
Lora baru saja menjemput anak-anaknya di sekolah. lalu, ia membawa ketiga putrinya ke sebuah boutique untuk memesan gaun pesta, guna menyambut hari ulang tahun si kembar tiga yang keenam. Pesta tersebut akan terselengara satu bulan ke depan.
"Silakan, Nyonya. Anda ingin model yang seperti apa?" tanya sang Designer.
"Hm ... yang tidak terlalu rumit dan sederhana saja. Panjangnya kira-kira selutut atau bisa dibawahnya. Anak-anak kurang suka dengan gaun mengembang dan panjang menjuntai sampai lantai." jelas Lora, ia mewakili anak-ananya untuk bicara.
"Sebentar, saya akan carikan contoh designnya dulu. Siapa tahu ada sesuai keinginan Anda. Ah, untuk warna? warna apa yang Anda inginkan?" tanya Designer itu sambil sibuk membuka beberapa filenya mencari gambar design lamanya.
"Biru muda, cream, atau peach. Tolong janagn rekomendasikan warna pink. Karena anak-anak juga kurang suka dengan warna tersebut." jawab Lora lagi.
Lora lantas memberi gambaran sedikit mengenai kesukaan masing-masing anaknya. Ia meminta dibuatkan warna senada dengan model yang berbeda dan hiasan yang berbeda pula. Dengan sabar Lora menerangkan. Ia tidak mau menyusahkan Designer yang duduk di hadapannya, juga tidak mau mengecewakan anak-anaknya dengan hasil yang kurang bagus.
***
Alexias ddatang. Meski terlambat, ia berhasil menyelesaikan semua pekerjaanya secara kilat dan tepat tanpa cela. Ia ingin melihat design gaun yang akan anak-anaknya gunakan. Sebagai Papi yang mencintai ketiga putrinya, ia merasa tidak mau kehilangan momen indah tersebut.
"Apa aku melewatkan bagian pentingnya?" tanya Alexias, yang baru saja amsuk dalam ruangan.
Lora dan Designer menatap ke arah Alexias bersamaan. Designer tersenyum dan menyambut Alexias.
"Hallo, Tuan Muda. Selamat datang. Maaf, saya tidak menyambut dengan benar." kata Designer itu.
Alexias duduk di samping Lora, "Hallo Bibi Richelle. Apa kabar Anda, Anda masih terus sibuk, ya." sapa balik Alexias ramah.
Ternyata, Designer itu adalah Sahabat baik Mama Alexias, Erlisa. Keduanya sudah berteman baik sejak masih kecil. Bhan sampai sekarang, Richelle dan Erlisa masih berhubungan baik.
"Maaf, Nak. Bibimu ini tidak bisa hadir di acara pernikahanmu. Istrimu ini sngat ramah dan sabar, ya. Dia bahkan menjelaskan apa yang dia inginkan dengan sangat mendetail dan jelas." puji Richelle. Ia merasa kagum pada Lora.
Lora bingung, ia masih memahami situasi. Alexias lalu, mengenalkan secara resmi Richelle dan Lora.
__ADS_1
"Sayang, kau pasti bingung. Beliau adalah teman ah ... bukan, mungkin lebih dari sekedar teman. Yang jelas beliau orang terdekat Mamaku. Namanya Bibi Richelle Nevv. Pada saat acara pernikahan kita, gaun yang kau buat adalah rancanagn beliau. Meski beliau ada di luar negeri, hanya berbekal arahan dan data pengukuran dari Asisten, serta rasa hormat Beliau ke Mama, beliau dengan serius megerjakan gaun itu. Sayang sekali, beliau tidak bisa hadir di acara prnikahan kita." Alexias menjelaskan detail tentang siapa itu Richelle pada Lora.
Lora yang awalnya bingung langsung paham setelah suaminya menjelaskan. Ia meminta maaf pada Richelle, karena tidak tau soal Richelle.
"Oh, begitu." sahut Lora, ia menatap Ricvhelle lalu meminta maaf. "Maaf, karena saya tidak tau tentang Anda" ucap Lora canggung
Richelle tertawa, "Hahaha ... tidak apa, Nak. Jangan terlalu kaku begitu,santai saja denganku. Anggap aku seperti Bibimu sendiri." jawab Rihell. Ia ingin Lora merasa nyaman saat berada di dekatnya.
