
Laki-laki paruh baya yang sudah ditolong oleh Ezra itu bernama Robbin. Robbin. lalu, menceritakan detailnya ia bisa terikat dengan orang-orang yang menindasnya. Ia mengatakan ia terpaksa berhutang karena butuh biaya untuk istrinya yang sekarat di rumah sakit saat itu. Pada akhirnya, meski sudah mendapatkan uang dan membayar biaya pengobatan, istrinya tidak bisa terselamatkan.
Dengan penuh emosi, Robbin menumpahkan keluh kesahnya pada Ezra. Ia menceritakan semua hal yang ia simpan selama ini.
" ... begitulah. Mungkin memang aku dan istriku tidak berjodoh di kehidupan ini," kata Robbin selesai bercerita. Terdengar nada suara yang lemah.
"Maafkan aku, Paman. Bukan maksudku mengungkit luka lama di hati Paman. Aku hanya ingin tahu saja," kata Ezra merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nak. Pamanlah yang seharusnya berterima kasih padamu. Berkatmu, barang-barang peninggalan istriku tidak dibawa oleh mereka. Terima kasih, Nak. Kau pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas bantuanmu." ucap Robbin, merasa senang sekaligus sedih. Ia juga merasa tidak enak hati pada Ezra, karena sudah merepotkan Ezra.
"Aku tidak mengharapkan balasan, Paman. Kebetulan saja tadi aku sedang lewat dan milihat Paman tadi." jawab Ezra.
"Apa kau ada kepentingan di daerah sini? apa ada sesuatu yang kau cari? atau apa?" tanya Robbin mencecar. Ia penasaran dengan datangnya Ezra di sekitaran rumah tempatnya tinggal.
"Aku baru dari meninjau lokasi, Paman. Kebetulan saja aku lewat daerah sini. Karena aku melihat di sini cukup nyaman aku turun dari dalam mobil dan berniat jalan-jalan santai. Itu saja," jelas Ezra.
"Meninjau lokasi? kau mencari tempat, ya?" tanya Robbin menebak.
Ezra pun menganggukkan kepalanya, "Ya, Paman. Aku sedang mencari lokasi yang tepat untuk kujadikan tempat memulai usahaku. Aku ingin membuka sebuah kedai kopi dengan lingkungan yang nyaman. Tidak perlu di pusat kota. Yang terpenting, lokasi itu memiliki pemandangan yang cukup indah dan menarik mata. Agar pengunjung tidak bosan, bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan saat menikmati kopi yang kami jual nantinya." jelas Ezra lagi.
Robbin mengangguk, "Kalau begitu. Aku akan membawamu ke suatu tempat. Tempat itu bukan di daerah sini. Ada di daerah lain, kira-kira satu sampai satu jam lebih dari sini. Aku tidak yakin kau bekenan, tetapi aku jamin tempatnya layak karena aku sendiri yang merawat tempat itu. Aku hanya sesekali datang untuk membersihkan tempat itu. Kau mau coba melihatnya?" tawar Robbin kepada Ezra. Niatnya baik, ingin membantu Ezra yang sedang kesulitan mencari tempat untuk sang kekasih, Hannah.
Ezra menatap Robbin, "Maksud Paman? Paman akan membawaku melihat suatu tempat, begitu. Tempat yang paman katakan tadi?" tanya Ezra masih bingung dan langsung dijawab anggukkan kepala oleh Robbin.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Sekarang langit sudah hampir gelap. Jika kau mau, besok pagi saja kita ke sana." usul Robbin.
"Iya, Paman. Terima kasih." jawab Ezra.
Entah mengapa, perasaan Ezra yang awalnya gelisah menjadi lega dan senang. Meski ia belum tahu lokasinya seperti apa, namun dalam hati Ezra sangat yakin jika kali ini akan sesuai harapannya. Ezra sudah memutuskan, ia akan pergi meninjau lokasi yang Robbin bicarakan dengannya esok hari. Ia tidak mau melewatkan kesempatan baik.
Hari itu, Ezra menghabiskan waktu bersama Robbin sampai malam. Meraka berdua bahkan makan malam bersama-sama. Banyak hal mereka bicarakan, termasuk ide-ide Ezra yang ingin membangun bisnis Hannah. Robbin merasa bangga pada Ezra yang bersemangat dan gigih. Doa Robbin, semoga Ezra dan kekasihnya bisa mencapai kesuksesan seperti yang diinginkan.
"Wah, kalian sudah merancang detail semuanya. Kalian hebat, Nak." puji Robbin.
"Belum apa-apa, Paman. Kami hanya merancang dasarnya saja. Masih perlu banyak perkembangan nantinya. Hal utama yang kami butuhkan saat ini hanya tempat. Sisanya bisa dijalankan perlahan sembari menjalankan usaha. Bukankah begitu, Paman." jawab Ezra menjelaskan.
