
Malam harinya, Lora dan Alexias datang ke rumah sakit. Lora memasak makanan untuk anak-anaknya, Agatha dan Hannah. Mereka semu makan malam bersama dengan tenang.
Selesai makan, Agatha mengajak Alexias dan Lora bicara. Alexias menatap Lora, Lora juga sama. Keduanya saling bertatapan. Lora menganggukkan kepala, tanda jika ia tidak menolak, ia dan Alexias mengikuti Agatha keluar dari ruangan dan bicara bertiga di ruang tunggu.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan." kata Agatha.
"Ya, bicaralah." jawab Lora.
"Sebenarnya, aku sudah melakukan tes DNA secara rahasia. Aku ingin memastikan apakah anak-anak ada hubungan darah dengan Alexias atau hanya perkiraanku saja. Aku, aku, aku minta maaf pada kalian. Aku telah melakukan kesalahan karena sudah lancang." jelas Agatha sedih.
"Lalu, apa hasilnya?" tanya Alexias.
"Iya, apa hasilnya? sesuai harapanmu, tidak?" sambung Lora.
Agatha mengernyitkan dahi, "Kalian ... " kata Agatha menatap saudaranya dan Lora bersamaan. "Kalian tidak kaget?" lanjutnya bergumam.
Alexis dan Lora saling bergandengan tangan, "Kami sudah tahu," jawab keduany bersamaan.
"Apa?" sahut Agatha melebarkan mata. "Ba-bagaimana bisa?" tanya Agatha heran.
"Ya, sepertinya kau tidak meminta dokter yang membantumu bungkam, ya. Atau dokter itu memang sengaja ingin membocorkannya. Intinya aku mendapatkan laporannya. Jadi aku tahu semuanya. Karena itu tadi aku bicara langsung pada Lora." jelas Alexias.
"Terima kasih, Agatha. Kau sudah membantuku." sambung Lora. Lora mendekati Agatha, "Kau tahu, betapa takutnya aku saat tahu jika Alexias, adalah pria yang mengabiskan malam denganku enam tahun lalu? aku takut kebenarannya akan terungkap. Aku takut kalian akan membawa anak-anakku secara paksa dan memisahkan kami. Itu sebabnya aku sempat mengarang cerita dan mengatakan jika aku sudah menikah pada Alexias. Berkatmu, kini aku tidak perlu menyembunyikan kebenaran ini lagi. Terima kasih," ucap Lora.
"Lora ... " panggil Agatha memeluk Lora. "Kau pasti sangat kesulitan enam tahun ini. Maafkan aku yang tidak tahu apa-apa." kata Agatha sedih.
Lora menepuk punggung Agatha, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku kan Mami yang hebat," jawab Lora.
Keduanya melepas pelukan. Agatha menangis, ia merasa senang dan terharu. Lora tersenyum, ia tidak sangka Agatha sama lembutnya seperti Alexias. Meski dari luar terlihat sisi kakunya, di dalam Agatha adalah sosok yang baik hati.
"Apakah drama kalian sudah selesai? jangan terus menyentuh wanitaku, Agatha. Lepaskan tanganmu itu," kata Alexias yang melepas paksa genggaman tangan Agatha pada Lora.
Agatha menatap Alexias, "Hoho, sekarang kau berani, ya. Dasar tidak tahu terima kasih," gerutu Agatha.
"Maaf, ini persoalan yang berbeda. Lora hanya milikku dan anak-anakku. Tidak boleh ada orang lain yang memilikinya apalagi sampai menyentuhnya." kata Alexias.
Lora tersenyum, "Hei, dasar kau!" kata Lora mencubit lengan Alexias. "Baru kuberi cela, kau sudah menunjukan cakarmu, ya. Dasar kucing liar," lanjut Lora mengejek Alexias.
Alexias menatap Lora memelas, "Kau milikku. Jangan mau disentuh orang lain, ya." kata Alexias sedih.
__ADS_1
"Dasar gila! dia jadi gila karena wanita," batin Agatha.
Lora mengusap kepala Alexias, "Iya, iya. Tidak akan bersentuhan dengan orang asing. Sudah, kan. Jangan pasang wajah memelas seperti kucing yang kehujanan begini." kata Lora.
"Jadi, apa boleh aku beritahu anak-anak? aku ingin sekali mengatakan jika aku adalah Bibi mereka," kata Agatha.
Lora menganggukkan kepala, "Ya, tentu boleh. Anak-anak juga harus tahu kebenarannya, kan." jawab Lora.
"Yeah ... " sahut Agatha senang. "Kalau begitu aku akan langsung beritahu sekarang. Keponakan-keponakan lucuku, Bibi Agatha datang ... " kata Agatha yang langsung berlari masuk dalam ruangan di mana Odellia di rawat.
Alexias melebarkan mata menatap Lora, "Ka-kau se-serius? kau ingin memberitahu anak-anak?" tanya Alexias tidak percaya.
