
Malam harinya ....
Ezra datang menemui Hannah. Ia diperintahkan Alexias untuk membantu Hannah juga menjaga anak-anaknya. Karena Alexias ingin makan malam bersamĀ Lora.
Ezra membantu Hannah memasak makan malam. Hannah sempat menolak, tetapi Ezra bersikeras membantu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hannah pada Ezra.
"Aku baik, memangnya kenapa?" jawab Ezra santai.
"Bukan apa-apa. Hanya ingin tahu saja apakah kau baik-baik saja atau tidak. Tidak mau jawab ya sudah." kata Hannah memalinhkan wajah.
Ezra tersenyum, "Aha, kau khawatir padaku, ya?" goda Ezra mendekati Hannah.
"Tidak. Kenapa juga aku harus khawatir. Memangnya kau si ... " Hannah memalingkan wajah, tepat di hadapannya ada wajah Ezra. Seketika Hannah kaget dan berteriak. "Aaaa .... "
"Ssttt ... " karena panik Hannah berteriak. Ezra langsung membekap mulut Hannah dengan tangannya dan mendorong Hannah ke dinding di samping lemari.
Hannah meronta ia ingin mencoba melepaskan bekapan tangan Ezra. Ezra takut si kembaf tiga akan terganggu dan datang karena teriakan Hannah.
"Psstt ... kau ini kenapa berteriak?" tanya Ezra. Yang segera melepaskan bekapan tangannya.
"Kau juga, kenapa wajahmu mendekat. Aku 'kan jadi kaget." jawab Hannah.
"Oh, maaf. Aku tadi hanya bermaksud menggodamu saja. Tidak ada maksud lain." jawab Ezra.
Hannah menatap Ezra, Ezra juga menatap Hannah. Keduanya saling bertatapan. Wajah mereka sama-sama merona.
"Kau ... " kata Ezra ingij bertanya.
"Kau ... " kata Hannah yang juga ingin bertanya.
Keduanya saling membuk suara sscara bersamaan. Keduanya kaget, lalu tertawa.
"Kau bisa katakan lebih dulu. Apa yang ingin kau katakan." kata Ezra.
"Hm, itu. Aku, aku, aku ingin bertanya sesuatu. Kalau boleh, kalau tidak juga tidak masalah." kata Hannah.
"Ya, katakan saja." jawab Ezra menatap Hannah. Ia menunggu-nunggu, apa hal yang ingin Ezra tanyakan.
"Apa, apa, apa kau sudah punya kekasih?" tanya Hannah tiba-tiba.
__ADS_1
Ezra kaget. Pasalnya, pertanyaaan yang Hannah tanyakan sama seperti pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Hannah.
"Kenapa bisa begini?" gumam Ezra.
"Maksudmu?" tanya Hannah bingung.
"Itu juga yang ingin kutanyakan. Apa kau punya kekasih, Hannah?" tanya Ezra dengan berani tanpa ragu-ragu lagi.
Hannah menggelengkan kepala, "Tidak punya. Kau? apa kau punya?" ulang Hannah bertanya.
"Aku juga tidak punya," jawab Ezra.
"Oh ... begitu." sahut Hannah malu-malu.
"Iya, begitu." ulang Ezra yang juga malu-malu.
Ezra mengusap tengkuknya, "Jadi, kita sama-sama belum punya pasangan, kan. Mau mencoba menjalin hubungan denganku? ah, maksudku bukan macam-macam. Aku, aku ... ehemmm ... aku menyukaimu. Aku ingin lebih dekat denganmu." Ezra bicara terus terang pada Hannah. Ia ingin mecoba mengungkapkan isi hati dan perasaanya.
"Apa?" kaget Hannah melebarkan mata. Setelah mendengar ungkapan perasaan Ezra.
"Kenapa? ah, iya. Kau pasti kaget, karena aku tiba-tiba bicara seperti ini. Maafkan aku, ku pikir lebih baik aku ungkapkan daripada ku pendam." kata Ezra terlihat sedih.
Hannah langsung memeluk Ezra, "Aku juga menyukaimu, Ezra." kata Hannah.
***
Sementara di lain tempat. Di sebuah restorant, Alexias dan Lora selesai memesan makan malam mereka.
"Kenapa tiba-tiba membawaku ke sini? ini kan tempat yang sangat mahal, Lex." kata Lora melihat sekeliling.
"Kau lupa siapa aku? uangku tidak akan habis meski sepuluh tahun kita makan di sini." jawab Alexias dengan sombongnya.
Lora tersenyum menatap Alexias, "Ya, ya, ya. Tuan muda Owen memang sungguh luar biasa. Orang kaya memang berbeda level." kata Lora.
Alexias tersenyum, "Kau benar. Orang kaya memang berbeda. Mau itu barang atau wanitanya. Buktinya, aku bisa jatuh hati padamu yang memang sangat luar biasa." tiba-tiba Alexias bicara manis pada Lora.
