
Mobil yang dikemudikan Alexias sampai di lobby, di depan gedung perusahaan Lora bekerja. Pada saat Lora akan turun, Alexias memanggil Lora, membuatnya mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil.
"Sayang ... " panggil Alexias.
Lora memalingkan wajah, "Ya," jawab Lora menatap Alexias.
"Umh, apa tidak ada upah?" tanya Alexias dengan wajah merona.
Lora terdiam sebentar dan tidak lama tersenyum. Ia tahu maksud ucapan Alexias. Upah yag diminta adalah jasa karena sudah mengantarnya.
"Ya, memberinya hadiah juga tidak buruk." batin Lora.
Perlahan, Lora mendekatkan wajahnya ke wajah Alexias. Dikecupnya lembut kedua pipi Alexias bergantian. Lora pun tersenyum.
"Terima kasih, sayang." ucap Lora dengan perasaan berdebar.
Jantung Lora berdebar. Ia tersipu dengan wajah memerah. Membuat Lora semakin terlihat menggemaskan.
Tidak hanya Lora saja yang berdebar. Alexias juga merasakan hal yang sama. Jantungnya berdegup kencang, melompat-lompat kegirangan.
"Manisnya," gumam Alexias mengusap wajah Lora yang memerah dengan jemarinya.
Alexias mendaratkan kecupan di kening Lora, "Selamat bekerja. Aku akan jemput kau untuk makan siang, setelah menjemput anak-anak pulang sekolah. Hubungi aku jika ada apa-apa, ok." pandangan Alexias dalam menatap Lora.
Lora menganggukkan kepala lalu memeluk Alexias, "Aku mengerti. Kau juga bekerjalah dengan baik dan hati-hati saat mengemudi." lirihnya.
"Ya, Nyonya. Aku akan mendengar ucapanmu." jawab Alexias, mengusap-usap punggung Lora perlahan.
Pelukan terlepas, Lora berpamitan lagi lalu segera membuka pintu mobilnya, ia langsung turun dan berjalan mendekati pintu utama gedung kantor. Saat ingin masuk ke dalam, Lora berbalik dan melihat ke arah Alexias.
Melihat Lora menatapnya, Alexias melambai, mengembangkan senyuman. Lora juga melambai, senyum Lora mengembang. Setelahnya, Lora langsung masuk ke dalam gedung kantornya. Ia akan segera memulai pekerjaannya.
***
Alexias sedang mengadakan rapat darurat dengan pihak pengelola dan penaggung jawab pabriknya. Alexias marah, karena pabrik yang tidak ada masalah sebelumnya tiba-tiba dilanda badai.
"Pak Kim, apakah Anda masih ingin bekerja dengan kami?" tanya Alexias dengan tatapan tajam pada Kim Ji Yeong.
"Pak CEO, maaf. Ini semua karena keteledoran saya. Saya akan bertanggung jawab." jawab Kim Ji Yeong.
Alexias memijat pangkal hidungnya, "Bagaimana bisa ssperti ini, Pak Kim? saya menyerahkan pabrik ini dengan kepercayaan penuh. Kerugian yang dialami perusaan tidak sedikit." jelas Alexias.
__ADS_1
"Pak CEO, tenangkan diri Anda." sambung salah seorang yang duduk di samping Alexias. Dia adalah Robert Hull, Wakil penanggung jawab pengelolaan.
"Tolong Anda diam dulu, Pak wakil penganggung jawab pengelola. Ada giliran Anda menjelaskan nanti. Saat ini saya sedang bicara dengan Pak Kim." kata Alexias menatap Robert Hull, lalu ia memalingkan wajah ke arah Kim Ji Yeong, " Sebagai Direktur pabrik, bukankah sudah sepatutnya, Anda harus mempertanggung jawabkan segala sesuatunya?" lanjut Alexias memberikan teguran.
"Ya, Pak CEO. Silakan berikan hukuman," jawab Kim Ji Yeong.
"Selesaikan masalah ini. Saya tidak mau tahu. Satu bulan. Saya berikan waktu sebulan untuk memperbaiki sistem pengelolaan dan prodiksi yang kacau ini. Jika pabrik pusat saja seperti ini, bagaimana dengan yang di cabang yang ada di luar kota? kalian kira saya ini apa, hah? saya menggaji kalian untuk bekerja, bukan bermain-main. Mengerti!" Alexias tampak kesal. Ia sudah bersiap-siap meledak.
Semua orang yang hadir kaget. Alexias memang terkenal sebagai CEO yang dingin dan tidak mengenal ampun dengan kesalahan. Alexias memberikan waktu lima menit untuk setiap orang menyampaikan hasil laporan. Ia ingin menyeleksi lagi setiap ketua bagian pabriknya daan mengecek ulang kualitas kerja mereka semua.
