
Dua orang datang ke atap sekolah. Seorang laki-laki dan perempuan. Setibanya di atap, mereka langsung berdebat. Perdebatan panjang berekor mengejutkan. Si pria menampar wajah si wanita. Membuat si wanita geram dan menampar balik si pria di hadapannya.
" ... apa kau gila?" kata si wanita kesal.
"Hei, jaga ucapanmu. Jangan berani kau mengataiku." kata si pria.
"Hah!" dengus si wanita lalu, tersenyum masam. "Jika kau memiliki wanita lain, aku tidak boleh mengataimu, begitu? dasar b*r*ngs*k! kau pria bermuka dua, Hendry." kata si wanita.
"Apa kau bilang? coba kau katakan lagi, umpatanmu itu." kata si pria.
"Hoo ... kau suka dimaki rupannya. Akan kukabulkam dengan suka hati. Aku bilang kau adalah 'Si B*r*ngs*k' apa kau puas?" ucap si wanit mengulang umpatannya.
Plakkk ....
Tamparan keras mendarat di pipi mulus si wanita. Wanita itu terlihat sedih, juga kesakitan.
"Kau ... kau menamparku?" gumam si wanita.
"Jika, ya. Lalu, kau mau apa?" tanya si pria.
"S*al*n!" umpat si wanita. Ia langsung menampar balik si pria dan maki lagi pria di hadapannya.
Plakkk ....
Tamparan mendarat mulus di pipi si pria. Pria itu terlihat kaget bercampur malu. Ia merasa pipinya sedikit sakit.
"Beraninya kau menamparku? wanita gila!" kata si pria membentak.
"Kau yang gila, Hendry. Kau!" sentak balik si wanita.
Kedua orang itu telihat saling melawan dan tidak ada yang mau mengalah. Si pria tetap dengan pendiriannya, ia masih tidak mengakui kesalahannya. Tapi, beberap saat setelahnya, si pria pergi begitu saja dan si wanita terlihat menangis.
***
Di balik dinding, Christopher dan Ryan masih melihat. Mereka kembali saling menatap dan meminta pendapat masing-masing dari apa yang mereka saksikan.
"Hei, menurutmu, bagaimana?" tanya Ryan.
"Apanya, yang bagaimana?" tanya balik Christopher.
"Ya, itu. Perempuan dan laki-laki gila tadi. Bukankah menurutmu mereka sama saja? pasangan gila!" seru Ryan mengomentari kejadian yang dilihatnya.
"Entahlah. Yang aku lihat di sini, wanita itu terlihat sangat sedih dan terpulul. Sejak tadi dia menahan diri untuk tidak menangis. Pada saat pria itu pergi, di Langsung menangis." jelas Christophsr. Ia bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1
Ryan tertidam mendengar jawaban Christopher. Karena dinilainya sangat brani dan kritis. Tidak mau mengulur waktu, Christopher meminta pada Ryan untuk ditunjukkan tempat lain.
"Ryan ... " panggil Christopher.
"Hm, ada apa?" tanya Ryan, menatap ke arah Christopher.
"Bisa tidak kita pergi dari sini? kita kan tidak kelebihan waktu sampai harus melihat orang yang sedang menangis." kata Christopher.
"Ah, kau benar. Kita hanya akan buang-buang waktu saja di sini" sahut Ryan.
Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan atap gedung sekolah. Di jalan, Ryan kembali memplihatkan kelas. Karena masih jam pelajaran, tentu saja suasana hening dan sepi.
"Nah, ini area kelas tiga. Ada kelas tiga tingkat satu sampai lima. Di lorong sebelah kanan ada kelas dua. Sama seperti kelas tiga, kelas dua juga punya terbagi dari kelas dua tingkat satu sampai kelas dua tingkay lima. Nah, kelasmu berada di ujung sana. Kau lihat, kan." Ryan menunjuk ke arah kelas satu. Tidak jauh dari lokasinya berdiri. "Kelas satu juga ada lima kelas. Kau mau lihat-lihat lagi?" tanya Ryan.
"Apa boleh lebih dari ini?" tanya Christopher ragu-ragu.
"Kenapa tidak? ayo, kita lihat kelasku dulu." ajak Ryan.
"Oh, ok." jawab Christopher, mengikuti Ryan yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
Christopher melihat sekeliling, ia bisa melihat isi dalam kelas dari luar. Karena setengah dinding kelas terpasang kaca transparan. Siswa-siswi sedang mengikuti pelajaran di kelas masing-masing sesuai jadwal kelas yang telah ditentukan.
"Ini kelasku," kata Ryan, berhenti di depan kelasnya. Ia menunjuk pintu kelasnya untuk menunjukkan pada Christopher.
"Ah, benarkah? aku tidak perhatikan jelas." kata Ryan.
Ryan pun melihat dari kaca dan benar saja, di kelasnya sedang tidak ada guru. Pada saat Ryan dan Christopher berdiri di depan kelas, salah satu teman di kelas Ryan melihat. Hal itu membuat semua isi kelas berhamburan keluar dari dalam kelas.
"Ryan .... "
"Hei, Ryan. Siapa yang bawa itu?"
"Ryan, kenalkan pada kami."
Ryan kaget saat beberapa orang temannya keluar kelas dan menegurnya. Christopher juga kaget, ia merasa aneh ditatap tajam oleh teman-teman Ryan.
