
Evan masih berada di balkon kamarnya, dengan posisi yang berubah. Kali ini ia menyandarkan kepalanya, matanya lekat menatap langit malam penuh bintang. Tangannya menjulur ke arah langit. Ia pun membuka tangan dan menggenggamkan tangan seakan ia sedang menggenggam bintang di langit.
"Kau seperti bintang, Lora. Bisa terlihat namun tak tergapai. Kau bisa menyinari hatiku yang gelap dengan cahaya kerlipmu." gumam Evan diikuti senyuman tipis.
"Ah, si*l! Bodohnya aku sudah menyia-nyiakanmu saat itu. Aku sangat menyesal karena aku Harus tergoda oleh wanita busuk itu." batin Evan.
Tiba-tiba, pikirannya melayang pada masa lalu. Saat ia dan Lora saling mengenal dulu. Lora yang pendiam, terlihat dingin dan kaku. Sangat berbanding terbalik dengannya. Ia selalu mencoba mendekati Lora lebih dulu, mengajak Lora bicara atau hanya sekedar menyapa Lora. Dan ....
Kilas balik*
Evan sering datang berkunjung ke rumah Lora. Awalnya, ia hanya diminta untuk mengantar dokumen atau mengambil dokumen jika Hanson tidak bisa datang ke perusahaan karena sibuk. Evan termasuk pegawai yang rajin dan cekatan. Ia selalu bisa diandalkan. Oleh karena itu, Hanson menyukai Evan, karena Evan juga pemuda yang ramah dan sopan-santun. Tidak akan ditemukan cela dalam diri Evan kala itu.
Evan yang baru bekerja beberapa bulan. Belum mengenal sosok Lora. Ia hanya mendengar desas desus tentang putti tunggal Hanson dan Marlyn tersebut. Awalnya, Evan tidak begitu tertarik. Sampai hari di mana Evan dimintai tolong oleh Hanson menjemput Lora di bandara. Lora baru saja datang dari luar negeri atas kepentingan bisnis. Tidak bisa menolak, Evan hanya bisa mengiakan apa perintah Hanson padanya. Dan ia pun segera bergegas menuju bandara demi Tuan Putri.
Di bandara, ternyata Lora sudah menunggu kedatangan Evan. Evan lantas meminta maaf karena ia terlambat datang karena ia terkendala sesuatu. Melihat Lora yang hanya mengiakan tanpa ekspresi membuat Evan merasa tidak enak. Di jalan pun, Evan lagi-lagi meminta maaf dan meengakui kesalahannya. Lora yang lelah mendengar permintaan maaf Evan, akhirnya buka suara menegur Evan.
"Mau sampai kapan kau akan minta maaf?" tanya Lora dingin.
"A-apa?" gumam Evan, "Ah, itu. Saya hanya merasa tidak enak. Anda pasti sudah lama menunggu tadi." lanjut Evan bicara.
"Tidak apa-apa. Aku jug tidak terlalu lama menunggu." jawab Lora.
"Tidak lama? satu jam itu sebentar baginya. Wanita yang cukup aneh," batin Evan menatap Lora yang duduk di belakang dengan kaca depan.
"Anda ingin langsung pulang?" tanya Evan.
"Apa kau supir?" tanya balik Lora pada Evan.
"Eh, ah ... bukan. Saya pegawai baru di perusahaan. Saya hanya mendapatkan perintah dari Tuan untuk menjemput Anda." jawab Evan.
"Oh, aku kira supir. Maaf, ya. Aku tidak tahu kau pegawai. Mungkin juga karena aku tidak pernah melihatmu di kantor. " kata Lora menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya memang baru sekitar lima bulan bekerja. Saat saya masuk sepertinya Anda sedang pergi perjalanan bisnis." jawab Evan yang juga menjelaskan.
"Ah, benar juga. Pantas aku tidak pernah melihatmu. Kau bisa bicara santai padaku, tidak perlu terlalu kaku. Siapa namamu?" tanya Lora.
"E-evan. Nama saya Evan, Nona." jawab Evan.
