
Kemudian Ksatria Ririn pergi menemui kakak keduanya tapi sementara itu di dalam istana kerajaan.......
Putra Mahkota Ele : “Hei, ayah......” ....Sambil berjalan menuju dekat dengan singgasana raja....
Raja Malto : “Ohhh......Ternyata ada rupa anakku yang pertama, Ele......” ....Duduk dan melihat putranya....
Penasihat kerajaan : “Dasar tidak sopan !!!......Jaga mulutmu itu !!!.....Beraninya berbicara di hadapan raja seperti itu !!!!.....” ....Mendegar ucapan dari seorang Putra Mahkota....
Raja Malto : “Sudahlah.....Kamu juga tahu sendiri sifat anakku bagaimana lagi.....” ....Melihat penasihat kerajaannya....
Penasihat kerajaan : “Baik, maafkan saya. Raja.......” ....Sambil menunduk di hadapan raja....
Putra Mahkota Ele : “Hahahahahahaha.........Kau lihat dan dengar sendiri itu kan ?.......Apakah kau buta dan tuli !!!!!.......” ....Melihat penasihat kerajaan....
Penasihat kerajaan : “Kau......” ....Melihat Putra Mahkota dengan wajah kesal....
Putra Mahkota Ele : “Apa ???......Mau melawan ??......Majulah lagipula aku juga tidak takut.....Hahahahaha.......”
Penasihat kerajaan : “Cihhh.....”
Raja Malto : “Sudah.....Sudah.....Tumben sekali kamu jauh-jauh datang dari wilayahmu yang jauh biasanya ada sesuatu yang kuinginkan jika pergi kesini.....”
Putra Mahkota Ele : “Hahahaha.....Memang ayahku hebat dalam hal menebak urusan yang kubutuhkan jika datang kesini ?.....”
Raja Malto : “Jadi katakan apa maumu sekarang juga......”
Putra Mahkota Ele : “Berikan aku sekitar 500.000 pasukan dan perbekalan yang cukup untuk menyerang pasukan yang ada di Bukit Avatra......” ....Sambil berlutut....
Penasihat kerajaan : “Jangan meminta hal yang seperti itu dan jangan harap kami memberikannya......” ....Setelah mendengar permintaan beratnya....
Putra Mahkota Ele : “Kenapa ???!!!......Ahhhh.....Jangan-jangan kau takut dan lebih baik membuat seluruh pasukan yang berada disini !!!!.....” ....Sambil berdiri kembali....
Raja Malto : “Ahhhhahhh......Mereka mulai lagi.......”
Penasihat kerajaan : “Dasar tidak tahu malu !!!......Memang kami tidak tahu apa yang kau lakukan kepada pasukan bangsawan yang melawan pasukan di Bukit Avatra.......”
Putra Mahkota Ele : “Hahahahaha......Aku tidak tahu, memang apa yang terjadi sekalipun aku tahu aku juga tidak akan peduli......”
Penasihat kerajaan : “Gara-gara kau seluruh pasukan bangsawan tidak ada satupun yang kembali dan pasukan sebanyak 100.000 itu lenyap begitu saja padahal mereka sudah meminta bantuan tambahan pasukan !!!!!......”
Putra Mahkota Ele : “Hahahaha......Apa peduliku ?......Memang aku terlihat peduli pada mereka dan mereka hanyalah sampah bagi petinggi-petinggi kerajaan dan bagiku sebagai tikus-tikus percobaan untuk mengukur pasukan Bukit Avatra sejak awal itulah memang rencanaku !!!!......”
Penasihat kerajaan : “Kau menyebabkan masalah besar bagi kami dan aib bagi kerajaan ini !!!!.....”
__ADS_1
Putra Mahkota Ele : “Aku juga tidak mau mengirim pasukanku sebanyak 600.000 karena terlalu sangat disayangkan jika menyerang semua sekaligus karena mereka adalah bidak-bidakku......”
Penasihat kerajaan : “Jadi semua itu ulah kau ???!!!......”
Putra Mahkota Ele : “Memang benar, semua itu ulahku. Aku sudah membunuh pembawa pesan dan mengambil pesannya tapi aku tidak menyampaikan lagi kepada kalian, pasti pasukan bangsawan juga kebingungan karena tidak mempunyai pasukan tambahan lagi.......Hahahahaha......”
Penasihat kerajaan : “Kau bahkan tidak layak menjadi seorang raja !!!!!......”
Putra Mahkota Ele : “Memang seperti itu tapi tetaplah gelarku menjadi seorang putra mahkota yang akan mewarisi kedudukan selanjutnya sebagai raja......”
Penasihat kerajaan : “Dasar kau, monster !!!!.....”
Putra Mahkota Ele : “Biarlah aku senang dengan julukan itu !!!!.....”
Raja Malto : “Sudah cukup kalian berdua !!!!!......Kalian seperti anak kecil lagi yang perlu diajarkan tentang tata krama dihadapan seorang raja......”
Penasihat kerajaan : “Ahhhhh......Maafkan saya, Raja. Karena terlalu banyak membawa emosi pada hal-hal yang tidak penting......”
Raja Malto : “Tidak apa-apa, saya juga mengerti tentang perasaan kamu juga dan untuk anakku. Ini adalah permintaan yang berat dan tentu saja sebagai raja dan ayahmu, aku menolak permintaan ini lalu kita tidak bisa mengirimkan pasukan lagi yang menjadi ujung tombak kita karena kita juga membutuhkannya untuk pertahanan diri di kota ini !!!!!......Jadi tidak ada pasukan tambahan !!!!......” ....Sambil berdiri dari tempat duduk singgasana raja....
