Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 106. Hamil (Lora)


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Untuk berjaga-jaga, si kembar tiga diminta tinggal beberapa hari ke depan di rumah sakit. Ruang rawat yang harusnya digunakan satu pasien, disulap oleh Alexias seperti kamar tidur anak-anaknya. Ada tiga tempat tidur khusus pasien dan satu tempat tidur tambahan untuk Alexias dan Lora. Alexias dan Lora, keduanya kompak bersama-sama menjaga anak-anak mereka.


Alexias sampai membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Sebelum bekerja, Alexias lebih dulu membantu Lora mengurusi anak-anak mereka. Sebagai seorang Ayah, perannya begitu besar. Ia tidak hanya bekerja sebagai seorang kepala keluarga yang wajib menafkahi keluarga, tetapi juga sebagai suami yang aktif dan siaga. Juga Ayah yang selalu bisa diandalkan anak-anaknya.


"Berikan padaku, kau bisa mandi. Aku akan suapi anak-anak." kata Alexias.


"Bagaimana bisa kau lakukan itu, mangkuknya saja ada tiga. aku akan membantumu menyuapi Odellia. Lalu, aku akan mandi." tolak Lora. Ia tidak mau suaminya kesulitan.


Alexias tersenyum, "Aku tidak apa-apa, sayang. Aku bisa bergantian menyuapi mereka. Mereka juga pasti akan sabar mengantri. Bukan begitu, anak-anak kesayangan Papi?" tanya Alexias menatap tiga anaknya.


Si kembar tiga menganggukkan kepala bersamaan. Tanda jika mereka menyetujui ucapan Papi mereka. Melihat ketiga anaknya yang kompak, Lora tidak bisa mengelak lagi. Ia senang jika Alexias bisa menangani ketiga anak mereka seorang diri.


"Ok. Aku mandi dulu." kata Lora.


Saat berbalik hendak menuju kamar mandi, Lora kembali merasa mual dan ingin muntah. Dengan cepat Lora langsung membekap mulutnya.


"Uhkk .... "


Alexias menatap Lora, "Sayang, kau tak apa?" tanyanya.


Lora memalingkan pandangannya, "Entahlah, aku tak yakin." jawabnya.


"Kau juga harus diperiksa oleh dokter. Jangan sampai terjadi apa-apa padamu." perintah Alexias serius.


"Aku bisa menahannya, Lex. Mungkin ini karena kemarin aku tidak makan dengan benar. Aku mandi dulu, ya. Tolong temani anak-anak makan dulu." pinta Lora, yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Alexis sekilas menatap ke arah kamar mandi. Ia teringat akan tugasnya. Sesegera mungkin ia kembali fokus pada ketiga anaknya.


"Papi, aku makan sendiri." pinta Oriana.


"Papi, aku juga." kata Olesia.


"Papi aku juga mau makan sendiri. Berikan mangkukku," pinta Odellia merengek.


Alexias tidak menolak. Meski ia ingin memanjakan anak-anaknya, tetap saja ia juga harus mengajarkan putri kembar tiganya mandiri. Melihat putri-putrinya ingin makan sendiri meski kesehatan ketiga sedang menurun, Alexias merasa bangga.


"Ok. Tunggu sebentar. Papi akan atur satu-satu. Sabar, ya." ucap Alexias lembut diiringi senyuman hangat.


Dengan penuh kesabaran Alexias membantu anak-anaknya agar nyaman saat makan. Ia menyiapkan semuanya. Tidak ingin anak-anaknya kesulitan.

__ADS_1


Dilihatnya cermat ketiga anaknya saat makan. Ia mengusap satu per satu kepala si kembar tiga. Lalu, ia memuji anak-anaknya tersebut. Alexias juga memberikan sedikit nasihatnya.


"Kalian hebat. Papi sangat bangga menjadi Papi kalian, anak-anak. Apapun yang terjadi kalian memang harus seperti ini. Mandiri adalah bentuk usaha melatih diri agar tidak terlalu bergantung pada orang lain. Contohnya seperti kalian saat ini. Entah apa yang kalian pikirkan saat ingin makan sendiri, padahal kalian sedang kurang sehat seperti ini. Namun, Papi sangat senang, kalian mau berusaha fan tidak bermalas-malasan." Alexias tersenyum senang.


