Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 66 Ternyata Pernah Bertemu


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak kejadian itu, dan tak ada kejadian lain yang berarti. Entahlah, aku merasa ketenangan ini seperti ketenangan sebelum datangnya badai. Semoga ini hanya perasaanku semata.


Hari ini hari jum'at, tak ada yang spesial. Sejak kejadian itu, Deni tak lagi mengirimiku paket atau menampakkan batang hidung. Kuharap dia sudah menyerah untuk menggangguku. Kuharap.


Pukul enam sore akhirnya pekerjaan selesai, aku berkemas dan merapikan meja kerjaku. Mas Adit masih tampak sibuk dengan gambar-gambar entah apa itu.


"Mas, pulang dulu ya" pamitku padanya.


Dia hanya mengangguk tapi tak mengalihkan pandangan dari meja kerjanya.


Dasar gila kerja. Aku memutar bola mataku.


Sampai di rumah aroma masakan telah tercium begitu aku berada di ambang pintu ruang tamu.


"Hhmmm wangi sekali. Masak apa Bune?"


"Sop konro, bisa buat sarapan besok juga. Makan siang sama malam bikin gado-gado saja ya? Bune udah bikin lontong tadi"


"Siap! Duh, ngences ini!" selorohku.


"Langit mana?" tanyaku karena tak melihat keberadaan priaku itu. Biasanya jika aku pulang, dia akan menyambut kepulanganku.


"Di kamar. Sejak pulang sekolah langsung masuk kamar. Capek mungkin" ujar Bune.


Setelah selesai mandi dan berganti dengan pakaian santai, aku menuju meja makan. Sudah ada Langit dan Bune, menungguku untuk makan malam bersama.


Langit tampak tak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam. Makan dalam diam dan menjawab sekenanya saat kutanya tentang kegiatannya di sekolah.


Dengan menggunakan isyarat mata, aku bertanya pada Bune ada apa dengan Langit. Bune hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.


Setelah makan malam, Langit langsung pamit untuk ke kamarnya. Tak biasanya Langit bersikap seperti ini.


Ada sesuatu yang meresahkan Langit. Sebagai ibu dan orang tua satu-satunya aku harus bisa menjadi pendengar dan membantunya meringankan keresahannya. Harus segera diselesaikan agar masalah tidak menjadi semakin berlarut-larut.


Tok tok. Aku mengetuk pintu kamar Langit.


Tak ada sahutan. Baru pukul delapan kurang sedikit, tak mungkin Langit sudah tidur.


"Ibu masuk ya?" tanyaku sambil membuka pintu meski tanpa izinnya.


Langit tampak duduk bersandar pada headboard sambil berpura-pura membaca.


"Bukunya kebalik, tuh" selorohku.


Tampak Langit gelagapan, berusaha membenarkan buku yang sebenarnya tak terbalik.


Ck. Langit mendecak kesal saat tahu bahwa aku menipunya.


"Kayanya anak ibu lagi banyak pikiran. Ga pengen cerita sama ibu?" tanyaku lembut dan duduk di bibir ranjangnya.


Langit diam, lalu menutup bukunya. Dia menatap mataku, hendak mengucapkan sesuatu tapi mengurungkannya. Hanya gelengan kepala yang kudapatkan.


"Kalau begitu boleh ibu yang cerita?"


Aku diam menunggu reaksinya. Langit tetap bergeming.


"Hari ini ibu sedih. Langit tahu kenapa?"

__ADS_1


Langit menggeleng.


"Satu-satunya pria yang ibu cintai tampak murung. Ga mau senyum sama ibu, apalagi ngomong. Membuat ibu sangaaatt sedih" ucapku dengan wajah sedih yang kubuat-buat.


Langit tampak mengerti, bahwa pria yang kumaksud adalah dirinya.


"Maaf membuat ibu sedih" lirihnya.


Aku tersenyum. Menunggunya mencurahkan isi hati.


"Tadi di sekolah bu guru meminta kami bercerita tentang 'My Daddy, My Hero'. Saat giliran Langit maju ke depan, Langit cuma bisa tertunduk dan bilang sama bu guru, 'Sorry Ma'am. Langit don't have a daddy. Langit can't tell anything about daddy" ujarnya sambil menunduk.


"Bu, ayah Langit kemana?"


Aku menelan ludahku dengan susah payah. Hari ini akhirnya datang juga.


Aku merengkuhnya dan mendudukannya dalam pangkuanku.


"Kesayangan ibu, maaf ibu tidak bisa menghadirkan sosok seorang ayah untuk Langit. Tapi Ibu janji, akan selalu memberikan semua yang terbaik untuk Langit. Sekalipun Langit tidak punya ayah, tapi ada Uti dan Ibu yang akan selalu menyayangi Langit"


"Kapan Langit bisa bertemu ayah?" tanyanya polos.


"Berdoa sama Tuhan, agar Tuhan segera mengirimkan ayah untuk Langit" jawabku sekenanya. Jujur aku tak tahu harus menjawab bagaimana.


