Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 32. Kenyataan (2)


__ADS_3

Lora bercerita semuanya, tanpa ada satu hal pun yang ditutupi. Ia bahkan menceritakan awal kedatangannya menemui Hannah. Sampai ia mengakui tentang kehamilannya.


" ... begitulah," kata Lora.


"Jadi, semua ini benar?" tanya Alexias.


"Apa? apanya?" tanya Lora bingung.


Alexias menyerahkan sebuah amplop cokelat. Lora menerima dan membuka amplop, ia mengelurkan isi dalam amplop. Mata Lora melebar, ia menatap Alexias dengan tatapan mata heran.


"Kau sudah tahu?" tanya Lora dengan suara pelan.


"Hm, sebenarnya bukan aku yang mencari tahu. Agatha merasa curiga dan mencari tahu. Ia meminta dokter melakukan tes DNA antara aku dan anak-anak. Namun, dokter yang mengurusnya membuat janji temu denganku beberapa hari yang lalu dan menyerahkan ini. Aku tidak terlalu kaget, karena aku memang merasa ada yang aneh. Rasanya aku tidak asing dengan anak-anak, aku pun tidak bisa tidak memikirkan mereka. Maaf, aku bukan bermaksud sembunyi-sembunyi. Aku tahu kau pasti tersinggung, maafkan aku." jelas Alexias. Ia meeasa bersalah karena Agatha mencari informasi secara diam-diam akan kebenaran yang ada.


Lora tersenyum tipis, "Wow, orang berkuasa memang berbeda, ya? aku tidak menyangka saja saudari kembarmu akan melakukan hal sejauh ini." kata Lora.


"Umh, maaf." gumam Alexias.


Lora tertawa, "Hahaha ... " Lora menyeka air matanya, "Astaga, Lex. Aku tidak bisa menahan tawaku, maaf. Kau tahu? aku sama sekali tidak marah. Kalian berhak mencari tahu, kau kan memang Papi kandung anak-anak, Agatha juga Bibi mereka. Agatha pasti sangat penasaran, sehingga ia melakukan tes ini, kan?" kata Lora.


"Mungkin saja. Aku belum bicara lagi pada Agatha. Karena Agatha juga belum mengatakan apapun terkait ini. Aku terpaksa memberitahumu, karena aku tidak mau kau terluka dan merasa masalah pribadimu ku usik." jelas Alexias.


"Pria ini, semakin lama semakin berbeda. Jelas-jelas dia bisa saja membongkar semuanya di depan orang-orang secara langsung. Namun, dia justru meminta waktu hanya ingin bicara secara pribadi saja denganku. Apakah pria ini sungguh bisa kupercaya? dia tidak akan sama seperti Evan, kan?" batin Lora.


"Dia benar-benar marah, ya? kenapa dia diam? aku harus bagaimana?" batin Alexias khawatir.


"Lex ... " panggil Lora.


"Lora ... " panggil Alex.


Mereka saling memanggil pada waktu yang sama. Keduanya kaget, wajah mereka memerah.


"Ah, kau duluan." kata Alexias.


"Tidak. Kau dulu," jawab Lora.


"Apa kau marah pa-padaku?" tanya Alexias khawatir.


"Kenapa harus marah? apa kau kira aku seseorang yang berpikiran sempit sampai harus marah padamu tanpa alasan." jawab Lora.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau diam. Kalau bukan marah, apakah kau sedang memikirkan sesuatu? kau tidak nyaman di dekatku lama-lama?" tanya Alexias lagi.


"Bukan, Lex. Bukan itu yang ku maksudkan. Aku hanya sedang berpikir saja. Sesaat aku menilai sesuatu. Jika boleh aku jujur, apakah kau memang orang seperti ini?" tanya Lora ingin tahu.


"Apa? seperti apa? tolong bertanya yang jelas. Agar aku bisa menjawab dengan pasti." jawab Alexias.


"Apa alasanmu baik padaku dan anak-anak? apa karena kau merasa bersalah padaku enam tahun lalu? apa kau juga merasa kasian pada anak-anak? atau ... " belum selesai Lora bicara, Alexias memotong ucapan Lora.


"Karena aku menyukaimu. Bisa dikatakan, aku jatuh cinta padamu sejak awal pertemuan kita. Bisa menghabiskan waktu denganmu, itu sudah seperti mimpi. Meski hanya semalam, aku tidak akan pernah melupakannya. Ini memang terdengar konyol dan aneh. Namun, inilah kenyataanya, Lora. Pikiranku tidak bisa melupakanmu. Aku bahkan sampai terus memimpikan malam itu. Karena itu aku terus mencarimu, semampuku, sebisaku, agar aku bisa bertemu lagi dengammu." jawab Alexias menjelaskan.


Hiks ....


Lora menangis. Ia sedih, ia juga tidak bermaksud memanfaatkan Alexias dengan pergi tanpa berpamitan. Namun, Lora tidak punya pilihan karena ia juga takut pada keluarganya. Saat kembali ke rumah, kelaurga yang sangat berharga baginya menolak dan mengusirnya. Sepupu dan tunangannya berkhianat. Ia pun tidak bisa berbalik dan menemui pria yang menghabiskan malam panas dengannya.


