
Lora*
Aku membuka mataku. Ternyata aku terlelap tidur setelah menangis dipelukan Alexias. Saat kulihat sekeliling, aku merasa asing. Di mana tempat, ini? ini bukan kamarku.
Aku turun, kakiku melangkah menyelisik kamar yang asing bagiku. Aku tersadar, ini adalah Alexias. Setelah aku melihat fotonya yang terpajang di dinding dengan ukuran yang super besar. Ku dekati foto itu, ku raba dan ku amati. Benar-benar wajah yang rupawan. Luar biasa, pria ini sangat sempurna.
Klekkk ....
Suara pintu kamar. Suara yang tak asing menyapaku. Ya, Alexias masuk ke dalam kamar dan menghampiriku.
"Sejak kapan kau berdiri di sini?" tanya Alexias, berdiri di sebelahku.
"Baru saja. Aku baru bangun tidur. Kita di rumahmu, ya?" tanyaku.
"Oh, itu. Maaf. Aku tidak mau membangunkanmu yang tertidur lelap. Aku membawamu pulang, karena aku harus memeriksa sesuatu di ruang kerja." jawab Alexias.
"Anak-anak pasti mencari kita yang tidak kunjung kembali" kataku.
"Tidak masalah. Tadi Agatha ku hubungi, aku juga sudah bicara pada Anak-anak jika kau tidur." jawab Alexias.
Aku melirik sedikit ke arahnya, ia tampak berbeda hanya dengan mengenakan kaus. Biasanya aku hanya melihatnya berkemeja. Mataku terpaku melihat otot perut dan dada bidangnya yang tercetak jelas. Gila! ini gila! pikiranku langsung berkeliling. Aku bahkan membayangkan hal mesum.
"Tidak, tidak boleh!" gumamku, menggelengkan kepala.
"Kenapa?" sahut Alexias. Rupanya ia mendengarku bergumam.
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya terpikirkan hal aneh saja." jawabku beralasan.
Pasti saat ini wajahku sudah seperti udang rebus. Aku sangat malu, hanya bisa menundukan kepala.
"Kau ingin mandi? ingin berendam? aku akan siapkan air hangatnya untukmu," tawarnya padaku.
"Ah, tidak. Aku akan mandi saja. Tidak perlu berendam." jawabku langsung.
Kurasakan tubuh Alexias mendekat, ia memegang tanganku yang masih menyentuh fotonya di dinding. Dia berbisik sesuatu di telingaku, yang membuatku semakin malu.
"Apa kau suka meraba dadaku?" tanyanya berbisik.
Aku memalingkan wajah menatapnya, "A-apa? apa maksudmu?" tanyaku bingung.
__ADS_1
Kurasakan cengkram tangannya di tanganku. Ia semakin dekat, bahkan dia mendorongku semakin dekat ke foto dengan tubuhnya.
"Lihat tanganmu menyentuh apa? kau meraba foto dadaku, Nyonya." bisiknya lagi.
Pandanganku teralihkan. Aku melihat lagi apa benar apa yang pria ini katakan. Betapa kagetnya aku, ternyata tanganku memang benar meraba foto bagian dada miliknya.
"I-ini. Bu-bukan seperti yang kau pikirkan. Aku, aku, aku ... " kata-kataku terhenti, saat tiba-tiba Alexias memelukku dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Tidak apa-apa. Sentuh saja sepuasmu. Jika kau mau, kau bisa sentuh yang asli. Bukankah yang asli lebih bisa dirasakan?" katanya.
Deg ... deg ... deg ....
Jantungku berdegup kencang. Rasanya sedang melompat-lompat ingin keluar. Tubuhku juga merasa sedikit panas. Anehnya, aku tidak bisa menolak perlakuannya. Pelukan ini, terasa nyaman.
"Aku boleh begini, kan? sebentar saja. Aku ingin seperti ini sebantar." gumamnya.
Apa dia tipikal pria yang manja? dia seperti anak-anak yang merengek ingin sesuatu. Tanpa kusadari, senyumku mengembang. Aku mengusap tangannya yang melingkar di perutku. Tangan besar dan kuat ini, seperti ular yang membelit mangsanya.
"Berapa lama kau akan seperti ini?" tanyaku.
Pria di belakangku ini hanya diam tidak menjawab. Aku penasaran, seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. Apakah selucu dan semenggemaskan si kembar? aku melapas lilitan tangannya dan berbalik memutar badanku.
Alexias memejamkan matanya saat kusentuh wajahnya. Dia memegang tanganku yang menempel di pipinya. Aku bisa merasakan dia mencium tepalak tanganku.
"Kau terpesona olehku?" tanyanya.
Aku tersenyum, "Apa boleh begini? kau curang," jawabku.
