Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 9 Permintaan dan Awal Petaka


__ADS_3

Aku dan Ryo memasuki pintu theater kemudian menysuri deretan demi deretan untuk mencari tempat duduk kami, deretan bangku "G". Sampai acara berlangsung tak ada lagi yang duduk di deretan yang sama, praktis hanya ada aku dan Ryo yang ada di deretan G. Aku tersenyum senang, setidaknya aku bisa sedikit bermesraan dengan Ryo nanti.


Di tengah jalan cerita film, ada adegan dimana Hermione berciuman panas dengan Harry. Tak urung adegan tersebut membuatku blingsatan. Aku melirik Ryo disebelah, ia terlihat tak konsentrasi pada jalannya cerita film. Rupanya Ryo masih kesal.


"Yank...", aku berbisik di telinga Ryo.


"Hah? Ya kenapa yank?" Ryo membalikkan wajahnya ke arahku. Aku langsung merengkuh pipinya dan mendaratkan bibirku di bibirnya. Aku tak peduli jika Ryo berpikir aku agresif. Aku hanya tak rela kencan kami yang hanya seminggu sekali diakhiri dengan rasa kesal, apalagi penyebabnya adalah Deni.


Semakin lama pagutan bibir kami semakin dalam, lidah saling bertautan dan tangan Ryo mulai tak tinggal diam, menggerayangi tempat favoritnya. Karena kami hanya berdua, Ryo semakin berani. Ryo membuka kancing sweater ku, lalu tangannya menyusup ke dalam kaos hitamku. Ditariknya ke atas breast holder yang kenakan agar dia leluasa bermain dengan puncak dadaku. Aku hanya bisa menahan nafas dan *******, mengingat kami sedang di dalam bioskop.


Jari Ryo dengan lincah memilin puncak milikku, kemudian bibirnya pindah ke leher jenjangku. Mengecup dan menghisap pelan, membuatku nyaris mengerang. Tak puas sampai disana, Ryo mengangkat kaosku kemudian mendaratkan kecupannya di puncak dadaku. Ryo menghisapnya bak seorang bayi kelaparan. Tanganku tak mau kalah, aku meraba kelelakian Ryo dari luar celana jeansnya. Terasa sudah sangat keras. Aku berusaha membuka kancing celana jeans Ryo, tapi dia menahan tanganku. Dia menatap mataku dan menggeleng, mungkin dia takut kami melangkah terlalu jauh. Akhirnya Ryo merapikan pakaianku dan mengecup lembut puncak kepalaku.


Aku yang merasa sudah terbakar gairah berbisik kembali di telinga Ryo, "Yank, aku pengen. Abis dari nonton kita ngamar yuk. Aku penasaran rasanya. Aku cinta kamu"


Ryo menatap lekat padaku, tapi tak mengiyakan atau menolak permintaanku. Dia hanya diam, tampak pikirannya sedang berkecamuk. Kemudian Ryo meletakkan kepalaku di bahunya, lalu mengecup kembali puncak kepalaku dengan lembut. Secara eksplisit dia memintaku untuk kembali mengikuti jalan cerita film pada layar lebar di depan kami.


Kami keluar theater setelah film berakhir. Kami bergandengan dalam diam. Aku pamit pada Ryo ke toilet, karena aku ingin buang air kecil sekaligus membenahi lip ice-ku yang pasti berantakan setelah ciuman panas kami di dalam.


Keluar dari toilet, Ryo menggandengku menuju ruang tunggu bioskop. Jam menunjukkan pukul 19.35 malam. Kami duduk di salah satu bangku kosong, menunggu Lisa yang belum keluar dari ruang theaternya. Masih 20 menit lagi.


"Maaf, yank. Aku ga bisa menuhin permintaan kamu yang satu itu", Ryo mulai membuka percakapan.


"Kenapa? Pasangan lain banyak yang sudah melakukannya. Pria lain pasti tak menolak saat kekasihnya mengajak bercinta", aku menuntut penjelasan.


"Aku tak ingin merusak masa depan kita. Aku dan kamu punya mimpi besar. Kamu ingin membebaskan warga desa dari cengkeraman Wiratmaja, dan aku ingin membantu menyekolahkan adik-adikku. Empat orang adikku membutuhkanku, yank" dia mengingatkanku akan mimpi-mimpi kami.

__ADS_1


Aku merasa tertampar akan ucapannya. Ya, Tuhan! Kemana akal sehatku? Sekarang aku merasa malu pada Ryo. "Maafkan aku. Aku pasti sudah gila memintamu melakukan hal itu. Aku malu sekali rasanya", aku meratapi kebodohanku.


"Keinginanku juga sama besarnya denganmu, tapi masa depan kita lebih penting dari kesenangan sesaat," Ryo mengusap lembut bahuku.