Tiga jam kemudian...
Setelah selsai rapat, dan meninjau pabrik, Alexias berniat kembali ke kantor cabangnya. Bagaimanapun, ia ingin menyelesiakan semua masalahnya sampai akhir. Mencabut akar permasalahan yang menjadi ranjau.
***
Lora sedang memeriksa beberapa design gambar furniture terbaru yang akan perusaahaannya keluarkan sebagai karya baru. Ponselnya di meja berdering, ia mendapat pesan dari Alexias.
"Kau sedang apa? kepalaku sakit sekali. Aku butuh obat."
Begitu isi pesan dari Alexias. Lora yang sudah membaca lalu membalas.
"Obat apa? kau kenapa? apa terjadi sesuatu?"
"Apa dia sedang ada masalah, ya? kenapa pesannya begini?" batin Lora.
Karena ia tidak sabar menunggu balasan pesan dari Alexias. Lora pun langsung menghubungi Alexias. Ia mencemaskan keadaan Alexias.
"Hallo ... ya, sayang." sapa Alexias, sesaat setelah menerima panggilan.
"Kau kenapa?" tanya Lora terdengar khawatir.
"Hanya sedikit sakit kepala. Tidak apa-apa. Kau menghubungiku karena khawatir, ya?" Alexias malah menggoda Lora.
"Kau ini. Aku sedang serius, kau malah bergurau dan menggodaku." gerutu Lora.
"Hahaha ... " tawa Alexias. "Aku baik-baik saja, sayang. Sungguh." tegasnya agar Lora tenang.
"Kau di mana sekarang?" tanya Lora.
"Ke kantor. Kenapa?" tanya balik Alexias.
__ADS_1
"Kantor? di mana kantormu?" tanya Lora.
"Hm, lokasinya tidak jauh dari pabrik. Ya, sekitar lima menit. Ada apa? kau kenapa terdengar panik?" tanya Alexias.
"Ah, tidak apa-apa. Maaf, karena aku sedikit cemas dengan keadaanmu." gumam Lora.
"Terima kasih, sayang. Jika kau ingin mengobatiku. Beri aku ciuman,"goda Alexias.
Lora tersipu, "Pria ini, bisa-bisanya dia menggodaku. Dasar ... " batinnya.
"Nanti aku akan obati," jawab Lora.
"Hei, Lora ... " panggil Alexias.
"Ya," sahut Lora.
"Aku mencintaimu, muaachhh ... " Alexias tiba-tiba bertingkah manis.
Lora melebarkan, "Ah, kau ini. Membuatku kaget saja. Dasar perayu," gumam Lora tersenyum.
"Kau kan tidak mau menciumku. Aku saya yang menciummu. Sama saja, kan." kata Alexias.
"Ya, sudah. Lanjutkan dulu kesibukanmu. Aju masih ada pekerjaan." Lora mengusap map dokumen di atas meja di hadapannya.
"Hm, kau juga selesaikan dulu pekerjaanmu. Dahh ... " pamit Alexias.
"Dahh ... " balas Lora.
Lora mengakhiri panggilan Alexias. Ia mengirim sebuah pesan untuk pria yang disayanginya itu.
"Muach ... aku mencintaimu .... "
Tulis Lora dengan wajah tersenyum. Ia tersipu malu. Lora tampak senang. Sudah lama ia tidak pernah merasakan hatiny berbunga-bunga dan berdebar karena seorang pria. Dulu, pada saat ia bertemu Evan untuk kali pertama, ia juga merasakan hal yang sama. Namun, kali ini sepertinya debaran jantungnya lebih kuat.
"Mereka apa kabar, ya? Papa dan Mama. Apakah mereka sehat? sudah selama ini, mereka tidak pernah menghubungiku sama sekali. Aku pun ragu untuk menghubungi mereka lebih dulu." batin Lora.
Lora duduk bersandar di kursinya. Ia membayangkan sesaat wajah Papa dan Mamanya. Meski sudah dibuang, jauh di lubuk hati, Lora masih memiliki rasa untuk orang tuanya. Bagaimanapun, mereka bersama-sama sejak Lora bayi hingga Lora dewasa.
"Papa ... Mama ... apakah kalian merindukan aku? apakah kalian tidak mau tahu putri kalian ini masih hidup atau sudah meninggal? hahhhh ... " gumam Lora yang lalu, menghela napas panjang.
Lora menyandarkan kepalanya ke kursi lalu, menadahkan sedikit kepalanya. Sepasang matanya terpejam, Lora mencoba menenagkan dirinya kembali. Ia selalu sedih, saat teringat akan masa lalunya.
__ADS_1
*****