Dia membuka mata dan tersenyum, "Teruslah melihatku. Jangan alihkan pandanganmu dariku. Jadikan aku milikmu. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama." ucapnya dengan begitu manis.
Tangannya menyentuh rambutku dan membelai kepalaku perlahan. Sentuhan itu menjalar ke wajahku, dan berakhir di tengkuk leherku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Jawab dulu permintaanku. Apa kau bisa hanya melihatku? dan tidak melihat laki-laki lain?" tanyanya.
"Tergantung," jawabku langsung.
Kulihat dahinya berkerut. Pria ini sedang berpikir rupanya. Apa dia memikirkan jawabanku, ya? hahaha ... lucu sekali dia.
__ADS_1
"Tergantung bagaimana kau berusaha. Jika kau bisa membuatku selalu melihat ke arahmu, kenapa aku harus berpaling." lanjutku bicara.
Senyum lebar mengembang di wajahnya, "Baiklah. Apapun yang kau inginkan. Aku akan lakukan. Akan kubuat kau selalu menatapku mulai saat ini." jawabnya penuh keyakinan.
Pria di hadapanku perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat sampai hidung dan dahi kami bersentuhan.
"Jawab pertanyaanku. Apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku.
Aku menatapnya, dia manatapku. Pandangan mata kami bertemu. Alexias mengusap tengkuk leherku.
"Tidak perlu kujawab. Karena aku akan menunjukkannya langsung padamu." jawabnya.
Sesaat setelah dia bicara, pria di hadapanku inipun mencium bibirku. Bibirny menempel di bibirku, perlahan kurasakan tepian bibirku basah karena ia menyapunya dengan lidahnya. Rasanya aneh, apa karena aku sudah lama tidak berciuman? jika dipikir-pikir, selama enam tahun ini, aku tidak pernah perciuman lagi. Terakhir aku berciuman saat malam panas itu.
Alexias menggigit lembut bibir bawahku, berusah membuatku membuka mulut. Saat mulutku sedikit terbuka, lidahnya dengan leluasa mencari dan melilit lidahku. Ciuman kami semakin dalam. Aku hany bisa menutup mataku menikmati momen manis ini. Pria ini bagaikan penyihir, aku tidak mampu menolak bahkan melepaskan diri.
Cukup lama kami berciuman. Kami pun saling melepaskan ciuman dan kembali saling menatap.
"Bagaimana? sudah tahu apa yang kulakukan, kan?" ucapnya tersenyum.
Aku mengantupkan bibirku dan terdiam. Aku sangat malu, sampai ingin membenamkan wajahku ke dinding.
Alexias memegang kedua tanganku, "Aku akan berusaha membuatmu nyaman dan aman berada di dekapanku. Aku akan menjadi pelindungmu juga anak-anak kita. Aku tidak memaksamu harus menerimaku saat ini, tetapi aku ingin kau memberiku kesempatan. Akan kubuktikan, jika aku layak untukmu." ucapnya, lalu mencium kedua punggung tanganku bergantian.
Aku keget, pria ini sungguh punya pemikiran yang terbuka. Dia tidak memaksaku langsung menjalin hubungan denganku hanya karena dia Ayah kandung anak-anak. Dia seperti seseorang penjual yang setia menunggu pembeli yang datang menghampiri.
"Ya, aku akan memberimu kesempatan. Buat aku sepenuhnya percaya. Buat aku memilihmu. Aku yakin, ini bukam hal sulit bagimu. Karena aku mulai sedikit tertarik dan menyukaimu." jawabku jujur.
Aku tidak mau mengelak dengan rasa yang melandaku. Aku mulai tertarik dan menyukainya. Mungkin karena perlakuannya yang penuh perhatian dan hangat, juga ucapannya yang lembut. Hatiku yang membeku seperti bongkahan balok es, perlahan mencair. Entah apa yang selanjutnya terjadi, aku tidak tahu akhirnya akan seperti apa.
"Terim kasih. Jadi, saat ini aku boleh lebih mendekatimu, kan?" tanyanya.
Aku tertawa melihat pria di hadapanku ini. Aku membayangkanny memiliki telinga dan ekor seperti kucing yang sedang bermanja pada pemiliknya. Tanganku bahkan masih digenggamnya erat.
Aku menganggukkan kepala, "Ya, kau bisa lakukan apapun itu." jawabku.
"Ah, senangnya." ucapnya, yang langsung menarikku dalam pelukannya.
Aku tersenyum, ini kali pertama aku menerima pelukan darinya. Ah, tidak. Bisa saja ini bukan yang pertama, saat kami tidur bersama di rumah sakit, mungkin aku juga tanpa sadar memeluknya. Atau bahkan aku melakukan hal yang lebih gila dari itu. Tidak!
__ADS_1
*****