Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 79. Kejadian Tak Diharapkan (3)


__ADS_3

Christopher sudah berada di rumahnya. Sesuai apa yang Nenek katakan, ia mencari amplop cokelat di dalam lemari pakaian. Perlahan-lahan ia mencari, di sela-sela sampai dibawah tumpukan baju. Tapi, amplop yang dicari belum juga ia temukan.


"Di mana, ya? apa benar di lemari pakaian? apa Nenek tidak salah menyimpan, ya." gumam Christopher.


Ia kembali mencari. Sampai ia melihat sebuah kotak berwarna putih. Penasaran dengan isi kotak, Christopher mengambil kotak itu dan membukanya. Benar saja, setelah dibuka, ia melihat sebuah amplop cokelat yang mungkin saja itu adalah sesuatu yang di maksud oleh Neneknya.


"Apa ini, ya?" gumam Christopher mengambil amplop di dalam kotak.


Ia menimang amplop yang dipegangnya, "Apa ini peninggalan Mama?" batinnya.


Memikirkan cerita Neneknya, hati Christopher menjadi gundah. Ia lau, duduk di tepi tempat tidur milik Neneknya.


"Apa iya aku memang punya orang tua? Cerita Nenek ... " gumamnya terjeda. Ia lau menarik napas dan mengembuskan napas perlahan, " Hahhhh ... bagaimana, ini? aku ingnin percaya, tetapi ini seperti mimpi. Tidak percaya, tetapi au juga penasaran. Selama ini aku hanya tahu jika aku yatim piatu. Aku bahkan mengira Anak dari Nenek adalah Ayahku. Karena mininggal saat aku masih kecil jadi, aku mengklaim diriku sebagai seorang yatim piatu." Cristopher lalu, mengusap kasar wajahnya.


Cukup lama Ia berdiam diri. Pikirannya kosong, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semua masih belum bisa ia terima. Terlebih, ia baru saja membuat keributan yang tidak tidak seharusnya dimaafkan. Setelah sadar dari pemikiran kalutnya, ia lantas merapikan kotak dan mengembalikan kotak ke dalam lemari. Ia menutup pintu lemari dan langsung pergi meninggalkan kamar Neneknya.


***


Lora selesai mandi dan berganti pakaian. Pintu kamarnya diketuk dari luar, itu adalah kepala pelayan, Martha. Yang memginformasikan, jika Agatha sudah datang.


Tok ... tok ... tok ....


"Nyonya ... ini saya, Martha." kata Martha memberitahu kedatangannya.


"Ya, Bi. Tunggu sebentar." jawab Lora, ia langsung berjalan menuju pintu dan membukanya.


Pintu terbuka, terlihat Martha yang sedang menunggu Lora di depan kamar.


"Ada apa, Bi?" tanya Lora. "Apa ada sesuatu yang dibutuhkan anak-anak?" tebak Lora. Yang mengira kedatangan Martha berhubungan dengan anak-anaknnya.


"Bukan soal Nona-nona, Nyonya. Saya hanya menyampaikan pesan Nyonya Agatha. Beliau ada di kamar Nona-nona saat ini. Jika Anda ingin mencari, Anda bisa menghampiri beliau di sana." jelas Martha.


Lora menganggukkan kepala, "Oh, begitu. Ya, Bi. Nanti aku ke sana, karena aku masih mau menghubungi suamiku dulu." jawab Lora.

__ADS_1


"Baik. Jika tidak ada hal lain saya akan pergi untuk menyiapkan makan malam untuk Nona-nona." kata Martha undur diri.


"Ya, Bi. Terima kasih sudah mau repot memberitahu. Selamat bekerja," jawab Lora, menyemangati Martha.


Martha pergi, Lora pun kembali masuk dalam kamar. Ia berjalan mendekati nakas dan meraih ponselnya yang ada di nakas. Baru saja ia ingin menghubungi Alexias, ia sudah mendapatkan panggilan dari suaminya itu.


"Ah, pas sekali." gumam Lora, melihat nama 'Suamiku' di layar ponselnya.


Tidak menunda, Lora langsung menerima panggilan dari suaminya itu.


"Hallo, sayang." jawab Lora.


"Sayang, kau sedang apa? anak-anak, bagaimana mereka? mereka tidak merengek atau sedang kesal, kan?" cecar Alexias.


"Tidak, sayang. Mereka baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanya Lora bingung.


"Tidak apa-apa. Hanya takut jika anak-anak akan marah dan tidak senang. oh, ya. Jika kau tidak sibuk, bisa kau datang? ada hal yang ingin kubahas denganmu juga. Ini soal Christopher." kata Alexias.


"Umh, ok. Aku akan ke sana sekarang. Kebetulan ada Agatha, aku akan titipkan anak-anak pada Agatha." jawab Lora.


