Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 19. Bayanganmu (2)


__ADS_3

Alexias*


Sia-sia aku berlari. Seseorang yang kucari-cari selama ini menghilang begitu saja bagai hembusan angin.


"Hahhh ... sial!" umpatku kesal.


Aku yakin sekali, itu suaranya. Suara khas yang hanya kudengar malam itu. Suara yang entah mulai kapan melekat dalam ingatanku. Juga postur tubuh yang sama. Ini sudah enam tahun berlalu. Fisiknya hampir tidak ada perubahan.


Ponselku berdering, kuraba saku celanaku dan kukeluarkan ponsel dari dalam saku.


"Agatha," gumamku.


Agatha menghubungiku. Dan aku pun langsung menerima panggilan dari saudariku itu.


"Hallo," ucapnya saat panggilannya ku terima.


"Ya," jawabku.


"Kau ke mana? apa terjadi sesuatu, hah?" tanyanya terlihat cemas.


"Bukan apa-apa. Aku hanya salah lihat," elakku beralasan.


Aku yakin itu bukan imajinasiku. Aku sangat, sangat, sangat yakin itu adalah perempuan itu. Perempuan berani yang menyentuh dan menciumku. Bahkan berhasil merayu, langsung memporak porandakan hatiku.


Perempuan dengan suara merdu dan bibir sensual. Paras cantik, mata yang indah. Ah, lagi-lagi aku terlalu memikirkannya sampai seperti ini.


"Hallo ... Lex, Alexias ... " panggil Agatha di ujung panggilan.


"Oh, ya. Maaf. Aku akan segera kembali." jawabku.


"Ya, cepatlah kembali dan habiskan makan malammu." katanya.


"Hm, ok." jawabku.


Beberapa detik berikutnya, Agatha mengakhiri panggilannya. Aku masih sibuk melihat sekeliling. Mencari keberadaan sosok dari wanita itu.


Luar biasa, baru saja terjeda beberapa detik karena aku bertabrakan dengan pelayan. Secepat itukah dia menghilang. Bagaikan memiliki kemampuan super yang bisa menghilang dalam sekejap mata.


Aku kembali mencari. Aku memang sangat berharap bertemu lagi dengannya, yang entah siapa namanya. Beberapa menit mencari, aku pada akhirnya kembali ke dalam restoran.


Agatha memandangiu, "Ada apa? apa yang kau kejar sampai keluar?" tanyanya mencurigaiku.


Aku hanya bisa diam. Aku melanjutkan memakan makan malamku sembari memikirkan perempuan yang menghabiskan satu malam denganku itu.


KIra-kira, sedang apa dia di negara ini? apakah dia memang berasal dari negara ini? tingal di sini, atau  apa?"

__ADS_1


Pikiranku kembali kacau sampai aku tidak sadar, jika Agatha sudah berkali-kali memanggilku. Sampai ia menepuk bahuku sedikit keras untuk menyadarkanku.


"Lex ... Alexias ... " panggilnya mengejutkanku.


"Ah, iya. Maaf, aku melamun." kataku menatap Agatha.


Dengan tatapan mata yang aneh ia menatapku. Meski ia langsung diam, aku tahu benar apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


***


Kami selesai makan malam dan berjalan-jalan disekitaran Hotel tempat kami menginap. Kami kembali ke kamar kami masing-masing.


Sampai saat kami berpisah untuk masuk dalam kamar, Agatha tidak bicara sepatah katapun. Aku juga diam saja tidak bercerita ataupun menanyainya.


"Hari yang melelahkan," gumamku yang  sedang menikmati angin segar di balkon kamar.


Malam ini langit dipenuhi bintang. Pada saat menatap ke arah bintang-bintang yang berkerlip, entah mengapa aku langsung teringat akan paras cantik wanita itu.


Gila! ya, sepertinya aku sudah gila. Gila, gila, gila. Aku segila ini hanya karena memikirkan seorang wanita. Aku sudah kehilangan akal sehatku lagi. Pikiranku ... tidak, seluh isi kepalaku dipebuhi olehnya. Aku terus bertanya-tanya dalam hati.


"Siapa kau? siapa kau yang begitu berani merayu dan menggodaku sampai aku jatuh dalam belenggumu. Siapa?"


Aku hanya bisa menghela napas panjang dan mengacak kasar rambutku. Pikiranku pun terbang melayang seperti kertas yang tertiup angin.


Bagaimana bisa sesulit ini hanya untuk mencari informasi satu orang saja. Aku ingin bertemu dengannya, ingin bicara dan bertanya. Sampai detik ini, aku masih amat sangat penasaaan. Kenapa dia pergi dan hanya meninggalkan secarik kertas dan sejumlah uang. Bukankah dia setidaknya meninggalkan nomor teleon atau namanya dikertas itu? bukan hanya tulisan aneh yang tidak ingin kuingat lagi.