"Oh, ok. Pertama-tama, aku minta maaf karena mengira kau supir. Lalu, yang kedua, aku tidak akan pulang. Aku mau beli kopi dan dessert kesukaanku. Tidak akan lama jadi, kau tenang saja." kata Lora lagi menjelaskan.
"Oh, baik. Saya sebenarnya dibebas tugaskan hari ini. Saya hanya dikhususkan melayani Anda." jawab Evan lagi.
"Hm, iya." gumam Lora. Lora asik bermain ponsel.
Evan fokus mengemudi, "Alamat tempatnya, Nona." kata Eavan pelan. Kembali menatap Lora dari kaca depan.
__ADS_1
"Jalan saja. Nanti aku arahkan," jawab Lora, tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel.
Rupanya Lora mendapatkan pesan dari Hanson. Lora segera membalas dan mengatakan jika ingin pergi minum kopi dan makam dessert. Hanson mengiakan permintaan Lora dan meminta Lora segera pulang lalu, istrirahat. Sedangkan Evan terus fokus mengemudikan mobil dan melihat ke arah jalan yang dilalui.
***
Dari pertemuan itulah, semakian lama hubungan Lora dan Evan semakin dekat. Meski Lora sedikit bicara dan terkesan dingin, tetapi Evan merasa itulah keunikan Lora. Suatu waktu, orang tua Lora ada pekerjaan di luar kota. Karena sesuatu hal yang mendesak. Membuat Evan harus menemai Lora di rumah. Dengan kata lain, Evan dipekerjakam sebagai bodyguard oleh Hanson untuk putrinya. Ia tidak khawatir, karena di rumah itu juga ada Reine. Meski Reine jarang terlihat oleh Evan.
Pada saat tengah malam, tiba-tiba saja Lora terjaga karena ia bermimpi buruk. Lora pun keliar dari kamar berjalan menuju dapur. Ia hendak mengambil air minum, karena gelasnya kosong. Setelah menuang air di gelasnya, Lora segera meneguk habis air putih di dalam gelas dengan sekali teguk.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Evan ingin memastikan. Pasalnya, dari jauh Evan melihat Lora yang jalan tergesa-gesa menuju meja makan. Gerakan tangan Lora yang gemetaran juga terlihat mencurigakan.
Lora kaget, "Ah, kau mengejutkanku." kata Lora.
"Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud," jawab Evan.
"Tidak ada apa-apa, Evan. Aku pergi dulu. Aku mau kembali tidur." jawab Lora.
Lora sebenarnya tidak baik-baik saja. Saat berjalan Lora terlihat terhuyung, sampai Lora akhirnya hampir jatuh dan di tolong Evan.
"Nona ... " teriak Evan mendekap pinggang Lora agar tidak jatuh.
"Oh, ma-maaf. Aku tidak apa-apa. Kau bisa lepaskan aku," kata Lora.
Evan pun melepaskan dekapannya dan meminta izin mengantar Lora sampai kamar Lora. Karena kalut, Lora hanya bisa mengiakan niatan Evan. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju kamar tidur Lora.
Karena takut, Lora lantas langsung memeluk Evan tanpa aba-aba. Lora lantas menangis. Evan pun tercengang. Ia ragu-ragu untuk membalas pelukan Lora. Namun, pada akhirnya ia memberanikan diri menepuk punggung dan mengusap rambut panjang milik Lora. Ia ingin Lora bisa lebih tenang.
Itu pengalaman pertama kali baginya, memperlakukan perempuan begitu istimewa. Begitu juga itu pertama kalinya, ada perempuan asing selain Mamanya yang memeluknya. Evan tidak punya pikiran lain selain ingin menenangkan Lora.
"Tidak apa-apa. Jangan menangis, ya." ucap Evan menenangkan Lora yang masih menangis tersedu-sedu.
"Aku takut," jawab Lora bersuara serak.
"Takut apa?" tanya Evan melepas pelukan. Ia menatap Lora yang masih menangis.
