Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 45. Tiba Di Inggris


__ADS_3

Keesokan harinya. Sesuai jadwal, Lora dan si kembar tiga akhirnya pergi bersama Alexias. Mereka kembali ke Inggris. Negara asal Alexias dan Lora lahir. Hannah belum bisa ikut pergi, karena masih ada urusan. Ia


akan pergi dan dijemput oleh Ezra nantinya.


Keluarga angkat Lora sedih, tetapi juga tidak bisa mengekang kehendak anaknya. Mereka berjanji akan datang, seminggu sebelum hari H pernikan diselenggarakan. Mereka akan menghabiskan banyak waktu saat datang mengunjungi Lora. Derai air mata mengiringi kepergian Lora dan si kembar tiga yang harus ikut Alexias.


Alexias sedih, juga senang. Sedih karena harus memisahkan Lora dan anak-anaknya dengan orang baik sebaik Hannah dan keluarga Louis. Senang, karena impianya semakin dekat. Impian untuk hidup bersama Istri dan anak-anaknya.


***


Inggris ....


Reine dan Evan bertengkar hebat. Untuk kesekian kalinya, Reine hamil dan


Evan meminta Reine untuk mengugurkan kandungan karena ia masih ingin fokus pada pekerjaan.


" ... apa kau gila? apa maksud ucapanmu, Evan!" sentak Reine dengan derai air mata.


"Apa kau tuli, Reine. Aku rasa pendengaranmu masih bagus, kan. Gugurkan saja itu, aku masih belum bisa memiliki anak sekarang." kata Evan santai.


"Tidak, aku tidak mau!" jawab Reine.


"Ya, sudah jika tidak mau. Ayo kita putus dan batalkan saja pertunangan kita. Toh, aku sudah dapatkan keinginanku. Aku sudah jadi Direktur sekarang. Hahaha ... " Evan tampak senang, berbeda dengan Reine yang terlihat kaget dan kecewa.


"A-apa? apa kau sedang bicar serius saat ini? apa kau lupa, siapa orang yang membantumu?" kata Reine, matanya tajam menatap Evan.


"Karena aku masih merasa berhutang budi, aku mempertahankanmu selama ini. Jika tidak, aku sudah membuangmu sejak lama. Kau itu tidak lebih seperti sampah sekarang, siapa orang yang akan menampunymu, hah?" kata evan merendahkan Reine.


"Kau jahat, Evan. Jadi, selama ini kau hanya memanfaatkanku, iya? kau tidak punya perasaan." kata Reine sedih, ia menangis tersedu-sedu.


"Aha, kau pintar sekali. Sayangnya, semua sudah terlambat. Kau dan keluargamu tidam bisa apa-apa lagi sekarang. Karena perusahaan sudah sepenuhnya ku kendalikan dan ku kuasai." kata Evan tersenyum licik.


Evan mendekat, mencium bibir Reine kasar. Reine mendorong Evan lalu, menampar Evan keras.


Plakkkk ....


Tamparan keras mendarat di wajah Evan. Reine tidak tahan lagi, ia membuat kesalahan dengan menampar Evan.


Evan marah, ia langsung membalas perlakuan Reine. Ditamparnya berulang-ulang wajah Reine, sampai sudut bibir Reine berdarah. Evan juga memaki dan mengumpati Reine.


"Dasar, j*l*ng! mati saja kau!" kata Evan jengkel.


Hiks ... hiks ... hiks ....


Suara tangisan Reine. Ia merasakan sakit diwajahnya juga sakit di hatinya. Reine sedih, karena Evan selama ini menipunya. Pria yang selama ini sayangi dan dicintainya sampai rela melakukan apa saja, ternyata hanya memanfaatkannya demi mendapatkan perusahaan.

__ADS_1


"Aku bodoh sekali. Bisa-bisanya aku tertipu olehnya. Tapi, aku tidak bisa apa-apa sekarang. Bagaimanapun, aku harus meminta pertanggung jawabanya." batin Reine.


Evan menatap Reine dari kejauhan, "Dasar wanita bodoh! kau kira aku akan bertanggung jawab dengan anak yang kau kandung, hah? kau tidur dengan siapa saja, siapa yang tahu. Bukankah kau hanya seorang p*l*c*r. Berani sekali kau menjebakku." batin Evan murka.


"Aku pergi. Kau renungkan baik-baik kesalahammu. Gugurkan janinmu dan jangan buat masalah. Aku tidak mau masalah ini tersebar sampai ke luar. Jika itu sampai terjadi, aku tidak akan segan membuangmu. Atau, bisa juga aku akan membunuhmu dengan keji." Evan menekankan kata-katanya. Ia lantas pergi begitu saja meninggalkan Reine di apartemennya.


***


Reine mengadu, ia menangis di hadapan Hanson dan Marlyn. Kedua orang yang melihat Reine menangis itupun panik. Mereka lantas bertanya, hal apa yang terjadi.


Reine pun bercerita. Ia menceritakan semua detailnya pada Hanson dan Marlyn. Tentang keadaanya, tentang perusahaan juga. Mendengar cerita yang tak masuk akal, membuat Hanson shock. Hanson meras kecewa dan terpukul.


" ... begitulah. Maafkan aku, Paman, Bibi." kata Reine sedih.


"Tidak. Ini bukan salahmu. Evanlah yang salah, dia sudah serakah." kata Marlyn memeluk Reine.


"Hiks ... Bibi ... " tangis Reine kembali pecah. Ia memeluk Marlyn erat-erat.


