Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 98. Pencarian Si Kembar Tiga (2)


__ADS_3

Sama halnya dengan Alexias. Lora pun kaget mendengar berita tentang seseorang yang diduga kuat adalah pelaku penculikan si kembar tiga.


"Kau ingat, Lex. Tentang apa yang ku ceritakan, soal pria asing yang kutemui?" tanya Lora.


"Ya, aku ingat. Kemungkinan memang dialah pelakunya. Sepertinya dia menyamar dan tidak hanya bekerja seorang diri." jawab Alexias.


Lora terdiam berpikir, "Tunggu, jika memang benar seperti yang kau katakan, sepertinya ini memang sudah direncanakan. Bagaimana menurutmu?" tanya Lora menatap Alexias.


Alexias menganggukkan kepalanya perlahan, "Dugaanku juga seperti itu, sayang. Mungkin saja seseorang sengaja mengincar keluarga kita dengan maksud dan tujuan tertentu." jawab Alexias.


"Kau harus bisa mengungkap ini, Lex. Jangan sampai kau biarkan mereka lolos begitu saja." kata Lora marah.


"Pasti. Jika indentitas pelaku terungkap, aku akan hukum mereka semua yang terlibat. Ini akan kugali hingga ke akar. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka." tegas Alexias menyakinkan Lora.


"Tapi, siapa kira-kira orang jahat yang melakukan ini, ya?" batin Lora. Ia tidak mau menuduh siapapun tanpa alasan dan bukti yNg kuat.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Alexias mengejutkan Lora.


"Oh, tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan, siapa pelaku utama dibalik ini semua. Bukankah jika dia bisa rencanakan sedemikian rupa, dia adalah orang yang pasti sangat dekat dan mengenal kita? orang yang tau tentang kita, juga keluarga kita." jelas Lora. Ia menimang-nimang pendapatnya.


Alexias kaget, ia melebarkan mata. Ia belum terpikirkan akan ucapan Lora. Mendengar ucapan Lora, Ia lalu mengerti dan berpikir cukup santai.


"Ah, iya. Kau benar. Aku sampai tidak menyadari hal ini. Jadi, apa ada seseorang yang kau curigai?" tanya Alexias.


"Ada. Tapi ... " kata Lora menjeda ucapannya.


"Tapi, " sambung Alexias, mengulang ucapan istrinya.

__ADS_1


"Tapi, aku masih ragu. Aku sudah berpikiran untuk tidak menuduh orang lain sembarangan atau berpikir buruk tentang orang lain. Ya, begitulah. Namun, entah mengapa pikiranku sudah merasa ada yang aneh sejak awal kedatangannya. Apa tidak tahu ini benar atau salah, tetapi aku merasa kebaikannya juga perlu dicurigai." jelas Lora.


Alexias berpikir, "Apa, jangan- jangan ... Lora mencurigai Reine? sama sepertiku yang menilai dia cukup aneh." batin Alexias.


"Hmm ... boleh aku tahu siapa, sayang?" tanya Alexias ingin tahu karena penasaran.


Lora menatap Alexias, ia terlihat canggung dan seperti engga memberitahu. Namun, tidak mau juga merahasiakan sesuatu pada Alexias. Mau tak mau Alexias pun langsung menebak siapa seseorang yang dicurigai oleh istrinya.


"Apa Reine?" tanya Alexias tanpa ragu menyebutkan nama seseorang yang dipikirkannya.


Lora kaget dan melebarkan mata, "Bagaimana kau tau aku mencurigainya?" tanya Lora.


"Apa lagi, sayang. Itu karena aku juga berpikir hal sama darimu. Sejak dia datang lalu berbicara lembut juga manis. Aku merasakan sorot matanya berbanding terbalik dengan ucapannya. Entahlah, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Karena kupikir dia sepupumu dan kau tidak mau aku mencurigai orang lain tanpa alasan, maka aku hanya diam melihat. Sejauh yang kulihat, dia juga tidak berulah." Alexias panjang lebar bicara.


"Kita sepemikiran jika seperti itu, Lex. Aku juga merasakan hal sama. Tapi, kembali lagi. Kita kan memang tidak boleh mencurigai orang tanpa alasan dan bukti yang jelas juga kuat untuk menuduh orang tersebut." jawab Lora.


"Kita perlu lakukan sesuatu. Ini terkesan mengganggu, tapi kita harus menyelidikinya diam-diam mulai dari sekarang. Aku akan mint orang menyelidikinya." kata Alexias.