***


"Nak, mau kuantar pulang? di mana rumahmu?"


"Tidak perlu, Bi. Sepertinya rumah kita berbeda arah. Saya juga harus pulang sesegera mungkin, karena anak-anak saya sudah menunggu. Terima kasih atas niat baik Anda." jawab Lora.


"Oh, baiklah. Hati-hati di jalan, ya."


"Ya, Bi. Anda juga." jawab Lora lagi.


Lora melihat taxi. Ia segera berpamitan dan berjalan setengah berlari mendekati taxi. Hari itu ia tidak membawa mobil, karena itu ia buru-buru setelah tahu ada taxi yang kebetulan sedang menurunkan penumpang.


"Tuan tolong antarkan saya ke ... " kata Lora. Sesaat setelah masuk ke dalam taxi.


Supir taxi menganggukkan kepala, "Baik, Nona. Sesuai permintaan Anda." jawabnya.


Taxi yang ditumpangi Lora melaju, ia melihat kembali ke arah restoran. Lora tidak sadar, jika didepan restoran, Alexias sedang kebingungan mencari keberadaanya.


"Kenapa, ya. Sepertinya ada yang sedang memperhatikanku. Seperti ada yang ingin aku kembali ke restoran itu. Padahal tidak ada satu barangpun yang tertinggal di sana." batin Lora.

__ADS_1


***


Setibanya di rumah, kedatangan Lora disambut oleh ketiga putrinya dan sahabatnya.


"Mami ... " panggil si kembar tiga serentak.


"Hallo, sayang. Peri kecil Mami yang cantik-cantik." Puji Lora.


Seperti biasa, ia memeluk dan mencium kening masing-masing putrinya secara bergiliran.


"Mami, sibuk?" tanya Oriana.


"Mami pulang telat," lanjut Olesia.


"Mami, apakah Mami lelah?" lanjut Odellia.


Si kembar tiga menanyakan pertanyaan yang berbeda dalam waktu yang beruntun.


Lora tersenyum, "Ok, Mami akan jawab satu per satu. Di mulai dari pertanyaan Anna. Ya, Mami sedikit sibuk hari ini. Itulah kenapa Mami harus pulang telat. Karena ada hal penting yang harus diurus lebih dulu. Tentu saja Mami lelah, sangat lelah. Namun, karena bisa melihat senyum kalian dan memeluk kalian, rasa lelah Mami langsung hilang. Nah, Mami sudah jawab pertanyaan kalian. Sekarang gantian, jawab pertanyaan Mami, ya. Apakah kalian belajar dengan baik hari ini?" tanya Lora setelah ia menjawab panjang lebar pertanyaan dari putri-putrinya.


"Ya, sangat baik. Aku kan ingin cepat mahir." jawab Oriana.


"Aku bekerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuanku, Mami. Aku belajar dengan baik." kata Olesia penuh semangat.


"Aku menghabiskan waktu di ruang baca. Tadi juga kami bertiga bermain bersama juga saling menceritakan sesuatu yang menyenangkan." jawab Odellia.


Lora tersenyum, "Syukurlah. Jika kalian bisa mengikuti pelajaran dan pelatihan kalian dengan baik. Berarti, tidak ada kesulitan, kan?" tanya Lora lagi. Ia ingin memastikan kembali.


Si kembar tiga menjawab dengan menggelengkan kepala mereka secara bersamaan menjawab pertanyaan Mamu mereka. Melihat itu, Lora paham dan mengerti.


"Lora ... " panggil Hannah.


Lora memalingkan wajah, menatap sumber suara. Dilihatnya Hannah sedang berjalan mendekatinya.


"Ya, Hannah. Ada apa?" tanya Lora.


"Besok, aku akan bertemu temanku. Kami janjian di Hotel tempatnya menginap. Apa aku boleh mengajak anak-anak?" tanya Hannah meminta izin.


Lora terdiam sesaat, "Oh, teman yang kau bicarakan saat itu, ya? dia sudah sampai di sini?" tanya Lora balik.


"Ya, tadi siang dia sampai." jawab Hannah.


Lora menganggukkan kepalanya, "Ya, boleh saja. Besok juga, anak-anak tidak ada kegiatan, kan." kata Lora.


"Terima kasih sudah memberi izin. Karena kita sudah tidak lama pergi, maka dari itu aku mengajak mereka. Ya, sekalian mencuci mata mereka pergi ke Hotel yang mewah." jelas Hannah.

__ADS_1


"Entah mengapa, sepertinya akan terjadi sesuatu." batin Lora.


*****


__ADS_2