Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 75. Cerita Evan (1)


__ADS_3

Rein baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dan berjalam menuju ruang gantinya untuk berganti pakaian. Setelah berganti, ia duduk di kursi yang berada di depan cermin rias. Ia mengambil sisir dan menyisir rambut hitam panjangnya perlahan-lahan. Matanya tajam menatap ke arah cermin.


"Lelah sekali. Tidak menyangka pestanya akan selama itu. Karena ini pesta teman sekolah, mau tidak mau aku harus bertahan sampai akhir pesta. Biasanya aku hanya akan bertahan setengah jalan." batin Reine menatap cermin di hadapannya. Ia mengamati wajahnya di cermin sembari tangannya terus menyisiri rambutnya.


Cukup lama Reine berada dalam posisinya itu. Ia pun akhirnya selesai menyisir, sisir diletakan kembali ke atas meja dan ia mengambil pelembab wajahnya. Ia mengeluarkan isi krim dari dalam botol ke punggung tangannya. Lalu ia mengoleskan dengan lembut krim itu ke wajahnya. Setelah semua wajahnya rata di oles krim, ia menepuk perlahan wajahnya agar krim bisa merasuk sempurna ke dalam pori-pori kulit wajahnya.


Reine berdiri dari duduknya, pergi meninggalkan ruang gantinya. Ia kembali masuk dalam kamarnya untuk istirahat. Baru saja ia melangkah masuk dalam kamar, ia mendengar ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering. Dengan langkah kaki yang cepat, Reine segera menghampiri nakas yang berada di sisi tempat tidur. Ia pun duduk di tepi tempat tidurnya dan mengambil ponselnya. Ia melihat layar ponselnya, dahinya langsung berkerut melihat nama yang ada di layar ponselnya.


"Evan ... " gumam Reine. Ia bingung karena Evan terus saja menghubunginya. Sebab, banyak panggilan tidak terjawab dari Evan.


"Untuk apa dia menghubungiku? ini bahkan sudah hampir pukul sepuluh malam." lanjutnya bergumam, ia menatap jam di dinding kamarnya. "Apa dia ingin tanya kenapa aku tidak pulang ke apartemen? khawatir? atau ... ah, sudahlah. Apa peduliku. Aku tidak akan jatuh ke permainan yang sama seperti yang sudah-sudah. Wanita itu harus punya harga yang mahal, Reine." gumam Reine lagi.


Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Reine mebgabaikan. Akan tetapi Evan tidak menyerah untuk menghubungi Evan. Karena ponselnya terus berdering, Reine pun merasa tidak nyaman. Ia akhirnya menerima panggilan dari Evan dan bicara dengan Evan. Reine langsung menegur Evan yang dirasa mengganggunya.


"Ya, ada apa? apa kau suka mengganggu jam tidur orang?" kata Reine. Karena penasaran, Reine pun langsung bertanya apa tujuan Evan menghubunginya.


"Reine ... " panggil Evan pelan.


"Ya, ada apa? apa ada sesuatu?" tanya Reine penasaran. "Cepat bicara. Aku tidak punya banyak waktu untuk menerima panggilanmu." sambung Reine, mendesak Evan agar lekas bicara apa kepentingannya.


"Kau sudah tidur? apa aku sudah mengganggu tidurmu? maafkan aku, Reine. Aku tidak bermaksud menganggumu. Aku hanya ... " kata-kata Evan terhenti dan langsung disela oleh Reine.


"Aku hanya ... hanya apa, Evan? ada apa denganmu? kau sakit, ya?" sahut Reine. Ia masih begitu penasaran dengan maksud dan tujuan Evan menghubunginya. "Tidak perlu berbasa basi lagi. Langsung saja pada intinya," kata Reine.


"Aku ... " kata Evan terhenti sesaat. Tidak lama ia melanjutnya ucapannya. "Aku ... rindu padamu, Reine. Pulanglah." lanjutnya mengejutkan Reine.


Reine mengernyitkan dahi, "Hei, apa kau sedang mabuk? apa maksudmu? bukankah kau senang aku menjauh darimu? drama apa lagi ini, Evan?" tanya Reine kebingungan. Ia benar-benar tidak mengerti akan apa yang dibicarakan Evan.


"Dia ini kenapa? Rindu padaku, apa maksudnya sebenarnya? Ahh, membuatku bingung saja. Untuk apa juga dia rindu padaku. Bukankah tadi saat bertemu dia hanya menunjukan wajah jijik padaku? bahkan dia tidak pernah bilang 'Rindu' setelah sekian lama. Hah, dia kira aku akan mudah ditipu, begitu? tidak akan! aku hanya akan percaya pada pemikiranku saja mulai detik ini." batin Reine.