"Jangan menangis, kumohon." pinta Alexias.


"Aku merasa bersalah, Lex. Aku juga merasa bodoh. Meski itu semua masa lalu, tetapi ini sangat menyakitkan." keluh Lora.


"Kau mau kupeluk? kemarilah," kata Alexias menatap Lora.


Lora menatap Alexias, kedua pasang mata itu saling bertemu. Tanpa bicara, Lora langsung memeluk Alexias dan menangis di dalam pelukan.


"Maaf, aku terlambat. Jika aku bisa menrmukanmu sejak awal, kau tidak akan terluka dalam seperti ini. Maafkan aku," bisik Alexias.


Alexias menepuk pelan punggung Lora. Berusaha menenangkan Lora. Tanpa terasa, Lora terlelap tidur di pelukan Alexias.


"Lora ... " panggil Alexias pelan.


Tidak ada jawaban dari Lora. Alexias membenarkan posisi Lora, mendudukan Lora di bangku di sebelahnya dan memasang sabuk pengaman untuk Lora. Alexias lalu mengirim pesan pada Agatha. Meminta Agatha lebih lama menemani anak-anak. Ia menegaskan jika ia akan menceritkan semuanya pada Agatha saat ia kembali. Setelah mengirim pesan, Alexias memasang sabuk pengaman untuknya dan mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.


***


Agatha menerima pesan dari Alexias dan membaca pesan tersebut. Kening Agatha berkerut sedikit saat tahu jika ia Alexias membutuhkan banyak waktu untuk bicara berdua dengan Lora.


"Sepertinya mereka sedang bicara sesuatu hal yang serius, ya. Sampai-sampai Alexias mengirim pesan seperti ini padaku," batin Agatha.


"Bibi, aku ingin makan cemilan." kata Odellia.


"Oh, ok. Annah, Lesi juga mau? ayo makan cemilam bersama-sama. Bibi beli banyak." jawab Agatha.

__ADS_1


"Mau, Bi." jawab Oriana.


"Aku, aku. Aku mau yang banyak." sahut Olesia.


"Itu milikku," sela Odelli tidak mau kalah.


Agatha tersenyum, "Hei, hei. Tidak boleh berebut. Bibi beli ini untuk kalian, tidak akan ada orang lain yang memakannya. Kalian juga tidak boleh bertengkar hanya karena makanan. Bagaimana jika kalian saling menyuapi antar saudari. Rasa kue yang kalian makan kan beraneka rasa. Biarkan saudari kalian tahu rasa masing-masing kue yang kalian makan." jelas Agatha.


Ketiganya mengangguk. Mereka melakukan apa yang diinginkan Agatha. Mereka saling mencicip rasa kue dari masing-masing bungkus yang berbeda yang dibuka. Agatha senang melihat ketiga keponakannya akur.


"Senang sekali. Jika anakku masih hidup, mungkin saja dia bisa bermain dengan mereka dan menjaga mereka." batin Agatha.


"Anak-anak. Boleh Bibi bertanya?" tanya Agatha.


"Tanya apa, Bi? jawab Olesia.


"Tanyakan saja. Jika kami bisa jawab, akan jawab." jawab Odellia.


"Iya, Bi. Jangan ragu untuk bertanya." sambung Oriana.


"Hm, ok. Bibi memang ragu untuk bertanya, tetapi Bibi hanya ingin tahu pendapat kalian saja. Seandainya, ini hanya seandainya. Bukan berarti sungguhan. Ingat, seandainya. Paman Alexias adalah Papu kalian, dan Bibi ini adalah Bibi kalian. Apakah kalian akan menerima? apakah kalian akan bahagia? kalian akan senang?" tanya Agatha.


Oriana, Olesia dan Odellia terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain bingung. Agatha kaget, ia tanpa sadar mencecar keponakan-keponakannya karena terbawa emosi.


"Ah, bodoh sekali kau Agatha. Mereka kan masih kecil, bagaimana bisa kau mencecar mereka seperti ini? kau bahkan bertanya dengan penuh emosional." batin Agatha.


Oriana memegang tangan Agatha, "Jika itu benar, tentu kami akan sangat bahagia." jawab Oriana.


Agatha kaget, "Apa?" kata Agatha menatap Oriana.


Olesia mencium pipi Agatha, "Meski Bibi bukan Bibi kami, kami menyukai Bibi. Karena Bibi baik pada kami." kata Olesia.


"Bibi, jika apa yang Bibi katakan benar. Tentu saja kami senang. Paman sangat baik, Bibi juga. Kami yang tidak bis tahu siapa Papi kami sejak lahir, pasti akan sangat senang." jawab Odellia tersenyum.


"Anak-anak ... " gumam Agatha dengan mata berkaca-kaca.


Agatha senang. Setidaknya anak-anak mau menerima Alexias dan dirinya sebagai keluarga. Agatha berniat untuk memberitahu apa yang sudah ia selidiki pada Alexias dan Lora. Kebenaran jika Alexias adalah Ayah kandung Oriana, Olesia dan Odellia.


*****

__ADS_1


__ADS_2