
Perawat sedang berbincang dengan Marlyn. Perawat wanita itu menyampaikan jika biaya perawatan sepenuhnya sudah dibayarkan oleh seseorang.
" ... hanya itu yang bisa saya sampaikan, Nyonya. Maaf, saya tidak bisa tahu lebih jelas siapa seseorang tersebut." perawat menyampaikan informasi sebatas yang ia ketahui.
"Baiklah, terima kasih sudah membantu." kata Marlyn.
"Ya, sama-sama. Mungkin Anda perlu ke bagian administrasi guna bertanya lebih jelas." saran perawat itu.
"Ya, saya akan coba bertanya nanti. Sekali lagi terima kasih sudah membantu." ucap Marlyn tersenyum.
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi lebih dulu, Nyonya." pamit perawat.
Perawat itu lalu, pergi meninggalkan Marlyn. Marlyn duduk termenung. Ia penasaran akan seseorang yang menolongnya. Ia tidak memiliki banyak teman, dan tidak ada seorangpun yang tahu kondisi keluarganya. Karena Marlyn tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.
***
Di lain tempat. Di Mansion. Alexias dan Ezra berbicara berdua di ruang kerja Alexias. Mereka membicarakan tentang Hanson dan Marlyn.
"Bagaimana? kau sudah lakukan apa yang kuminta?" tanya Alexias menatap Ezra.
"Sudah, Tuan. Saya meminta pihak Andministrasi menyembunyikan identitas saya." jawab Ezra.
"Kau tidak bertanya kondisi pasien? setidaknya kita harus tahu seperti apa keadaannya." tanya Alexias lagi.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya. Dalam tiga hari ke depan, jika keadaan pasien stabil, maka diperbolehkan pulang. Saya langsung bicara dengan dokter yang manangani." jelas Ezra.
Alexias menganggukkan kepala, "Baiklah, jika seperti itu. Lalu, apa hal penting yang ingin kau sampaikan?" Alexias berdiri dari posisi duduknya, ia berjalan lalu berhenti di depan rak buku.
"Soal seseorang bernama Evan dan Reine yang Tuan minta saya selidiki. Saya punya beberapa informasi. Kabar terbarunya, merek akan segera menikah dalam waktu dekat. Kabar yang saya dapat, Reine sedang mengandung." jelas Ezra.
"Ok. Terus selidiki. Karena aku merasa pria itu mencurigakan." Pinta Alexias.
"Baik, Tuan." jawab Ezra.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu ruangan terbuka. Lora mengintip ke dalam ruangan. Ia melihat di dalam ruangan ada Alexias dan Ezra. Alexias dan Ezra, sama-sama mengalihkan pandangan.
"Hei, kau mencariku?" Tanya Lora menatap Alexias.
__ADS_1
"Ya, sayang. Masuklah." pinta Alexias.
"Ok, aku masuk, ya." kata Lora, ia masuk dalam ruangan lalu menutup pintu.
"Nyonya suddah datang. Silakan Anda berdua bicara. Saya masih ads tugas yang Anda berikan." kata Ezra berpamitan.
"Mohon bantuanmu, Ezra." kata Alexias tersenyum.
"Dengan senang hati, Tuan." jawab Ezra, yang juga tersenyum tipis.
Ezra pun pergi meninggalkan ruangan, ia berpapasan dengan Lora. Lora menyapa dan tersenyum tipis pada Ezra. Demikian Ezra yang msnjawab sapaan Lora ramah.
Lora berjalan perlahan mendekati Alexias. Ia melihat Alexias sedang memilah-milah buku di rak buku.
"Ada apa, Lex?" tanya Lora.
"Hanya ingin bertemu dan melihatmu," jawab Alexias, menggoda Lora.
Lora memeluk Alexias dari belakang, "Kau merindukanku, ya. Padahal 'kan kita setiap saat bertemu." kata Lora. Ia mengeratkan pelukan dan membenamkan wajahnya ke wajah Alexias.
Alexias tersenyum, "Apa Kau tahu? Seberapa besar aku mencintaimu?" tanya Alexias.
Perlahan, dilepaskannya tangan Lora yang melingkar di perutnya. Alexias berbalik, keduanya berhadapan.
"Kau memang tahu segalanya, ya. Jika begitu, bagaimana mungkin aku akan simpan rahasia?" kata Alexias, meraba lembut wajah Lora.
Lora memegang tangan Alexias yang meraba wajahnya lalu menciumnya. "Jika demikian, jangan ada rahasia. Bukankah kita harusa saling terbuka satu dengan lainya?" jawab Lora tersenyum cantik.
