Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 65. Kebersamaan


__ADS_3

Ezra mengajak Hannah pergi ke suatu tempat. Sesuai dengan janji yang ia berikan. Hannah mendapatakan kejutan yang istimewa dari Ezra. Ia dibawa oleh kekasihnya itu ke sebuah toko serba ada. Yang mana di sana menyediakan segala kebutuhan pembuatan kue, cake, dan lain-lain. Tentu saja tempat yang sangat berharga untuk keluarga Ezra. Di mana, tempat itu adalah tempat yang biasa dikunjungi keluarganya. Untuk bisa membeli kebutuhan toko roti jika diperlukan.


"Wuahhhh ... " ucap Hannah melebarkan mata. Ia terlihat kagum akan apa yang dilihatnya di depan mata.


"Kau terkejut?" tanya Ezra tersenyum tipis.


"Bukan main. Kau selalu saja bisa membuat jantungku berdegup karena kagum." jawab Hannah.


"Ayo masuk, sayang. Aku akan kenalkan seseorang padamu." ajak Ezra. Ia menggandeng tangan Hannah untuk masuk ke dalam toko.


Hannah menatap Ezra, "Seseorang? siapa dia, sayang?" tanya Hannah, penasaran dan ingin tahu akan seseorang yang ingin dikenalan Ezra padanya


"Siapa lagi. Dia adalah pemilik toko ini. Ayo cepat," kata Ezra, melangkah cepat. Tangannya masih menggandeng tangan Hannah.


Hannah pun mengikuti Ezra yang sudah lebih dulu berjalan. Lalu, Hannah bertemu seseorang yang asing baginya. Ezra yang terlihat berbincang dengan seseorang lalu memanggil Hannah untuk mendekat.


"Hannah, kemarilah." pinta Ezra, sembari melambaikan tangannya dari jarak yang tidak begitu jauh.


"Ya," jawab Hannah. Ia melangkahkan kaki berjalan mendekati kekasihnya itu dan seseorang yang menurutnya asing.


Ezra menepuk bahu Hannah pelan, "Sayang, dia adalah Paman Emanuel. Kau bisa panggil dia Paman Eman." ucap Ezra memperkenalkan seseorang bernama Emanuel pada Hannah."Nah, Paman Eman. Dia adalah kekasihku, Hannah. Perempuan muda berbakat dan pekerja keras yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Silakan kalian memperkenalkan diri masing-masing." kata Ezra yang sudah memperkenalkan Hannah dan Emmanuel.


"Hallo, cantik. Aku Emanuel. Salam kenal." kata Emanuel tersenyum, begitulah ia memperkenalkan dirinya.


"Hallo, Paman Eman. Aku Hannah. Senang bertemu Paman." kata Hannah yang juga memperkenalkan diri.


"Nah, Hannah. Kedepannya, jika kau kehabisan bahan atau butuh sesuatu bahan, kau bisa datang dan tanyakan pada Eman. Dia akan membantumu. Apalagi jika kau berkenan memberikan makanan manis untuknnya. Dia pasti akan lebih semangat." kata Ezra. Ia melirik ke arah Emmanuel untuk menggoda temannya itu.


"Bicara apa kau itu, hum? memangnya jika suka sesuatu yang manis, kenapa? jangan dengarkan dia, Hannah. Tapi, jika kau bisa buat dessert atau kue manis. Kau boleh berbagi denganku. Ezra tidak pernah membagikan kuenya untukku." sahut Emanuel, mengejek Ezra.


"Ah, jadi Paman suka sesuatu yang manis." kata Hannah menganggukkan kepalanya. "Ya ya ya,  nanti aku akan buatkan sesuatu yang istimewa untuk Paman." lanjutnya bicara diiringi senyuman.


"Kau membuat sesuatu?" tanya Emanuel menatap Hannah, lalu menatap Ezra. "Maksudnya?"sambungnya lagi. Ia merasa bingung akan ucapan Hannah.


"Dia adalah seorang pemilik kedao kopi, Paman" sahut Ezra. "Dia juga bisa membuat sedikit kue dan dessert." Lanjutnya.