"Ryan, kau sedang apa? dan siapa yang ada di sampingmu?" tanya salah seorang teman dekat Ryan.
"Oh, kenalkan. Ini Christopher. Dia anak baru kelas satu. Aku diminta Bu Kepala sekolah mengajaknya berkeliling." jelas Ryan.
Christopher merasa canggung, tetapi ia tidak punya pilihan selain memperkenalkan diri. Semua teman Ryan ramah, menerima salam perkenalan dari Christopher.
Usai berbincang cukup panjang. Ryan mengajak Christopher untuk berkeliling lagi. Mereka pun menuju lorong kelas tiga. Suasananya tidak jauh beda dari kelas dua, yang sebelumnya dikunjunginya.
__ADS_1
Langkah kaki Christopher dan Ryan kembali berpindah ke kelas satu. Lagi-lagi, suasana yang sama dilihat Christopher. Ia tidak tahu ia akan ditempatkan di kelas yang mana. Tapi, ia melihat satu per satu kelas dengan jeli.
"Siswa siswi di sini tertib dan disiplin. Apakah aku bisa belajar dengan baik di sini, ya? semoga tidak pernah terjadi, hal-hal yang tidak kuinginkan." batin Christopher.
"Chris ... " panggil Ryan.
"Hei, Chris ... " panggil Ryan lagi.
"Anak ini kenapa diam melamun begitu?" batin Ryan bingung.
"Hallo, Chirstopher. Apa kau dengar aku?" panggil Ryan lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras. Tangan Ryan pun menepuk bahu Christopher.
Ternyata Ryan sudah beberapa kali memanggil Christopher, tetapi tidak ada tanggapan atau jawaban dari Chirstopher.
Christopher kaget, "Ah, apa? maaf, aku melamun." kata Christopher.
"Kau ini, aku sudah memanggilmu sejak tadi." kata Ryan.
"Ma-maaf. A-ad apa?" tanya Christopher ingin tahu.
Ryan menarik napas dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia lalu menanyakan hal yang ingin ia tanyakan pada Christopher.
Kenapa pindah dari sekolah lamamu, Chris?" tanya Ryan.
"Apa? ah ... itu, ya ... begitulah." jawab canggung Christopher. Membuat Ryan bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Ryan lagi. Ia menatap Christopher sembari mengernyitkan dahi, "Kau tidak mau cerita padaku?" tanya Ryan murung.
"Bu-bukan begitu. Ha-hanya saja, aku malu bercerita. Aku tidak punya kenangan baik di sekolah lamaku. Aku anak yatim piatu dan hanya tinggal dengan Nenekku. Jujur saja, hidupku jauh dari kemewahan. Aku masuk sekolah yang cukup bagus berkat beasiswa. Ya, kau tentu tahu apa yang terjadi jika siswa beasiswa masuk ke dalam sekolah elit, kan?" Christopher berbicara.
"Hm, maksudmu adalah, kau menerima perlakuan buruk, begitu?" sahut Ryan.
Christopher menganggukkan kepala, "Ya, begitulah. Sepertinya pintar dan berbakat tidak ada artinya dibandingkan kekayaan dan kekuasaan. Benar, kan." kata Christopher sedih.
"Aku setuju. Kau benar, Chris. Dan ... jujur saja, aku lelah dengan adanya Anak-anak yang membentuk kelompok dan suka menindas. Rasanya aku ingin saja melepas jabatanku sebagai perwakilan siswa." keluh Ryan tiba-tiba.
Christopher kaget, "Hei, jangan bilang di sini juga ada hal seperti itu." sahut Christopher, dan dijawab anggukan kepal oleh Ryan.
Hal itu membuat Christopher kesal, "Ah, s*al! kenapa di sini juga harus ada hal demikian." gumamnya.
Ryan menepuk bagu Christopher, "Kau harua berhati-hati, Chris. Di sini semua terlihat tertib dan disiplin di depan gutu. Dibelakang itu, semua akan menunjukan sifat asli mereka. Saranku, jika kau melihat sesuatu, jangan ikut campur. Jangan jadi pahlawan kesiangan. Kau tidak tahu kan, anak-anak seperti apa yang sekolah di sini. Apa pekerjaan orang tua mereka. Semua yang sekolah di sini anak-anak pengusaha, pejabat, dan pembisnis besar. Sikap mereka semua akan acuh tak acuh, arogan dan sinis. Bahkan, mereka tidak akan segan menyerang satu sama lain jika terusik. Aku memang perwakilan siswa, tetapi aku juga punya batasan. Jika aku terlalu ikut campur, maka aku dan keluargaku akan jadi sasaran empuk. Ingatlah ini baik-baik, Chris. Cukup tahu dan diam. Jangan sampai kau ikut campur sesuatu hal yang bukan urusanmu. Atau kau akan dijadikan incaran. Ok. Aku hanya memberimu arahan dan sedikit bocoran informasi. Aku tidak mau kau terlibat masalah." Ryan begitu peduli pada Christopher. Ia tidak mau Christopher kenapa-kenapa.
Christopher diam. Ia merasa heran. Sekolah elit dengan reputasi sangat baik di luar, di dalamnya ternyata mengerikan.
__ADS_1
*****