Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 17. Peretas Kecil


__ADS_3

Di perusahaan. Mattew, Lora, si kembar tiga dan dua orang pekerj, sudah ada di dalam ruang khusus pengawasan. Oriana sendiri, sudah ada di depan komputer. Jari jari mungilnya mulai bermain-main di atas keyboard. Matanya tajam melihat layar monitor. Ia  berusaha membuka akses masuk sistem  perusahaan dan hendak mencegah peretas data perusahaan.


Sudah sekitar dua uluh menit berlalu. Dan Oriana masih sibuk dengan pekerjaanya. Tidak hanya sampai di situ saja. Matanya melirik semua layar monitor di hadapannya.


"Ketemu." ucap Oriana.


"Apa? apa yang ketemu?" tanya Lra.


"Ada apa, Nak?" tanya Mattew.


"Aku akan perbesar gambarnya. Lokasi si peretas saat ini." jawab Oriana.


Sesuai ucapannya. Oriana ingin membuktikan kemampuanya. Pada Ibu dan Kakeknya. Ia menunjukan lokasi keberadaan peretas, meminta Mattew memamnggil polisi. Oriana menyanggupi untuk menutup akses masuknya si peretas dan akan memperkut keamanan sistem agar tidak diserang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.


***


Ucapan Oriana benar. Lokasi yang ditunjukan juga tepat. Ternyata memang ada yang sengaja meretas data dan si pelaku adalah salah seorang yang memiliki jabatan tinggi diperusahaan. Demi uang tambahan, si pelaku tidak tidak segan lagi menyewa jasa peretas dan berusaha mencuri data-data yang dilindungi. Kali ini ancaman ang membahayakan perusahaan bisa teratasi berkat Oriana. Si anak jenius yang masih dalam taham belajar menjadi seorang peretas.


Kejadian itu, membuat Mattew memuji bakat Oriana yang tergolong unik.


"Kau sungguh hebat, cucuku. Terima kasih. Sebagai hadiah, Kakek akan berikan apa yang kau Mau. Apa yang kau inginkan, sayang?" tanya Mattew.


"Hm, aku ingin mendapatkan pelatikan lebih lagi untuk hobi baruku ini, Kakek. Apa boleh?" jawab Oriana ragu-ragu.


"Apa?" Lora kaget.


Mattew twrsenyum, "Lora, tenangkan dirimu, Nak." sahut Mattew menepuk bahu Lora. Mattew pun menatap Oriana, "Jai kau ingin punya guru, begitu?" tanya Mattew.


Oriana menganggukkan kepala. Tanda iya untuk pertanyaan yang dilontarkan Mattew.


"Baiklah. Kakek akan carikan seseorang bisa membuatmu berlatih lebih baik dan belajar. Kakek percaya, kau akan mengembangkan bakatmu ini, cucuku." jawab Mattew.


Oriana tersenyum,"Wah, terima kasih, Kakek. Ana sayang Kakek. Sayang Nenek Ella dan Ellen juga Mami." kata Oriana.

__ADS_1


"Kakek, apa aku juga tidak boleh minta sesuatu? meski aku tidak membantu seperti Oriana, aku juga ingin sesuatu." kata Olesia, melangkah mendekati sang Kakek.


"Ya, sayng. Apa yang kau butuhkan?" tanya Mattew.


"Aku ingin belajar ilmu bela diri dan menjadi lebih kuat. Aku ingin melindungi semuanya. dua saudaraku, Mami dan juga Kakek dan dua Nenek." kara Olesia dengan polosnya.


Suasana hening. Mattew dan LOra tanpa sadar hanyut dalam perkataan Olesia yang bertujuan mulia.


Mattew mengusap keapala Olesia, "Tenu saja boleh, sayang. Kakek akan carikan guru terbaik dan terlatih untukmu." jawab Mattew, ia menatap Odellia lalu bertanya, "Jika, kau. Kau ingin apa, Lia?" tanya Mattew yang ingin tahu.


Odellia mendekat, "Karena aku tak semampu Anna dan sekuat Lesi. Aku minta buatkan ruanagn khusuus untukku membaca, Kakek. Belikan aku buku sebanayk mungkin dengan berbagai macam bahasa dan berbagai macam isi. Aku ingin menambah ilmu pengetahuanku." pinta Odellia.


Mattew lagi-lagi tersenyum, "Baik. Permintaanmu juga akan Kakek kabulkan." jawab Mattew.


"Aku kagum. Cucu-cucuku punya pemikiran seperti ini. Padahal usia mereka masih lima tahun. Usia di mana anak-anak masih suka bermain dari pada belajar." batin Mattew.


