
Kembali kepada Mayor Vipta dan Kapten Galih yang sedang membicarakan hal secara empat mata......
Kapten Galih : “Aku setuju, jadi apakah membutuhkan tenaga tambahan lagi ?.....”
Mayor Vipta : “Tidak. Pasukan yang kukirim sudah cukup jika aku mengirimmu juga maka yang menerima ampasnya adalah aku sebab kunci dari rencana ini adalah kau.....”
Kapten Galih : “Baiklah, aku paham......”
Mayor Vipta : “Lalu bagaimana caramu untuk menyingkirkan putra mahkota pertama kekaisaran ?.....” ....Minum kopi....
Kapten Galih : “Tidak mungkin kalau aku akan menyingkirkan dari jarak dekat karena ada pasukan yang ada sekitarnya bukannya aku takut tapi jika aku sendiri, aku akan tamat meski aku sendiri adalah prajurit terkuat tapi sedangkan sebaliknya aku bisa menyingkirkannya tapi dengan izin menembak dari seseorang......”
Mayor Vipta : “Dari Jenderal sendiri ?.....”
Kapten Galih : “Bukan tapi dari Ksatria Ririn.....”
Mayor Vipta : “Kau sendiri yakin mau untuk melibatkannya ?.Hmmmmm.....Menurutku sendiri, akan menjadi sulit karena mencampur aduk perasaan yang emosional.....”
Kapten Galih : “Apa kau sendiri juga tidak melihat kita yang akrab dengan penduduk lokal bahkan perasaan mereka semua sudah terikat ?.....”
Mayor Vipta : “Tentu, aku menyadarinya tapi aku tidak tahu akan berakhir seperti apa.....Itulah masalahnya.....”
Kapten Galih : “Yaahhh......Kalau sejauh ini belum ada masalah berarti tandanya masih baik-baik saja tapi hati-hati saja kemungkinan salah satu mereka ada yang menyusup dari pasukan pembunuh kekaisaran dan menyamar menjadi penduduk sipil......” ....Minum kopi....
Mayor Vipta : “Memangnya aku hanya duduk dan melihat, tentu tidak. Aku juga sedang mencari itu hanya saja sampai saat ini belum dapat apa-apa alias masih nihil bahkan beberapa petinggi militer diatasku yang berada di dunia seberang mendesakku terus untuk mencari dan menghancurkan segera.....”
Kapten Galih : “Merepotkan sekali. Bagaimana dengan rencanamu sendiri ?......”
Mayor Vipta : “Jika perhitunganku benar, sore ini salah satu tim yang kukirim akan mengirimkan surat ke pasukan pembunuh untuk memancing seluruh anggotanya lalu kami menunggu di tengah kota tersebut dengan mengevakuasi kota terlebih dahalu. Saat tengah malam, kita bergerak dari 4 sisi lalu memojokkan mereka semua dan menyingkirkan semua musuh dalam 1 malam sekarang tanpa ada kebocoran dan tidak ada yang bisa memberikan pesan sama sekali terhadap putra mahkota pertama......”
Kapten Galih : “Lumayanlah.......Kalau aku sendiri, membutuhkan momentum yang tepat untuk menyingkirkannya.....”
Mayor Vipta : “Aku tidak mengerti akan hal itu tapi aku yakin kau yang akan menyingkirkannya sendiri. Status, keadaan, keberadaan, dan kemanan kita itu semua tergantung pada kau sendiri tapi jangan menyalahkan diri sendiri bila salah melangkah......”
Kapten Galih : “Tapi aku ingin kau mengajukan ini kepada Jenderal sendiri.....”
Mayor Vipta : “Mengajukan tentang apa ?.....”
Kapten Galih : “Mengaktifkan kembali satuan Pasukan Pemburu “Wolf Brigade” untuk memburu orang ini dan tidak mungkin kalau aku hanya bekerja sendiri dalam menyingkirkan dia.....” ....Menatap Mayor Vipta dengan serius....
Mayor Vipta : “Baiklah, nanti aku ajukan pada Jenderal tapi apakah cukup dengan 5 orang seperti dulu ?.....” ....Melihat Kapten Galih yang serius....
Kapten Galih : “Itu lebih dari cukup lagipula tidak ada yang tahu identitas mereka dan kelima anggota tersebut dari anggota “Big Seven” seharusnya tidak ada lagi yang dipermasalahkan.....”
Mayor Vipta : “Baik....Baik....Kalau keputusanmu seperti ini apa boleh buat tapi aku tidak akan bertanggung jawab atas pasukan ini.....”
__ADS_1
Kapten Galih : “Seperti biasanya, aku sendiri yang akan bertanggung jawab penuh......”
Mayor Vipta : “Jadi, apakah perlu peralatan yang digunakan saat biasanya ?.....”
Kapten Galih : “Tidak, untuk menyingkirkannya dia sebenarnya tidak diperlukan kekuatan maksimal tapi perlu dengan kekuatan minimal dan lagi aku harus membuat rencana yang matang dan melihat pergerakkan pasukannya setelah itu baru bergerak, durasi untuk melakukan ini lebih dari 1 bulan....”
Mayor Vipta : “Berarti itu akan memakan waktu yang lama sekali tapi sebanding dengan hasilnya....”
Kapten Galih : “Aku harap juga begitu.....”
Kemudian ajudan Mayor Vipta mengetuk pintu kantor Mayor Vipta untuk memberikan laporan tentang barang-barang Kapten Galih.....
Ajudan Mayor Vipta : “Permisi, Mayor......” ....Sambil mengetuk pintu ruangan Mayor Vipta....
