Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 88. Undangan Untuk Peter


__ADS_3

Reine sedang berjalan-jalan. Sudah sejak haru itu, ia tidak lagi bersama Evan. Karena sudah merasa kesal dan muak, Reine memutuskan tinggal sendiri dengan menempati apartemen kosong milik Frans.


Frans berniat baik membantu Reine. Setelah pertemuam terakhir kali, ia dan Reine sering bertemu. Lama-kelamaan keduanya menjadi dekat dan semakin akrab. Reine memberitahukan apa yang menimpanya, tentu saja dengan bumbu drama dan air mata.


Frans yang lemah akan air mata pun luluh. Ia tidak tega, lantas berkenan membantu Reine. Frans tidak tahu, jika ia sudah masuk dalam jebakan Reine. Pada Frans, Reine mengakui jika Reine ditipu oleh sepupunya, Lora. Reine merasa seolah dia adalah korban pelecehan, yang mengakibatkan ia sekarang hamil. Karena merasa malu, Reine pun memutuskan pergi dari rumah Paman dan Bibinya.


Dengan begitu mudahnya Frans ditipu oleh Reine. Kini, ia hanya percaya apa yang Reine katakan. Bahkan Frans perlahan mulai membenci Lora, karene munurut Frans, Lora adalah saudari sepupu yang jahat dan tidak punya perasaan.


Sungguh kesalahan fatal. Frans yang tidak tahu kebenarannya harus membenci orang yang salah, dan membela orang yang tak seharusnya ia bela. Karena buta akan rasa kasian pada Reine, Frans menjadi salah jalan.


Tentu saja, itu adalah sebuah kesempatan emas untuk Reine. Ia semakin gencar membuat Frans dan Junie, Adik Frans semakin dekat dengan berpihak padanya. Kegilaan Reine semakin menjadi, ia bahkan nekad merayu Frans tanpa rasa malu. Mengakui jika ia menyukai Frans sejak awal pertemuannya dengan Frans. Bak kejatuhan bintang, Frans pun menyambut perasaan Reine.


***


Frans dan Reine baru saja menghabiskan hari panas bersama. Frans memeluk erat tubuh Reine, seakan enggan melepaskan Reine.


"Kau tidak pulang ke rumah Adikmu, Frans?" tanya Reine.


"Kau mengusirku?" tanya Frans.


Reine tersenyum, "Ya, aku mengusirmu. Aku tidak mau Junie berpikir aku menguasaimu sendirian. Dia kan masih butuh sosok 'Kakak' yang peduli dan perhatian padanya." jelas Reine.


"Tidak mungkin Junie berpikir seperti itu, sayang. Dia pasti akan mendukung hubungan kita. Dari yang kulihat sejauh ini, dia selalu baik padamu. Bukankah, begitu?" sahut Frans.


Reine menganggukkan kepala, "Ya, semoga saja. Dia kan hanya tahu aku 'Berteman' denganmu, bukan 'Bercinta' ah ... maksudku berkencan." kata Reine sengaja memancing Frans.


Frans tersenyum, "Hm, mulutmu ini, ya. Apa mau kututup dengan perekat?" goda balik Frans.


Reine menatap Frans dengan tatapan mata menggoda, "Kenapa harus dengan perekat? kenapa tidak dengan bibirmu yang seksi ini?" jawab Reine, ujung jari telunjuk tangan kanan Reine menyentuh bibir Frans.


"Ah, benar. Harusnya dengan bibir, ya. Kalau begitu, kemarilah. Jika kututup dengan bibirku, tidak akan ada kesempatan bagimu untuk lari." kata Frans.


Lalu, Frans menangkup wajah Reine dan mencium gemas bibir Reine. Reine mengalungkan tangannya ke leher Frans, ia menutup matanya merasakan ciuman lembut yang terasa memabukkan di bibirnya.


"Umh .... "


Frans begitu bersemangat, begitu juga Reine. Meski Reine bukan wanita pertama bagi Frans, tetapi Reine mampu membuat Frans terenggah-enggah dan merasakan sensasi yang luar biasa. Demikian juga Reine. Meski Frans bukan satu-satunya pria yang pernah bercinta dengannya, ia merasakan hal yang tidak pernah bisa Evan atau pria lain berikan. Yaitu, kepuasan. Pada akhirnya, kedua orang itu kembali bermain api.


***


Hari H semakin dekat. Undangan pesta ulang tahun juga sudah tersebar. Sebagai orang berpengaruh, keluarga Owen mengundang beberapa orang penting yang berkaitan dengan bisnis dan usaha keluarga. Saudara jauh, bahkan sampai kenalan.


Odellia ingat akan seseorang yang ingin ia undang. Dia adalah salah satu tetangga Martha. Seseorang itu bernama, Peter. Peter merupakan Anak laki-laki berusia delapan tahun yang tinggal persis disebelah rumah Martha dan Marc. Suatu hari, pernah Odellia ikut Martha pulang ke rumahnya. Lia dan Peter bertemu lalu, mereka bermain bersama. Peter mengajak Lia melihat kebun dibelakang rumahnya. Semenjak kejadian itu, setiap Martha pulang ke rumah, Odellia selalu merengek ikut agar bisa bertemu temannya, Peter.