"Kenapa? kau tidak mau anak-anak memanggilmu 'Papi'?" tanya Lora.
"Pa-papi? Papi ... " gumam Alexias.
Alexias menunduk, ia merasa terharu. Matanya sudab berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Lora akan langsung memberitahu anak-anak tentang kebenarannya. Ia mengira ia akan menunggu sampai Lora siap menerimanya, untuk bisa dipanggil 'Papi' oleh anak-anaknya.
"Ayo, anak-anak pasti sudah menunggu. Kau kan harus perkenalkan dirimu dengan benar di depan anak-anak. Beri mereka kesan baik, agar mereka tidak memintaku mencari Papi baru." goda Lora.
Alexias kaget, "Oh, kau berencana mendua, ya. Hm, lakukan saja. Akan kupatahkan kaki dan tangan 'Papi baru' itu." kata Alexias kesal.
Mendengar pernyataan Lora, Alexias merasa senang. Ia bangga karena Lora mengakuinya tanpa keraguan.
***
Di dalam ruangan. Oriana, Olesia dan Odellia langsung memanggil Alexias dengan sebutan 'Papi'. Suara mereka bergitu lantang terdengar.
"Papi ... " panggil Oriana.
"Papi, sini." panggil Olesia.
"Papi, Mami ... " panggil Odellia.
Alexias langsung berlari mendekati ketiga anaknya yang duduk di atas ranjang pasien. Di mana Odellia duduk bersandar. Alexias menangis, ia memeluk satu per satu putrinya dan menciumi mereka.
"Anak-anakku ... " gumam Alexias haru.
Alexias menatapi Oriana, Olesia dan Odellia bergantian. Dirabanya wajah anak-anaknya yang cantik itu.
__ADS_1
"Ya, aku adalah Papi kalian. Jangan lagi memanggil Paman, tetapi 'Papi'. Panggil aku Papi," kata Alexias.
"Papi ... " kata Oriana, Olesia dan Odellia bersamana. Mereka tersenyum cantik menatap Alexias.
"Terima kasih, Tuhan. Ini adalah hal terindah yang Engkau berikan padaku. Terima kasih," batin Alexias mengucap syukur.
Sekali lagi, Alexias memeluk ketiga anaknya. Ia meras atak ingin lepas dari anak-anaknya.
***
Alexias menidurkan Odellia. Karena masih ada pemeriksaan lanjutan, Odellia masih harus dirawat di rumah sakit. Tubuh mungilnya dipeluk erat oleh Alexias.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Odellia sudah benar-benar terlelap tidur. Alexias menyelimuti tubuh putrinya itu dan berpindah ke ranjang lain, di mana ada Oriana dan Olesia. Alexias ingin menidurkan Oriana dan Olesia juga. Karena tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya, Alexias terpaksa meminta izin khusus kepada Direktur rumah sakit untuk menizinkan kedua anaknya yang lain tidur di rumah sakit. Ditektur memberi izin, tetapi hanya boleh satu malam saja.
Alexias menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir, "Ssttt ... ayo, kalian juga tidur." kata Alexias, dan di tanggapi oleh anggukan kedua anaka yang sudah menunggunya itu.
Alexias menidurkan Oriana dan Olesia. Lora yang duduk di sofa hanya bisa melihat dari jauh. Ia melihat betapa sabarnya Alexias menidurkan anak-anak.
"Dia memang bisa diandalkan," batin Lora.
Sepuluh menit kemudian. Merasa kedua anak yang di tidurkannya terlelap, Alexias turun dari ranjang. Ia menghampiri Lora yang sudah mulai mengantuk.
Alexias duduk, "Kemarilah, tidur dipangkuanku." pinta Alexias.
Lora tidak menolak, ia mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring. Ia merebahkan kepalanya ke pangkuan Alexias.
Alexias mencium kening Lora, "Selamat tidur, sayang. Mimpi indah," kata Alexias lembut.
"Apa tidak apa-apa begini? kakimu bisa kram jika tertindih kepalaku semalaman." kata Lora merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Hanya kram, kan. Aku tidak akan kehilangan kaki hanya karena tertimpa kepalamu. Tidurlah, karena besok kita harus bangun pagi membaw anak-anak pulang, lalu mengantar kesekolah. Aku juga ada rapat pagi." kata Alexias.
"Hm, ok. Pindahlah jika kua lelah. Kita bisa berbagi sofa ini bersama. Jangan paksakan diri jika tidak nyaman." kata Lora.
"Ya," jawab Alexias.
Alexias membelai kepala Lora lembut. Sesekali belaiannya berpindah ke wajah. Ia juga menepuk-nepuk punggung Lora. Alexias merebahkan kepalanya, ia memejamkan matanya. Tanpa sadar, ia terlelap tidur.
*****
__ADS_1