
Melihat air mata Lora, Mattew segera menyekanya. Disekanya lembut dengan sapu tangan.
"Jangan sedih lagi. Juga jangan banyak pikiran. Pikirkan kedaanmu, Nak." kata Mattew.
Lora menganggukkan kepala, "Ya, Pa." jawabnya.
Beberapa saat kemudian, Lora merasakan sakit di bagian perutnya. Ia pun menjerit lirih meminta bantuan Papanya.
"Pa, sakit ... aduh ... " keluh Lora mengusap perutnya.
"Sayang, kau kenapa? apa sesuatu terjadi?" cemas Mattew.
"Tidak tahu, Pa. Ini sangat sa ... kit. Ouch .... "
Mattew yang panik segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi istrinya. Ia hendak membawa Lora ke rumah sakit menggunakan taxi.
"Tahan sebentar saja, Nak. Papa akan hubungi Mamamu segera." pinta Mattew dengan kegelisahanya.
Panggilan Mattew diterima oleh Rosella.
"Hallo, sayang." jawab Rosella.
"Sayang, ada masalah. Lora mengeluh sakit di perutnya. Aku takut terjadi sesuatu. Aku akan bawa dia naik taxi ke rumah sakit dekat sini. Kau, Mama dan Hannah menyusullah segera. Aku tidak bisa abaikan Lora yang terus merintih kesakitan." kata Mattew.
"Ah, ok. Kami segera menyusul. Hati-hati, sayang." jawab Rosella.
Beberapa detik berikutnya, Mattew mengakhiri panggilan. Ia segera memapah Lora mendekati sebuah taxi yang baru saja menurunkan penumpang.
"Maaf, apakah taxi Anda kosong, Tuan? bisa antarkan kami ke rumah sakit terdekat?" tanya Mattew.
"Oh, mari silakan. Saya akan antarkan." jawab supir taxi.
Dengan segera supir taxi membuka pintu mobil yang baru saja ia tutup saat penumpang sebelumnya turun. Ia menutup kembali pintu mobil sesaat setelah Mattew dan Lora masuk ke dalam mobil. Supir itu, segera menyusul masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Lora semakin sering merintih. Ia benar-benar merasakan sakit dan mulas dibagian perutnya. Perutnya rasanya menegang.
Melihat putrinya yang merintih kesakitan, Mattew menjadi tidak tega. Sembari memeluk putrinya ia pun berdoa agar semua baik-baik saja.
"Tahan sayang. Tahan sebentar lagi." bisik Mattew.
"Kenapa ini sakit sekali. Apa ada yang salah dengan calon anak-anakku? Tidak, tidak boleh ada apa-apa. Aku harus kuat bertahan." batin Lora.
Dengan menggigit bibir bawahnya sendiriĀ Lora menahan rasa sakit yang luar biasa yang ia rasakan di bagian perutnya.
Setelah menempuh setidaknya sepuluh menit perjalanan. Mereka akhirnya tiba di rumah sakit terdekat. Supir menghentikan laju mobilnya tepat di loby. Ia lalu turun dan membantu Mattew juga Lora.
__ADS_1
"Tolong hati-hati, Nona." kata supir itu sesaat setelah membuka pintu mobil dan membantu Lora turun dari mobil.
"Seseorang tolong kami. Nona ini sedang kesakitan." teriak si supir mencari bantuan.
Tidak lama, keluar dua orang perawat dan seorang doktet dari dalam gedung. Salah seorang perawat membawa kursi roda.
"Silakan, Nona." kata perawat.
"Ayo, cepat. Bawa ke ruang pemeriksaan." kata dokter memerintah.
"Baik, dok." jawab seorang perawat.
Dokter, dan dua perawat membawa Lora segera ke ruang pemeriksaan. Mattew mengeluarkan dompetnya dan membayar biaya taxi. Tidak lupa Mattew mengucapkan terima kasih. Si supir taxi pun kembali berterima kasih dan pamit.
"Ambil ini, terima kasih sudah membantu kami." kata Mattew mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan diberikan kepada supir taxi.
"I-ini terlalu ba-banyak, Tuan. Sa-saya tidak bisa menerima ini." kata si supir sedikit gagap.
"Tidak apa-apa. Ambil saja. Anggap ini keberuntunganmu. Ok. Sekali lagi aku berterima kasih." kata Mattew.
Si supir itu menerima dengan hati-hati sejumlah uang pemberian Mattew.
"Te-terima kasih banyak, Tuan. Semoga Nona dan bayinya baik-baik saja. Saya mohon izin undur diri. Karena maaih ada pekerjaan." pamit si supir.
Si supir taxi pergi meninggalkan Mattew. Mattew menatap sekilas kepergian supir taxi itu lalu bergegas masuk menuju ruang pemeriksaan.