***


Odellia buru-buru keluar dari dalam rumah Martha, "Dahh, Bi." kata Odellia.


"Nona, awas jatuh! jangan terburu-buru," seru Martha dari dalam rumah. Ia mengikuti Nonanya keluar dari dalam rumah.


"Ok," jawab Odellia tanpa berpaling.


Rupanya Odellia buru-buru, karena ingin segera pergi ke rumah Peter. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan undangan pesta ulang tahunnya pada temannya itu.


Pintu rumah Peter diketuk Odellia.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Dengan sabar Odellia menunggu. Ia kembali mengetuk pintu rumah utama kediaman Peter, tetapi tidak kunjung ada yang membukannya pintu.


"Apa mereka pergi? ah, sayang sekali! Hufff ... " dengus Odellia sedih.


Ia lalu, memutuskan kembali ke rumah Martha. Odellia berpaling dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah Peter. Baru satu langkahnya terlewati, pintu rumah Peter terbuka. Dan ada seseorang yang memanggil Odellia, yang tidak lain adalah Peter itu sendiri.


"Odellia ... " panggil Peter.


Odellia berbalik dan menatap Peter, "Ah, Peter ... " panggil Odellia balik. Ia segera berlari menghampiri Peter, "Oh, Peter. Kukira kau tidak di rumah." kata Odellia.


"Maaf, aku dari kebun belakang. Aku samar mendengar suara ketukan pintu, makanya aku buru-buru masuk rumah dan membukanmu pintu." jelas Peter.


Odelli hanya mengangguk dan tersenyum, " Ya, tidak apa-apa. Kau sedang apa dikebun? kau menanam bunga lagi?" tebak Odellia.


"Tidak. Kali ini hanya menyapu halaman belakang saja. Ah, masuklah dulu. Aku sampai lupa karena senang kau bisa datang bermain ke rumahku." ucap Peter.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Odellia meminta izin pada Peter untuk diajak ke belakang rumah. Tapi, sebelum pergi ia menyerahkan undangan khusus ulang tahunnya pada Peter.


"Umh, Pete. Aku punya sesuatu untukmu." kata Odellia.


"Wuah, apa yang ingin kau berikan?" tanya Peter.


Odellia mengeluarkan undangannya, "Ini untukmu. Kau bisa datang, kan?" Odellia memberikan undangannya untuk Peter.


Peter menerima dan membaca undangan pemberian Odellia. Ia tersenyum saat tahu ia diundang di pesta ulang tahun Odellia.


"Ya, jika ada undangan seperti ini. Aku harus datang. Sebagai temanmu, aku tidak boleh menolak, kan." jawab Peter.


"Aku pastk akan datang, Odellia. Akan kubawakan hadiah istimewa ubtukmu. Lihat saja nanti," jawab Peter.


"Ok. Ayo, ayo. Aku mau lihat kebun belakangmu." kata Odellia berlari menuju belakang rumah Peter.


Peter berlari mengikuti Odellia, "Hei, jangan berlari!" seru Peter. Ia khawatir Odellia akan jatuh.


Odellia terus berlari, langkah kakinya membawa Odellia sampai di kebun yang letaknya di belakang rumah Peter. Di sana, ternyata ada Mama Peter dan Nenek Peter. Tanpa ragu-ragu, Odellia menghampiri dan menyapa orang-orang yang dikenalnya itu.


"Hallo, Bibi, Nenek. Aku datang. Sudah lama tidak bertemu." sapa Odellia tersenyum.


Mama Peter memalingkan wajah, bersamaan dengan Nenek Peter. Keduanya menatap ke arah yang sama, di mana Odellia berdiri.


"No-nona ... ah, Nona kapan datang?" tanya Mama Peter.


"Baru saja," jawab Odellia.


"Kau, Odellia, kan? atau si kembar lainnya?" tanya Nenek Peter.


"Iya, Nenek, aku Odellia." jawab Odellia.


"Kenapa Anda ke sini, Nona. Di sini kotor dan panas, masuklah. Jangan sampai Martha tau Anda berada di tempat seperti ini," kata Mama Peter, ia lantas melihat Anaknya dan meminta Anaknya membawa Odellia masuk ke dalam rumah, "Pete ... bawa Nona masuk." perintah sang Mama.


"Ya, Ma." jawab Peter. Ia menatap Odellia, "Ayo, Lia. Kau dengar, kan. Apa yang Mamaku perintahkan padaku," kata Peter.


"Hahhh ... " hela napas Odellia. Ia tampak sedih, "Baiklah, ayo ... " jawabnya.