Robbin mengenggukkan kepala, "Paman setuju dengan pemikiranmu. Kadang apa yang kita rencanakan tidak sesuai harapan. Itulah mengapa kita harus punya rencana cadangan. Semoga saja tempat itu cocok, agar kau bisa menjalankan bisnis kekasihmu dengan lancar dan mengembangkannya. Menjadi orang yang sukses pada masa depan. Harapanku, kalian tidak putus asa saat mengalami kegagalan dan mau terus berkembang juga berusaha." ucap Robbin memberikan nasihat pada Ezra.
__ADS_1
Ezra langsung mengangguk, "Itu memang jalan hidupku, Paman. Menyerahkan adalah hal yang paling kubenci. Karena jika aku menyerah, semua selesai. Aku akan berakhir." jawab Ezra penuh penekanan.
"Ada apa dengannya. Kenapa dia jadi mengeluarkan aura dingin seperti ini?" batin Robbin. Ia bahkan bisa merasakan dinginnya napas Ezra.
"Jika kau butuh sesuatu, apapun itu, bilang saja padaku. Aku akan bantu sebisaku. Denganku kau tidak perlu sungkan, Nak. Anggaplah aku seperti keluargamu. Ya, meski kita baru bertemu dan mengenal beberapa jam yang lalu." jelas Robbin. Ia kasian melihat Ezra yang terkesan dingin dan kaku. Sekaan banyak beban pikiran dan tertekan.
Ezra kaget, "Iya, Paman. Terima kasih." jawabnya.
"Kenapa bisa begini, ya. Dengan orang ini aku bisa bicara santai dan lebih terbuka. Berbeda dibandingkan bicara dengan orang lain." batin Ezra yang sudah mulai nyaman dengan adanya Robbin.
Ezra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia pun melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam waktu setempat. Ternyata sudah cukup malam untuknya bertamu di rumah orang. Ia pun memutuskan pamit dan pergi. Belum lagi, ia melihat banyak pesan dari Hannah. Meski ia juga sudah mengabari Hannah lewat pesan, tetapi ia melihat justru Hannah khawatir, karena ia tidak kunjung pulang.
"Paman, sepertinya sudah terlalu lama aku singgah. Sudah pukul sembilan malam. Aku akan pulang dan kembali lagi esok pagi." kata Ezra berpamitan, ia berdiri dari duduknya. Bersiap untuk meninggalkan Robbin.
Robbin tersenyum, "Ya. Kembalilah besok. Kita akan ke tempat itu bersama. Ayo, aku antar kau sampai mobilmu." kata Robbin bangkit dari duduknya di sofa.
Keduanya keluar dari rumah Robbin. Mereka berjalan menuju lokasi Ezra memarkir mobilnya. Yang mana lokasinya cukup jauh dari rumah Robbin. Kira-kira hampir sepuluh menit perjalanan dan mereka pun sampai. Ezrq langsung berpamitan dan masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Robbin berbalik arah dan kembali pulang ke rumahnya.
***
Keesokan harinya ....
Begitu turun dari mobil, Ezra langsung memandangi sekitar. Jalannya memang tidak terlalu lebar dan ramai. Namun bisa dirasakan jika suasananya sangat nyaman dan menenangkan. Banyak tumbuh pepohonan hijau dan ada taman bermain kecil tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bagaimana? udaranya sejuk, kan?" tanya Robbin, ingin tahu pendapat Ezra.
"Ya, Paman. Aku langsung jatuh cinta pada tempat ini," jawab Ezra tersenyum menatap Robbin.
"Hahahaha ... " tawa Robbin mendengar jawaban Ezra. "Hei, kau kan belum lihat tempatnya. Ini masih di tempat parkir. Ayo, aku akan tunjukan padamu. Di mana tempat rahasia itu." Ajak Robbin yang langsung berjalan pergi mendahului Ezra.
Ezra diam dan hanya menganggukkan kepala, ia mengikuti Robbin dari belakang dan terus sibuk melihat sekeliling. Senyum tipisnya kembali merekah. Ezra merasa puas dengan hanya keindahan sekelilingnya saja.
"Ini adalah lokasi yang tepat. Hannah pasti akan sangat senang." batin Ezra terus menorehkan senyuman tampannya.
Sekitar lima menit kemudian. Robbin menghentikan langkahnya dan berdiri di sebuah bangunan yang tertutup tirai. Ezra berdiri di samping Robbin dan melihat sebuah bangunan di hadapannya.
"Tunggu, aku buka dulu tirainya. Aku menutupnya dengan tirai agar tidak berdebu." kata Robbin. Ia dengan segera mendekat dan langsung menggulung tirai agar Ezra bisa melihat tempat yang ia ceritakan.
