke mana dan mencari siapa untuk membantunya. Ia menggigit ujung jari telunjuk tangan kanannya.
"Siapa yang bisa menolongku?" guman Reine berpikir.
Saat Reine sibuk berpikir, Evan melangkah mendekati Reine. Evan membujuk Reine untuk menyerahkan diri.
"Reine ... " panggil Evan, berdiri di sisi Reine yang sedang kebingungan.
Reine kaget, "Jagan mendekat!" sentak Reine, melebarkan matanya.
"Reine ... " panggil Evan pelan.
"Jangan memanggilku begitu. Aku, aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi, Evan. Pergi!" kata Reine kesal.
"Tenangkan dirimu, dan ayo ikut aku." ajak Evan.
"Kau mau aku ikut denganmu? aku tidak mau. Tinggalkan aku sendiri." pinta Reine.
"Reine, dengarkan aku. Kau tidak bisa dan tidak boleh seperti ini. Ayo, ikut aku saja." bujuk Evan lagi.
"Tapi, tapi, tapi aku ... " gumam Reine bingung.
Reine terlihat kebingungan. Satu sisi ia tidak punya tempat tujuan, satu sisi ia takut jika Evan akan menyerahkannya pada polisi.
"Tapi, apa?" tanya Evan mendekat, ia memegang tangan Reine. "Apa yang kau khawatirkan?" tanya Evan.
"Kau, kau, kau ... tidak akan menyerahkanku pada polisi, kan? kau kan lihat semuanya tadi, kau ... " kata-kata Reine terpotong oleh Evan.
"Ikutlah dulu. Soal itu, nanti kita pikirkan lagi. Saat ini, aku ingin kau menenangkan pikiranmu dulu." kata Evan menyakinkan.
"Ya, begini saja dulu. Cepat atau lambat dia juga akan tertangkap polisi. Tidak masalah kan jika sedikit menghiburnya seperti ini. Anggap saja ini bayaran atas tindakanmu selama ini, Evan." batin Evan.
Melihat ketulusan Evan, Reine pun akhirnya luluh. Evan dan Reine pergi bersama, mereka berjalan menuju sebuah kedai kopi tidak jauh dari lokasi mereka berada.
__ADS_1
Di kedai kopi. Evan memesankan Reine segelas cokelat panas. Ia juga memesan kopi untuk dirinya sendiri. Keduanya cukup lama diam, sampai akhirnya Evan membuka suara.
"Kenapa kau berlari seperti, itu?" tanya Evan menatap Reine, sesaat setelah ia menatap jam yang melingkar di tangannya.
"Apa? aku tidak berlari. Aku hanya ingin pergi ke supermarket saja." elak Reine. Lagi-lagi Reine berbohong, dengan mengatakan jika ia tidak bermaksud melarikan diri.
"Sampai kapan kau akan berbohong, Reine? bagaimana bisa kau selalu berkilah dan menyalahkan orang lain. Padahal kau sendiri yang membuat semua kekacauan." batin Evan.
"Oh, ok. Baiklah jika seperti itu. Apa kau tahu? si kembar tiga anak-anak Lora dan Alexias sudah ditemukan? kau kan Bibi mereka. Tidak mungkin tidak tahu, kan." Evan sengaja memancing Reine dengan membawa si kembar tiga dalam ucapannya. Ia ingin tahu reaksi seperti apa yang akan Evan tunjukkan.
"Apa? si, si, si kembar? su-sudah ditemukan?" gumam Reine.
"Jadi, kau belum tahu, ya. Kabarnya pelakunya juga sudah tertangkap dan mereka sedang mencari dalang dari penculikan." tambah Evan. Memanaskan suasana.
"Hah? apa?" kaget Reine melebarkan mata menatap Evan.
Evan mengernyitkan dahi, "Kau kenapa? kenapa reaksimu seperti itu, Reine. Apa kau sungguh tidak tahu. Atau ... " ucapan Evan langsung dijawab Reine dengan penuh emosi.
"Aku tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan bahas itu lagi. Si kembar tiga, Lora atau siapalah, aku tidak mau repot mengurusi mereka. Kau paham!" jawab Reine emosi.
"Hei, aku hanya bertanya. Jika kau tidak tahu, anggap saja aku sedang memberitahumu. Jangan marah dan kesal seperti ini, Reine. Memangnya kenapa sampai kau emosional saat aku membicarakan Lora atau anak-anaknya?" Evan sekali lagi memancing. Ia berharap Reine mau jujur menjawab, atau setidaknya memberikannya sedikit informasi.
Evan melihat Reine melamun. Ia langsung menegur Reine. Hal itu langsung membuat Reine kesal dan murka pada Evan.