"Ya, a ... " baru saja Lora ingin menjawab. Tiba-tiba ada keributan. Lora mendengar seseorang berteriak histeris.


Mendengar suara teriakan dan tangisan, membuat Lora bertanya-tanya dalam hatinya. Pada saat ingin bertanya pada Alexias, Alexias sudah lebih dulu bicara.


"Hallo, sayang. Kau dengar aku? sesuatu terjadi di sini. Kau hati-hati pergi, ya. Aku tutup dulu." kata Alexias yang langsung menutup panggilannya.


Lora mengernyitkan dahi, "Ada apa, ya? Ah, lebih baik aku segera ke sana. Pertama-taman, aku perlu menemui Agatha dan menitipkan anak-anak." gumam Lora. Ia pun segera pergi meninggalkan kamarnya, menuju kamar anak-anaknya.


***


Di kamar si kembar tiga. Lora dan Agatha bicara. Dengan sedikit bercerita mengenai Christopher, Lora memulai percakapannya dengan Agatha.


" ... jadi, kau mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Agatha.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Aku mau ke rumah sakit. Sepertinya tadi juga sedang terjadi sesuatu di rumah sakit. Jika tidak keberatan, bolehkah aku menitipkan anak-anak? apa kau sibuk?" Lora mulai sedikit gelisah.


"Aku tidak sibuk, Lora. Tenanglah, aku pasti akan menjaga anak-anak. Kau selesaikan dulu apa yang kau ingin urus." jawab Agatha tersenyum.


"Aku akan ceritakan cerita lengkapnya nanti setelah aku dan Alexias pulang. Maafkan aku, Agatha. Kau harus aku repotkan untuk menjaga anak-anak." kata Lora, masih merasa tidak enak hati.


"Oh, ayolah. Iparku ini terlau sungkan dan tidak enak hati, ya? Apa aku terlihat keberatan selama ini, hm? tidak, kan. Aku justru senang bisa selau kau andalkan, Lora. Aku juga mau jadi, orang yang kau repotkan. Ya, sejujurnya tidak hanya aku ingin, Papa dan Mama juga ingin kau melibatkan mereka berdua jika ada sesuatu. Keluarga ada untuk berbagi, bukan untuk sekedar dipamerkan ke orang jika 'Aku punya keluarga' kau paham maksudku, kan?" jelas Agatha panjang lebar. Ia menuntut Lora untuk lebih berani dan lebih terbiasa mengandalkannya.


"Terima kasih, Agatha. Kau memang yang terbaik. Aku akan selau ingat ucapanmu." jawab Lora tersenyum.


Lora memalingkan wajah melihat ke arah anak-anaknya, " Anak-anak, bisa ke sini sebentar?" pinta Lora, memanggil anak-anaknya.


Beberapa saat kemudian, si kembar tiga berjalan datang menghampiri Mminya dan berdiri di hadapan Mami dan Bibi mereka.


"Begini, kalian masih ingat kejadian tadi siang, kan? Nah, Mami akan pergi ke rumah sakit yang tadi untuk menemui Papi. Papi mengatakan ada hal penting. Apakah kaian bisa jaga sikap saat Mami dan Papi tidak ada? kalian mau kan main bersama Bibi Agatha dulu?" Lora mencoba menjelaskan sebaik mungkin apa yang bisa ia jelaskan dan katakan pada ketiga anaknya.


Si kembar tiga menganggukkan kepala tanda mengerti. Dan hal itu membuat Lora seketika merasa lega.


"Bagus, kaian memang anak-ana terbaik, sayang." kata Lora memuji.


Dipeluknya satu persatu anak-anaknya lalu, diciumnya lembut kening si kembar tiga.


"Mami pergi dulu, ya. Sampai nanti. Oh ... maaf, jika Papi dan Mami tidak bisa makan malam bersama kaian. Kalian makan saja dengan Bibi, ya." kata Lora, tidak ingin membuat anak-anaknya kecewa.


"Ya, Mami. Tidak apa-apa," jawab Olesia.


"Mami dan Papi hati-hati, ya." kata Odellia.


"Semoga Papi dan Mami selalu baik-baik saja." kata Oriana.


Mata Lora berkaca-kaca, "Kalian, ya. Jika seperti ini Mami akan menangis." kata Lora.


Agatha mengusap bahu Lora, "Sudah, sudah. Pergi dan berhati-hatilah. Jangan lewatkan waktu makan." kata Agatha, Agatha mengingatkan Lora.

__ADS_1


Lagi-lagi Lora menganggukkan kepala, "Ya, kalau begitu aku pergi dulu. Dahh ... sampai nanti anak-anak," Lora pun pergi meninggalkan kamar si kembar tiga dan segera meninggalkan Mansion.


***


__ADS_2