Emanuel meleabrkan mata, "Benarkah? wah, ini sungguh keberuntungan besar bagi tokoku. Ia memalingkan pandangannya menatap Hannah. "Katakan padaku apapun yang kaubutuhkan, Hannah. Aku akan memberikannya untukmu. Ataupun mencarikannya untukmu. Jangan sungkan padaku. Ok." ucap Emanuel senang.


Hannah menatap Emanuel dan tersneyum, "Ya, terima kasih, Paman." ucapnnya. "Sejujurnya, aku memang berniat membuka cabang kedaiku di sini, tetapi ... ada masalah yang terjadi. Jadi, aku masih memikirkannya lagi." kata Hananh bercerita.


"Tidak perlu berterima kasih, Hannah. Aku akan sangat senang bisa membantumu. Ah, begitu rupanya. Semoga saja masalahmu itu cepat terselesaikan, ya. Aku berharap kau bisa merilis usahamu di sini dan sering mengunjungi tokoku." kata Emmanuel.


"Ya, Paman. Semoga saja. Ezra juga mengusulkan demikian." jawab Hannah.


"Kau bisa datang ke Bakery milik orang tuanya Hannah. Di sana kau bisa belajar banyak tentang cara-cara mmbuat kuez desaert, roti dan sebagainya. Orang tua kekasihmu sangat handal dibidang itu. Sampai-sampai orang-orang rela mengantri di toko roti mereka." jelas Emmanuel. Menonjolkan toko roti milik keluarga Ezra.


"Oh, benarkah?" kata Hannah kagum.


"Ya, dengar-dengar Ezra mengelola tempat itu sekarang. Ini kabar gembira. Pasti Bakerymu akan ramai pengunjung, Ezra. Meski belum tahu rasa olahan tanganmu, tetapi aku bisa merasakan akan ada hal baik datang padamu." kata Emanuel menatap Ezra.


"Hahaha ... " tawa Ezra. "Aku harap demikian, Paman. Silakan datang lusa, karena lusa adalah peresmian pembukaan cabang kami." kata Ezra menjelaskan.


"Jika ada waktu luang aku akan datang. Namun, jika aku sibuk, aku mohon maaf. Karena istriku sudah tiada, terpaksa aku mengurus semuanya sendiri. Jadi aku tidak bisa mengabaikan tokoku." jelas Emanuel.


"Tidak masalah, Paman. Jika begitu, aku saja yang mengunjungi Paman ke depannya." sahut Ezra.


Mereka bertiga lanjut berbincang. Banyak hal mereka bicarakan, terlebih mengenai tempat yang ke depannya akan dijadikan lahan usaha Hannah. Setelah dirasa cukup bicara, Hannah meminta izin pada Ezra dan Emanuel untuk berkeliling toko. Ingin melihat-lihat isi toko milik Emanuel.


***


Langkah kaki Hannah perlahan menyusuri rak besi berisikan banyak bahan - bahan yang tidak asing baginya. Mulai dari bahan sederhana sampai bahan yang sulit dicari di banyak tempat. Hannah celingukan melihat sekeliling. Matanya dengan seksama melihat-lihat produk jual di toko milik Emanuel. Hannah kagum, meski dari liar toko yang ia kunjungi itu tampak sederhana. Tapi, di dalamnya semua serba ada.


"Di sini lengkap. Jika butuh sesuatu saat aku jadi buka cabang, pasti aku tidak akan kesulitan mencari nantinya." gumam Hannah tersenyum. Ia menarik napasnya dalam, lalu mengembuskanya perlahan. "Syukurlah, ada tempat yang seperti ini." lanjutnya bergumam.


Dengan perlahan, ia masih melangkan kakinya melihat-lihat. Sesekali ia mengambil sebuah produk dan melihat kemasaanya lalu dikembalikan lagi ke tempat asal, produk tersebut dipajang.


