Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 111. Kepergian Evan Dan Keadaan Frans


__ADS_3

Reine dinyatakan meninggal dunia, beserta bayi di dalam kandungannya. Evan merasa sedih dan terpukul, kehilangan istri dan juga anaknya. Setelah pemakaman Reine, Evan memutuskan untuk pergi ke luar negeri meninggalkan negara kelahirannya. Ia ingin menenangkan hati dan juga pikirannya yang kacau. Tidak hanya hatinya yang hancur, kisah cintanya pun tidak berjalan dengan baik. Karena merasa kasihan, Lora dan Alexias pun mengantar kepergian Evan sampai di bandara.


***


Mewakili Reine, Lora dan Alexias mendatangi Frans dan Junie di rumah sakit. Semenjak tahu akan kejadian di mana Frans di serang Reine, sampai satu bulan Frans dirawat rumah sakit, Lora dan Alexias rutin berkunjung demi menjalin hubungan yang baik. Terkadang, Papa dan Mama Lora juga datang, bergantian dengan Lora juga Alexias.


Pintu ruangan diketuk, Lora membuka pintu dan mengintip. Ia melihat Junie sedang mengupas apel, sedangkan Frans sedang membaca buku. Pada saat mendengar pintu terbuka, Keduanya menatap ke arah pintu. Pandangan Junie dan Frans kompak bertemu Lora.


"Hallo, selamat siang." sapa Lora tersenyum.


Junie tersenyum, "Hallo, Lora. Masuklah." kata Junie, ia meletakan pisau yang dipegangnya untuk mengupas apel. Ia berdiri dan menghampiri Lora ke pintu. "Kau sendiri? apa bersama suamimu?" tanya Junie.


"Suamiku hanya mengantarku. Kami baru saja makan siang bersama. Oh, kalian sudah makan? aku bawakan makan siang dan dessert. Ada toko kue yang baru buka disebelah restoran tempatku makan tadi. Jadi, aku membelinya untukmu dan Kakakmu." jawab Lora, ia masuk ke dalam ruangan.


Junie menutup pintu, "Wah, kebetulan sekali. Aku sedang ingin makan cake." kata Junie, mengikuti Lora yang berjalan lebih dulu.


Diletakannya di atas meja, tas berisi makan siang dan dessert, yang dibawa Lora. Lora lalu, duduk menatap Frans, Frans tersenyum menatap Lora.


"Hai, Lora. Kau sehat?" tanya Frans.


"Hai, Frans. Ya, aku sehat. Bagaimana keadaanmu, Apa kau sudah merasa lebih baik? Senang rasanya, melihatmu sudah bisa duduk." kata Lora.


"Ya, ini semua berkat Junie yang terus merawatku satu bulan ini. Dia akan mengomel, jika aku tidak menuruti ucapannya. Kau kan tahu, bagaimana dia memperlakukan orang, jika kesal." kata Frans mengejek Adiknya, Junie.


Junie berkacak pinggang, "Ohooo ... kau mengejekku, ya. Jika bukan aku, siapa lagi yang akan merawatmu, hah. Karenamu juga aku harus bekerja lebih lagi. Aku sibuk dua, ah ... tidak, yang benar sepuluh kali lipat dari hari biasanya." kata Junid berdiri di hadapan Frans.


Lora tersenyum, "Apa kalian selalu bertengkar manis seperti, ini? senang rasanya, melihat dua saudara bisa akur dan harmonis seperti kalian berdua." kata Lora.


Junie dan Frans bertatapan, Juni tahu Lora adalah anak tunggal dan ia baru saja kehilangan sepupu yang dianggapnya sebagai saudara. Ia lalu, mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lainnya.


"Ah, iya. Aku ingat, bulan depan adalah ulang tahunku. Sayang sekali, sepertinya aku tidak akan bisa merayakannya karena kesehatan Frans. Aku harus menjaga dan merawat Kakakku ini sampai benar-benar pulih." kata Junie.


"Hm, jika tidak keberatan. Kita bisa buat pesta sederhana saja. Kau bisa undang beberapa orang yang kau kenal. Untuk acaranya, aku akan bantu selagi kau fokus pada kesehatan Kakakmu. Bagaimana?" tawar Lora.


"Jangan, Lora. Kau kan sedang hamil. Jangan merepotkan diri demi hal remeh seperti ini. Lagipula aku tidak masalah, jika tidak ada acara ulang tahun. Asal semua orang yang kusayangi baik-baik saja, sehat dan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup." kata Junie tersenyum pada Lora.


"Ya, baiklah. Kalau itu keinginanmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun, Jika kau berubah pikiran dan butuh bantuan, jangan sungkan bicara padaku. Aku akan bantu, sebisa juga semampuku." kata Lora menanggapi ucapan Junie.

__ADS_1


"Ok, terima kasih. Kau selalu perhatian dan memperhatikan kami." ucap Junie.


"Tidak masalah. Bukankah kita teman, sebagai teman kita harus saling membantu." kata Lora lagi, tersenyum cantik.


"Memang berbeda, ya. Antara Reine dan Lora. Dari segi apapun, Lora memanglah yang terbaik. Hahhhh ... sayang sekali wanita jahat itu sudah meninggal dunia. Jika belum, aku akan menuntut balas karena sudah membuat Frans lumpuh." batin Junie.


Dalam hati Juni, sangat menyayangkan kematian Reine. Ia masih belum puas, karena belum secara langsung balas dendam pada Reine. Junie pun tidak punya pilihan lain selain ia harus menepis keinginannya.