"Apa? kau? sayang, mana bisa aku membiarkanmu melakukan hal yang cukup berbahaya seperti ini?" kata Alexias, mengernyitkan dahinya.


"Mau seberapa besar pun bahaya yang akan datang. Seorang Ibu tidak bisa diam jika anak-anaknya ada di dalam bahaya, sayang. Tolong, jangan larang aku. Karen tekadku sudah bulat." tegas Lora menolak keputusan Alexias.


"Hahhh ... " hela napas Alexias terdengar berat. "Baiklah, jika begitu aku juga akan ikut bersamamu. Ayo, kita selidiki bersama-sama." kata Alexias tidak bisa mengabaikan keselamatan istri tercintanya.


Lora tidak bisa menolak keputusan Alexias kali ini. Ia lalu, menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuan.


"Ya, jika itu yang kau inginkan. Maka tidak akan ada masalah untukku. Toh, ini demi anak-anak kita. Dua orang lebih baik daripada bekerja seorang diri, kan." jawab Lora tersenyum.

__ADS_1


Alexias tersenyum, "Itu dia. Tepat sekali, sayang." sahut Alexias.


Keduanya menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbincang. Mereka menyusun dengan baik rencana mereka untuk melakukan pengintaian pada Reine. Meski masih mengandalkan kecurigaan dari pemikiran Alexias dan Lora, mereka tatap tidak ingin gegabah.


***


Di lain tempat. Di apartemen pribadi milik Reine. Evan masih setia menunggu Reine di parkiran. Ia memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Reine. Ia melihat sebuah mobil yang baru saja datang dan parkir di sebarang mobilnya parkir. Evan melihat seorang pria keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam gedung apartemen.


"Apa-apaan aku, ini? kenapa juga aku seperti orang bodoh di sini? apa sebaiknya ku masuk dan langsung mencarinya, ya. Tapi, aku kan tidak tahu dia di lantai dan kamar nomor berapa. Astaga, Evan! kau ini memang bodoh. Harusnya kau ikuti dia masuk sejak awal tadi." Evan berbicara sendiri, bergulat dengan pikiran dan hatinya. Ia lantas menyalahkan diri sendiri karena kebodohannya.


Cukup lama berdebat dengan diri sendiri, Evan pun memutuskan untuk tetap berada di parkiran menunggu Reine. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi hatinya sangat yakin jika Reine akan kembali keluar meski tidak tahu kapan pastinya.


"Ok, aku tunggu saja. Dia pasti keluar lagi. Ya, pasti. Jika memang tidak keluar ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga sudah tahu di mana dia tinggal, kan. Bukan hal yang sulit juga mencaritahu kamar yang ia tinggali. Aku hanya perlu mengikutinya dan menyamar." batin Evan.


Sepuluh menit kemudian ....


Evan yang duduk bersandar dikagetkan dengan Reine yang keluar bersama dengan seorang pria. Terlebih pria yang dilihat bersama istrinya adalah pria yang ia lihat sebelumnya. Pria yang memarkir mobilnya di sebrang mobil Evan.


"Siapa pria itu? ini gila, wanita itu beraninya dia berselingkuh dariku." gumam Evan.


Dilihatnya istrinya merangkul mesra lengan pria yang berjalan di sisinya. Reine tampak bahagia, senyum lebar terus mengembang di bibir Reine. Melihat itu, tentu saja membuat Evan terbakar api cemburu. Ia mencengkram kuat setir kemudi mobilnya dengan terus menatap lekat ke arah Reine dan selingkuhan Reine.


"S*al*n! aku tidak bisa meredam emosiku. Ingin sekali rasanya aku turun dari mobil ini dan menghampiri mereka." geram Evan.


Dilihatnya, Reine dan pria selingkuhan Reine masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, keduanya sempat berciuman. Hal itu kembali menyiramkan minyak ke dalam kobaran api kecemburuan Evan. Pria asing yang bersama dengan Reine lalu, mencium kening Reine. Keduanya juga berpelukan singkat.


Pria asing itu mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran. Tidak tinggal diam, Evan juga menginjak pedal gasnya. Ia mengemudikan mobilnya mengikuti ke mana Reine dan selingkuhannya pergi.

__ADS_1


Dengan, menjaga jarak, mobil Evan terus mengikuti mobil pria asing yang bersama Reine. Evan tidak khawatir ketahuan, karena mobil yang sedang ia gunakan bukanlah mobilnya. Melainkan mobil milik temannya yang sengaja ia pinjam karena ia memang berniat untuk mengintai Reine.


*****


__ADS_2