"Haha ... " tawa Evan tiba-tiba. Ia pun langsung meminta maaf pada Reine dan meminta Aiko melupakan apa yang ia dengar. "Maafkan aku, Reine. Karena banyak minum aku pun hilang kesadaran. Aku menghubungimu untuk menanyakan kabarmu karena kau tidak pulang ke rumah Papa dan Mamaku juga tidak ada di apartemenku. Namun, ucapanku justru melantur kemana-mana. Maaf," jelas Evan.


Lagi-lagi Reine dibuat bingung oleh Evan. Ia diam sesaat mencerna ucapan Evan. Ia semakin tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya di telepon itu. Kalimat yang pertama diucapkan belum bisa dimengerti, lawannya sudah mengatakan kalimat lain yang semakin membuatnya bingung.


Hampir saja Reine goyah untuk sesaat setelah mendengar kata 'Rindu' yang diucapkan Evan. Namun, ia kembali tersadar jika itu bisa saja hanya bualan Evan. Reine yakin jika Evan hanya berpura-pura seperti sebelumnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi percaya pada Evan.

__ADS_1


***


Dilain tempat, di Apartemen. Di kamar tidur. Evan, ia sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Ia menatap langit malam yang penuh bintang dan diterangi sinar rembulan. Ia stres karena Mamanya terus mencari keberadaan Reine padanya. Sedangkan ia tidak tahu di mana Reine berada saat ini. Karena ia tidak bisa bicara dengan Reine lebih jauh lagi.


Di saat bersamaan, Evan mendapatkan panggilan dari temannya yang sedang bercerita. Jika temnanya itu baru saja pergi ke acara pesta ulang tahun teman dari kekasihnya. Yang mana pesta tersebut juga dihadiri oleh Reine.


Percakapan di telepon*


"Bagaimana di pesta? kau menikmati pestanya," tanya Evan memecah keheningan.


"Ya, begitulah. Kau kan tahu bagaimana suasana di pesta. Kau juga tahu aku kan paling tidak betah berlama-lama berada di lingkungan yang banyak orang atau pun kerumunan. Karena tadi adalah ulang tahun sahabat kekasihku, makanya aku menunjukan sisi baikku. Dan mau tidak mau aku harus tahan sampai pesta usai." jelas seseorang di ujung panggilan menceritakan.


Evan tersenyum mendengar cerita temannya itu. Ia bisa membayangkan ekspresi wajah temannya saat bercerita. Ia sudah hafal setiap Ekspresi yang akan wajah yang akan temannya tunjukan. Bahkan Evan sampai bisa membaca arti senyuman temannya yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain.


Seseorang di ujung panggilan merupakan teman baik Evan semasa sekolah. Meski kini mereka jarang sekali bertemu. Dulu, Evan selalu terbuka pada temannya itu. Tapi, sekarang rasanya malu, jika sampai apa yang ia alami diketahui temannya itu.


"Kau sangat menikmati pestanya, ya. Hahaha ... " kata Evan yang langsung tertawa.


"Hei, ada apa? kau mengirimku pesan berisi ingin bicara sesuatu hal yang penting. Apa itu? Apa soal kekasihmu, siapa itu ... ah, aku lupa namanya. Kalau tidak salah, Lo ... Lola, ya?" kata si teman. Ia menebak-nebak nama yang ia ingin sebutkan.


"Oh, benarkah?" sahut si teman tidak percaya dengan apa yang evan jawab. Ia merasa ingatannya tidak akan pernah salah.


"Ya, benar. Hm ... apa, ya. Aku ingin cerita. Tapi, sepertinya kita harus cari waktu yang tepat." kata Evan. Ia mengurungkan niatannya bercerita perihal kehidupan pribadinya yang kacau balau.


"Kenapa nanti, jika ingin cerita sekarang. Jangan menunda apa yang ingkn kau katakan, Evan. Apa kau tidak merasa, kau ini aneh?" kata teman Evan tiba-tiba.


Evan kaget, "Me-merasa apa?" gumam Evan.


"Merasa ... ya, begitulah. Aneh saja menurutku. Mungkin saja karena kau jarang menunjukannya, tetapi aku kan sudah kenal kau sejak lama. Sampai sifat burukmu dan semua kebiasaan aku juga tahu. Ingat, kau selalu mengeluh dan mengadu padaku saat ada yang mencoba mengusikmu" kata si teman menerawang masa lalu.


Evan diam sesaat lalu tertawa, "Hahaha ... jangan terus mengingatnya. Aku jadi malu sendiri, kan. Apa dulu aku seburuk itu sampai semua hal kuluapkan padamu?" sahut Evan menanggapi ucapan temannya.


