
Lora dan Alexias memberikan kabar baik. Mendengar kehamilan Lora, Agatha langsung bersorak ria. Ia sangat senang akan punya keponakan lagi. Tidak hanya Agatha yang senang. Kedua orangtua Alexias juga merasa senang. Demikian Hannah Dan Ezra.
***
Semua orang beraktivitas seperti biasanya. Alexias, Agatha dan Ezra pergi ke kantor untuk bekerja. Sementara kedua orang tuan Alexias dan Agatha juga berpamitan pulang karena akan pergi ke suatu tempat. Tinggallah Hannah dan Lora yang menemani si kembar tiga.
Saat berbincang, Hannah membuat satu pengakuan yang mengejutkan Lora. Hannah ternyata juga sedang hamil. Dan usia kehamilan Hannah tidak jauh beda dari Lora. Mendengar sahabatnya hamil, Lora kaget sekaligus senang.
"Ah, sungguh? kau hamil?" kata Lora hampir tak percaya.
Hannah menganggukkan kepala, "Ya," jawabnya.
"Wah, Ezra pasti sangat senang." kata Lora.
"Hm, itu ... sebenarnya Ezra belum tahu. Aku juga baru tes kehamilan di apartemen tadi dan tadi diam-diam aku menemui dokter untuk memastikan." kata Hannah.
"Kenapa kau tidak segera memberitahunya?" tanya Lor ingin tahu.
"Umh, itu. Aku berencana ingin memberikannya kejutan. Nanti malam aku akan memberitahunya." jawab Hannah. Ia memeluk Lora dari samping, "Senang sekali rasanya. Kita hamil pada waktu bersamaan." lanjut Hannah.
Lora tersenyum, "Kau benar. Aku tidak sangka kita akan hamil pada saat bersamaan seperti ini. Sejujurnya tadi aku sempat kaget, Hannah. Kau pasti tahu, pikiranku kan sedang kacau karena kejadian yang dialami anak-anak." kata Lora mengeluh.
"Ah, bener juga. Lalu, apa wanita itu sudah tertangkap? aku kesal sekali saat dengar kabar dari Ezra, jika pelaku utamanya adalah sepupu itu. Entah dia kerasukan hantu apa, sifat dan sikapnya seperti ibl*s." kata Hannah.
"Aku pun tidak menyangka, dia akan senekat ini. Aku belum tahu dia sudah tertangkap atau belum. Yang jelas, dia sudah menjadi incaran polisi. Dia akan diproses sesuai kejahatannya. Aku hanya berharap dia mau belajar dari kesalahan dan tidak mengulang kejahatan yang sama, atau melakukan kejahatan yang lainnya." kata Lora.
Hannah mendengus, "Huhh ... mana bisa? wanita ular sepertinya kurasa tak ajan berubah. Lihat saja, kau sudah memaafkannya tentang masalah retaknya hubunganmu dengan Evan, sekarang dia berusaha untuk mencelakai si kembar. Apa-apaan dia? apa maunya sebenarnya? dugaanku, dia memang iri padamu sejak dahulu. Hahhhhh ... mengesalkan sekali. Aku benci pada orang seperti dia." keluh Hannah tidak senang.
Lora tersenyum menatap Hannah yang kesal, "Astaga, kau kenapa emosi? tenangkan dirimu, Hannah. Jika kau terus mengomel, aku tidak punya pilihan selain menghubungi Ezra meminta Ezra menenangkanmu." Lora menggoda Hannah.
"Ck, kau ini. Jangan ganggu kesayanganku. Kau kan tahu bagaimana suamimu. Apa kau suka jika Ezra mendapat masalah?" sahut Hannah.
"Hahaha ... dasar. bagaimana bisa aku setega itu pada sahabat dan kekasih sahabatku sendiri." kata Lora.
Hannah dan Lora berbincang cukup lama. Sampai akhirnya Hannah berpamitan pulang karena ia harus membuka kedai kopinya.
__ADS_1
***
Evan kembali mendatangi apartemen Reine. Kali ini, ia berdiri tepat di depan pintu kamar yang Reine tempati.
"Apa yang harus kukatakan, saat aku bertemu dengannya? haruskah aku langsung bertanya kenapa dia melakukan kejahatan seperti itu?" batin Evan.
Karena sibuk berpikir, Evan tidak sadar jika pintu apartemen tempat tinggal Reine terbuka. Reine ingin pergi berbelanja ke supermarket yang terletak dilantai bawah. Ia kaget, melihat Evan yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Evan dan Reine saling bertatap muka. Pandangan keduanya lekat memandangi masing-masing.
"Kau, kenapa di sini? dari mana kau tahu aku tinggal di sini?" cecar Reine tanpa basa basi.
"Itu bukan hal yang penting untuk kujawab. Memangnya kenapa, jika aku tahu kau tinggal di mana. Aku kan suamimu. Bukan selingkuhan atau orang lain." kata Evan santai.
Reine kaget, "Kau ini bicara apa, Evan. Tutup mulutmu, dan jangan buat keributan di sini." kata Reine.