Langit mengangguk lalu tersenyum.


"Langit ada tugas?" tanyaku.


"Langit udah kerjain tadi siang, Bu. Sekarang Langit boleh main game?"


"Boleh"


"Besok sekolah, Bu"


"Izin sehari, oke?"


Langit mengangguk bersemangat.


"Mau kemana? Pantai, gunung, atau taman bermain?" tanyaku bersemangat.


"Ibu maunya kemana?" Langit malah bertanya balik padaku.


"Ke Bromo mau? Kita belum pernah ke gunung 'kan?"


Langit mengangguk mengiyakan.


"Jangan tidur malam-malam, ya" aku mengecup puncak kepalanya lalu keluar dari kamar Langit.


Di bawah Bune sudah menunggu, meminta penjelasan dariku. Setelah aku bercerita dan mengatakan besok akan ke Bromo Bune langsung bersemangat.


"Waduh, Bune udah bikin lontong gimana ini? Simpan di lemari es aja kalau gitu"


"Besok bekal gado-gado juga gapapa, Bune. Untuk makan siang. Makan malam bisa cari disekitar penginapan. Kalau jam sepuluh besok sudah berangkat, sore mungkin sudah sampai di Bromo" jawabku asal. Aku belum pernah ke Bromo sebelumnya, tak punya gambaran akan seperti apa perjalanan kesana.


Bune hanya manggut-manggut menyetujui ideku. Pukul sembilan malam akhirnya kami masuk ke kamar masing-masing.


Keesokan harinya, pukul 10.10 semua persiapan sudah masuk ke dalam bagasi mobil Erempatku.

__ADS_1


Langit duduk di depan, sementara Bune di bangku tengah.


"Sudah siap semuanya?" tanyaku sambil memasang seatbelt.


"Mampir ke proyek sebentar, ya. Charger laptop ibu ketinggalan" ucapku sambil nyengir.


Aku memarkirkan mobilku di sebelah bangunan galvalum yang merupakan kantor sementaraku. Mobil CR-V hitam milik Mas Adit juga terparkir disana.


"Mau ikut?" tawarku pada mereka.


Bune dan Langit mengangguk, lalu mengekor dibelakangku.


"Siang, Mas. Hari ini aku ga ngantor. Kemari cuma ambil charger laptop aja"


Mas Adit mengangkat wajahnya dan mengangguk.


"Lho, Nak Adit?"


"Om Adit?"


Bune dan Langit berbicara bersamaan. Aku melongo dibuatnya. Bagaimana mereka bisa kenal dengan rekan kerjaku itu?


"Langit? Bu Nimas 'kan, istrinya Pak Jaka?" Mas Adit tampak terkejut.


"Kok pada bisa saling kenal?" tanyaku heran.


Langit menceritakan pertemuan singkatnya dengan Mas Adit, sementara Bune menjelaskan bahwa Mas Adit adalah pelanggan setia Bakso Barokah.


"Kebetulan yang ajaib. Ah, pantas aku tak asing dengan suara Mas Adit" gumamku.


"Hmm, sudah kuduga bahwa kita pernah ketemu. Aku memang tidak asing pada wajah Wulan ini. Tapi benar-benar lupa dimana pernah bertemu. Ternyata, oh, ternyata" ujar Mas Adit terkekeh.


"Mau pada kemana ini?" tanya Mas Adit menyadari dandanan kami yang tampak hendak berlibur.


"Mau ke Bromo, Om" Langit menjawab. Sementara aku mengemas charger laptopku dan memasukkannya ke dalam tas ransel.


"Om pernah kesana sekali sama teman-teman kuliah, duluuuu sekali. Pemandangannya bagus. Kawahnya, sunrisenya apalagi" tukas Mas Adit.


"Nak Adit pernah ke Bromo? Wah, bisa jadi guide kita nih!" cetus Bune memberikan ide.


"Ayo ikut, Om!" ajak Langit.


Hei, hei. Kenapa ga diskusi dulu ini? Malah main ajak orang asing. Sungutku dalam hati.


"Om Adit sibuk, sayang" ujarku.


"Siapa bilang sibuk? Aku longgar kok. Sudah lama juga ga liburan" ujar Mas Adit sambil meregangkan otot-otot lengannya.


Aku mendelik tak percaya. Sementara Langit dan Bune tampak bersemangat.


"Untung tadi bawa gado-gadonya banyakan" tukas Bune.


"Ada gado-gado? Wah, lagi hoki nih saya" seloroh Mas Adit pada Bune.


"Mau pakai mobil siapa?" tanya Mas Adit.


"Pakai mobil Wulan saja, perlengkapan 'kan sudah disana semua" ujarku pasrah.

__ADS_1


"Aku yang nyetir" kata Mas Adit sambil menyodorkan tangan meminta kunci mobil.


Wulan menyodorkan kunci mobilnya dengan enggan. Haduuhh, liburan keluarga kenapa malah didatangi penyusup begini sih? Batin Wulan kesal.


__ADS_2