"Bukan buruk, Evan. Aku tidak masalah kau mengeluh. Karena aku kan juga terkadang mengeluh padamu. Ya ... sudahlah jika kau tidak jadi cerita. Tidak apa-apa. Masih banyak waktu untukmu bercerita padaku." jelas si teman begitu ramah.


"Ya, terima kasih. Semoga kita bisa terus menjalin hubungan baik, teman." kata Evan berharap.

__ADS_1


"Apa lagi yang kau katakan, Evan. Hei, hei, hei ... kau kenapa sebenarnya? berikan alamatmu berada sekarang. Aku akan langsung datang menemuimu." kata si teman yang mulai merasa aneh.


Evan mengernyitkan dahi, "Ada apa? kenapa kau bicara seperti itu? seolah aku seperti anjing gila saja. Tentu saja aku baik-baik saja. Kau ini sudah terlalu khawatir melebihi Mamaku." jawab Evan mencoba menenangkan si teman yang terlihat panik dan cemas.


"Aku khawatir karena kau temanku, Evan. Jika bukan, aku tidak perlu repot menkhawatirkanmu juga mencemaskanmu." tegas si teman.


"Terima kasih. Kau memang yang terbaik, baik itu dulu atau pun saat ini. Maafkan aku jika aku selalu menjadi beban bagimu. Namun, aku akan berusaha agar aku bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan orang lain. Saat aku membutuhkam bantuan, kau lah orang pertama yang akan kumintai pertolongan." ungkap Evan. Ia mengucapkan terima kasih pada temannya. dan mengungkapkan apa yang ia pikirkan.


"Tidak perlu sungkan, Van. Kita buka orang asing yang baru saling mengenal. Hubungi saja aku jika kau butuh bantuan atau apapun itu. Aku akan bantu semampuku, selagi aku bisa." jawab ramah si teman.


"Istirahatlah. Ini sudah hampir tengah malam. Aku tutup dulu panggilanku. Jangan terus menghubungiku. Pulang dan tidurlah, jika masih ingin hidup. Hahaha ... " goda Evan lagi. Ia sangat suka menggoda dan menjahili temannya itu.


Si teman juga terdengar sedang tertawa, "Hahaha ... mulutmu masih sama saja, ya." kata si teman setengah mengejek.


"Memang mulutku harus berubah menjadi mulut ayam?." jawab Evan lagi. Ia sengaja membuat lelucon untuknya dan temanya bisa tertawa bersama.


"Kau sedang apa? Pekerjaanmu bagaimana?." tanya si teman.


"Tidak ada yang istimewa untuk kulakukan." jawab Evan.


Si teman menguap, "Hoaaaam ... ya, ya, ya. Aku mau mansi lalu, tidur. Sepertinya aku sudah sangat mengantuk. Lain waktu ayo minum kopi bersama, Van. Ajaklah kekaaihmu juga. Aku akan kenalkan kau dan kekasihmu pada kekasihku yang sekarang." kata si teman. Berpikir untuk mengajak Evan kencan bersama.


"Ya, itu tidak bisa langsung kuputuskan begitu saja. Aku perlu melihat jadwal kerjaku dan menyusun semuanya." Alasan Evan.


"Ya, baiklah. Terserah kau saja. Sudah dulu, ya." sahut si teman.


Teman Evan pun mengakhiri panggilannya. Evan lalu, menatap layar ponselnya. Di layar ponsel, terpampang foto dirinya dan Reine. Keduanya mengenakan pakaian dengan motif dan warna senada. Ujung jari tangan kanannya mengusap wajah Reine yang ada di layar ponsel sesaat.


Jemarinya bergerak menggeser icon di ponsel. Ia membuka galery dan menemukan banyak sekali foto-foto lama ia dan Lora. Juga foto-foto lucu dan menggemaskan milik Lora. Evan menekan sebuah foto lalu, mengubah foto itu menjadi wallpaper di layar ponselnya.


"Kenapa aku begini? aku dulu mendekati Lora tanp tujuan apa-apa. Karena dia populer dan bintang sekolah, aku ingin juga jadi pusat perhatian. Tapi, setelah saat itu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Bagaimana lagi aku harus mengutarakan perasaanku padamu, Lora? aku menyukaimu. Ya ... sepertinya aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu." batin Evan. Ia masih memandangi foto Lora di layar ponselnya.


"Aku akan berusaha melakukan apapun untuk bisa mendapatkanmu lagi, Lora. Asalkan kau mau dan bahagia bersamaku. Tidak boleh ada seorang pun yang boleh memilikimu selain aku," gumam Evan tersenyum tipis.


Evan mengusap foto Lora di layar ponselnya. Ia mengembangkan senyuman dan tidak lama ia mengecup layar ponselnya. Kecupan singkat itu, tepat mengenai wajah Lora.

__ADS_1


*****


__ADS_2