"Apa, ini? kenapa permintaan mereka di luar perkiraanku? ini bukan mimpi, kan. Anak-anakku bertingkah  lebih dewasa dibanding umurnya." batin Lora terheran-heran.


sebagai seorang Ibu yang juga merawat dan membesarkan Oriana, Olesia dan Odellia. Ia tidak sangka jika akan dikejutkan dengan hal baru yang ia tidak ketahui sebelumnya.


"Semuanya berkat Papa, Mama juga Nenek yang menyayangi mereka. Aku hanya berusaha semampuku." jawab Lora.


"Kau memang putriku," kara Rosella bangga.


"Juga putriku." sahut Mattew .


Lora mengembangkan senyuman. Ia bersyukur karena keluarga angkatnya begitu menyayanginya juga ketiga anaknya.


"Terima kasih, Tuhan. Sudah mempertemukanku dengan keluarga juga sahabat sebaik ini. Aku sangat bersyukur." batin Lora.


"Nak, kau masih mau kerja, kan. Biar anak-anak bersama Mama dan Nenek. Kami akan mengajaknya makan es krim di kedai es tidak jauh dari sini. Tidak apa-apa, kan?" tanya Rosella seakan meminta izin dari putrinya.


Lora menganggukkan kepala, "Ya, Ma. Tentu saja boleh. Perlu aku temani? setelah mengantar kalian, aku bisa kembali ke kantor."tawar Lora.

__ADS_1


Rosella menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa. Mama bisa membawa mereka dengan aman dan selamat. Kau fokus saja bekerja, ok." jawab Rosella.


"Tetapi ... " kata-kata Lora terpotong oleh Rosella.


"Tidak ada kata tetapi dan yang lainnya. Percayalah pada Mamamu ini. Setelah selesai makan es krim, kami akan langsung kembali ke sini. Aku juga tidak mau membuat putri kesayanganku ini khawatir." sela Rosella.


Mendengar ucapan Mamanya, Lora tidak bisa lagi membantah. Ia juga tidak punya alasan untuk tidak percaya pada Mamanya. Mau tidak mau, Lora pun harus mengiakan ucapan Mamanya.


"Baiklah, Ma. Jika itu adalah kemauan Mama. Tolong Mama selalu berhati-hati dan waspada. Tidak boleh sampai terjadi sesuatu pada kalian. Atau aku akan sangat sedih dan merasa bersalah." kata Lora.


Rosela mengusap lembut kepala Lora, "Anakku, Lora. Jangan khawatir dan cemas. Mama, Nenek dan anak-anakmu pasti akan baik-baik saja. Terima kasih, sudah mengingkatkan. Mama amat sayang padamu, Nak." jawab Rosella. Mencoba menenangkan hati putrinya.


Lora menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. Ia menatap dalam mata Mamanya, menaruh penuh rasa percaya.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Selamat bekerja." pamit Rosella, ia menatap ketiga cucunya, "Ana, Lesi, Lia,. Ayo, kita pergi ke kedai es krim. Nenek akan belikan es krim untuk kalian bertiga." ucap Rosella, berusaha menyenangkan hati cucunya.


"Yeah ... es krim." sahut Elesia senang.


"Ayo, nek. Ayo ... " kata Odellia antusias.


"Ayo, Nek. Aku mau es krim rasa cokelat." sahut Oriana.


Rosella tersenyum melihat ketiga cucunya yang sangat antusias dan bersemangat.


"Perlu bawa seseorang, sayang?" tawar Mattew.


"Tidak, sayang. Kau juga jangan khawatir berlebih. Jarak kedai juga tidak jauh, kan. Kami hanya perlu berjalan santai saja beberapa menit. Kau bekerjalah dengan baik, ok." jawab Rosella, menolak tawaran suaminya.


"Baiklah. Berhati-hatilah di jalan. Jaga Mama dan cucu-cucu kita, sayang." kata Mattew, mengingatkan.


Rosella mengedipkan matanya, tanda mengiakan peringatan dari suaminya. Mattew mendekat, mengecup lembut dan cukup lama kening sang istri. Hal itu sempat membuat Rosella kaget dan merona.


Bebrapa saat kemudian. Rosella pun pergi meninggalkan ruang kerja suaminya bersama ketiga cucunya. Mereka hendak menuju ruang istirahat untuk menemui sang Mama mertua yang sedang beristirahat. Yang selanjutnya akan dibawanya ke kedai es krim bersamanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2