Lora sudah ditangani dokter. Mattew menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Ia mendaptkan panggilan dari Rosella, istrinya.
Mattew menerima panggilan Rosella. Ia memberitahukan lokasinya pada istrinya dan meminta istriny segera datang. Tidak lupa, Mattew berpesan agar istrinya behati-hati.
***
Ternyata, Lora melahirkan lebih awal dari tanggal perkiraan kelahiran ketiga bayinya. Ia menajalani operasi, melahirkan tiga orang bayi kembar tiga. Berjenis kelamin perempuan.
Karena lahir sebelum waktunya, berat badan bayi tergolong ringan dan ketiganya harus masuk dalam inkubator juga menjalani pemeriksan lebih lanjut. Terutama bayi ketiga yang dilahirkan. Sempat mengalami gangguan dan berhenti bernapas beberapa detik saat dikeluarkan dari dalam rahim sang Mama. Karena doa dan harapan hidup keluarga juga tim dokter. Putri ke tiga akhinrya bernapas dan menangis keras.
Di luar ruangan. Mattew, Rosella, Magdalena dan Hannah masih setia menunggu. Meski sudah berjam-jam mereka menunggu. Mereka tidak merasa lelah.
Tidak beberapa lama, dokter keluar dari ruang operasi dan menemui pihak keluarga Lora. Semuanya mendengarkan penjelasan dokter dengan tenang.
"Jadi, tidak ada masalah serius, kan?" tanya Magdalena.
"Untuk sementara belum ada. Putri ketiga juga sedang dalam perawatan intensif." jawab dokter.
"Kapan kami bisa menemui pasien, dok?" tanya Hannah.
__ADS_1
"Tunggu sampai pasien dipindahkan ke ruang rawat." jawab dokter. Dokter melihat sekeliling, "Apa suami pasien tidak datang? Pada saat seperti ini dukungan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan." jelas dokter.
Semua terdiam saat dokter bertanya di mana Ayah sang ketiga putri kembar Lora. Tidak ingin tinggal diam, Hannah pun angkat suara.
"Suaminya sedang ada di luar negeri, dok. Karena sedang dalam keadaan mendesak. Dia tidak tahu jika jadwal istrinya melahirkan berubah." jelas Hannah.
"Oh, begitu. Baiklah. Jika seperti itu, saya pamit lebih dulu. Karen Masih ada hal yang harus saya kerjakan." pamit dokter.
"Silakan, dok." jawab Mattew.
Tidak lama kemudian, dokter pun pergi. Mattew menghela napas panjang. Jantungnya masih berdegup kencang karena rasa khawatirnya. Mereka semua kembali duduk menunggu sampau Lora dipindahkan ke ruang rawat inap.
***
Malam harinya ....
Rosella ada di samping Lora. Ia menjaga Lora. Magdalena sudah diantar pulang oleh Mattew. Dan Hannah pulang untuk bersiap.
Lora terjaga, ia perlahan membuka mata dan melihat ada Mamanya yang sedang duduk membaca buku di sampingnya.
"Mama ... " lirih Lora.
Rosella memalingkan pandanganya dari buku ke arah suara. Ia senang Lora sudah bangun.
"Sayang, kau sudah bangun. Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Rosella.
Lora menganggukkan kepala, "Ya, Ma. Perut Lora terasa sakit dan nyeri. Badan Lora juga lemas." keluh Lora.
"Tunggu sebentar, ya. Mama akan panggilkan dokter. Kau jangan banyak bergerak dulu." kata Rosella.
Baru saja Rosella ingin menekan bel yang berfungsi untuk memanggil perawat, pintu ruangan tiba-tiba diketuk lalu terbuka. Datanglah Mattew dan Hannah. Juga dokter dan perawat yang ingin memeriksa keadaan Lora.
"Oh, sayang. Kau sudah datang," sapa Rosella.
"Iya, sayang. Lora, kau sudah bangun, Nak." sapa Mattew menatap Lora.
Lora tersenyum, "Papa ... Hannah," sapa Lora menatap Papa dan sahabatnya bergantian. "Nenek di mana? apa beliau tidak ada?" tanya Lora.
"Nenek baru saja Papa antar pulang, sayang. Kasiah beliau jika terus khawatir dan cemas memikirkanmu. Besok Papa akan bawa Nenek datang, ya. Sekarang, biarkan dokter memeriksa keadaanmu dulu. Ok." kata Mattew.
Lora menganggukkan kepala, "Ya," jawabnya.
perawat dan dokter itupun mulai memeriksa keadaan Lora. Keduanya dengan hati-hati dan sangat teliti dalam menjalankan tugas masing-masing.
*****
__ADS_1