"Reine, kau dengar aku?" tanya Evan pelan.
"Cukup, Evan! sepertinya aku salah memilih ikut denganmu. Aku lebih baik kembali saja ke apartemenku. Jangan temui aku lagi, kita sudah berkhir." kata Reine, berdiri dari tempatnya duduk.
Evan ikut berdiri, "Kau selalu berkilah dan menghindari semua pertanyaan juga ucapanku menyangkut Lora dan si kembar. Reaksimu sudah menjawab semuanya, Reine. Kau sedang ketakutan, cemas dan gelisah, kan. Kenapa?" Evan yang sudah berusaha menahan diri pun akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kebenaran yang ada.
"Kenapa, apa? kau ini bicara apa?" kata Reine masih terus menyanggah.
"Sudah, Reine. Cukup! berhentilah bersandiwara. Berhentilah berpura-pura tidak tahu. Apa kau pikir kau akan bisa lari jika bersikap seperti, ini? Tidak. Pikiranmu salah, jika kau mengira kami semua tidak tahu apa yang kau lakukan." kata Evan meluap-luap.
"Dasar gila! sudahlah, aku mau pergi. Apapun yang kau katakan, aku tidak mengerti. aku juga tidak ada sangkut pautannya dengan itu semua. Ok." Reine pun langsung berlari pergi. Hatinya sangat tidak tenang. Ada perasaan takut yang tiba-tiba datang menghampiri.
Evan kaget, pada saat Reine memilih pergi begitu saja darinya. Ia berusaha memanggil untuk mencegah Reine pergi. Rasa khawatir Evan semakin besar, melihat Reine menghilang di balik pintu kedai kopi. Evan pun mengeluarkan uang dan meletakan uang itu di atas meja lalu, memanggil pelayan. Ia pun segera pergi meninggalkan kedai kopi itu menyusul Reine.
__ADS_1
***
Reine berlari, meski tanpa tujuan. Ia terus berlari. Pikirannya kacau, dalam benaknya ia hanya ingin kabur melarikan diri.
"Ke mana saja. Asal aku bisa pergi. Aku tidak mau dipenjara, tidak! aku tidak bersalah, bukan aku." kata Reine.
Reine yang banyak pikiran, memutuskan untuk menyebarang jalan. Ia tidak sadar jika lampu jalan masih belum berubah warna. Melihat jalan yang sepi, Reine begitu saja berlari melintasi jalan menuju sebrang. Pada saat yang sama, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas. Mobil itu tidak terkendali lagi, sehingga menabrak tubuh Reine. Membuat Reine terpental ke jalan.
Evan yang melihat dari jauh, langsung mengentikan langkah kakinya. Ia kaget, ia tidak menyangka akan ada hal seperti itu. Jantungnya berdegup kencang, keringat bercucuran. Evan sangat kaget sampai rasanya sekujur tubuhnya lemas.
"Re, Reine ... " gumam Evan.
Evan bersandar di dinding salah satu toko. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia tidak tahu harus apa, karena tubuhnya juga langsung gemetaran.
"Reine ... " batin Evan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sementara itu. Di tempat di mana Reine mengalami kecelakaan, sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Mereka menghubungi rumah sakit terdekat untuk dikirim bantuan.
***
Di rumah sakit. Lora dan Alexias datang karena panggilan dari Evan. Dengan langkah terburu-buru meraka mendekati Evan yang duduk lesu di ruang tunggu.
"Evan ... " panggil Lora.
Evan memalingkan wajahnya, "Kau sudah datang," jawab Evan.
"Kau tidak salah orang, kan. Apa kau yakin itu, Reine?" Lora bertanya seakan tidak percaya.
Evan menggelengkan kepala perlahan, "Aku tidak salah mengenali, Lora. Karena aku juga menyaksikan kejadiannya sendiri dengan dua mataku." jawab Evan.
"Ba-bagaimana bisa ini terjadi, Evan?" tanya Lora panik.
"Sayang, duduklah dulu. Kau jangan panik," kata Alexias menenangkan istrinya.
Lora dan Alexis lalu, duduk. Evan pun menceritakan semua yang terjadi di apartemen Reine. Evan mengatakan awal mula niatannya pergi menemui Reine lalu, kejadian yang menimpa Frans. Sampai kejadian yang Reine alami. Mendengar cerita Evan. Lora kaget, ia tidak sangka sepupunya akan bertidak jauh seperti itu. Dan mengalami hal tragis.
Pada akhirnya, ketiga orang itu memutuskan menunggu hasil pemeriksaan dokter. Lora sedih, cemas, gelisah. Ia tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Meski ia tidak suka dengan Reine, bukan berarti ia ingin Reine kenapa-kenapa.
__ADS_1
*****