Putra Mahkota Ele : “Ohhh......Jadi begitu, raja sekaligus ayahku tidak dapat memenuhi permintaanku ini. Aku seperti yang dibuang.....”
Raja Malto : “Tampu kekuasaan kau sebagai raja, tentu aku juga yang menahannya dan tidak akan ada upacara pengangkatan raja baru. Jangan harap bisa menjadi seorang raja kalau sifatmu seperti itu terus lalu ini adalah keputusanku sendiri karena keputusanku sudah pasti ditambah sebagai ayah sekaligus rajamu, kau tidak layak atau bahkan pantas duduk di singgasana ini. Jadi silakan keluar dari ruangan ini sebelum aku berubah pikiran........”
Putra Mahkota Ele : “Baiklah. Aku mengerti seperti yang ayah sekaligus raja inginkan dan aku pasti kembali ke hadapanmu dalam beberapa hari lagi membawakan hadiah untuk anda.......”
Raja Malto : “Terserah kau saja......Pergilah dari sini sebelum aku memanggil penjaga !!!!.....” ....Sambil duduk kembali....
Putra Mahkota Ele : “Baik, yang mulia Raja Kekaisaran.......” ....Sambil berjalan keluar dari aula raja....
Penasihat kerajaan : “Keputusan yang bagus, Raja.....” ....Melihat Rajanya sendiri....
Raja Malto : “Aku harap juga begitu......” ....Sambil memegang kepalanya....
Penasihat kerajaan : “Awas saja kalian berdua, lihat saja nanti pembalasan dariku.......Tunggu saja......” ....Berbicara dalam hatinya....
Setelah itu, Ksatria Ririn sampai di gedung senat kekaisaran dan bertemu dengan kakak keduanya diluar gedung senat.....
Ksatria Ririn : “Kakak !!!!.......” ....Berlari dan memeluknya....
Penasihat Senat Fai : “Ohhh......Lihat siapa yang datang ke sini.......Adikku yang manis.....” ....Memeluk adiknya....
Ksatria Ririn : “Aku merindukanmu......”
__ADS_1
Penasihat Senat Fai : “Aku juga dan bagaimana kabarmu selama menjadi komandan ksatria ?......” ....Sambil melepas pelukannya....
Ksatria Ririn : “Aku baik-baik saja dan merasa hebat lalu aku juga bertemu dengan orang-orang ini dan mereka membantuku di Kota Venezia untuk pertahanan juga tidak disangka mereka memiliki kuda terbang dan gajah besi.......” ....Melihat kakak keduanya....
Penasihat Senat Fai : “Aku juga mendengar hal yang sama seperti yang kamu ceritakan dan sebenarnya berita itu sudah menyebar sampai ke telinga petinggi kekaisaran.....”
Ksatria Ririn : “Baguslah kalau begitu kita bisa menjalankan rencananya......”
Penasihat Senat Fai : “Itu agak sulit dan sepertinya kamu harus segera memulai hubungan dengan para diplomasi Bukit Avatra.......”
Ksatria Ririn : “Ada apa memangnya ?.......”
Penasihat Senat Fai : “Ayo......Kita bicarakan sambil jalan kedalam......”
Ksatria Ririn : “Jadi bagaimana menceritakannya ?......” ....Sambil berjalan menuju ruangan senat....
Penasihat Senat Fai : “Semua dimulai dengan beredar kabar pasukan bangsawan yang sudah dikalahkan oleh pasukan Bukit Avatra dan setelah kamu pergi ke kota Venezia, dewan senat terpecah menjadi 2, yaitu anti perdamaian dan pro-perdamaian bahkan kabar ini tidak bisa dibendung lagi sampai semua bangsawan juga ikut dalam hal ini lalu tentang adanya Ksatria yang cukup tangguh dari pasukan Bukit Avatra.....” ....Sambil berjalan....
Ksatria Ririn : “Ya, memang benar. Dia sangat kuat sekali......”
Penasihat Senat Fai : “Dengar, Rin. Kita dari awal memang tidak punya kesempatan menang dan aku sendiri jika kita berdamai dengan mereka lalu bernegoisasi dengan mereka karena keadaan kita sekarang sudah terbagi dua......”
Ksatria Ririn : “Itu memang niatku, kakak.....”
Penasihat Senat Fai : “Kita sampai tapi ku ingatkan sekali lagi padamu, kita disini hanya melihat saja setelah itu pergi karena dibalik pintu ini sudah seperti menjadi garis depan......” ....Berhenti di depan sebuah pintu....
Ksatria Ririn : “Baiklah, aku juga disini karena ingin melihat situasi dan kondisi disini yang sudah seburuk apa......”
Penasihat Senat Fai : “Apa kamu sudah siap ?.....”
Ksatria Ririn : “Siap.....”
Penasihat Senat Fai : “Baiklah, inilah medan perang kami. Wahai Adikku yang manis. Bukan tapi........Komandan Khusus Ksatria.....” ....Sambil membukakan pintu ruangan senat berkumpul....
Apa yang akan terjadi selanjutnya ?
Apa yang direncanakan oleh Putra Mahkota Ele ?
Bagaimana dengan Kapten Galih yang sedang latihan ?
Apakah Ksatria Ririn berhasil menyatukan semuanya ?
Tunggu........Episode 66 ???????
__ADS_1