"Cantik sekali," gumam Alexias. Perlahan Alexias mendekatkan wajahnya ke wajah Lora. Bibirnya bertemu dengan bibir Lora. Mereka lalu, berciuman mesra.
Alexias melepas ciuman lalu, mencium kening, kedua kelopak mata, hidung dan pipi Lora. Lalu, dagu dan kembali mencium bibir Lora lagi.
"Aku mencintaimu," gumam Alexias.
"Ya, aku juga. Aku juga mencintaimu, Lex." jawab Lora.
"Oh, ya. Aku dapatkan informasi soal keluargamu. Ayo, duduk. Dan kita bicara." ajak Alexias, menggandeng tangan Lora berjalan mendekati sofa.
Alexias duduk di sofa. Ia menarik Lora dalam.pangkuanya. Lora tidak menolak, ia sudah terbiasa duduk dipangkuan Alexias, juga tidur dipeluk Alexias.
__ADS_1
"Ada apa? ayo, cepat katakan padaku. Ada apa dengan keluargaku." kata Lora tidak sabar. Terlihat jelas Lora sangat penasaran.
"Saat aku mencari tahi informasi tentang Evan dan Reine. Ada hal buruk meminpa Papamu. Papamu masuk rumah sakit dan di rawat. Kejadian itu terjadi setelah Papamu pergi menemui Evan." kata Alexias bercerita.
Lora kaget, "Apa? Papa masuk rumah sakit? dan, kejadian itu setelah Papa menemui Evan?" ulang Lora bicara. Alexias pun menganggukka kepala sebagai tanda jika perkataanya benar.
"Sudah kuduga, Evan itu mencurigakan. Pasti ada apa-apa." ucap Lora.
"Perusahaan Papamu dipegang oleh Evan, Lora. Jika kau mau, kau bisa temui Papa dan Mamamu lalu, kalian bisa bicara. Jika tidak ya tidak apa-apa. Aku tidak memaksa." jelas Akexias.
Lora terdiam sesat, "Apa aku boleh menemui mereka?" gumam Lora.
"Kenapa tidak? mereka 'kan orang tuamu. Ya, meski mereka pernah berbuat salah padamu. Coba saja temui, mungkin saja mereka kesulitan. Aku tidak bisa terlalu jauh mencari informasi. Yang aku tahu sekarang, Evanlah Direkturnya." jelas Alexias memberitahu informasi yang ia kumpulkan. "Dan, ya. Soal Evan dan sepupumu itu. Mereka akan menikah karena sepupumu sedang mengandung." tambah Alexias menjelaskan.
Lora mengernyitkan dahi, "Aku kira mereka sudah menikah setelah ketahuan olehku berkhianat. Ternyata belum, ya. Dan ... Reine hamil?" Lora bingung. Ini tidak seperti apa yang ia bayangkan. "Soal Papa dan Mamaku, nanti aku coba temui mereka. Apa kau mau menemaniku? sekalian kita antarkan undangan untuk mereka." lanjut Lora berbicara.
"Ya, sayang. Ayo, kita pergi bersama." jawab Aelxias.
Lora meraba wajah Alexias lalu, mencium kening Alexias. Ia memeluk erat pria kesayangannya itu.
"Terima kasih, Lex. Kau mau membantuku mencari informasi soal keluargaku. Kau juga tak membenci mereka, karena mereka pernah melakukan kesalahan padaku." kata Lora, masih dengan posisi memeluk Alexias.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku membantumu. Jika kau butuh sesuatu atau inginkan sesuatu, jangan sungkan bicara." kata Alexias, mengusap-usap punggung Lora.
"Ya, aku akan ingat ucapanmu." jawab Lora. Melepas pelukan lalu, menyandarkan kepalanya ke dada bidang Alexias.
"Kenapa kau manja begini? ah, di mana anak-anak?" tanya Alexis, masih mengusap-usap punggung Lora.
"Pergi bersama Agatha. Kenapa denganku? kau keberatan aku seperti ini?" Lora mengernyitkan dahi menatap Alexias.
Alexias tersenyum lagi, "Tidak, sayang. Justru sebaliknya. Aku suka. Kau kan tidak sering-sering begini. Jadi, aku heran saja." jawab Alexias.
"Ya, itu 'kan karena ada anak-anak. Aku malu jika harus menempel seperti ini." jawab Lora dengan wajah memerah.
"Ah, aku ini kenapa? sudah bukan anak muda lagi, tetapi aku masih merasa malu." batin Lora.
"Menggemaskan sekali," batin Alexias. Melihat Lora dengan wajah memerah.
*****
__ADS_1