__ADS_1


Odellia menatap sekilas ke arah Mama Peter dan Nenek Peter. Ia tidak bisa membantah jika Martha akan mengomel, saat tahu ia berkeliaran di luar rumah di cuaca pana berangin seperti saat itu. Karema Odellia tidak mau terkena omelan Martha, ia memilih mengikuti ajakan Peter yang membawanya masuk dalam rumah.


Dua Anak itu masuk ke dalam rumah. Mereka ada di dapur saat itu. Peter mengambil gelas dan meletakan di meja. Ia lalu membuka lemari pendingin dan melihat beberapa macam jus di dalam lemari pendingin itu.


"Kau mau minum jus apa?" tanya Peter menawari.


Odellia mendekati Piter, mengintip isi dalam lemari pendingin. Ia lantas menunjuk jus jeruk.


"Ini, aku mau ini. Aku mau jus jeruk," jawab Odellia.


"Ok," sahut Peter.


Peter mengeluarkan sebuah botol berisi jus jeruk lalu menuang ke dalam gelas. Gelas terisi hampir penuh, Peter mengembalikan botol jus jeruk yang masih ada isinya lalu, menutup pintu lemari pendingin.


Diberikannya jus jeruk pada Odellia, "Ini," kata Peter. "Mau cookies, pai, atau keripik?" tanya Peter lagi menawari.


"Semuanya. Ayo, keluarkan semua makanan yang kau miliki. Berikan untukku," jawab Odellia tersenyum.


"Dasar rakus," kata Peter mengejek Odellia.


"Wah, kau berani mengejekku, ya. Tidak bisa dibiarkan," protes Odellia berkacak pinggang. "Kau harus meberiku makanan yang paling enak yang kau punya. Karena kau sudah mengejekku." lanjutnya bicara.


Peter tersenyum, "Lihat, Tuan Putri kita marah, ya. Ya, ya, ya. Akan aku berikan makanan yang kupunya untukmu. Sebentar, akan kusiapkan. Kau duduk saja dulu," Pinta Peter.


Meski diminta duduk menunggu dengan tenang, tetapi Odellia terus menatap tajam ke arah Peter yang sibuk menyiapkan cemilan. Peter mendekati Odellia, membawa nampan berisi banyak makanan, ada cookie, cake, keripik, roti dan lain-lain.


Diletakannya nampan ke atas meja dihadapan Odellia, "Silakan, Tuan Putriku." kata Peter, bergaya khas pelayan-pelayan toko.


Melihat isi dalam nampan, mata Odellia berbinar. Melihat Odellia yang senang dan bersemangat, membuat Peter juga ikut senang.


"Makanlah," pinta Peter.


"Ok, dengan senang hati." kata Odellia.


Diambilnya sebuah cookies lalu digigitnya. Odellia menikmati makan cemilan dan minum jus pemberikan Peter. Peter duduk di samping Odellia, mereka pun mengobrol. Peter bertanya tentang keberadaan dua saudari kembar Odellia, Oriana dan Olesia. Odellia pun menjawab, jika Olesia sedang ada kegiatan berenang, dan Oriana sibuk mempelajari sesuatu.


Selain Odellia, Peter juga mengenal Oriana dan Olesia. Tetapi ia tidak akrab dengan keduanya. Karena hanya sesekali bertemu. Jika dengan Odellia, Peter sering bertemu. Peter bahkan sampai hafal suara dari Odellia dan gaya Odellia saat mengomelinya.


" ... oh, mereka sibuk, ya." gumam Peter.


"Ya, mereka selalu melakukan sesuatu. Entah itu kegiatan tambahan di sekolah, tempat les atau apalah itu. Kesukaan mereka." kata Odellia.


"Kalau kau? apa yang kau sukai? apa kau tidak punya hal yang kau sukai?" tanya Peter.


"Tentu saja ada. Kau kan tahu aku paling suka membaca buku. Selain belajar ke sekolah, les dan bermain. Kegiatanku hanya membaca buku." jawab Odellia.


"Kau suka baca apa? pelajaran, buku cerita? atau apa?" tanya Peter lagi.


"Apa saja. Semua buku aku baca. Karena dari buku aku bisa tahu banyak hal baru dan pengetahuan tambahan. Itulah kenapa aku selalu mencatat dan menandai kata dan kalimat yang tidak kupahami. Lalu, aku akan bertanya pada Papi atau Mamiku. Atau mencari penjelasannya di internet." jelas Odellia.


"Oh, begitu." jawab Peter.


"Hm, aku berikan apa, ya. Aku harus memilih hadiah yang sesuai dengan mereka semua, kan." batin Peter, yang diam-diam sedang memikirkan tentang hadiah ulang tahun Odellia dan dua saudari Odellia yang lain.


Peter pun lanjut bertanya tentang kesukaan Oriana dan Olesia. Dan Odellia menjawab semua pertanyaan Peter tanpa menyadari, jika Peter sebenarnya mengorek informasi untuk menentukan hadiah yang tepat, yang Peter akan berikan pada si kembar tiga sebagai hadiah ulang tahun.

__ADS_1


*****


__ADS_2