"Kau terlihat baik, meski kau hidup tanpaku, ya. Jika kau bisa sebaik ini. Kenapa kau minta kunikahi, Reine? seharunya kau bisa begini sejak saat itu, kan. Jika kau memaksaku menikahimu, itu berarti kau harus siap dengan semua perlakuan yang kuberikan padamu. Kau juga harus mau menerima segala kekurangan dan kelebihanku." jelas Evan.
Reine mengernyitkan dahi, "Jadi, kau mau kita berpisah? baiklah, lakukan saja. Aku sudah bosan dan muak." kata Reine menatap Evan.
"Sudahlah, Evan Aku malas berdebat denganmu Lebih baik kau kembali pulang ke apartemenmu sekarang." kata Reine. Ia menutup pintu rumahnya dan lalu, pergi meninggalkan Evan. "Aku tidak punya waktu menemuimu." kata Reine pergi melewati Evan.
"Wanita gila ini. Dia mengabaikanku? lihat, bagaimana kau akan membuatku menyesal sudah memperlakukanku seperti ini." batin Evan.
Evan meraih tangan Riene. Dengan cepat di pojokkanya Reine ke dinding. Wajah Evan mendekat ke wajah Reine.
"Siapa?" tanya Reine kebingungan.
"Kau masih tanya Siapa?" kata Evan amat kesal.
"Jika kau tidak bicara, apa yang harus kulakukan?" kata Reine kesal.
Evan kembali menatap mata Reine kesal, "Siapa pria itu?" tanya Evan.
"Pria apa? siapa? kau jangan gila seperti ini, Evan!" sentak Lora kaget.
__ADS_1
Evan tersenyum masam, "Wah, wah, wah. Lihat wajahmu ini. Kau sungguh pandai menyangkal, ya. Kau kira aku buta? kau pikir aku tidak tahu, apa yang kau lakukan di belakangku?" cecar Evan.
Reine kaget, "Apa?" tanggapnya.
Kening Reine mengkerut, "Apa yang Evan katakan? apa benar dia sudah tahu sesuatu? S*al!" batin Reine.
Lagi-lagi Reine berkilah. Ia tidak mau dituduh yamg macam-macam oleh Evan.
"Sudah aku katakan, bukan. Aku tidak melakukan apa-apa. dan aku juga tidak bersama siapa-siapa." kata Reine tidak mau menyerah.
Evan merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya. Evan membuka galery di ponselnya. Ia menunjukkan beberapa fofo di mana Reine sedang bersama Frans. Bahkan ada fofo saat Reine berciuman dan berpelukan mesra dengan Frans.
"Buka lebar matamu lalu, lihat ini baik-baik. Apa ini, Reine?" Evan menunjukkan ponselnya tepat ke wajah Reine.
Mata Reine membulat. Ia terkejut saat melihat ponsel milik Evan menyimpan foto-fotonya dengan Frans. Reine terdiam, ia tidak bicara apa-apa. Membuat Evan semakin kesal.
"Kenapa kau diam? tidak bisa menjawab, apa tidak mau menjawab, hah!" kata Evan.
Reine merebut ponsel Evan lalu, membanting ponsel itu. Reine lalu, marah-marah dan menunjuk wajah Evan. Ia tidak terima akan perlakuan Evan yang memata-matainya.
"Apa maksudmu dengan ini. Kau bangga sudah menguntitku, hah?" kata Reine.
"Apa? sudah jelas seperti ini kau berbalik bertanya apa maksudku? sadarlah, Reine. Apa yang kau lakukan ini tidak benar. Bagaimana bisa kau mengkhianatiku?" sentak Evan emosi.
Plakk ....
Tamparan keras mendarat di wajah Evan. Reine tidak tahan lagi, ia juga langsung emosi mencaci maki Evan yang juga mengkhianatinya.
"Kau bergurau, hah. Bercerminlah, Evan. Siapa yang mengkhianati siapa di sini. Kaulah pengkhianatnya, aku hanya melakukan apa yang kau lakukan. Aku membalas apa yang kuterima. Paham?" kata Reine dengan tubuh bergetar. Reine menunjuk dahi Evan, "Pikir baik-baik, sehari setelah pernikahan, siapa yang bercinta dengan j*l*ng? apa itu bukan kau? sekarang, jika aku bercinta dengan pria lain. Kenapa kau harus marah? bukankah kita sama-sama b*r*ngs*k? sebagai sesama, jangan saling mengejek." lanjut Reine.
Evan kaget, ia menatap Reine dengan dahinya yang berkernyit. Evan baru sadar, jika apa yang Reine katakan ada benarnya. Sehari setelah menikah dengan Reine, ia melampiaskan kekesalannya dengan cara yang salah. Bahkan, pada saat ia bercinta dengan wanita lain, ia dipergoki oleh Reine.
Kesalahan Evan memang tidak bisa dimaafkan. Namun, apa yang Reine lakukan juga tidak benar. Ia sudah menikah, dan seharusnya ia tidak tergoda untuk bercinta dengan pria lain. Terlebih, Reine sudah menjalin hubungan di luar batas dengan dua pria asing. Frans dan hubungan sesaat dengan orang yang disewanya menculik si kembar tiga.
Suana hening dan sunyi, Evan dan Reine masih diam dengan saling bertatap mata. Dahi mereka sama-sama berkernyit. Tampak jelas, jika keduanya saling menyimpan amarah dan kebencian.
__ADS_1
*****