Namun, Junie selalu bersyukur. Kakanya bisa selamat dari mau. Meski harus merima kenyataan, jika Kakaknya akan menjadi pria lumpuh. Setiap melihat Frans, Junie selalu sedih. Ia tidak tega, ia juga bingung. Tapi, Lora selalu menguatkan Junie. Lora ingin agar Junie mau sungguh-sungguh merawat Kakaknya, jika itu memang keinginan hatinya. Berkat Lora, Junie menjadi wanita yang jauh lebih kuat dan mandiri.


Tidak hanya Lora yang menguatkan Junie. Alexias juga melakukan hal yang sama pada Frans. Lora lah yang meminta suaminya untuk bicara empat mata dengan Frans. Pada awalnya, Frans tidak bisa menerima keadaanya. Tapi, berkat Alexias, Junie dan Lora yang selalu memberikan dukungan, Frans merasa lebih baik. Frans malu pada diri sendiri. Ia malu, karena ia kurang bersyukur. Frans ingat akan perkataan Alexias, jika dibandingkan Frans, masih banyak orang yang hidupnya lebih kesulitan dan menderita.


Karena sering bertemu dan berbincang, keempat orang itu tampak akrab satu sama lain. Pernah beberapa kali, Lora dan Alexias datang mengajak si kembar tiga bersama pada saat menjenguk Frans. Itu dilakukan Lora dan Alexias, agar Frans dan Junie tidak merasa bosan, juga terhibur.


***


Alexias menjemput Lora di rumah sakit. Ia mampir sebentar, melihat keadaan Frans dan Junie. Menyapa keduanya, sekalian berpamitan. Tidak Lupa, Alexias memberikan semangat pada dua bersaudara itu.


" ... kami pulang dulu, ya. Kalian jangan patah semangat dan berusaha." kata Alexias tersenyum.


"Ya, kita harus semangat. Karena jika tidak, kita akan lemas." sahut Junie. Yang lalu disambut tawa semua orang.


"Hahaha .... "


"Astaga, Junie. Kau hari ini tampak sangat, sangat, bersemangat, ya. Sejak tadi kau terus membuatku tertawa," kata Lora.


"Benarkah? aku tidak merasa begitu. Biasa saja, " jawab junie.


Lora mengusap baju Junie, "Syukurlah kau selalu ceria, Junie. Ini jauh lebih baik dibandingkan kau murung dan bersedih. Hatiku ikut sedih saat kau menangis tersedu. Sebagai sesama wanita, aku paham benar perasaanmu. Itulah kenapa, aku selalu berusaha ingin menjadi tempatmu bercerita dan bersandar." kata Lora.


Junie tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "Aku sangat senang bisa mengenalmu, Lora. Sungguh, berkatmu aku bisa menjadi lebih baik.Terima kasih," ucap Junie, ia langsung memeluk Lora.


Lora mengusap punggung Junie, "Terima kasih juga." jawab Lora.


Pelukan keduanya terlepas. Lora dan Alexias pergi meninggalkan Frans dan Junie setelah berpamitan lagi.


***

__ADS_1


Diparkiran, Alexias dan Lora berbincang sebentar. Seperti biasa, Alexias bertanya bagaimana keadaan Lora dan apa saja yang dilakukan Lora saat bertemu Frans dan Junie.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alexias.


"Ya, aku baik. Memangnya kenapa?" tanya Lora.


Alexias mengusap wajah Lora, "Entah kau sadar atau tidak, tetapi wajahmu ini terlihat pucat." kata Alexias.


"Ah, benarkah? aku tidak merasa apa-apa," jawab Lora, meraba wajahnya.


"Mungkin kau kelelahan, tetapi tidak kau rasakan. Kau terlalu sering memaksakan diri akhir-akhir ini," kata Alexias.


"Hm, mungkin saja." gumam Lora.


Alexias memeluk Lora, "Jangan terlalu memaksakan diri, sayang. Jangan buat aku khawatir sepanjang hari memikirkan keadaanmu. Semenjak kejadian itu, kau terus menyibukkan dirimu sampai kau terkadang lupa waktu." bisik Alexias.


Lora terdiam. Ia tidak bicara apa-apa. Lora memang tidak sadar, jika ia terlalu memaksakan diri. Ia menjadikan kesibukan sebagai pelampiasan emosinya. Lora terus mengalihkan pikirannya agar tidak berfokus pada Reine.


Kematian Riene memberikan dampak yang kurang baik bagi Lora. Sebagai orang yang tumbuh bersama, Lora dan Reine selalu melakukan aktivitas bersama-sama. Keduanya terlihat akur dan saling mengasihi satu sama lain. Terlepas tulus atau tidaknya Reine selama ini padanya. Baginya, Reine merupakan salah satu kenanga indahnya.


Banyak hal yang sudah mereka alami dan lakukan bersama-sama. Mulai dari hal sederhana, sampai hal besar. Reine dulunya selalu menunjukkan sisi baik di hadapan Lora.


Alexias melepaskan pelukan. Ia bingung karena Lora terus diam tidak bicara. lagi-lagi, Alexias bertanya apakah istrinya itu baik-baik saja atau tidak.


"Sayang, kenapa kau diam saja? apa ada sesuatu?" tanya Alexias khawatir.


Lora menggelengkan kepalanya, "Tidak, sayang. Aku baik-baik saja. Maaf, karena aku selalu membuatmu khawatir." kata Lora.


"Jangan meminta maaf, kau kan tidak melakukan kesalahan. Jika kau ada masalah, lebih baik kau cerita padaku. Apapun itu. Kau mengerti?" kata Alexias. Yang dijawab anggukan kepala oleh Lora.


"Aku sangat paham. Ayo, kita masih harus menjemput anak-anak di sekolah." ajak Lora.


"Ya," jawab Alexias, ia langsung meraih sabuk pengaman dan membantu memasangkannya untuk Lora.


Alexias lalu, memasang sabuk pengamannya dan mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.


****

__ADS_1


__ADS_2