***


Di sisi lain, Ezra dan Emanuel membicarakan sedikit mengenai Hannah. Emanuel penasaran akan cerita lengkapnya dari Jeremy. Ia pun mendesak Ezra bercerita sedikit mengenai sosok Hannah. Permintaan Emanuel tidak bisa ditolak Ezra begitu saja. Ezra pun menceritakan tentang kekasihnya pada Emanuel, yang sudah ia anggap seperti Papa keduanya.


"Jadi, dia orang yang mencuri hatimu?" tanya Emanuel pada Ezra.


"Ya," jawab singkat Ezra, wajah Ezra merona.


"Bagaimana sampai kau bisa menyerahkan hatimu padanya?" tanya Emanuel lagi. Ia penasaran, orang sekaku Ezra bisa jatuh hati pada sosok wanita.


"Hm ... bagaimana, ya? entahlah. Semua mengalir begitu saja. Awal pertemuan kami, dia selalu menyuruhku ini dan itu. Cerewet sekali, sampai aku sempat tidak menyukainya. Tapi, karena atasanku adalah suami sahabatnya. Terpaksa kami selalu bertemu saat berkumpul." jelas Ezra pada Emanuel.


"Wah, sepertinya kalian berjodoh." kata Emanuel tersenyum.


"Ya, semoga saja. Melihatnya yang begitu teliti seperti itu, sepertinya dia adalah seseorang yang penuh dengan tanggung jawab. Dan aku sangat menyukai tipe orang yang bertangung jawab. Paman kan tahu itu." jelas Ezra.


"Bisa dikatakan sangat teliti. Lihatlah, bertapa ia memperhatikan apa yang dipegangnya." sambung Emanuel. Ia melihat Hannah dari jauh sedang melihat-lihat.


Emanuel lantas menghela napas panjang, "Aku senang kau datang, Ezra. Sudah lama tidak melihatmu. Apa kau sangay sibuk? Bagaimana keadaanmu?" tanya Emanuel pada Ezra.


Ezra tersenyum tipis, "Seperti yang Paman lihat. Aku sehat, kan. Paman sendiri, bagaimana? Ya, aku sangat sibuk. Kemarin aku juga menyibukkan diri sampai lembur di kantor karena ada masalah dengan Kakak." Jawab Ezra sekalian mengeluh.


"Aku cukup sehat. Beberapa hari lalu sempat sakit karena flu. Sekarang sudah membaik." jawab Emanuel. Ia mendekati Ezra lalu, duduk di samping Ezra. "Kakakmu kenapa?" tanya Emanuel ingin tahu.


"Ya, begitulah. Paman kan tahu bagaimana sikapnya yang selalu sok. Aku paling tidak suka dia yang selalu semena-mena pada Papa dan Mama." kata Ezra.


"Ya, Kakakmu memang orang yang keras kepala juga keras hati. Sangat sulit membangun komunikasi yang baik dengannya. Jangan terlalu dipikirkan, pikirkan saja sesuatu yang positif. Agar kau semakin semangat," kata Emanuel menasihati.

__ADS_1


"Ya, terima kasih , Paman. Paman memang yang terbaik. Tahu saja apa yang kuinginkan." jelas Ezra, memuji Emanuel.


Tidak lama kemudian, Hannah kembali dengan membawa sekeranjang bahan-bahan untuk membuat kue. Semua bahan yang dibutuhkannya sudah terkumpul di keranjang belanjaan. Ia meletakan keranjang itu di atas meja kasir. Hannah lalu menatap ke arah Emanuel yang sedang berbincang dengan Ezra.


"Aku butuh semua ini, Paman. Tolong dikemas." pinta Hannah tersenyum menatap Emanuel.


Emanuel tersenyum menatap Hannah, "Baik, Nona. Sesuai permintaan Anda." jawab Emanuel ramah, sesuai profesinya sebagai seorang penjual.


"Terima kasih," ucap Hannah. Ia langsung  melangkahkan kakinya mendekati Ezra dan duduk di samping kekasihnya itu.


"Bagaiman tempatnya? apa yang kau butuhkan ada di sini, atau kita perlu ke tempat lain juga?" tanya Ezra menatap Hannah.