Si kembar tiga terlihat senang dan langsung ceria. Senyum cerah terpancar dari wajah ketiganya. Membuat hati Alexias lega. Rasanya ia seperti ponsel yang baterainya terisi penuh.


***


Lora*


Aku selesai mandi. Setelah mengenakan pakaian, aku pun keluar dari kamar mandi. Ternyata, Hannah, Ezra, Agatha, Papa juga Mama mertuaku sudah datang. Mereka semua duduk di sofa sambil berbincang.


"Wah, ramai sekali." ucapku, yang lancang masuk di obrolan mereka.


Alexias berdiri dari duduknya, "Kebetulan ada banyak orang di sini. Jadi, aku mau menitipkan anak-anakku dulu, ya. Hanya sebentar." kata Alexias menatap Mamanya. "Ma, tolong." pintanya lirih.


"Eh, kau mau apa, Lex? kenapa menitipkan anak-anak pada Papa dan Mama juga yang lainnya?" tanyaku pada Alexias bingung.


"Ayo, ikut saja dan jangan banyak bertanya." katanya seperti memerintah.


Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa menurut dan mengikutinya. Sekilas aku melihat ke arah Papa dan Mama mertuaku. Juga ke arah Agatha, Hannah dan Ezra. Mereka semua menatapku dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Apa-apaan pria ini," batinku kesal. Sungguh, aku ingin sekali protes, tetapi aku tidak bisa melakukannya.


Di dalam ruang pemeriksaan. Aku dan Alexias bertemu seorang dokter wanita. Tanpa banyak membuang waktu, Alexias langsung meminta dokter tersebut memeriksaku dan menemukan kendala dalam tubuhku.


"Hallo, Tuan, Nyonya. Silakan duduk," sapa dokter itu ramah dengan senyuman.


"Ya, dok." jawab Alexias, ia menggandeng tanganku berjalan mendekati dokter itu. "Tolong periksa istriku, dok. Sepertinya kesehatannya memburuk karena kemarin dia tidak makan dengan benar. Temukan semua kendala yang ada. Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya." pintanya tanpa basa-basi lagi.


Mungkin bagiku, Alexias terkesan memerintah. Ia meminta tolong, tetapi ia juga menekankan suara disetiap katanya yang ia ucapkan. Ah, benar-benar pria satu ini. Pikirannya sulit diprediksi.


"Lex, tenanglah." bisik ku. Aku malu, bagaimana bisa aku punya suami sepertinya yang suka memerintah orang lain tanpa rasa gentar sedikitpun.


"Baik, Tuan. Pertama-tama, Anda silakan duduk terlebih dahulu." jawab dokter itu masih ramah. Ia lalu, menatapku. Ia memintaku berbaring di tempat tidur pasien yang tersedia. "Nyonya, silakan Anda berbaring. Saya akan periksa keadaan Anda." katanya.


Aku menganggukkan kepalaku, "Baik, dok." jawabku singkat.


Sesuai keinginan dokter, akupun berbaring. Entah mengapa, jantungku tiba-tiba berdebar. Ini terasa aneh, tetapi juga tidak asing. Aku teringat pada masa lalu. Pada saat aku sedang mengandung si kembar tiga. Ketika menjalani pemeriksaan, aku pasti akan tegang dan berdebar seperti ini.


Aku merasa dokter mulai memeriksaku. Beberapa pertanyaan diajukan dokter terkait kesehatanku. Seperti apakah aku susah makan, tidak nafsu makan, mual muntah dan masih banyak hal lain. Sampai dokter menanyakan kapan terkahir aku datang bulan.

__ADS_1


Seketika aku kaget, "Apa aku?" gumamku.


dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepala, "Ya, selamat atas kehamilan Anda, Nyonya." ucapnya, seakan bisa menebak ekspresi wajahku.


Untuk sesaat aku tercengang. Ini diluar kendaliku. Bukanya aku tidak senang. Tidak. Itu salah! karena kaget dan seakan tidak percaya, aku malah jadi seperti orang linglung.


"Bagaimana, dok?" tanya Alexias. Saat dokter kembali duduk di kursi kebesarannya.


Aku perlahan bangun dari posisi berbaring dan turun dari tempat tidur. Aku berjalan mendekati Alexias, duduk di samping Alexias.