"Baik," jawab Lora ia menganggukkan kepala perlahan.
"Bibi adalah orang yang sangat baik, sayang." sahut Alexias.
Lora awalnya merasa canggung. Namun, ia akhirnya mulai terbiasa dengan suasana yang ada. Ketiganya melanjutkan pembicaraan membahas tentang gaun yang akan di kenakan si kembar tiga. Sementara kedua orang tua sibuk berdiskusi, si kembar tiga menunggu Papi dan Mami mereka di ruang tunggu, ditemani oleh dua orang pelayan yang tidak bertugas
Sekitar satu jam lebih, Alexias dan Lora bicara dengan Richelle. Ketiganya akhirnya mencapai titik temu. Asisten Richelle sedang melakukann pengukuran pada si kembar tiga, untuk gaun acara ulang tahun ketiganya.
***
"Papi, Mami, aku bosan." keluh Oriana.
"Ya, ya. Aku juga sama." sambung Olesia. "Selama sebulan ini kami terus belajar di sekolah. Dan waktu bermain hanya di rumah. Karena para Bibi di rumah takut kami terluka. Mereka selalu mengawasi kami saat bermain, dan kami tidak boleh bermain ke luar meski hanya sebentar." keluh Olesia.
"Oriana dan Olesia benar, Papi, Mami. Ayo, ajak kami jalan-jalan," sambung Odellia.
Lora dan Alexias saling bertatapan. Mereka tidak menyangka jika akan mendapatkan keluhan dari anak-anak mereka.
"Hm ... anak-anak, se ... " ucapan Lora terhenti, karena Alexias tiba-tiba menyela.
"Ok. Ayo, kita pergi jalan-jalan." kata Alexias, mengiakan ajakan ketiga putri kesayangannya.
__ADS_1
Lora menatap Alexias, "Apa yang kau lakukan, Lex? bukankah kau masih ada pekerjaan? bagaimana bisa kau seperti ini?" tanya Lora. Ia cemas, karena Alexias harus mengorbankan waktu bekerja demi anak-anak mereka.
Dengan senyuman Alexias pun menjawab, "Tidak masalah. Aku bisa meminta bantuan Agatha untuk menghadiri rapat sebagai penggantiku. Rapat ini juga tidak terlalu penting. Meski demikian, tetap harus ada seseorang yang bisa diandalkan. Agatha salah satunya." Begitulah Alexias akhirnya membuat Lora terdiam sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sungguh tidak apa-apa? jangan membohongiku," ternyata Lora masih belum sepenuhnya percaya akan ucapan Alexias.
"Aku tidak bohong, sayang. Untuk apa aku berbohong?" jawab Alexias.
"Iya juga. Dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang amat sangat penting. Mungkin, aku memang harus percaya pada ucapannya kali ini. Ya, meski aku takut jika akan ada masalah yang timbul, jika sampai ia lali dalam pekerjaannya." batin Lora.
Tangan Alexias mengusap kepala Lora lembut. Membuat Lora langsung membuyarkan lamunannya. Lora memalingkan wajah menatap suaminya yang sedang mengemudi.
"Ada apa? apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" tanya Alexias kepada Lora.
Lora melebarkan mata, "Tidak ada apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja." jawab Lora tersenyum tipis mengalihkan rasa kagetnya.
"Soal apa?" lanjut Alexias bertanya.
"A-apa?" sambung Lora langsung.
Alexias menatap Lora sekilas lalu, kembali menatap jalan. Ia pun mengulang pertanyaan yang tadi ia tanyakan.
"Aku bertanya, hal apa yang kau pikirkan?" ulang Alexias.
"Oh ... " Lora ber oh ria. Ia lalu menjawab, "Tentu saja tentang pesta anak-anak. Aku masih memikirkan, apa ada yang belum masuk daftar undangan. Aku takut melewatkan seseorang yang penting. "jelasnya.
"Pikirkan itu pelan-lahan, sayang. Jangan terlalu keras berpikir." kata Alexias perhatian.
Senyum Lora mengembang, "Ya, terima kasih." jawab Lora.
__ADS_1
Sepanjang jalan merek kembali mengobrol. Tidak hanya Alexias dan Lora saja, tetapi juga si kembar tiga, oriana, Olesia dan Odellia.
*****