Hannah menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, sayang. Tempat ini sudah sangat lengkap. Aku bisa temukan semua yang kuinginkan di sini. Anak-anak pasti senang saat tahu, Mama angkat mereka ini mau membuat kue." kata Hannah tersenyum puas.


"Syukurlah jika seperti itu. Kau tidak perlu repot ke lain tempat. Tentu saja senang. Kau kan Mama asuh terbaik yang mereka miliki." sahut Ezra.


"Begitukah? apa iya aku Mama asuh terbaik? Wahhh ... Terima kasih atas pujianmu, Ezra. Terima kasih juga kau selalu mau membantuku. Entah harus bagaimana aku membalasnya kelak." ucap Hannah.


"Balaslah semua yang kulakukan dengan kesuksesanmu, sayang. Tunjukan padaku kau bisa. Hanya itu keinginanku. Aku juga ingin kau bahagia, baik-baik selalu tanpa keluhan apa-apa." kata Ezra menatap Hannah lekat.


"Pasti. Aku pasti melakukan yang terbaik." jawab Hannah.


Begitulah, Hannah dan Ezra kembali saling bicara. Emanuel yang sudah mengemas barang belanjaan pun ikut berbincang dengan keduanya.


***


Lora selesai berolah raga. Tubuhnya dibanjiri oleh keringat. Rasanya tubuhnya terasa segar selepas olah raga. Baru saja ia ingin masuk ke dalam rumah, ia melihat anak-anaknya keluar dari dalam rumah.


"Anak-anak," sapa Lora


"Mami, mami sudah selesai olah raga?" tanya Olesia.


Lora menganggukkan kepala, "Sudah. Kenapa kalian ke luar? apa kalian sedang mencari Mami?" tanya Lora.


"Tidak, Mi. Kami mau berjalan-jalan santai di depan rumah." jawab Olesia.


"Iya, Mi. Lesi benar," sambung Oriana.


"Ayo, Mami temani kalian jalan-jalan," ajak Lora.


"Yeah ... " sorak Odellia.


"Asikk, ditemani Mami." kata Oriana.


Lora menatap Martha yang sedang mengawasi anak-anaknya, "Bi, biar anak-anak bersamaku saja. Bibi bida lanjutkan pekerjaan Bibi." kata Lora ramah.


"Baik, Nyonya. Jika seperti itu, saya permisi." pamit Martha yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Mami, ayo ... " panggil Odellia.


Si kembar tiga tampak senang saat tahu Mami tercinta mereka menemani mereka jalan-jalan. Lora hanya tersenyum menanggapi ucapan dan tingkah menggemaskan kesayangannya itu. Ia mengikuti apa yang anak-anaknya inginkan. Lora berjalan perlahan, menggandeng anak-anaknya menuju halaman depan rumah.


***


"Apa kalian tidak lelah, Nak?" tanya Lora merasa khawatir. Karena sudah cukup lama anak-anaknya bermain di luar ruangan.


"Lelah, kenapa? aku baik-baik saja, Mami." sahut Olesia.


"Aku lelah, aku istirahat dulu." kata Odellia. Yang lalu duduk untuk istirahat.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Nak. Bagaimana bisa Mami tidak khawati pada kalian semua? kalianlah separuh jiwa Mami. Jika terjadi sesuatu pada kalian, Mami ini tidak bisa berdiam diri." kata Lora, menatap satu per satu anak-anaknya.


Lora menyeka keringat masing-masing anak-anaknya dengan tanganya. Ia lalu duduk di samping Odellia. Sedangkan Olesia dan Oriana masih sibuk bermain di sekitaran taman bunga. Mereka berlarian ke sana ke mari.


Lora menatap Odellia, "Kau haus? mau Mami ambilkan minum di dalam?" tawar Lora pada Odellia.


"Tidak, Mi. Aku tidak haus." tolak Odellia sopan.


Lora lantas diam. Ia tidak mau mendesak atau menekan Odellia. Tidak hanya pada Odellia, tetapi juga pada si kembar tiga lainnya. Ia selalu memberikan kebebasan pada semua anaknya untuk memilih dan berpendapat.