Lora kaget, ia tertawa. Ia tidak bisa menahan rasa geli karena hatinya serasa digelitik. Alexias senang, ia bisa selalu melihat seyuman Lora.
"Jadi, kau benar-benar akan menemui keluargamu?" tanya Alexias memastikan.
"Ya, mau bagaimana lagi. Nenek memintaku begitu. Nenek tahu kesedihanku dan rasa kecewaku, tetapi Nenek juga berkata hal yang benar. Hubungan darah antara anak dan orang tua tidak berbekas. Anak tetaplah anak, demikian juga orang tua." jelas Lora.
__ADS_1
"Kau tidak perlu takut. Tidak ada yang bisa dan boleh menindasmu selain aku. Jangan takut, aku selalu ada untuk melindungimu." Alexias bicara sembari memegang erat tangan Lora yang ada di atas meja.
"Aku bukan takut, Lex. Mungkin lebih ke tidak mau merasa sakit hati lagi. Rasanya saat aku mengingat sikap dan perlakuan mereka, aku semakin merasa sesak." ucap Lora sedih.
Alexias menarik napas dalam lalu mengembuskan napasnya perlahan. Ia ikut merasakan kesedihan Lora. Bagaimanapun, hidup Lora sebelumnya sudah sangat berat. Dari mulai dikhianati, diusir sampai berjuang di negara asing demi tiga orang anak.
"Aku perlu menyelidiki lebih lagi soal keluarga itu. Selama ini aku belum sempat detail tahu bagaimana kelaurga itu. Ini waktunya untukku membuktikan, jika aku adalah seseorang yang tepat untukmu, Lora." batin Alexias.
Hidangan makan malam datang. Pelayan menyajikan makanan ke atas meja, ke hadapan Lora dan Alexias. Steak lezat terlihat menggugah selera di dampingi wine terbaik yang dijual di restorant tersebut. Setelah menyajikan hidangan, pelayan pun pergi.
Alexias dengan terampil memotong-motong steak menjadi bagian kecil-kecil. Ia berdiri dari duduknya, menukar steak yang sudah ia potong pada Lora dan mengambil steak yang ada di hadapan Lora untuk disantapnya.
"Makanlah," kata Alexias lembut.
Lora tersenyum cerah, "Terima kasih," kata Lora senang.
Perhatian Alexias memang benar-bebar tidak diragukan lagi. Meski hal sekecil apapun, perhatiannya tetap penuh. Mereka diam mrnikmati makan malam mereka. Hanya sesekali saling menatap dan saling melempar senyuman.
Dua puluh menit kemudian. Alexias dan Lora selesai makan dan berbincang sembari minum wine. Beberapa saat kemudian, pelayan datang menghidangkan makanan penutup.
Saat Lora memakan hidangan penutup. Alexias berdiri dari posisi duduknya, mendekati Lora lalu berlutut satu kaki di samping Lora. Alexias mengeluarkan sesuatu di saku jasnya. Sebuah cincin dan kalung yang desainnya sama.
Lora kaget, "Apa, ini? kau ingin memberiku perhiasan lagi?" tanya Lora.
"Ehemmm ... kemarin 'kan aku tidak benar melamarmu. Ah, maksudku kurang romantis. Sekarang aku akan dengan benar melamarmu." kata Alexias.
Lora menatap Alexias tajam, "Oh, ya? baiklah, tunjukkan sisi romantismu Tuan Owen." kata Lora.
"Lora, maukah kau menikah denganku? ayo, kita besarkan Oriana, Olesia dan Odellia bersama-sama. Hiduplah denganku sampai aku berubah jadi Kakek jelek, sampai mataku tertutup. Aku tidak mau wanita lain, selain kau. Hanya kau, yang mampu menggoyahkan hatiku. Jadi, aku mohon. Terimalah lamaranku ini." ungkap Alexsis dengan sungguh-sungguh.
Mata Lora berkaca-kaca. Ia melihat kesungguhan hati Alexias. Lora pun berdiri, membantu Alexias berdiri.
"Ya, aku terima lamaranmu. Ayo, kita hidup bahagia bersama." jawab Lora.
Alexias senang, ia memasangkan cincin di jari manis tangan kanan Lora. Lalu memasang kalung ke leher Lora.
"Sudah kuduga, kalungnya akan sangat cocok kau pakai. Kau terlihat sangat cantik, sayang." puji Alexias.
Lora tersipu malu, "Terima kasih, sayang." jawab Lora dengan suara pelan.
Alexias kaget. Matanya melebar. Ini pertama kalianya Lora dengan malu-malu memanggilnya 'sayang'. Lora jarang sekali memanggilnya mesra. Karena itu Alexias merasa sangat senang dengan wajah merona ia langsung memeluk Lora erat-erat.
__ADS_1
*****