"Tidak ada hal yang serius, Tuan. Kecemasan Anda berlebihan. Mual dan ingin muntah, wajar dirasakan Ibu yang sedang mengandung. Terlebih, ini adalah awal kehamilan. Ibu hamil juga akan diserang rasa pusing, kunang-kunang dan perasaan yang tidak stabil. Seperti cemas, mudah resah, gelisah, khawatir berlebih. Emosional. Bisa juga sulit tidur. Hal-hal demikian bisa perlahan hilang seiring berjalannya waktu. Kedepannya, Anda sebagai suami harus lebih memahami dan mengerti kondisi dan keadaan istri Anda. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti pertengkaran yang diakibatkan kesalahpahaman atau ketersinggungan karena ucapan. Ibu hamil akan sangat, sangat, sangat sensitif. Apa Anda memahami penjelasan saya, Tuan? Jika belum, Anda bisa tanyakan. Apa dan dibagian mana yang kurang jelas." kata dokter panjang lebar.


Aku tidak sangka, ada dokter seramah dan semendetail ini. Biasanya dokter, akan lebih banyak menghemat ucapan dan hanya menjelaskan saat pasiennya bertanya saja.


Aku menatap Alexias. Terlihat, Alexias sedang mencerna penjelasan dari dokter. Sampai saat ia ditanya, iapun menjawab 'Iya' untuk pertanyaan yang dilontarkan dokter tersebut.


"Ya, saya mengerti, dok. Terlepas dari penjelasan Anda terkait kehamilan istri saya. Dia sehat dan tidak terjangkit suatu penyakit atau terjadi apa-apa pada tubuhnya, begitu? Saya senang dan bersyukur, dok. Saya sangat khawatir sampai tidak tenang sejak tadi." akunya.


Aku dapat melihat jelas rasa khawatirnya. Melihat dia yang begitu khawatir, sampai membuatnya kepikiran, itu juga membuatku merasa bersalah.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku kan sudah katakan, jika aku baik-baik saja. Kaulah yang terlalu khawatir." kataku mengusap tangannya.


"Wajar saja suami Anda gelisah, cemas dan khawatir. Itu adalah tanda, jika pasangan Anda lebih dari sekedar peduli dan perhatian. Saya saja merasa terharu, ada suami seperhatian suami Anda." kata puji dokter itu.


"Ya, sok. Saya pun sebagai istri merasa sangat bangga mempunyai suami sesempurna dia. Tidak hanya bertanggung jawab pada keluarga. Tapi, juga cekatan membantu bersih-bersih dan suka mengingatkanku akan hal-hal sederhana." jawab tersenyum bangga, saat aku bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.


Tidak lama kemudian. Kami berpamitan keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Alexias dan aku hendak kembali ke ruangan di mana anak-anak kami berada. Namun, Alexias mengurungkan niatan dan mengajakku pergi ke taman yang berada di halaman samping rumah sakit untuk berjalan-jalan. Akupun setuju. Kami akhirnya pergi bersama dengan masih bergandengan tangan.


Semua terasa seperti mimpi bagiku. Rasanya baru kemarin aku mengandung si kembar tiga. Dan kini, ada lagi janin yang tumbuh di perutku. Ini sungguh luar biasa.


Sesampainya di taman, Alexias mengajakku duduk di bangku kosong yang ada di bawah sebuah pohon. Aku duduk, sedangkan Alexias berlutut satu kaki dengan posisi wajahnya menghadapku. Aku bingung, ia terlihat aneh jika bersikap demikian.


"Ada apa, Lex?" tanyaku.


Tiba-tiba ia menunduk. Ia meletakan dahinya kepangkuanku. Alexias membenamkan wajahnya juga. Aku semakin tidak mengerti arti bahasa tubuhnya. Aku terus berusaha untuk mengerti meski itu susah, karen ia masih terus diam meski kutanya.


"Lex, jangan begini. Jawablah," kataku lagi.


Tubuhnya gemetar. Aku baru sadar, jika dia sedang menangis dipangkuanku. Kuusap kepalanya dan punggungnya dengan lembut. Aku menunduk dan kucium kepalanya.


Alexias pun menadahkan kepala tidak lama kemudian. Matanya sembab dan sedikit bengkak. Kuseka air matanya, kukecup kedua kelopak matanya bergantian. Kukecup kening, hidung, kedua pipi lalu, bibirnya sekilas.

__ADS_1


"Aku mencintaimu ... " ucapku.


*****


__ADS_2