__ADS_1
Mata Ezra langsung melebar. Bangunan yang ada di hadapannya sungguh luar biasa. Meski ia belum bisa melihat bagaimana dalamnya, karena ada kain penutup yang menutupi dalam kaca sehingga hanya bisa melihat bagian luarnya saja.
Robbin lalu merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kunci. Dengan segera membuka kunci dan mendorong pintu agar terbuka. Robbin pun mempersilakan Ezra masuk.
"Silakan masuk," pinta Robbin.
Baru saja melewati pintu, jantung Ezra sudah berdebar-debar tidak karuan. Ia melihat isi dalam ruangan dan kaget, ini seperti mimpi baginya. Tempatnya begitu nyaman dan terus membuatnya jantungnya meletup seperti petasan. Sepertinya Jonathan sangat menyukai tempat itu hingga tidak mau lepas menyelisik sekitar.
"Bagaimana, Nak. Apa kau suka?" tanya Robbin memastikan.
Ezra menganggukkan kepala, "Ya. Aku sangat suka. Begitu masuk ke sini, jantungku langsung berdebar-debar, Paman. Bagaimana, ini? aku sepertinya jatuh cinta pada tempat ini. Tempat ini sangat sempurna untukku." puji Ezra mengekspresikan perasaaanya. Ia begitu senang dan mengagumi tempat itu.
"Temoatnya sangat indah dan cantik. Hannah pasti sangat suka tempat ini. Wuahhh ... sebelumnya Hanya Hannah yang bisa mendebarkan jantungku. Sekarang hanya dengan melihat tempat ini, aku juga berdebar. Hahaha ... " batin Ezra.
"Syukurlah jika kau senang, Nak. Tempat ini adalah milikmu sekarang. Aku serahkan sepenuhnya kepemilikan tempat ini padamu. Tolong jaga dan rawat dengan baik, ya." kata Robbin tersenyum ke arah Ezra.
Ezra terkejut, "Paman, apa maksudnya ini? aku akan membayar sewa jika memang itu yang diharuskan. Atau Paman ingin menjualnya? aku akan beli." kata Ezra.
Robbin tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala perlahan, "Tidak perlu, Ezra. Ini adalah hadiah yang kuberikan padamu. Sebagai ucapan rasa terima kasihku." jawab Robbin.
"Tapi, Paman. Aku ... " kata Ezra. Belum sampai kata-katanya selesai, Robbin sudah memotong ucapan Ezra.
"Tidak ada kata 'Tapi', Nak. Terima saja. Aku yakin kau dan kekasihmu bisa merawat tempat ini dengan baik. Ini adalah tempat tinggal istriku sebelum ia bertemu denganku dan menjadi istriku. Di sini ia berjuang demi hidupnya sendiri. Ia membuat kue lezat yang membuatku akhirnya jatuh cinta pada gigitan pertama. Mungkin lebih tepatnya mencintai si pembuat yang memang cantik dan suka tersenyum manis. Karena kesehatannya tidak mendukung, ia memutuskan berhenti membuat kue dan melanjutkan aktivitasnya di dalam rumah. Begitulah, sampai saat ini tempat ini terus kosong." jelas Robbin bercerita sedikit tentang istrinya.
"Kue? istri paman seorang pembuat kue?" ulang Ezra memastikan apa yang didengarnya.
Robbin lantas menganggukkan kepala, "Ya. Istriku seorang patissiere. Ada apa?" tanya Robbin. Mata Robbin melihat sekeliling toko milik istrinya, "Kau kan butuh tempat usah, karena itulah, aku berpikir ini mungkin takdir. Kita bertemu agar aku bisa melepas tempat ini. Atau mungkin saja tempat ini tidak ingin kosong dan segera ingin mempunyai majikan baru." jelas Robbin.
"Wah, ini di luar dugaanku, Paman. Aku tidak sangka ada hal seperti ini," kata Ezra masih tidak percaya. "Sejujurnya, keluargaku juga pembuat roti. Papaku seorang dulunya seorang koki masak lalu, berpindah haluan mengikuti Mamaku yang memang seorang patissiere. Ini mengagumkan." ucap Ezra senang.
"Ah, benarkah, itu? ini sungguh takdir yang luar biasa, ya. Jika ada niatan mulia, pasti akan ada hal baik yang datang, Ezra. Yakinlah pada hal itu," kata Robbin lalu, berjalan pergi meninggalkan Ezra. "Ayo, Nak. Aku tunjukan hal menarik lainnya." ajak Robbin.
Ezra langsung mengikuti Robbin, "Ya, Paman." jawab Ezra penuh rasa semangat.
Robbin melangkahkan kaki keluar dari tempat yang dulunya digunakan mendiang istrinya sebagai toko roti. Ezra dengan penuh rasa penasaran mengikuti ke mana langkah kaki Robbin melangkah. Ia tidak banyak bertanya atau bicara. Ia hanya diam dan terus mengikuti Robbin.
*****
__ADS_1
Bersambung ....