"Aku bermimpi, ada beberapa orang berpakaian gelap menyerangku, Papa dan Mamaku. Aku tidak tahu maksudnya apa, tetapi itu sangat menakutkan. Mereka membawa pisau. Di mimpiku juga seperti ini, malam hari dan hujan petir." jelas Lora masih dengan nada suara yang sama.
"Tarik napas dalam perlahan, lalu hembuskan perlahan juga. Ulang beberapa kali." Perintah Evan pada Lora. Ingin Lora mengikuti instruksinya.
Lora menurut, ia menarik napas dalam perlahan, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia menjalankan sesuai instruksi Evan. Ia mengulang beberapa kali hingga ia bisa mengatasi rasa takut dan paniknya sendiri. Ia pun mulai sedikit tenang.
Melihat Lora yang mulai tenang, Evan pun juga merasa tenang. Ia lantas memegang kedua tangan Lora dan memastikan, apakah Lora sudah baik-baik saja atau belum. Evan tidak tahi harus bagaimana. Yang ia bisa lakukan hanya sebas hal kecil dan remeh.
"Bagaimana perasaan Anda, Nona? apa masih seperti tadi." tanya Evan penasaran.
__ADS_1
Lora menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak lagi. Terima kasih, Evan. Maaf aku membuatmu terkejut, ya." jawab Lora tersenyum tipis. Menutupi rasa takutnya yang tersisa.
"Syukurlah jika seperti itu. Saya lega mendengarnya." kata Evan sembari menghela napas beratnya.
"Maaf," ucap Lora lagi. Ia menatap takut arah Evan.
Evan mengangkat sebelah alisnya, "Maaf untuk apa, Nona?" tanya Evan kebingungan. "Sejak tadi Anda meminta maaf." lanjutnya bicara.
"Karena sudah membuat kau cemas dan bingung. Jujur aku merasa tidak enak sekarang." jawab Lora, ia merasa tidak enak hati setelah sadar jika ia sudah mengganggu orang lain.
Kepala Lora diusap oleh Evan. "Bukan masalah, Nona. Saya senang bisa Anda repotkan seperti ini. Jika ada apa-apa, jangan ragu untuk memberitahukannya pada saya. Saya bisa menjadi tempat Anda berbagi atau bercerita hal apapun itu." jelas Evan, dengan harapan Lora mau untuk mengandalkannya, meski hanya sesaat.
Lora menganggukkan kepala, "Ya, aku akan ingat kata-kata ini. Terima kasih, Evan." jawab Lora dengan senyuman lebar yang cantik. Senyuman cantik itu, membuat jantung Evan berdegup kencang.
***
Singkatnya, di mulai dari situlah kisah kasih Lora dan Evan terjalin. Evan memang tidak mencintai Lora, tetapi ia mengagumi sosok Lora yang luar biasa saat bekerja dalam menjadi seorang pemimpin yang berwibawa serta bijaksana. Berbeda dengan Lora. Lambat laun, hatinya tergerak dan ia mulai jatuh cinta pada Evan.
Hubungan asmara keduanya diketahui Hanson. Hanson tidak mempermasalahkan status Evan yang bukan seorang pengusaha. Meksi hanya pekerja staf, Evan sudah menunjukan prestasi terbaiknya dan hasil kerja yang memuaskan. Oleh karena itu, saat Evan melamar Lora, lamaran langsung diterima dan keduanya langsung ditunangkan secara resmi.
Kilas balik berakhir*
Evan kembali menghela napasnya, "Hahh ... apa yang kau pikirkan, Evan? jangan banyak berharap hal yang tidak pasti sekarang. Bukankah semua sudah berakhir saat kau memutuskan berselingkuh dengan wanita jahat, itu? kau terbujuk rayuan dan terpedaya oleh tipuan. Bagaimana bsia kau mengenang kejadian masa lalu itu?" batin Evan menutup matanya perlahan. Tidak beberapa lama ia membuka kembali matanya dan memukul meja di sampingnya.
Brakkkk ....
"Aaarggghhh! S*al*n! semua gara-gara kau, Reine. Kau sudah menghancurkan semuanya. Semuany yang sudah kuimpikan. Arrrgghhhh ... " Teriak Evan marah. Ia merasa kesal tiba-tiba.