"Mami ... " panggil Oriana mendekati Lora.


"Mami, mami ... " panggil Olesia.


"Ya, sayang. Ada apa?" tanya Lora bingung.


"Ini untuk Mami," kata Oriana memberikan bunga, yang lalu diselipkan ke telinga Lora.


Tidak hanya Oriana yang melakukan itu. Olesia juga menyelipkan bunga ke sisi lain telinga Lora. Melihat sikap manis Oriana dan Olesia, Lora merasa terharu.


"Bagaimana bisa anak-anakku sebaik ini. Imutnya," batin Lora haru.


"Wah, terima kasih. Ini cantik sekali." ucap Lora tersenyum. "Kalian sudah lelah? ayo kita masuk," ajaknya.


"Iya, Mi. Ayo ... " jawab Oriana.


"Ayo, aku sudah lelah." kata Olesia juga.


Pada saat ingin kembali ke dalam mansion. Agatha datang dan menemui Lora juga ketiga keponakanya.


"Hallo, anak-anak. Apa kabar kalian semua?" tanya Agatha tersenyum cerah.


"Hallo, Bibi." sapa Odellia.

__ADS_1


"Bibi, kapan datang?" tanya Oriana.


"Kami baik dan sehat, Bi. Bibi tidak bekerja hari ini?" tanya Olesia penasaran.


Pasalnya ia melihat pagi-pagi sekali Papinya sudah bersiap dan bergegas pergi sepuluh menit lebih awal dari hari biasanya.


"Oh, Tidak. Bibi bekerja, tetapi Bibi tidak begitu sibuk. Bibi akan bertemu orang nanti." terang Agatha.


Pada akhirnya mereka semua tidak jadi kembali masuk ke dalam mansion. Mereka kembali melanjutkan jalan-jalan.


***


Halaman depan manison Alexias memanglah luas. Taman bunga terlihat dirawat baik oleh pelayan mansion. Erlisa adalah seorang perempuan yang suka dengan bunga dan biasa menanam bunga itu sendiri. Maka dari itu ada beberapa tempat di halaman yang selalu ditanami bunga kesukaan Erlisa sampai sekarang.


Lora mencondongkan tubuhnya melihat kebun mawar di depannya. Ia tersenyum melihat mawar-mawar yang bermekaran.


"Kenapa di sini suka ditanam bunga mawar, Agatha?" tanya Aiko.


"Karena mawar adalah bunga kesuakaan Mama, Lora." jawab Agatha.


"Ah, so sweet sekali. Jadi, Alexias menanam bunga mawar ini untuk Mama, ya. Aku baru tahu alasan bunga-bunga ini tumbuh di taman." kata Lora kagum.


"Kenapa? kau tidak suka mawar?" tanya Agatha.


Lora menggelengkan kepala, "Tidak. Bunganya memang cantik, tetapi berduri. Aku pernah beberapa kali tertusuk duri saat dulu aku bermain di taman yang dipenuhi Mawar. Karena itu aku tidak suka lagi pada Mawar. Jika aku sedang ada di taman yang dipenuhi mawar, maka aku hanya sekedar lewat untuk berjalan-jalan saja." jelas Lora.


"Begitu, ya. Lalu, bunga apa yang kau sukai? katakan saja, akan kuminta Alexias menanamnya untukmu." tanya Agatha.


"Tidak perlu, Agatha. Aku kan sibuk mengurus anak-anak, mana punya waktu menikmati bunga yang bermekaran. Oh, ya. Apa kau bertemu Alexias hari ini? sejak tadi, dia bersikap tidak biasanya." Jelas Lora.


"Sepertinya dia cukup stres, karena Papa menyuruhnya mengurus sesuatu." jawab Agatha memberitahukan.


"Oh, begitu. Semoga saja tidak terjadi hal buruk. Dan semua baik-baik saja." ucap Lora.


"Apa kau cukup hanya dengan seperti ini, Lora? tidak mau hal lebih lagi? jika kau ingin sesuatu, katakan saja. Jangan ragu." kata Agatha.