Aku bersandar kembali di bahunya. Merasakan nyaman dalam pelukannya. Ryo pria yang baik. Tak salah aku memilihnya. Lisa muncul 10 menit setelah perbincangan kami.


"Yuk, langsung balik. Udah malem nih. Jalanan pasti udah sepi", ajak Lisa pada kami.


Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Ryo dan Lisa langsung menstarter motornya, dan aku naik ke boncengan Ryo setelah motor Ryo menyala. Tak ada yang istimewa saat perjalanan pulang, aku memeluk pinggang Ryo seperti biasa.


Tiba-tiba motor Lisa berhenti. Ryo yang menjaga kecepatan motor agar tetap berada di belakang motor Lisa ikut berhenti lalu bertanya, "Ada apa, Lis? Kok berhenti?"


"Abis bensin, Yo!"


"Waduh, kok bisa? Tadi sebelum pergi ga diisi?" giliranku bertanya pada Lisa.


"Ya udah, aku dorong dari belakang Lis. Bisa kemaleman kita nanti", saran Ryo memberi solusi.


Lisa mengiyakan karena memang kondisi jalan yang sudah sepi sehingga tak akan terlalu berbahaya. Kaki Ryo menjejak pada knalpot motor Lisa, lalu melajukan motornya pelan-pelan. Lisa bertugas menjaga keseimbangan motornya. Baru lima menit berjalan, motor matic Ryo menghentak pelan dengan aneh.


"Waduh, motorku abis bensin juga nih. Padahal tadi pagi isi lima belas ribu", Ryo menjelaskan duduk perkara padaku dan Lisa.


Terpaksa kami menuntun motor kami karena tak ada kendaraan lain yang lewat. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh. Pom bensin masih jauh, dan tidak ada pedagang bensin eceran yang kami temui. Tiba-tiba sebuah klakson mobil berbunyi, dan berhenti di samping kami. Sebuah mobil Av*n*a merah, kaca jendela depannya menurun terbuka. Menampilkan wajah pengemudinya, Deni.


"Motor kalian kenapa?" tanya Deni peduli.

__ADS_1


"Abis bensin," jawab Lisa singkat.


"Mau nebeng sampai pom bensin depan ga? Nanti aku anterin balik kalau udah dapet bensin" Deni menawarkan bantuan.


Dengan senang hati kami menerima bantuan tersebut. Dari pintu tengah, Aldo keluar dan menekuk sandaran kursi agar kami bisa masuk.


"Masuk duluan, Lan!", perintah Deni.


Meskipun heran aku menuruti permintaan itu. Setelah aku duduk, Lisa hendak menyusulku masuk kedalam mobil. Tapi tiba-tiba, Bruk! Aldo mendorong tubuh Lisa yang salah satu kakinya telah naik ke atas pijakan. Aldo bergegas naik lalu menutup pintu rapat-rapat, dan Deni langsung menguncinya. Deni langsung tancap gas. Kejadian itu berlangsung tak lebih dari tiga detik. Karena kejadian yang terlalu mendadak, refleksku lambat mencoba memahami situasi. Begitu pula Ryo dan Lisa. Aku tersadar saat mendengar teriakan Lisa di luar mobil "Aduh, b*ngs*t! Sakit bego!", aku mendengar Lisa yang memaki sesaat sebelum mobil melaju dengan kencang.


Teriakan Lisa menyadarkan refleksku. Sontak aku berdiri dan memukuli Aldo dan Tama yang ada di bangku tengah. "Apa yang kau lakukan, brengsek! Keluarin aku dari mobil!" aku hampir berteriak karena merasa sedikit terintimidasi.


"Kamu duduk manis disana, Lan. Aku mau bikin sedikit perhitungan sama kamu yang berani nolak aku!" jawab Deni dari bangku supir.


"Apa maksudmu?! Sialan, kau sedang menculikku bodoh!" ucapku memaki.


"Diamlah atau aku tak akan memulangkanmu!" ancam Deni


Mau tak mau Wulan menurut. Dalam hati dia merasa sedikit ketakutan berada satu mobil dengan empat orang pria. Wulan hanya bisa berdoa dalam hati semoga tak ada hal buruk menimpanya.


*************************


Ada yang bertanya-tanya ga, kenapa tokoh di novel ini kadang "Aku" kadang berubah menjadi nama sebagai kata ganti orang ketiga tunggal?


Aku jelasin dikit ya, biar ga pada bingung. Itu karena aku hanya menggunakan dua sudut pandang tokoh yakni "Aku" alias "Wulan" sang tokoh utama, dan ketika pakai nama artinya menggunakan sudut pandang penulis.

__ADS_1


Semoga para reader tersayang ga bingung ya sama jalan ceritanya...


Terus terus, jangan lupa like dan komennya. Sekalian votenya kalo boleh, hehehehe


__ADS_2