Evan masih tidak terima jika kenyataanya kita bertentangan dengan apa yang ia harapkan. Meski ia memang punya tujuan mencapai kesuksesan, ia tidak sangka apa yang ia terima saat ini terasa seperti duri yang nenusuk dagingnya. Ia kini menyesal, setelah kehilangan Lora, ia menyadari jika sungguh-sungguh mencintai Lora.
***
Reine membolak balikan tubuhnya ke keri lalu ke kanan. Ia mencari posisi yang nyaman untuknya bisa tidur. Baru saja mata terpejam, detik berikutnya matanya sudah terbuka lagi. Reine sudah mengantuk berat, namun ia tidak bisa tidur. Seperti ada sesuatu yang terngiang-ngiang di pikiran Reine.
"Ahh, bagaimana ini? kenapa juga aku tidak bisa tidur seperti ini. Apa yang terjadi padaku, ya." gumam Reine. bingung dengan keadaannya.
Tiba-tiba Reine teringat akan ucapan Evan saat ia dan Evan berbincang di telepon. Reine merasa ada sesuatu yang disembunyikan Evan darinya. Entah apa itu, Reine tidak bisa menebaknya. Gaya bicara serta kata-kata yang tidak seperti biasa, membuat keyakinan Reine menguat. Ia juga yakin, jika ucapan Evan yang mengatakan 'Rindu' itu hanya tipuan semata.
"Ada apa, ya? apa Evan ... ah, aku sudah gila! kenap juga aku mengurusinya. Bukankah dia bersikap seenak hatinya padaku seolah aku sampah yang ingin dia buang. Kenapa mendadak dia bersikap baik meminta maaf dan mengatakan rindu? pasti dia di desak orang tuanya. Ya, aku yakin itu." gumam Reine.
Reine pun berpindah posisi dari berbaring menjadi duduk bersandar tumpukan bantal yang disusunnya meninggi. Ia merebahkan punggung dan kepalanya sedikit menadah. Matanya terpejam sesaat, ia merasakan tubuhnya sangat lemas tidak bertenaga.
"Memang, ya. Jika aku pikir-pikir lagi, hidupku ini seperti terjerat tali. Meski tali itu tidak terlihat. Aku bukan siapa-siapa di rumah Paman dan bukan apa-apa. Karena aku hanya anak yatim piatu. Apa aku yang terlalu serakah? tapi ... tidak juga. Aku kesal, hanya Lora yang selalu menjadu pusat perhatian. Mau itu di rumah, di sekolah atau di tempat les. Hanya dia yang di puja-puja pria, hanya di yang menjadi idola sekolah. Sampai anak-anak dari sekolah lain rela datang jauh-jauh hanya deminya. Aku kan orang yang selalu ada di sisi Lora. Kenapa aku seolah tidak terlihat? aku menjadi seperti bayangan di mata mereka." gumam Reine lagi. Kali ini sambil mengenang kejadian pada masa lalu.
Reine memang selalu mengeluh pada diri sendiri pada saat ia berada dititik beratnya. Ia tidak pernah menceritakan kesusahannya pada siapapun termaasuk Paman dan Bibinya. Ia merasa akan jauh lebih baik jika hanya diri sendiri saja yang tahu. Tidak dengan orang lain. Karena orang lain tidak akan bisa meringankan beban hatinya. Itulah mengapa ia selalu merasa bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Meski pada kenyataanya ia tahu jika ia tidak unggul ataupun mampu. Ia selalu memaksakan kedendaknya sendiri.
__ADS_1
Cukup lama Reine berada pada posisinya. Sampai ia benar-banar merasa tidak mampu lagi menahan rasa kantuknya. Ia pun menata bantalnya lagi dan berbaring, ditariknya selimut sampai menutup seluruh wajahnya. Matanya perlahan terpejam dan ia mulai terlelap tidur. Seketika ia melupakan apa yang terbayang di kepalanya sedari tadi.
*****