Mayor Vipta : “Ada apa ?.....” ....Membuka pintunya....
Ajudan Mayor Vipta : “Saya ingin melapor bahwa barang-barang Kapten Galih sudah ada di kantornya dan sekarang ini, dijaga ketat agar tidak ada orang yang masuk selain Kapten Galih.....” ....Melihat Mayor Vipta....
Mayor Vipta : “Kerja bagus, sekarang kembali ke posmu.....” ....Melihat ajudannya....
Ajudan Mayor Vipta : “Permisi, Mayor Vipta dan Kapten Galih.....” ....Hormat kepada mereka berdua dan berjalan pergi dari tempat itu....
Mayor Vipta : “Ya, baik.....” ....Hormat balik....
Kapten Galih : “Kurasa itu adalah tandanya aku harus pergi ke kantorku.....” ....Sambil berdiri dan menghabiskan kopinya....
Kapten Galih : “Baik, jangan lupa dengan laporanku lalu terima kasih atas kopinya......” ....Sambil berjalan pergi....
Mayor Vipta : “Aku juga paham itu.......Merepotkan saja.....” ....Melihat Kapten Galih yang pergi menjauh....
Setelah itu, Mayor Vipta menuju ke ruang komunikasi sedangkan Kapten Galih menuju ke kantornya sedangkan Penyihir Nana dan Dewi Rara sedang mencari Elf Lulala di kota Bukit Avatra........
Dewi Rara : “Ya, ampun. Benar-benar menyusahkan saja sebenarnya dimana dia berada ?......” ....Sambil berjalan....
Penyihir Nana : “Yahhh, mau bagaimana lagi dia juga bagian dari kita........” ....Sambil berjalan....
Dewi Rara : “Kalau diperhatikan, sejak kemarin saja ada beberapa hal yang aneh tentang dirinya......”
Penyihir Nana : “Saya juga merasakan hal yang sama ketika dia meminta 1 kasur tambahan, 1 makanan ekstra lalu 1 pakaian untuk laki-laki.....”
Dewi Rara : “Apa yang terjadi sebenarnya ?.....”
Penyihir Nana : “Saya rasa pernah membaca salah satu buku dari dunia seberang sana bahwa gejala ini adalah trauma mental akibat setelah kejadian atau peristiwa tertentu yang dibawa sampai sekarang......”
Dewi Rara : “Kejadian......Jangan-jangan, waktu itu ketika kalian melawan naga dan tidak ada satupun ras elf yang selamat hanya dia.......”
__ADS_1
Penyihir Nana : “Saya juga memikirkan hal yang sama berarti ketika dia diselamatkan oleh Kapten Galih di dalam sumur dan Kapten Galih bilang juga kepada saya bahwa hanya dia elf satu-satunya yang tersisa dari hutan yang dibakar naga tersebut......”
Dewi Rara : “Anggap saja benar, hal itu mungkin terbawa ke dunia nyata padahal dia sudah tidak mempunyai keluarga lagi.....”
Penyihir Nana : “Ya, itulah penyebabnya......”
Tidak lama kemudian, Sersan Mayor Wica memanggil Dewi Rara dan Penyihir Nana dari kejauhan tempat Sersan Mayor Wica berkumpul di tempat minum.......
Sersan Mayor Wica : “Heiiiii, apa yang sedang kalian cari ?!!!!.......Kemarilah !!!!!......” ....Melihat Penyihir Nana dan Dewi Rara....
Penyihir Nana : “Baiklah, kami kesana sekarang.......” ....Melihat Sersan Mayor Wica....
Sersan Mayor Wica : “Apa yang kalian cari disini ?......” ....Duduk....
Dewi Rara : “Apa anda melihat Lulala di sini ?.....” ....Sambil duduk....
Letnan 1 Andrian : “Bukan hanya dia tapi kami juga, bukan begitu Sersan 1 Sultan ?......” ....Duduk....
Sersan 1 Sultan : “Ya, memang kami melihatnya tapi yang kulihat dia seperti mencari sesuatu.....” ....Duduk....
Penyihir Nana : “Bukan sesuatu tapi seseorang......” ....Melihat ke arah semua orang yang berada di meja itu....
Letnan 1 Andrian : “Memangnya apa yang terjadi ?......” ....Melihat Penyihir Nana....
Kemudian Penyihir Nana menjelaskan semuanya dari awal secara lengkap dan detail tentang keadaan Elf Lulala yang sekarang.....
Letnan 1 Andrian : “Jadi begitu, situasinya......”
Sersan 1 Sultan : “Lalu apakah ada hal yang bisa kami bantu ?......”....Melihat Penyihir Nana....
Penyihir Nana : “Saya juga tidak tahu.....”
Sersan Mayor Wica : “Sebenarnya ada yang bisa kita bantu tepatnya bukan kita tapi ke Kapten Galih langsung.....” ....Melihat semuanya....
Letnan 1 Andrian : “Apakah kau sudah lupa ingatan ?. Kapten Galih saat ini sedang pusing memikirkan kedepannya bahkan dia tidak lagi berkumpul dengan kita......” ....Melihat Sersan Mayor Wica....
Sersan Mayor Wica : “Aku paham itu tapi disitulah poin pentingnya......”
Dewi Rara : “Apa maksud anda ?......”
Apa yang sebenarnya terjadi pada Elf Lulala ?
Strategi apa yang akan digunakan oleh Kapten Galih ?
Bagaimana kelanjutannya ?
__ADS_1
Tunggu.......Episode 59 ???????