Hanson yang tertipu tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia berdiri dari posisinya duduk lalu berjalan mrnuju ruang kerjanya. Langkah kakinya lemah, tubuhnya seperti terhuyung.


"Anak s*al*n! berani sekali dia bermain-main denganku. Aku akan buat perhituagan denganmu nanti. Lihat saja, apa kau bisa melawanku. Ah, b*d*bah!" Hanson tidak berhenti untuk mengumpati Evan.


***


Setelah menempuh perjalanan panjang berjam-jam. Alexias, Lora, Oriana, Olesia dan Odelia akhirnya sampai di Inggris. Alexias langsung membawa Lora dan anak-anaknya ke rumah baru yang sudah ia sediakan.


"Uwahhhh ... " gumam Odellia kagum.


"Besar sekali rumah ini," kata Olesia.


"Apa ini Mansion?" tanya Oriana menerka-nerka.


"Ya, kau benar, Annah. Ini adalah mansion. Sebenarnya ini sudah lama tidak ditempati. Karena kalian dan Mami akan tinggal di sini, Papi langsung merenovasi semuanya dengan segera. Untungnya semuanya berjalan lancar sebelum kalian sampai." jelas Alexias tersenyum senang.


"Selamat datang, Tuan." sapa seseorang mendekat. Ada seorang pria dan wanita paruh baya yang mengenakan pakaian pelayan mewah.


"Oh, Hallo. Martha, Marc. Ini adalah Lora, istriku. Dan ini ketiga putriku, Oriana, Olesia dan Odellia." Alexias menatap Lora dan ketiga putrinya, lalu memperkenalkan Martha dan Marc. "Mereka adalah kepala pelayan yang bertugas di sini. Pasangan suami istri, Marc dan Martha Benjamin." lanjut Alexias memperkenalkan.


Lora tersenyum, "Hallo, senang bertemu kalian." sapa Lora ramah.


"Kami juga, Nyonya." jawab Martha dan Marc bersamaan.


"Ha-hallo, Paman dan Bibi." sapa Olesia.


"Hallo, aku Odellia." Sapa Odellia tersenyum, Odellia memperkenalkan diri tanpa ragu.

__ADS_1


"Hai, aku Oriana." sapa Oriana yang langsung memperkenalkan diri.


"Hallo, Nona-nona. Salam kenal dari kami." sapa balik Marc.


"Senang bertemu Anda sekalian. Silakan masuk, kami akan langsung menyiapkan teh dan kudapan. Anda sekalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang." kata Martha ramah.


Lora kagum. Martha tampak tegas dan anggun. Meski hanya seorang kepala pelayan. Begitu juga Marc yang juga tampak elegan.


"Pasangan sempurna," batin Lora.


"Apa?" sahut Alexias menatap Lora.


"Oh, ah, bu-bukan apa-apa. Ya, bukan apa-apa." elak Lora.


Alexias, Lora dan si kembar tiga, berjalan Masuk ke dalam mansion. Di dalam, si kembar tiga dan Lora tidak henti-hentinya kagum. Marth langsung di minta Alexias mengantar anak-anaknya ke kamar yang sudah disediakan. Sedangkan Alexias sendiri membawa Lora ke kamar yang akan mereka tempati bersama.


"Martha, tolong antar anak-anak ke kamarnya." Alexias memerintah Martha.


"Baik, Tuan." jawab Martha.


Alexias menatap anak-anaknya, "Sayang, kalian istirahatlah dulu. Papi dan Mami juga ingin istirahat. Jika butuh sesuatu, minta saja pada Martha atau pelayan yang lain. Kalian mengerti?" kata Alexias bersuara lembut.


"Ya, Pi." jawab Odellia.


"Ya, mengerti." jawab Olesia.


"Baik, kami mengerti. Papi tidak perlu khawatir. Kami akan bersikap baik," kata Oriana tersenyum cantik.


Alexias kembali tersenyum, "Anak-anakku memang tiada tanding. Pandai, cerdas dan cantik-cantik. Pergilah, Martha akan mengantar kalian." kata Alexias lagi.


"Mari, Nona-nona ... " Martha mempersilakan ketiga Nonanya untuk pergi menuju kamar tidur yang sudah Tuannya siapkan.


Si kembar tiga melambai. Ia menatap Alexias dan Lora lalu pergi mengikuti Martha. Alexias lalu memerintahkan Marc untuk mengingatkan penjaga dan juga pelayan.


"Marc, ingatkan penjaga dan pelayan yang lain. Agar mereka melayani istriku dan anak-anakku dengan baik. Tidak boleh ada kesalahan. Kau paham?" kata Alexias.


Lora merangkul lengan Alexias, "Sayang, jangan begitu." kata Lora, merasa tidak enak.


"Marc, santai saja. Karena aku tidak terbiasa dengan ini semua. Jadi, perlakukan aku sewajarnya saja. Aku tidak masalah," kata Lora menatap Marc.


"Baik, Nyonya. Akan saya ingat." kata Marc.


"Tapi ... " gumam Alexias. Yang langsung terdiam.


"Tidak ada tapi. Ayo, cepat kita ke kamar. Aku mau mandi lalu berbaring." ajak Lora.

__ADS_1


Alexias menghela napas. Ia lagi-lagi tidak berkutik saat Lora sudah menekannya. Ia hanya bisa menyetujui apa yang Lora inginkan. Mereka lalu berjalan bersama menuju kamar tidur. Alexias juga merasa lelah, ia ingin segera tidur dipelukan Lora.


*****


__ADS_2