"Tidak, perlu. Aku sudah cukup dengan yang seperti ini. Alexias sudah banyak melakukan banyak hal untukku. Aku tidak mau dia terbebani." kata Lora menjelaskan.


"Hoho, Nyonya Owen ternyata sangat mencintai dan menyayangi Tuan Owen, ya." sahut Agatha menggoda Lora.


"Agatha, jangan menggodaku." kata Lora malu-malu.


"Menggoda apa? Benar, kan. Kau adalah Nyonya Owen. Kau bagian keluarga kami, Lora. Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" sahut Agatha menatap Lora. Agatha menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan napas perlahan, "Apapun kau dan siapapun kau, Kau adalah menantu kesayangan Tuan dan Nyonya besar Owen" lanjut Agatha menyanjung Lora. Agatha merangkul Lora dengan tersenyuman lebar.


"Itu berlebihan, Agatha." sahut Lora.


"Kau tahu? dulu Alexias selalu mendesakku mencari informasi tentangmu. Dia juga sering sekali bermimpi tentangmu. Dari situ aku sudah bisa menduga, seperti apa kau di hatinya." jelas Agatha.


"Wah, wah. Apa ini? manis sekali dia" Sahut Lora tersenyum.


"Apa kau baru menyadarinya? sejak dulu kan aku memang manis. Kau memujiku berlebihan, Lora." goda Agatha.


"Oh, benarkah?" jawab Lora meragukan, ia menatapi Agatha sambil mengernyitkan dahi.


"Apa kau juga meragukanku?" tanya Agatha


"Hm, bagaimana, ya. Karena dulu awal kita bertemu kau tidak semanis ini. Tapi ... " kata-kata Lora terhenti


"Tetapi ... " ulang Agatha, menatap Lora dengan serius.


Lora menatap Agatha, "Tetapi ... sangat, sangat, sangat manis. Semanis madu." kata Lora lalu tersenyum lebar. Ia berbalik menggodai Agatha.


Agatha pun langsung menghela napas panjang. "Hahhhh ... kukira apa. Aku sudah penasaran setengah mati" sahut Agatha sersenyum senang.


"Hahaha ... " tawa Lora pecah. Ia tidak menyangka jika ucapannya sangat membuat Agatha penasaran. "Kenapa? apa kau kecewa karena tidak sesuai pemikiranmu?" tanya Lora.


"Bukan kecewa, aku juga tidak memikirkan apa-apa. Hanya saja aku merasa penasaran dengan apa yang Kaj ingin katakan." jelas Agatha.


"Ah, begitu." sahut Lora menanggapi penjelasan Agatha.


Tiba-tiba ada suara gemuruh yang berasal dari perut Lora. Lora dan Agatha saling betatapan lalu tertawa lebar


"Ayo, anak-anak. Kita Masuk." ajak Lora.


"Ya, Mami." jawab si kembar secara bersamaan.


Lora, Agatha dan si kembar tiga pun mengakhiri jalan-jalan santai mereka di halaman mansion. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah.


***


Sementara itu, di tempat lain. Hannah dan Ezra sudah bersiap untuk pergi dari toko milik Emanuel. Keduanya berpamitan pada Emanuel.


"Paman, aku pulang dulu. Sampai jumpa lain waktu." pamit Hannah.


"Ya, Hannah. Kabari jika kau jadi membuka cabang. Aku akan pergi mengunjungi kedai kopimu nanti," jawab Emanuel.


"Jaga diri Paman. Sampai jumpa." kata Ezra berpamitan pada Emanuel.


"Kau juga, Ezra. Sering-seringlah datang agar aku tidak kesepian." jawab Emanuel.


"Jika ada waktu dan tidak ada kendala, aku pasti akan datang." jawab Ezra.


Usai berpamitan keduanya langsung masuk ke dalam mobil secara bersamaan. Ezra mengemudikan mobilnya melaju perlahan meninggalkan toko milik Emanuel.

__ADS_1


*****


__ADS_2